Mengenal Suicide Prevention, Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia Tahun Ini

Photo by Sydney Sims on Unsplash

Mengenal Suicide Prevention

Dua hari yang lalu tepatnya pada Kamis (10/10/2019) merupakan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap tahun dengan mengangkat tema kesehatan mental yang berbeda tiap tahunnya. Suicide Prevention atau yang lebih kita kenal sebagai Pencegahan Bunuh Diri, merupakan tema Hari Kesehatan Mental Sedunia pada tahun ini. Lalu, apakah tujuan dari diangkatnya tema ini?

Menurut situs web resmi World Health Organization (2019) ,fokus utama diusungnya tema ini ialah untuk membangkitkan kepedulian atas banyaknya kasus bunuh diri diseluruh dunia dan bagaimana peran yang dapat kita lakukan sebagai individu untuk membantu mencegahnya.

Tema pada tahun ini relevan untuk dijadikan sebagai suatu media untuk mengajak, menyadarkan serta mengedukasi masyarakat Indonesia akan pengetahuan pencegahan bunuh diri sehingga diharapkan korban baik dikarenakan meninggal maupun korban yang masih dalam tahap memiliki pikiran untuk bunuh diri (suicidal thoughts) akan dapat berkurang angkanya.

Pada tahun 2016 melalui situs kompas.com yang berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) , Indonesia menduduki peringkat ke-114 di dunia dengan kasus bunuh diri 10.000 tiap tahunnya atau bisa dikerucutkan menjadi satu orang per jam.

Bagaimana Menurut Data Statistik?

Dari data statistik tersebut bisa dilihat bahwa bunuh diri merupakan salah satu penyumbang utama yang menelan korban jiwa selain kematian yang disebabkan karena penyakit fisik kronis (seperti diabetes melitus dan penyakit jantung koroner). Maka dari itu, penting bagi kita mengenali faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan seseorang memiliki keinginan untuk bunuh diri (suicidal thoughts).

Dari sekian juta kasus bunuh diri yang terjadi di seluruh dunia, pada umumnya alasan untuk bunuh diri seorang pasien yang mengalami depresi ialah bukan dikarenakan keinginan yang tiba-tiba. Melainkan suicidal thoughts muncul sebagai hasil dari perasaan individu yang tidak dapat meng coping stress (usaha ntuk mengurangi dan atau menghilangkan tegangan yang ditumbulkan dalam kondisi stress) dengan baik saat Ia dihadapkan pada sebuah problematika kehidupan yang menurutnya sangat berat dan melelahkan.

Jika individu tidak dapat menemukan, memunculkan harapan untuk dapat menyelesaikan persoalannya dan menganggap bahwa tiada hari esok baginya maka individu akan cenderung mencari solusi yang buruk dengan menganggap bahwa bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar bagi problematikanya. Bunuh diri juga sangat erat kaitannya dengan depresi, dimana depresi ditandai dengan mood yang menurun, merasa tidak punya harapan dan tidak berdaya, perubahan pola tidur atau selera makan, kehilangan motivasi, serta kehilangan kesenangan dalam aktivitas biasa.

Selain alasan diatas, ada pula faktor resiko (risk factors) yang dapat memicu munculnya suicidal thoughts. Faktor resiko ini memungkinkan individu dua kali lipat memiliki resiko dan posibilitas yang tinggi untuk melakukan tindakan bunuh diri. Berikut risk factors dapat meningkatkan resiko individu untuk bunuh diri.

Risk factors dapat meningkatkan resiko individu untuk bunuh diri:

  1. Adanya anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan mental. Seperti penyalahgunaan obat-obatan, pernah memiliki keinginan bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri, pelecehan dan kekerasan seksual.
  2. Merasa tidak memiliki harapan, tidak dihargai, dikucilkan dari lingkungan sosial dan merasa selalu sendiri.
  3. Adanya pengalaman berat yan dialami selama masa kehidupan seperti ditinggalkan orang yang dicintai, berakhirnya hubungan dengan kekasih, permasalahan ekonomi dan permasalahan terkait hukum.
  4. Memiliki gangguan psikiatrik yang sebelumnya sudah pernah diderita atau sedang mengalaminya. Seperti Post Traumatic Stress-Disorder, bipolar dan depresi mayor.
  5. Sebelumnya sudah pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri.
  6. Memiliki penyakit kronis yang sulit untuk disembuhkan dan menyebabkan individu enggan untuk melanjutkan hidupnya.

Tema pencegahan bunuh diri lebih lanjut dilakukan bukan hanya untuk menurunkan angka korban akibat bunuh diri, namun juga untuk mencegah dampak psikologis berkepanjangan yang akan dialami keluarga korban dengan pemberdayaan tiap individu; yakni memfungsikan tiap individu untuk dapat ikut berkontribusi membangkitkan dan menyadarkan masyarakat akan betapa pentingnya pencegahan bunuh diri. Salah satu langkah kecil yang bernilai yang dapat kita lakukan sebagai individu kepada masyarakat ialah dengan edukasi.

Edukasi tentang mengenali bebrapa karakteristik orang-orang yang mungkin beresiko untuk memiliki suicidal thoughts dan bagaimana menolong mereka baik itu keluarga maupun orang lain. Hal tadi dapat kita mulai dengan bekerjasama dengan komunitas-komunitas terkait yang fokus terhadap kesehatan mental ataupun kampus-kampus. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain mengadakan sosialisasi terbuka di pusat kota dan long march.

Referensi:

  1. KOMPAS. (2016, September 9). 10 Negara dengan Angka Bunuh Diri Tertinggi di Dunia. sains.kompas.com/read/2016/09/09140700323/10.negara.dengan.angka.bunuh.diri.tertinggi.di.dunia . Diakses pada 13 Oktober 2019.
  2. World Health Organization (WHO). (2019, Oktober 10). World Mental Health Day 2019: Focus on Suicide Prevention. www.who.int/news-room/events/detail/2019/10/10/default-calendar/world-mental-health-day-2019-focus-on-suicide-prevention. Diakses pada 13 Oktober 2019.
  3. Mayo Clinic. Suicide and Suicidal Thoughts. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/suicide/symptoms-causes/syc-20378048. Diakses pada 20 Oktober 2019.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *