Mengenal Lebih Dekat Satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3

Tentu teman-teman sering mendengar tentang satelit Indonesia. Satelit Telkom, BRIsat, Palapa, Indostar, dan lain-lain. Namun kenyataannya satelit-satelit tersebut bukan buatan anak bangsa, melainkan buatan asing yang kemudian dibeli dan diperuntukkan kepentingan negara kita. Akan tetapi, meskipun masih pada skala mikro negara kita telah menghasilkan satelit yang dapat dikatakan buatan kita sendiri. Satelit-satelit tersebut yaitu, satelit LAPAN-A1/TUBSAT, satelit LAPAN-A2/ORARI, dan satelit LAPAN-A3/IPB. Saat ini ketiga satelit tersebut masih beroperasi akan tetapi, satelit LAPAN-A1/TUBSAT sudah tidak dapat menghasilkan citra video yang baik sehingga saat ini hanya dilakukan pengambilan data kondisi satelit. Sementara satelit LAPAN-A2/ORARI dan satelit LAPAN-A3/IPB masih dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

A. Satelit LAPAN-A2/ORARI

Gambar 1. Satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI

    Satelit LAPAN-A2/ORARI merupakan satelit observasi skala mikro kedua buatan Indonesia. Satelit ini diluncurkan pada 28 September 2015 dengan roket PSLV C-30 dari Bandar Antariksa Satish Dawan, Sriharikotta, India. Satelit ini berbobot 76 kg dengan ketinggian orbit 650 km. Satelit ini merupakan satelit observasi equatorial yang mendukung mitigasi kebencanaan. Dengan orbitnya yang equatorial, satelit LAPAN-A2 dapat melintasi wilayah Indonesia sebanyak 14 kali sehari. Dengan banyaknya satelit ini melintas pada wilayah Indonesia, maka kita dapat memantau kondisi satelit lebih banyak dan pemanfatannya untuk Indonesia semakin luas. Satelit ini memiliki beberapa muatan di dalamnya, yaitu kamera digital, video kamera, AIS (Automatic Idenstification System), APRS (Automatic Packet Reporting System), dan VR (Voice Repeater). Kamera digital pada satelit ini memiliki resolusi 3,5 m dengan lebar sapuan 7 km. Disamping itu, satelit ini juga memiliki video kamera. Biasanya untuk pengambilan gambar dapat dipantau dengan video terlebih dahulu, setelah terlihat target yang diinginkan dilakukan pengambilan gambar/citra dengan menggunakan kamera digital. Selain untuk pemantauan wilayah NKRI secara visual, satelit ini juga dilengkapi dengan sensor pendeteksi kapal (AIS). Dengan sensor ini, kita dapat memantau kapal-kapal yang melewati orbit equator. Dari kemampuan tersebut, maka satelit LAPAN-A2 dapat memantau kapal-kapal yang dicurigai melakukan ilegal fishing. Satelit LAPAN-A2 juga dilengkapi dua sensor mitigasi bencana, yaitu APRS dan VR. APRS dapat mengirimkan pesan kebencanaan dalam bentuk teks sementara VR dapat mengirimkan pesan melalui audio. Ketika terjadi bencana, kondisi listrik padam, maka dua sensor ini dapat membantu sekali. Ketika satelit melewati wilayah yang terjadi bencana, VR/APRS dinyalakan oleh operator satelit. Sementara di wilayah terjadi bencana, komunitas radio amatir hanya dengan antena dan handy talki (HT) sudah dapat berkomunikasi dengan komunitas radio amatir di wilayah Indonesia lainnya. Dengan demikian pesan kebencanaan dapat tersampaikan. Adanya dua sensor ini juga cukup menjawab mengapa satelit ini juga dinamakan satelit LAPAN-ORARI.

B. Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB

   

Baca juga:

Gambar 2. Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB

    Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB merupakan satelit observasi yang merupakan kolaborasi antara Pusat Teknologi Satelit (LAPAN) dengan Institut Pertanian Bogor. Satelit ini diluncurkan pada 22 Juni 2016 dengan menggunakan roket peluncur PSLV milik ISRO India bersama dengan 21 satelit lain dari berbagai negara. Satelit ini memiliki bobot 115 kg atau 39 kg lebih berat dari LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB memiliki muatan utama yaitu kamera multispektral yang diberi nama LISA (Line Imager Space Application). Kamera ini memiliki semboyan “NKRI Harga Mati”. Dengan semboyan tersebut, maka misi utama dari LISA sendiri yaitu untuk menghasilkan full citra kamera multispektral di wilayah NKRI. Berbeda dengan satelit LAPAN-A2, satelit ini memiliki orbit polar sehingga satelit tersebut hanya sebanyak 4 kali melewati wilayah Indonesia. Karena keterbatasannya tersebut, saat ini Pusteksat LAPAN menyewa stasiun bumi Spitsbergen, Norwegia untuk mendapatkan potensi pengambilan data lebih banyak. Selain LISA sebagai muatan utama, satelit ini juga dilengkapi dengan muatan lainnya yaitu kamera digital, kamera termal, HFGM (Hybrid Fluxgate Magnetometer), dan AIS (Automatic Identification System). Kamera digital yang digunakan pada satelit LAPAN-A3 sama seperti pada LAPAN-A2, kamera termal disini baru sampai pada tahap experiment sehingga data yang dihasilkan belum maksimal. HFGM saat ini dimanfaatkan untuk penelitian medan magnet bumi, sementara AIS di satelit LAPAN-A3 dimanfaatkan untuk melengkapi data kapal pada orbit polar.

Pada dasarnya jika dibandingkan dengan negara lain, kemampuan penguasaan teknologi satelit negara kita masih cukup jauh tertinggal. Akan tetapi, adanya satelit buatan Indonesia ini, yang benar-benar didesain dan dibuat oleh anak Indonesia dan diproses di Indonesia membuktikan bahwa masih ada harapan bagi negara kita untuk berkembang lebih baik lagi khususnya dalam penguasaan teknologi satelit.

Referensi :

[1] Wikipedia. (2017). LAPAN-A2, tersedia di https://id.wikipedia.org/wiki/LAPAN-A2. Diakses pada Oktober 2019.

[2] PPLH IPB. Tentang Satelit LAPAN-A3/IPB, tersedia di https://lisat.ipb.ac.id/datacenter/index.php?p=tentang_a3. Diakses pada Oktober 2019.

Sartika Salaswati

Menamatkan pendidikan S1 Fisika di Universitas Indonesia (UI). Saat ini bekerja sebagai perekayasa di Pusat Teknologi Satelit, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Sartika Salaswati

Latest posts by Sartika Salaswati (see all)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

3 gagasan untuk “Mengenal Lebih Dekat Satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3

  • Citra Niar
    12 Oktober 2019 pukul 19:48
    Permalink

    Keren sekali ka,salam dari saya mahasiswi Geofisika dan Meteorologi IPB. Saya juga mengupload artikel mengenai klasifikasi citra satelit unsupervised di wilayah Tasikmalaya. Saya harap begitu artikel saya sudah di post kakak bisa memberikan komentar agar saya bisa belajar lebih banyak mengenai citra satelit

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *