Perubahan Iklim: Saintis Harus Mulai Memahami Politik

“Dalam peradaban manusia, ilmu yang paling pertama maju adalah fisika karena kebutuhan manusia saat itu adalah melawan gangguan dan batasan oleh alam, tapi sekarang kita sadar bahwa yang mengganggu dan membatasi kita adalah manusia itu sendiri.”

Hal ini diungkapkan oleh Roby Muhamad, seorang doktor sosiologi dari Universitas Indonesia dengan latar belakang fisika teori, yang mulai menggunakan pendekatan interdisipliner sejak kuliah doktor di New York. Beliau berpendapat bahwa segala masalah yang kita hadapi seperti krisis air, kemiskinan, kerusakan lingkungan, hingga pemanasan global perlu menggunakan pendekatan interdisipliner dan teori kompleksitas yang mana mengombinasikan penggunaan ilmu sains dan sosial dalam menyelesaikan permasalahan.[1]

Tidak dipungkiri bahwa pemanasan global adalah masalah sains yang telah terbukti secara sains. Namun, hasil penelitian saintifik saja tidak cukup untuk mengubah perilaku masyarakat. Tidak peduli seberapa mutakhirnya data, masyarakat tidak pernah tertarik pada hal yang rumit tersebut. Hal ini pun terjadi pada masalah perubahan iklim dan pemanasan global.

Dilansir dari hasil liputan Vox Climate Lab, seorang saintis bukanlah pemeran utama dalam melawan perubahan iklim.[5] Dalam liputan tersebut, Van Jones, Co-founder Green for All, sebuah organisasi sosial yang bergerak mewujudkan ekonomi hijau, menyatakan bahwa saintis sangat ahli berkutat dengan data namun sangat buruk dalam berhadapan dengan manusia. Ia juga menyatakan bahwa “Orang-orang tidak peduli seberapa banyak yang kamu tahu sampai mereka tahu seberapa besar kepedulianmu.” Jadi, sudah seharusnya seorang saintis harus menunjukkan kepeduliannya secara langsung melalui pergerakan sosial bahkan juga politik.

Pergerakan seperti ini pernah dilakukan oleh Dr. Veerabhadran Ramanathan yang kerap disapa Ram, seorang ahli ilmu atmosfer dari University of California San Diego yang telah banyak meneliti dan mempublikasikan tentang perubahan iklim bahkan jauh sebelum fenomena ini booming. Dalam liputan dari Vox tersebut, Beliau sangat menyayangkan bahwa penelitian dan publikasi yang beliau lakukan tidak pernah menjadi inspirasi bagi orang-orang untuk mulai mengubah perilaku hidupnya.

Kemudian, beliau mencoba menggunakan cara yang lebih kreatif. Ram mencoba mendekati Vatikan dan menjadi penasihat sains di sana sejak 2004. Tahun 2014, beliau secara kebetulan akhirnya bisa berbicara langsung dengan Paus Fransiskus hanya selama 3 menit di lapangan parkir di luar tempat tinggal Paus. Dalam keadaan terkejut dan panik tersebut, akhirnya beliau mengatakan bahwa perubahan iklim adalah masalah etika dan moral karena polusi terbesar dihasilkan oleh 1 miliar orang terkaya sedangkan yang menderita akibatnya adalah 3 miliar orang termiskin di dunia. Beliau meminta kepada Paus Fransiskus sebagai seorang pimpinan moral umat Katolik untuk menyampaikan tentang pentingnya mengubah perilaku dalam menghadapi perubahan iklim.

Ram (kiri) bertemu dengan Paus Fransiskus (kanan) di Vatikan

Akhirnya, Paus Fransiskus secara resmi menyampaikan tentang pentingnya melawan perubahan iklim melalui pidatonya dan juga melalui twitter. Hal ini berhasil mengguncang jagat maya karena ini pertama kalinya seorang pemimpin terbesar Katolik menyampaikan tentang perubahan iklim. Penyampaian ini pun berhasil menginspirasi 35% umat Katolik di Amerika Serikat untuk mengubah perilakunya dalam menghadapi perubahan iklim. Pengaruh ini pun semakin lama semakin meluas ke seluruh dunia bahkan diterima tidak hanya oleh umat Katolik. Kejadian ini kemudian dikenal dengan istilah The Francis Effect.

Dari fenomena ini, kita bisa mengetahui bahwa hanya dengan memindahkan pesan dari saintis ke pemuka agama, masyarakat akan langsung percaya dan langsung mengubah sikapnya. Pemuka agama, walaupun bukan seorang politisi, tetapi tetap saja memiliki pengaruh politik yang besar, bahkan cenderung melebihi para politisi. Dengan menggunakan pengaruh politik yang kuat, maka seharusnya masalah pemanasan global bisa diatasi.

Hal serupa pun dilakukan oleh Greta Thurnberg, seorang aktivis lingkungan muda asal Swedia yang mengajak seluruh anak-anak di dunia melakukan demonstrasi untuk menyelamatkan masa depan mereka. Berawal dari meninggalkan kelas di SMA-nya tiap hari Jumat untuk duduk di depan gedung parlemen di Swedia, aksi ini akhirnya semakin membesar menjadi demonstrasi bahkan terjadi di seluruh dunia. Aksi yang dilakukannya ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap para pemimpin dunia yang terus saja mengkhianati sains. Perubahan iklim adalah fakta sains sehingga kita dengan kesadaran seharusnya sudah melakukan mitigasi, namun hingga kini kita masih abai dan membiarkan semuanya terus memburuk.[3]

Dalam Pertemuan Aksi Perubahan Iklim di PBB, Greta berkesempatan untuk berpidato tentang tuntutannya dan anak-anak di seluruh dunia agar para pemimpin dunia melakukan hal yang nyata untuk menghadapi perubahan iklim.[4] Secara nyata, aksi Greta ini mengundang komentar negatif dari para pemimpin dunia. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengeluhkan kemacetan lalu lintas akibat demonstrasi yang terjadi.  Kanselir Jerman, Angela Merkel juga tidak setuju dengan pendapat Greta karena pengembangan teknologi memerlukan waktu yang cukup lama. Aksi yang dilakukan Greta juga menurut Presiden Perancis, Emmanuel Macron justru menimbulkan kebencian di tengah masyarakat. Presiden Rusia, Vladimir Putin berpendapat bahwa Greta kurang berpengetahuan dan menjadi korban manipulasi politis oleh orang-orang dewasa. Sementara Presiden Amerika, Donald Trump malah menganggap apa yang dilakukan Greta sebagai lelucon dengan men-tweet bahwa Greta adalah remaja dengan masa depan cerah. [2]

Baca juga:

Aksi Greta Thurnberg di depan gedung parlemen di Swedia

Berbeda dengan Ram, Greta hanyalah seorang siswa SMA biasa, bukan seorang saintis. Namun Greta telah sukses mempromosikan sains hingga menimbulkan pengaruh yang mengglobal dan lebih besar daripada The Francis Effect. Ketidaknyamanan para pemimpin dunia menunjukkan bahwa pergerakan Greta memang menjadi ancaman bagi kelangsungan bisnis-bisnis besar yang berkepentingan terutama bisnis minyak bumi dan batubara yang banyak menghasilkan emisi gas CO2. Saintis harus mulai menjalin kerja sama yang apik dengan para aktivis. Saintis sering kesulitan dalam menggerakkan massa dan aktivis sering dianggap kurang berpengetahuan.  Untuk memulai kerja sama ini, maka seorang saintis harus terlebih dahulu mulai memahami fenomena sosial dan politik yang terjadi dalam masyarakat.

Referensi:

[1] https://theconversation.com/sains-sekitar-kita-roby-muhamad-dan-penjelajahan-dari-fisika-ke-sosiologi-95766 (diakses 11 Oktober 2019)

[2] https://www.bloomberg.com/opinion/articles/2019-10-09/planet-earth-will-pay-the-price-for-greta-thunberg-s-radicalism (diakses 10 oktober 2019)

[3] https://www.theguardian.com/commentisfree/2018/nov/26/im-striking-from-school-for-climate-change-too-save-the-world-australians-students-should-too (diakses 10 oktober 2019)

[4] https://www.youtube.com/watch?time_continue=3&v=u9KxE4Kv9A8 (diakses 11 Oktober 2019)

[5] https://www.youtube.com/watch?v=-qfI3DZmmQw&list=PLJ8cMiYb3G5fP5oq01TBp9fgh70vDDSMe&index=6 (diakses 11 Oktober 2019)

Sumber gambar :

https://www.theguardian.com/commentisfree/2018/nov/26/im-striking-from-school-for-climate-change-too-save-the-world-australians-students-should-too (diakses 10 Oktober 2019)

https://www.sandiegouniontribune.com/news/science/sdut-pope-francis-ucsd-2015jun18-story.html (diakses 12 Oktober 2019)

Sedang menempuh pendidikan sarjana jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM. Tertarik mempelajari sains dalam masyarakat untuk mewujudkan sistem pangan berkelanjutan
prema_nanda
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *