Apakah Kalian Pernah Memakan Telur Lalat?

Pasti saat kalian dengar pertanyaan ini akan merasa jijik dan terheran-heran, jangankan makan telur lalat melihat saja tidak pernah. Dari survey  yang saya lakukan ternyata masih banyak loh yang tidak pernah melihat telur lalat. Sebelum  saya menjelaskan lebih jauh tentang telur lalat mari simak dulu sebenarnya jenis lalat apa aja sih yang mau kita bahas.

Lalat Rumah (Musca domestica)

Lalat rumah (M. domestica) merupakan lalat yang paling umum dikenal orang karena lalat ini biasanya hidup berasosiasi dengan manusia. M.domestica berukuran sedang dengan panjang 6-9 mm, berwarna abu-abu, mempunyai empat pita yang berupa garis memanjang pada permukaan toraks.

Gambar 1 : Lalat Rumah (Musca domestica)

Mata majemuknya besar, pada bentuk jantan kedua mata majemuk agak berdekatan, tetapi bentuk betina lebih berjauhan. Lalat rumah mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur, larva (maggot), pupa, dan bentuk dewasa (lalat). Lalat rumah menghisap cairan yang mengandung gula atau bahan-bahan yang telah membusuk. Mereka hanya aktif pada siang hari.

Selain dapat mengganggu ketentraman dalam rumah, lalat rumah dapat membawa sekitar 100 jenis bakteri patogen yang dapat  mengakibatkan penyakit pada manusia. Diantaranya adalah tipoid, paratipoid, kolera, disentri, tuberkulosis, dan kecacingan. Penyakit patogen biasanya terbawa oleh lalat dari berbagai sumber seperti sisasisa kotoran, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan kotoran manusia, dan sumber-sumber kotoran yang lain, kemudian patogenpatogen yang melekat pada mulut dan bagian tubuh lainnya dipindahkan ke makanan manusia.[1] Bakteri patogen yang disebarkan oleh lalat adalah antara lain Salmonella typhi, Shigella disentry, Clostridium perfringens, Vibrio cholerachol.[2]

Lalat Hijau (Chrysomya megacephala)

Lalat Hijau (Chrysomya megacephala) merupakan serangga yang berukuran sedang dengan panjang tubuhnya berkisar antara 8-10 mm. Seperti halnya sebagian besar anggota Diptera lain, C. megacephala juga mengalami metamorfosis sempurna yang diawali dengan telur, yang kemudian menjadi larva, pupa dan akhirnya menjadi bentuk dewasa. Telur diletakkan oleh lalat dewasa dalam keadaan berkelompok-kelompok atau onggokan.

Selama masa hidupnya lalat betina C. megacephala meletakkan telurnya sebanyak 4-6 kali. Jangka waktu hidup tahap pra dewasa lalat C. megacephala adalah sekitar 8,5 – 9 hari pada suhu 24 – 28,5°C dengan kelembaban 85 – 92%, sedangkan tahap dewasanya berkisar antara 37,6 – 41,2 hari pada suhu 24 – 28°C dengan kelembaban 86 – 94,6%. 6 Bentuk dewasa lalat ini sejak lama dikenal sebagai penggangu pada rumah pemotongan hewan, dan pada tempat-tempat penjualan daging, ikan, manisan, buah-buahan dan berbagai jenis makanan lain di pasar.

Gambar 2 : Lalat hijau (Chrysomya megacephala)

Penyebaran Lalat Rumah dan Lalat Hijau Musca domestica dan Chrysomya megacephala merupakan lalat yang tersebar secara kosmopolitan dan bersifat sinantropik yang artinya lalat ini mempunyai hubungan ketergantungan yang tinggi dengan manusia karena zat-zat makanan yang dibutuhkan lalat sebagian besar ada pada makanan manusia. Lalat lebih aktif pada tempat yang terlindung dari cahaya dari pada tempat yang langsung terkena cahaya matahari. Penyebaran yang luas dari lalat ini dimungkinkan karena daya adaptasinya yang tinggi.

Kepadatan lalat di suatu daerah, sangat dipengaruhi oleh tempat perindukan, cahaya matahari, temperatur, kelembaban, tekstur dan warna permukaan yang disenangi untuk istirahat. Tempat perindukan lalat biasanya pada kotoran ternak, sampah, material organik, dan saluran pembuangan. Kepadatan lalat akan tinggi jika temperatur antara 20-25oC. Populasi menurun apabila temperatur > 45 dan < 100 C. Pada temperatur yang sangat rendah, lalat tetap hidup dalam kondisi dorman pada stadium dewasa atau pupa.[3]

Berikut adalah gambaran dari telur lalat, Pada dasarnya lalat adalah salah satu serangga yang cukup sering di jumpai terutama di tempat yang higienitasnya kurang baik. Ketika lalat singgah di makanan maka ada sebagian kotoran  yang menempel ditubuhnya yang ikut mencemari makanan yang dihinggapinya. Tidak jarang lalat juga mengeluarkan telurnya di makanan atau minuman tersebut.

Gambar 3: telur lalat

Gambar 4: telur lalat pada makanan

Baca juga:

Gambar 5: siklus hidup lalat

Lalat mengalami 4 siklus hidup, yaitu telur-larva-pupa-lalat dewasa. Lamanya siklus hidup lalat serta suhu yang cocok untuk perkembang biakannya bervariasi antara jenis lalat satu dan lainnya. Telur lalat hijau membutuhkan waktu sekitar 9-21 hari untuk menjadi lalat dewasa. Biasanya lalat hijau akan mengeluarkan telurnya di atas permukaan sayuran, bangkai atau makanan. Selanjutnya dalam beberapa hari telur ini dapat berpotensi berkembang biak menjadi larva (belatung) higga lalat dewasa. Pada kasus tertelannya telur lalat, sangat kecil kemungkinan telur lalat tersebut berkembang biak di dalam tubuh mengingat tubuh manusia memiliki sistem pertahanan tubuh. Namun ada beberapa kondisi tertentu yang memungkinkan telur lalat yang tertelan dapat berkembang biak di dalam tubuh, antara lain :

  • Terpapar dengan makanan yang terdapat telur lalat terus menerus atau dalam jangka waktu yang cukup lama. Biasanya pada orang yang tinggal di daerah yang higienitasnya sangat buruk.
  • Penderita sedang dalam kondisi daya tahan tubuh yang lemah
  • Penerita sedang mengkonsumsi obat maag dalam jangka waktu yang cukup lama

Kondisi berkembang biaknya telur lalat di dalam tubuh disebut juga myiasis.[4]

Apa sih miasis itu..?

Miasis adalah peristiwa ifeksi oleh larva lalat (belatung) yang memakan jaringan hidup maupun mati dari inang yang ditumpanginya. Belatung ini juga dapat memakan cairan tunuh inangnya atau makanan yang telah dimakan inangnya. Infeksi belatung ini bersifat kontaminasi dan patogen terhadap tubuh inangnya.[5]

Miasis pada manusia adalah penyakit yang disebabkan oleh belatung yang berasal dari ordo Diptera dengan sub ordo Cyclorrhapha  Miasis banyak ditemukan di daerah tropis dan umumnya terjadi pada musim hujan. Pada tahun 1981, Yoneda dan Iwami menemukan terjadinya miasis pada bayi yang semula menderita konjungtivitis akut dan jenis belatung yang ditemukan adalah sarcophagasimilis. Di berbagai negara termasuk Indonesia, ditemukan berbagai jenis miasis yang berada pada berbagai bagian tubuh.[6]

Meskipun sangat jarang ditemui namun perlu diketahui bahwa beberapa kasus myasis tidak bergejala, namun sebagian mengeluhkan gejala seperti :

  • Kram perut
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Gatal di sekitar anus.[4]

Jadi kita harus lebih berhati-hati, ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan seperti, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan, jangan membeli makanan sembarangan yang terbuka dann selalu teliti apa yang hendak kita makan. Sekian terimakasih semoga bermanfaat 🙂

Referensi:

[1]Sembel,2009 dalam http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-ermasetiyo-5320-2-bab2.pdf

[2]Sharington,1994 dalam http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-ermasetiyo-5320-2-bab2.pdf

[3] Sitanggang,2004 dalam http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-ermasetiyo-5320-2-bab2.pdf

[4] Larasandi,2018  https://www.alodokter.com/komunitas/topic/tanpa-sengaja-memakan-telur-lalat-hijau 

[5] Goddrard J,2008. infectious diseases and arthropods. Totowa: Humana

[6]Natadisastra D, Agoes R,2005. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC

 

Rani

Bekerja sebagai staf TU di SMP BAKTI PRAJA PANGKAH, senang dengan dunia sains, teknologi dan astronomi. pengamat sosial
Rani

Latest posts by Rani (see all)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *