Melihat Sains dari Sejarah

Kenapa Kita Harus Mengenal Sejarah Sains?

Ketika di sekolah, kita diajari untuk menganggap bahwa sains itu sudah benar. Kita menghafal apa yang ada di buku biologi dan menghitung dengan rumus fisika tanpa mempertanyakan darimana asalnya. Kita jarang mengetahui cerita-cerita menarik dibalik teori-teori yang ada di buku. Teori-teori itu memang penting, tetapi kita sebaiknya tidak melupakan sejarahnya. Ada banyak hal baru yang bisa kita temukan ketika kita melihat sains dari sudut pandang sejarah, yaitu dari sudut pandang History of Science.

“Many scientists bypass history and its importance. But learning the scientific method and the history of science is the embodiment of scientific knowledge” (Balkees Abderrahman) [1]

Sejarah sains menunjukan bagaimana suatu hal yang sepele bisa menjadi bencana besar. Kisah yang menarik adalah ketika pasukan Napoleon menggunakan timah sebagai kancing baju mereka. Masalahnya, timah bisa hancur menjadi bubuk pada temperatur rendah. Masalah ini menjadi faktor penting yang menyebabkan kekalahan Napoleon dalam invasinya ke Rusia[1]. Ya, hanya masalah desain kancing baju.

Untuk memberikan sedikit pandangan tentang menarik dan pentingnya sejarah sains, berikut akan disampaikan dua buah “kisah”. “Kisah” mengenai zat yang menyusun semua benda dan “kisah” mengenai pusat dari alam semesta.

 

Sejarah Teori Atom

Sejarah Teori Atom
Gambar 1: Sejarah Teori Atom [https://futurism.com/images/a-brief-history-of-atomic-theory-infographic]

Sejarah sains juga menunjukan bahwa Natural Science yang disebut ilmu eksak bisa mengalami perubahan terus menerus. Suatu teori yang sangat kompleks ternyata dimulai dari teori yang terlihat sangat bodoh. Contoh yang menarik adalah tentang sejarah atom. Dahulu kala, ada Demokritus yang menyatakan bahwa setiap benda tersusun atas atom, berasal dari kata “atomos” yang berarti tidak bisa dibagi. Kemudian ada Aristoteles yang percaya pada teori bahwa dunia ini disusun oleh empat elemen, “Air, Tanah, Api, Udara”. Ratusan tahun kemudian, ada John Dalton yang membenarkan Demokritus dan menyebutkan kriteria atom. Kemudian ada J.J Thomson yang menemukan elektron dan membuktikan bahwa “yang tidak bisa dibagi” bisa dibagi. Lalu ada Rutherford dengan model tata suryanya [2]. Dan ternyata, model yang mereka semua ajukan salah.

Atom ternyata jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Quark membentuk proton dan neutron kemudian proton dan neutron membentuk nukleus. Kemudian ada elektron yang mengitari nukleus dalam suatu awan probabilitas yang posisi elektron tidak bisa dan tidak akan bisa ditentukan secara pasti. Bahkan model atom masih terus berubah dan berkembang sampai sekarang. Hal yang kompleks seperti itu dimulai dari ide yang sederhana, bahkan sangat gila.

 

Sejarah Perdebatan tentang Pusat Alam Semesta

Kisah lain yang tidak kalah menarik adalah tentang teori heliosentris. Sekarang, mungkin anak kecil pun bisa paham bahwa matahari tidak mengelilingi bumi, tetapi bumi dan planet-planet lain lah yang mengelilingi matahari. Akan tetapi, sejarah mengenai hal ini sangat menarik, meliputi berbagai zaman dan berbagai peradaban, bahkan menunjukan bahwa sains berkaitan erat dengan agama dan kepercayaan masyarakat.

Geosentris dan Heliosentris

Gambar 2: Model Geosentris dan Heliosentris [https://www.atlantapublicschools.us/Page/42291]

Perdebatan antara geosentris (bumi sebagai pusat) dan heliosentris (matahari sebagai pusat) sebenarnya sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Dua ratus tahun sebelum Masehi, Aristarchus sudah memberikan argumen untuk teori heliosentris dan diterima oleh astronom Babilonia bernama Seleucus. Akan tetapi, ide ini bertentangan dengan teori geosentrisnya Aristoteles dan Ptolemus[3]. Di masa selanjutnya, teori heliosentris ini juga dianggap bertentangan dengan ajaran gereja katolik pada waktu itu[4]. Jadi, yang banyak berkembang di masyarakat pada waktu itu adalah teori geosentris, bahwa matahari dan benda langit lainnya mengelilingi bumi.

Meski bertentangan dengan gereja, Nicholas Copernicus mempublikasikan teori heliosentris sebelum kematiannya pada 1543. Astronom lain seperti Galileo Galilei pun mencoba melanjutkan pekerjaan Copernicus. Pada 1616, Paus Paul V memerintahkan agar Galileo tidak mengajarkan teori heliosentrisnya atau akan berakhir di penjara. Galileo pun memilih menjauh dari penjara. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, Galileo mempublikasikan karyanya yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan teori heliosentris, tetapi cukup untuk membuatnya mendapat hukuman. Galileo pun menjadi tahanan rumah pada 1633 sampai dia meninggal pada 1642[4].

 

Apa yang Kita Dapatkan dari Kisah itu?

Kisah itu menunjukan bahwa Sains tidak selalu dihargai, bahkan seorang ilmuwan bisa dipenjara. Akan tetapi, kebenaran tetap terungkap. Ketika dulu seorang ilmuwan bisa dipenjara karena menolak teori bahwa semua benda langit mengelilingi bumi, sekarang seorang siswa bisa ditertawakan karena menyampaikan teori itu. Sejarah sains menunjukan bahwa dibalik hal yang sepele yang bahkan sekarang menjadi common knowledge, terdapat kisah yang penuh dengan konflik dan perjuangan.

Bagaimanapun juga, ratusan tahun sebelum Copernicus mengemukakan teori heliosentris, teori itu memang sudah menjadi common knowledge di peradaban lain, yaitu peradaban Islam. Awalnya, astronom muslim memang cenderung setuju dengan teori geosentrisnya Ptolemus. Imam Jafar Sadiq mungkin adalah cendekiawan pertama yang menentang model itu dan mendukung teori heliosentris pada abad ke-8. Pada abad ke-9, al-Bakhi mengembangkan lebih lanjut model heliosentris tersebut. Heliosentris pun makin menyebar di kalangan cendekiawan muslim lainnya [3]. Teori heliosentris tidak bertentangan bahkan sesuai dengan Al-Quran, kitab yang sangat diimani seorang muslim. Begitulah sains berinteraksi dengan berbagai peradaban dan agama.

Baca juga:

 

Sekilas tentang Metode Ilmiah

Scientific method yang sekarang sangat terkenal pun memiliki sejarahnya sendiri. Dari peradaban Yunani, ada Aristoteles yang disebut sebagai “father of science”. Dia menyebutkan pentingnya pengukuran secara empiris. Kemudian dari peradaban Islam, ada Ibnu al Haytam. Beliau mempelajari cahaya dengan mengembangkan metode yang hampir sama dengan metode ilmiah modern. Ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya juga memberikan andil bagi perkembangan metode ilmiah[5]. Semua itu menjadi dasar bagi scientific revolution di Barat. Dan sekarang, kita bisa merasakan bagaimana sains dan teknologi berkembang dengan sangat cepat.

Begitulah History of Science bisa menunjukan banyak hal yang sangat penting untuk diketahui. Tidak hanya mengetahui apa, tetapi bagaimana suatu teori bisa sampai pada kita. Sejarah sains sebagaimana sejarah pada umumnya, membuat kita bisa belajar dari kesalahan dan keberhasilan orang-orang terdahulu. Sejarah sains menunjukan bahwa sains selalu berkembang, menuntut kita untuk terus bertanya dan mencari jawaban, menuntut kita untuk berpartisipasi dalam mengembangkan sains.

 

Referensi

[1]     Payne, D. (2018, May 15). Why the history of science and medicine is important. Retrieved July 18, 2019, from NatureJobs Blog: https://blogs.nature.com/naturejobs/2018/05/15/why-the-history-of-science-and-medicine-is-important/

[2]     History of Atomic Theory. (n.d.). Retrieved July 18, 2019, from Preceden: www.preceden.com/timelines/71122-history-of-atomic-theory

[3]     Islam, S. (2014, August 8). Heliocentric concepts in the Quran. Retrieved July 18, 2019, from Lamp of Islam: https://lampofislam.wordpress.com/2014/08/08/heliocentric-concepts-in-the-quran

[4]     Winter, L. (2016, February 25). How One Of The World’s Greatest Scientists Was Jailed Over An Idea. Retrieved July 18, 2019, from a plus: https://articles.aplus.com/a/galileo-renounces-heliocentrism

[5]     Shuttleworth, M. (n.d.). History of the Scientific Method. Retrieved July 18, 2019, from Explorable: https://explorable.com/history-of-the-scientific-method

Pandega Abyan Zumarsyah
Latest posts by Pandega Abyan Zumarsyah (see all)
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar