Mengapa Musim Hujan Lebih Panas dibanding Musim Kemarau?

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi bahwa musim hujan akan mulai terjadi pada bulan November 2019 [1]. Hal ini terbukti, bahwa beberapa wilayah di Indonesia mulai terguyur hujan bahkan ada beberapa daerah yang telah menetapkan siaga banjir seperti Pekalongan [2], Makassar [3], dan Aceh [4].

Dalam pikiran orang awam, musim hujan akan memberikan nuansa sejuk dan dingin sedangkan musim kemarau akan memberikan nuansa panas menyengat. Tapi kenyataan berkata hal yang sebaliknya, temperatur udara justru terasa lebih panas dari biasanya pada musim hujan. Kok bisa? Ini dia penjelasannya.

Musim kemarau bukan musim panas
Pertanyaan bernada heran tentang mengapa cuaca di musim hujan lebih panas umumnya muncul karena kesalahanpahaman mendasar tentang iklim di Indonesia [5]. Banyak orang yang salah persepsi bahwa musim kemarau sama dengan musim panas. Hal tersebut keliru, karena musim panas itu adalah musim sendiri dan ada di daerah subtropis yang mengenal 4 musim (musim dingin, semi, panas, dan gugur), sedang di Indonesia yang ada adalah musim hujan dan musim kemarau.

Musim kemarau di Indonesia adalah musim dimana angin bertiup dari wilayah Australia (muson timur) yang bergurun sehingga di musim kemarau udara memiliki kelembapan yang rendah.  Hal tersebut berdampak pada curah hujan yang rendah pula (kurang dari 60 mm / 6 cm per bulan). Jadi musim kemarau identik dengan udara yang kering, bukan udara yang panas.

Musim Hujan Memang Lebih Panas
Mungkin Anda masih ragu mana yang lebih panas, antara temperatur udara saat musim hujan atau saat musim kemarau. Oleh karena itu mari lihat data statistik berikut mengenai data rentang curah hujan dan rentang temperatur di Kabupaten Klungkung, Bali [5]:

Grafik Data Curah Hujan di Kota Klungkung Bali Setiap Bulannya
Grafik Data temperatur Udara di Kota Klungkung Bali Setiap Bulannya

Dari dua grafik diatas dapat diinterpretasikan bahwa curah hujan tinggi (musim hujan) terjadi di bulan November sampai April, begitu pula dengan temperatur udara dimana pada bulan tersebut temperatur berkisar antara 26-30° Celsius. Sebaliknya di musim kemarau dimana curah hujan rendah yaitu pada bulan Mei sampai Oktober justru temperatur udara lebih rendah dimana paling rendah terjadi di bulan Juli sampai September yaitu berkisar antara 25-28° Celsius. Jika mengecek kota-kota lain di Indonesia, hasilnya juga relatif sama, dimana pada saat curah hujan tinggi temperatur udara cenderung naik atau lebih panas.

Baca juga:

Hubungan Curah Hujan dan Temperatur Udara
Dari data statistik jelas terlihat bahwa ada korelasi antara curah hujan dan temperatur udara, lantas bagaimana penjelasannya? Mengapa temperatur udara lebih tinggi saat curah hujan tinggi? Jawabannya adalah karena “kelembapan udara” alias tingkat kandungan uap air dalam udara. Karena kelembapan udara adalah tentang banyaknya air, maka penjelasan ini pun erat kaitannya dengan sifat-sifat air.

Sebagai suatu partikel, air dalam udara memiliki kemampuan untuk menyerap panas. Udara memiliki jarak partikel yang renggang, sehingga sebagian besar sinar matahari yang masuk akan diteruskan. Semakin banyak dan rapat partikel uap air dalam udara, maka semakin banyak sinar yang diserap, dan semakin panas pula udara tersebut. Jadi singkatnya, kandungan uap air memberi pengaruh terhadap banyaknya panas matahari yang diserap.

Hal ini juga menjelaskan mengapa udara di dekat permukaan (dataran rendah) lebih panas dibanding udara di ketinggian, karena tekanan udara yang tinggi di dataran rendah membuat partikel udara di permukaan lebih rapat dan mudah menyerap panas. Juga menjelaskan mengapa daerah yang berpolusi lebih panas, karena partikel debu polusi ikut berkontribusi menyerap panas matahari.

Selain kemampuan menyerap panas, sifat air yang lain adalah kemampuannya dalam mempertahankan temperatur. Air memang lambat menyerap panas namun memiliki kemampuan mempertahankan panas dalam waktu yang cukup lama. Ini artinya ketika udara dengan kelembapan tinggi terus menerus mendapatkan sinar matahari maka panas baru yang masuk akan terakumulasi dengan panas yang masih dipertahankan sehingga membuat temperatur udara semakin tambah panas.

Bukan hanya itu, karena kemampuan menjaga temperatur ini maka panas udara tidak hanya berlangsung di siang hari namun juga bisa dirasakan hingga malam hari. Untungnya di Indonesia mendung dan kelembapan udara yang tinggi sering berakhir dengan hujan. Air hujan yang turun bertemperatur dingin karena sebelumnya berada di ketinggian (tekanan rendah) dan hal tersebut menyebabkan temperatur udara di permukaan bumi ikut turun juga.

 

Referensi:

[1] https://tirto.id/bmkg-prediksi-musim-hujan-mulai-november-2019-eki2 diakses pada 11 November 2019.

[2] https://www.gatra.com/detail/news/455098/kebencanaan/pemkot-pekalongan-tetapkan-siaga-darurat-banjir diakses pada 11 November 2019.

[3] https://www.sulselsatu.com/2019/11/08/berita-utama/musim-hujan-datang-iqbal-suhaeb-minta-semua-opd-siaga-banjir.html? diakses pada 11 November 2019.

[4] https://kumparan.com/acehkini/banjir-bandang-di-perbatasan-aceh-tenggara-karo-10-rumah-rusak-1sE7Pf1TtHBClick=Tutup diakses pada 11 November 2019.

[5] https://candrawiguna.com/mengapa-musim-hujan-cuaca-tambah-panas/ diakses pada 11 November 2019.

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *