Orang Tua Harus Paham, Pembelajaran Calistung (Baca, Tulis dan Hitung) Bisa Berdampak Buruk Bagi Perkembangan Otak Anak

The Golden Age, Adalah suatu masa yang amat penting bukan hanya untuk para orang tua ataupun keluarga, serta individu itu sendiri, tapi lebih dari itu adalah untuk kemajuan bangsa dan negara. Karenanya, melalui mereka akan lahir generasi-genersi emas, para intelektual, serta para pemimpin yang kelak nasib bangsa dan negara kita berada di tangan mereka. Jadi amat penting untuk menjaga masa-masa emas mereka, tentunya dengan melalui pendididikan.

Baca juga: Model Matematika dalam Menyelesaikan Masalah

Urgensi pendidikan bagi anak usia prasekolah (Taman Kanak-Kanak) sejalan dengan aspek perkembangan diri anak. Pendidikan yang diberikan pada anak usia prasekolah akan dapat menumbuh kembangkan potensi diri anak karena masa kanak-kanak merupakan masa keemasan yakni berada pada rentang usia 0 tahun hingga 6 tahun. Pada masa ini, anak tumbuh dan berkembang dengan pesat, dan dimana anak lebih cenderung untuk mengekspresikan sesuatu hal dengan bermain.[1]

Calistung bisa memberikan dampak buruk bagi para peserta didik, yaitu apabila kita tidak menempatkannya sesuai dengan waktu dan prosesnya. Jika hal ini dilakukan, tentunya akan banyak hal yang tidak relevan dengan fungsinya. Sama seperti halnya otak, otak anak usia dini akan berbeda dengan otaknya anak sd. Dunia mereka adalah bermain. Jadi Calistung bila dipaksakan dengan cara yang tidak memberi mereka rasa nyaman dan senang seperti bermain maka akan banyak dampak yang ditimbulkan pada otak

Calistung yang dilakukan anak. Sumber: bincangedukasi.com

Otak anak dengan otak orang dewasa berbeda takarannya. Otak anak menurut Hasan (2013:159) mempunyai satu triliun sel otak dan bertriliun-triliun sambungan antar sel saraf otak. Kondisi ini mengharuskan orang tua atau keluarga terdekat untuk membantu mengaktifkan saraf-saraf tersebut. Apabila otak anak tidak distimulasi sejak dini, maka akan mengalami kepunahan sambungan saraf. Ibarat tanaman yang tidak disiram, ia akan layu kemudian mati.[2]

Ada bagian otak yang disebut amygdala yang tumbuh mencapai puncaknya pada usia 4 tahun. Amygdala ini berkaitan dengan penyimpanan memori emosi/rasa. Karena itu potensi otak anak usia dini akan tercapai optimal apabila rangsangan yang diberikan adalah berupa rangsangan yang diberikan dengan nuansa emosi yang baik seperti kegiatan bermain. Pengalaman-pengalaman di usia tersebut akan terpatri dan kuat.[3]

Pentingnya stimulasi pada perkembangan otak anak usia dini harus menjadi perhatian pendidik dan juga orang tua. Pertumbuhan otak tidak akan sama dengan pertumbuhan fisik, sel saraf otak tidak dapat bertambah lagi jumlahnya setelah lahir. Tapi jumlah hubungan antar sel saraf otak akan terus berlangsung. Jumlah hubungan sel saraf ini sangat bergantung pada stimulasi yang diberikan.

Penelitian mengenai otak manusia menunjukkan bahwa perkembangan intelektual otak anak usia 4 tahun pertama sejak anak dilahirkan berkembang pesat menjadi 50%. Pada usia 4-8 tahun bertambah 30%. Pada usia 18 bertambah 20%. Hasil penelitian mengenai otak ini menunjukkan bahwa simulasi otak yang dilakukan empat tahun pertama kehidupan seorang anak akan sangat bermanfaat bagi kehidupan sang anak di masa depan. IQ (Intelligence Quotient) anak ukuran rata-rata adalah 90-110. Apabila IQ anak berada di bawah range, maka ia tergolong anak yang berIQ rendah.

Anak yang terlalu difokuskan belajar calistung di usia dini dapat menimbulkan stres. Anak tidak dapat berkembang secara alami sebagaimana mestinya, serta tidak diberikan kesempatan untuk membangun fondasi yang kuat. Akibat tekanan yang dirasakan anak, mereka tidak dapat berkreativitas sesuai ide yang dimiliki. Sebaliknya, apabila anak terstimulasi dengan baik dan benar pada saat usia dini dan diberikan kesempatan untuk bermain, maka anak tersebut tidak akan menemui hambatan dalam belajar di kemudian hari dan anak tersebut distimulasi untuk menjadi lebih kreatif. Bentuk permainan yang terarah merupakan fondasi yang penting untuk menunjang kesempurnaan dalam kemampuan belajar di kemudian hari. Suatu misal, orang tua merasa bahwa anaknya tidak perlu distimulasi motorik halusnya. Dalam hal ini menstimulasi keterampilan tangan. Orangtua langsung mengajarkan anaknya untuk menulis. Akibatnya, anak berumur 6 tahun, tetapi anak tersebut tidak dapat menulis dengan baik atau tidak dapat menulis dalam angka waktu yang lama. Dengan alasan, tanganya cepat letih.[2]

Baca juga:

Bahkan Kak Seto berpendapat “dunia anak-anak adalah bermain. Betul-betul bermain bergembira kompetensinya.Membaca menulis menghitung (Calistung) itu adalah kompetensi di SD. Di TK/ RA tidak dituntut itu.Di TK adalah taman bermain bergembira, bersosialisasi dan satu yang paling utama etikanya dulu”.[4]

Sangat penting bagi orang tua dan keluarga membiarkan anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan fase, secara alami. Anak harus diberikan fondasi yang kuat serta stimulasi agar siap menghadapi tantangan sekolah dengan cara yang tepat melalui bermain. [2] Penelitian mengenai waktu yang tepat bagi si kecil untuk memulai belajar membaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa si kecil mulai belajar membaca jika sudah mencapai umur mental, yakni usia 5-5.5 tahun. Penemuan ini mengisyaratkan bahwa usia anak yang mencapai umur mental lebih mudah belajar membaca dibandingkan dengan usia anak yang belum mencapai umur mental (Hasan, 2013:310).

Penting bagi kita semua, untuk memberikan fondasi yang kuat pada anak untuk menghadapi dunia sekolah, namun pemahaman yang kita berikan harus lah tepat pada diri si anak. Calistung bukan tidak baik untuk anak namun peniting untuk kita mengajarkannya dengan cara yang tepat sesuai dunianya. Fondasi yang kuat bukan hanya kecerdasan tapi yang lebih penting adalah menanamkan pada diri anak yaitu etika, moral, adab, dan karakter sesuai dengan usianya. Biarkan anak berkembang secara alami pada fasenya.

Referensi:

[1] Saniy, Mawari Melati A. 2014. Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Siswa SD Negeri Sampangan 02 Semarang yang Mendapat Calistung dan Tidak Mendapat Calistung di Taman Kanak-Kanak. Educational Psychology Journal. Volume 3 (1),
Page 14 – 18.
[2] Anisah, Zulfatun. 2017. Efektivitas Otak Anak Usia Dini dalam Mengenal Calistung. Indonesian Journal of Early Childhood Islamic Education. Voloume 1 (2), Page 207 – 222
[3] Jazariah. 2017. Signifikansi Brain Based Learning Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Islam. Volume 11 (1), Page 1 – 24
[4] Asiah, Nur. 2018. Pembelajaran Calistung Pendidikan Anak Usia Dini dan Ujian Masuk Calistung Sekolah Dasar di Bandar Lampung. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar Volume 5 (1), page 19 – 42

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *