Tan Malaka: Guru sekaligus Tokoh Revolusioner

Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, Pada 2 Juni 1897. Pandan Gadang adalah sebuah desa yang tersuruk di Bukit barisan, di antara lempit bukit dan sawah hijau yang membentang, juga kicau burung yang berlompatan di buah-buah ranun. Desa Pandang Gandang, serupa banyak desa di Ranah Minang, terhampar di bawah perbukitan hijau.

Lembah di kaki bukit dengan sawah berundak-undak ini melingkupi desa yang dipagari jajaran pohon kelapa. Air yang mengalir di sawah dan di sungai sekitarnya jernih dan dingin.

Tan Malaka seorang yang beruntung karena ayahnya seorang pegawai pertanian Hindia Belanda sehingga ia lebih maju dari warga yang lain. Pada usia 12 tahun ia berkesempatan belajar di Sekolah pendidikan guru yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu di Sekolah Rajo, Bukit tinggi.

Sejak usia sekolah itu dia mulai menunjukkan kecerdasan sebagaimana yang dikatakan guru Belandanya, G.H Horensma, “Rambutnya hitam-biru yang bagus sekali, bermata hitam kelam seolah-olah memancarkan sesuatu” Tan Malaka lulus pada tahun 1913. Lalu atas rekomendasi guru Belandanya dan berkat pinjaman dana dari para engku di Suliki sebesar Rp 50 per bulan.

Pada usia 17 tahun dia melanjutkan studi ke negeri Belanda untuk sekolah di Rijkskweekschool (Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah) di Haarlem. Alam Minangkabau yang subur permai dan bebas tidaklah lengkap membekali anak negerinya tanpa mengaji dan pencak silat. Mengaji dan Pencak silat adalah pembentuk kepribadian dan kepercayaan diri. Tan juga memiliki bekal tersebut.

Di negeri penjajah itu dia menyerap ideologi yang menjadi titik perjuangannya sampai akhir hayat. Tan malaka mendahului Sekolah ke Belanda daripada Mohammad Hatta, Nazir Datuk Pamoentjak, Sutan Sjahrir, Abdul Rivai, Asaat, Ibrahim Taher, Zaharin Zain dan Abdul Muis.

Di Belanda, Watak Tan Malaka terbentuk: membaca, belajar dan menderita. Di sana dia menutupi kekurangan uang dengan mengajar bahasa melayu, sambil berusaha menyelesaikan sekolah, dan berjuang melawan sakit bronkitis, yang bermula hanya karena tidak memiliki baju hangat pada musim dingin. Dia bahkan pernah mencalonkan diri untuk Tweede Kamer (parlemen) Belanda mewakili negeri jajahan.

Tan Malaka lalu berkenalan dengan teori revolusioner, sosialisme, dan Marxisme-Komunisme melalui berbagai buku dan brosur. Bahkan dia sempat diminta Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) mewakili Indische Vereeniging dalam kongres pemuda Indonesia dan Pelajar Indologie di Kota Deventeer. Melalui interaksi dengan mahasiswa Indonesia dan Belanda, dia semakin yakin bahwa melalui jalan revolusi, Indonesia harus bebas dari penjajahan Belanda. Keyakinan itu dia pegang secara konsisten. Itulah masa awal dalam pengembangan politiknya.

Selama belajar di Belanda, Tan Malaka kerap sakit akibat makanan dan iklim Belanda yang tak cocok, serta menderita pleuritus. Memang sulit untuk membayangkan bahwa dalam keadaan serba terbatas dia melanglang buana membentuk serta membangun ideologi dalam perjalanan panjang dari Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api Trans-Siberia Melalui gurun es hingga Vladivostok di Timur, terus bolak-balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Canton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya, dan Burma.

Di kota-kota itu, sembari membangun kekuatan anti-penjajahan, dia melahirkan percikan pemikiran Melalui buku, brosur, di antara bayang-bayang intelijen Inggris, Amerika, dan Belanda. Sepuluh tahun pada akhir kehidupannya benar-benar dia sumbangkan untuk tanah air, membangun kekuatan perlawanan rakyat melawan Jepang dan Belanda, Meskipun berakhir di ujung peluru bangsa yang diperjuangkannya.

Pada November 1919, setelah kecamuk Perang Dunia I usai, Tan Malaka pulang ke Indonesia. Lalu dia menjadi guru di Sekolah yang didirikan oleh perusahaan perkebunan Eropa. Di sana dia mengajar anak-anak kuli kontrak di perkebunan tembakau milik orang Jerman dan Swiss di Deli, dekat Medan, Sumatera Utara. Gajinya setaraf dengan gaji seorang guru Belanda.

Di lingkungan perkebunan itu semangat radikalnya tumbuh ketika dia menyaksikan ketimpangan sosial antara kaum buruh dan tuan tanah. Karena tidak tahan melihat penindasan yang diderita oleh para kuli perkebunan yang didatangkan dari Jawa, Tan Malaka minta berhenti dan pindah ke Semarang. Perjuangannya kemudian tidak hanya dalam usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan.

Tan segera aktif menyelenggarakan pendidikan cuma-cuma kepada anak-anak rakyat jelata, menulis pamfllet-pamflet, dan mendorong berbagai pemogokan. Peranan Tan Malaka sebagai agiator komunis menjadi mencolok bagi polisi rahasia Hindia Belanda.

Dengan keputusan gubernur jenderal, dia dikenakan hukuman pembuangan. Tan Malaka memilih Belanda sebagai tempat pengasingannya pada Maret 1922. Dari sana dia ke Moskow dan mengikuti program pendidikan partai komunis. Kisah Tan di Moskow dimulai pada Oktober 1922 setibanya dia dari Jerman. Kamar Tan di salah satu bekas hotel di Moskow, menjadi tempat singgah para pemuda dan pelajar. Ketika Komunis Internasional (Komintern) sibuk mempersiapkan kongres ke empat, Tan yang melapor sebagai wakil Indonesia diajak ikur rapat-rapat persiapan. Tapi dia hadir sebagai penasihat, bukan anggota yang punya hak suara. Tan Malaka lalu menghadiri Kongres Komintern di Moskow pada November 1922. Di sana dia bertemu dengan tokoh-tokoh komunis tingkat dunia yaitu Vladimir Illich Lenin, Joseph Stalin, dan Leon Trotsky.

Baca juga:

Kongres Komintern IV berlangsung pada 5 November – 5 Desember 1922. Di sini Tan juga bertemu dengan para pemimpin revolusi Asia, termasuk Ho Chi Minh dari Vietnam.Tan beruntung, semua wakil Asia mendapat kesempatan bicara lima menit. Giliran Tan jatuh pada hari ketujuh. Di sanalah, dalam bahasa jerman patah-patah, dia menyampaikan gagasan revolusioer tentang kerja sama antara komunis dan islam.

Menurut Tan Malaka, Komunis tak boleh mengabaikan kenyataan bahwa saat itu ada 250 juta Muslim di dunia. Pan-Islamisme sedang berjuang melawan Imperialisme, perjuangan yang sama dengan gerakan komunisme. Menurut dia, gerakan itu perlu mereka dukung. Namun dia tahu keputusan ada di tangan petinggi-petinggi partai yaitu para Bolshevik tua.

Gagasan Tan soal koalisi komunisme dan Pan-Islamisme mendapat dukungan penuh dari delegasi Asia. Tapi kenyataan itu tak terlalu disukai oleh Karl Radek, pemimpin Komintern yang membawahkan urusan Asia. Setelah kongres usai dan para utusan kembali ke negeri masing-masing. Tan bingung harus ke mana. Dia tak ingin kembali ke Belanda. Tan sempat meminta Komintern menyekolahkan dia, tapi ditolak.

Untuk mengisi waktu luang, Radek meminta Tan Malaka menulis sebuah buku. Bahan-bahan untuk menulis dipesankan dari Belanda. Tan dibebaskan menuliskan apa saja, yang penting tentang Indonesia. Buku itu akhirnya terbit pada 1924 dengan judul Indonezija; ejo mesto na proboezdajoesjtsjemsja Vostoke (Indonesia dan tempatnya di Timur yang sedang bangkit). Pemerintah Rusia mencetak lagi buku itu sebanyak 5.000 eksemplar pada 1925. Tapi Tan tak sempat menunggu kelahiran buku yang dia tulis dalam bahasa Rusia itu. Karena pada akhir 1923 dia sudah berada di Canton, Cina, sebagai wakil Komintern untuk Asia Timur.

Setelah itu Tan Malaka melakukan pengembaraan selama 20 tahun, dikejar-kejar polisi rahasia di Manila, Hong kong, Bangkok, Singapura, dan kota-kota lainnya sebelum dia kembali ke Tanah Air pada 1942 setelah militer Jepang menguasai Asia Tenggara. Selama periode pelariannya itu dia menulis buku dan diterbitkannya di Canton pada 1924 yaitu Naar Repoebliek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia) dalam bahasa Belanda dan Melayu yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ratusan jilid buku tersebut lantas diselundupkan ke Hindia Belanda dan diterima oleh para tokoh pergerakan, termasuk Soekarno. Buku itulah yang menjadi bukti bahwa Tan Malaka adalah pencetus gagasan Indonesia Merdeka jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.

Dengan Menuju Republik Indonesia maka untuk pertama kalinya konsep “Republik Indonesia” dicanangkan. Gagasan Tan ini disampaikan Sembilan tahun sebelum Soekarno menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Juga jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928). Bahkan buku Massa Actie (1926) yang ditulis Tan Malaka dari tanah pelarian pun kemudian menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia.

Dalam usia 27 tahun, Tan Malaka sudah mencanangkan kemerdekaan Indonesia dan ada kejelasan perihal bagaimana bentuk Negara Indonesia yang merdeka kelak, yakni Republik.

Sejarah mengatakan Tan Malaka merupakan sosok revolusioner yang gerah berdiplomasi, namun konsepsinya tentang kemerdekaan terasa utuh, bulat dan cemerlang. Dia bahkan menjadi contoh terbaik tentang gagasan politik yang senantiasa membawanya dalam lingkaran kekalahan demi kekalahan. Buku-buku yang ditulis Tan malaka paling monumental ialah Madilog (1943), Massa Actie (1926), Gerpolek (1948) dan Dari pendjara ke Pendjara (1970).

 

Referensi:

Susilo, Taufik Adi. 2016. TAN MALAKA: Biografi Singkat (1897 – 1949). Jogjakarta.Garasi

Muhammad Rifa'i

Manuasi yang memanusikan manusia ini sedang menempuh pendidikan strata satu di salah satu universitas di kalimantan selatan. Minat keilmuan saya pada Sejarah, Sosiologi, Psikologi, Ekonomi dan Lingkungan.
Muhammad Rifa'i

Latest posts by Muhammad Rifa'i (see all)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *