Mengenal Biodiesel dari Biji Kemiri Sunan

Mari Mengenal Biodiesel dari Biji Kemiri Sunan

Energi alternatif menjadi tema yang tak habis-habisnya dibicarakan. Hal ini dikarenakan mulai menipisnya persediaan sumber energi non terbarukan. Populasi penduduk yang semakin meningkat, pertumbuhan industri yang semakin massif, juga naiknya daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor menjadi faktor-faktor yang menyebabkan tingginya kebutuhan energi nasional.

Baca juga: Kupas Tuntas Biodiesel

Dewan Energi Indonesia menjabarkan dalam publikasi “Outlook Energi Indonesia 2016” bahwa kebutuhan energi di Indonesia pada rentang 2015-2050 diprediksi akan mengalami peningkatan sebesar 3.5% per tahunnya[1]. Selain itu, kenaikan ini juga diduga akan berdampak pada peningkatan produksi bahan bakar dari sumber terbarukan pada beberapa tahun kedepan. Oleh karena itu, penelitian-penelitian mengenai sumber energi alternatif terbarukan mulai gencar dilakukan oleh para peneliti sekitar satu hingga dua dekade ini. Salah satu sumber daya alam yang berpotensi untuk dijadikan bahan bakar alternatif adalah minyak yang berasal dari biji kemiri sunan.

Kemiri sunan (Aleurities trisperma) berbeda dengan kemiri yang biasa digunakan sebagai bumbu memasak (Aleurities moluccana), walau keduanya berada pada genus yang sama. Buah kemiri sunan terdiri dari 62-68% kulit buah, tempurung biji 11-16% dan kernel (inti biji) 16-27% dengan perolehan persentase rendemen minyak dari kernel sebesar 45-50%[2]. Minyak kasar yang diekstrak dari biji kemiri sunan tidak dapat dikonsumsi karena mengandung asam α-oleostearat yang bersifat racun sehingga pemanfaatannya tidak akan bersaing dengan industri pangan [3]. Sementara itu, sentra produksi tanaman kemiri sunan di Indonesia terdapat di provinsi Jawa Barat seperti di daerah Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut. Namun, wilayah Bali dan Nusa Tenggara kini juga mulai mengembangkan budidaya tanaman ini.

Gambar Buah dan Biji Kemiri Sunan (Sumber : BPTP Jawa Barat)

Trigliserida

Trigliserida asam lemak yang terkandung pada minyak biji kemiri sunan berpotensi untuk diolah menjadi bahan bakar pengganti solar atau yang biasa disebut dengan biodiesel. Trigliserida asam lemak ini apabila direaksikan dengan pelarut alkohol dan katalis basa/asam, maka akan menghasilkan produk fatty acid metil ester (FAME) yang merupakan biodiesel dan produk sampingan yang berupa gliserol.

Sama seperti biodiesel lainnya, secara umum proses produksi biodiesel dari minyak biji kemiri sunan terdiri dari proses ekstraksi minyak, reaksi esterifikasi, reaksi transesterifikasi, proses pencucian biodiesel dan evaporasi.

Proses ekstraksi minyak pada biji kemiri sunan dilakukan umumnya dengan mesin pengepres hidraulik karena kisaran rendemen minyak kasar yang dihasilkan cukup tinggi. Namun, dikarenakan tingginya kandungan asam lemak bebas (free fatty acid (FFA) dari minyak yang dihasilkan, maka perlu dilakukan reaksi esterifikasi untuk menurunkan bilangan asamnya[5].

Baca juga:

Kandungan asam yang tinggi pada minyak atau lemak yang akan diolah menjadi biodiesel dapat menyebabkan terbentuknya sabun pada saat reaksi transesterifikasi, sehingga menurunkan rendemen biodiesel. Setelah diperoleh minyak dengan kandungan FFA yang rendah, maka minyak akan direaksikan dengan alkohol sehingga terbentuk FAME dan gliserol. Keduanya kemudian dipisahkan dan komponen FAME kemudian dicuci dengan air hangat lalu dievaporasi untuk menghilangkan sisa-sisa air pada biodieselnya.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kualitas biodiesel minyak biji kemiri sunan yang diproduksi sudah mendekati standar biodiesel yang ditetapkan oleh SNI nomor 7182:2015[3][5]. Optimasi setiap tahapan pada proses produksi biodiesel minyak biji kemiri sunan menjadi kunci agar komoditas ini dapat memenuhi persyaratan untuk dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan masa depan.

Refrensi :

[1] Prasodjo, E. H. Nurzaman, Walujanto, D. Rosdiana, P. Ismutadi, C. Malik, J. Santosa, A. Nurohim, K. D. Widiastuti, S. H. Pambudi, J. L. Wibowo, A. Sauqi. 2016. Outlook Energi Indonesia 2016. Dewan Energi Indonesia : Jakarta

[2] Herman, M., M. Syakir, D. Pranowo, Saefudin, dan Sumanto. 2013. Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Air Shaw) Tanaman Penghasil Minyak Nabati dan Konservasi Lahan. IAARD Press : Jakarta

[3] Djenar,N. S. dan N. Lintang. 2012. Esterifikasi Minyak Kemiri sunan (Aleurities trisperma) dalam Pembuatan Biodiesel. Bionatura, Jurnal Ilmu-ilmu Hayati. 14(3): 215-221

[4] S.NurjanahA.M.KramadibrataM.MuhaeminHandartoT.HerwantoM.SaukatS.RosalindaD.PrijatnaM.H.B. Pratama, dan E.Mardawati. 2019. Study on Different Capacity of Transesterification Process in Biodiesel Production from Kemiri Sunan (Reutalis trisperma). International Conference on SMART CITY Innovation. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 

Nurul Ainina

Latest posts by Nurul Ainina (see all)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *