Cuaca Antariksa: Apa Pengaruhnya Terhadap Kehidupan di Bumi ?

Kita semua tentu pernah dihadapkan dengan cuaca buruk seperti hujan lebat, angin kencang, badai petir, dan lain sebagainya saat sedang beraktivitas. Peristiwa-peristiwa alam yang sering anda alami tersebut merupakan contoh dari cuaca yang berlangsung di atmosfer Bumi. Tapi pernahkah anda berpikir tentang cuaca dari luar angkasa yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar hujan lebat?

Apa yang dimaksud dengan cuaca antariksa?

Memangnya ada cuaca di luar angkasa? Ada. Cuaca di luar angkasa dapat disebut cuaca antariksa (space weather). Pengertian umum dari cuaca antariksa adalah kondisi di lingkungan sekitar lapisan magnetosfer, ionosfer, dan termosfer planet Bumi. Sama halnya seperti cuaca di atmosfer Bumi, cuaca antariksa juga sangat dipengaruhi oleh aktivitas Matahari yang secara terus menerus mengemisikan angin matahari, partikel, dan radiasi menuju lingkungan di sekitarnya, termasuk planet Bumi [1]. Tanpa kita sadari, aktivitas Matahari dapat menyebabkan berbagai dampak terhadap aktivitas di permukaan Bumi.

Baca Juga : Ilmuwan Mengonfirmasi bahwa Matahari akan Mengalami Kristalisasi Pada Fase Katai Putih

Ketika Matahari berevolusi saat ini, perubahan-perubahan yang terjadi pada medan magnetnya menyimpan energi yang sangat besar. Seringkali energi ini dilepaskan secara perlahan melalui hembusan angin Matahari atau dengan cara menaikkan suhu atmosfer Matahari itu sendiri. Namun dalam beberapa kondisi, sebagian energi yang tersimpan dilepaskan dalam intensitas yang besar melalui sebuah erupsi yang disebut suar Matahari, atau dapat juga berupa pelepasan massa lapisan korona yang disebut Coronal Mass Ejection atau disingkat CME. Suar Matahari merupakan letupan singkat yang memancarkan gelombang elektromagnetik berupa sinar-X beserta partikel berenergi tinggi menuju ruang antarplanet (interplanetary space) [1][2]. Sementara itu, CME adalah peristiwa ledakan kuat yang melontarkan medan magnet dan plasma korona menuju satu arah. Pada satu peristiwa CME, Matahari bisa melepaskan milyaran ton materinya menuju luar angkasa bebas. [3]

Wahana antariksa milik NASA dan ESA yag bernama Solar Heliospheric Observatory (SOHO) mengabadikan momen ketika Matahari menyemburkan CME pada tanggal 15 Maret 2013. (Foto : ESA & NASA/SOHO)
Dampak aktivitas Matahari terhadap kehidupan di planet Bumi

Apa jadinya bila lontaran massa CME atau suar Matahari mengarah tepat ke planet Bumi? Anda tentu sempat mendengar kabar atau isu mengenai badai geomagnetik beberapa bulan yang lalu di berbagai media televisi maupun elektronik. Badai geomagnetik merupakan dampak dari lontaran CME yang mengarah ke Bumi. Badai ini terjadi ketika aliran massa lontaran CME yang memiliki kecepatan rata-rata sekitar 600 hingga 900 km/detik menghantam medan magnetik Bumi dan menyebabkan turunnya kekuatan medan magnetik Bumi. CME juga mengakibatkan memanasnya lapisan ionosfer dan lapisan atas atmosfer yang bernama termosfer. [1][4]

Peningkatan temperatur lokal yang diakibatkan oleh badai geomagnetik dapat menyebabkan variasi kerapatan horizontal pada lapisan ionosfer yang berkibat pada perubahan jalur yang dilalui oleh sinyal radio GPS. Akibat dari hal tersebut, sistem navigasi yang digunakan di permukaan Bumi akan mengalami masalah berupa ketidakakuratan informasi yang diperoleh. Selain itu, badai geomagnetik juga berdampak pada pembangkit, jaringan listrik, dan sarana telekomunikasi. Satelit yang berada di orbit juga akan merasakan dampaknya karena atmosfer atas akan semakin menebal ketika terjadinya badai geomagnetik dan menghasilkan hambatan udara yang lebih besar. [3][4]

Dampak cuaca antariksa dalam catatan sejarah

Pada bulan Maret 1989, jutaan orang di Quebec mengalami kehilangan pasokan aliran listrik akibat badai geomagnetik yang terjadi saat itu. Beberapa transformator di New Jersey juga dilaporkan mengalami kerusakan parah. Peristiwa lain terjadi pada saat menjelang perayaan halloween pada tahun 2003 ketika badai geomagnetik memaksa pengalihan berbagai rute pesawat, kegagalan instrumen wahana antariksa, serta kegagalan sistem kelistrikan di Swedia. [1]

Tahun 1967 adalah tahun saat sengitnya perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet berada pada puncaknya. Situasi bertambah buruk saat itu ketika sebuah badai geomagnetik menyebabkan sistem komunikasi militer AS mengalami gangguan dan mereka mengira hal tersebut sebagai tindakan mengganggu yang dilakukan oleh Soviet. Komandan militer lantas mempersiapkan serangan senjata nuklir menuju Soviet. Beruntungnya, pengamat Matahari dari Komando Pertahanan Amerika Utara (NORAD) menginformasikan bahwa kegagalan sistem informasi militer yang terjadi bukanlah ulah dari Soviet, melainkan Matahari. [5]

Peristiwa yang cukup terkenal mengenai aktivitas Matahari adalah Carrington Event atau Peristiwa Carrington yang terjadi pada tahun 1859. Pada suatu pagi, astronom Richard Carrington mengamati aktivitas Matahari melalui sebuah observatorium pribadi. Ia mengamati kilatan terang yang hanya berlangsung beberapa saat kemudian padam. Beberapa jam kemudian, dampak dari kilatan itu mencapai permukaan Bumi. Jaringan telegraf di seluruh dunia mengalami gangguan, hingga terdapat laporan percikan api yang keluar dari mesin telegraf yang menyebabkan kertas-kertas terbakar. Interaksi antara lontaran massa CME dan medan magnetik Bumi saat itu menyebabkan Aurora Borealis terlihat hingga Cuba dan Honolulu, sementara Aurora Australis terlihat hingga Chile. Tanpa disadari oleh Carrington, kilatan yang diamatinya beberapa jam yang lalu merupakan badai Matahari terbesar yang tercatat dalam sejarah. [6]

Dampak CME di zaman serba modern

Peristiwa Carrington tidak menimbulkan kekacauan yang berarti saat itu, ketika teknologi belum secanggih sekarang. Masalah besar akan muncul bila badai geomagnetik seperti Peristiwa Carrington terulang di zaman serba modern ini, dimana sebagian besar aktivitas manusia bergantung pada pasokan listrik dan internet. Jika hal itu terjadi, sistem navigasi dan komunikasi berbasis satelit akan lumpuh, jaringan listrik padam, dan butuh waktu lama untuk memperbaiki kerusakan yang dihasilkan. Ambil contoh ketika jaringan listrik di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya mengalami gangguan pada bulan Agustus silam. Aktivitas di gedung-gedung perkantoran, transportasi dan layanan publik menjadi terhambat. Meskipun hanya satu hari, dampak yang ditimbulkan sudah cukup berarti bagi masyarakat yang terdampak.

Baca juga:

Lalu apa jadinya bila “mati listrik” seperti itu berlangsung di seluruh dunia selama berbulan-bulan lamanya? Faktanya, kekacauan seperti itu nyaris terjadi pada tahun 2012 ketika sebuah CME dilontarkan lurus menuju orbit Bumi namun Bumi berada di sisi lain dari lontaran CME. Mungkin terdengar biasa saja, namun berdasarkan paper berjudul On the probability of occurrence of extreme space weather events yang di-publish oleh fisikawan Peter RIley, Ia mengatakan bahwa terdapat peluang 12% bagi Bumi untuk berada di titik yang sama dengan arah lontaran CME dalam 10 tahun yang akan datang. [7]

Sebuah lontaran massa korona Matahari (CME) yang mengarah langsung ke orbit Bumi pada tahun 2012. Bumi berada di sisi lain orbitnya pada waktu itu sehingga dapat lolos dari CME (Foto: NASA)
Pemahaman manusia mengenai cuaca antariksa

Meskipun sebagian besar badai geomagnetik yang terjadi beberapa tahun terakhir merupakan badai tingkat rendah dan tidak sampai mengganggu kinerja satelit komunikasi dan jaringan kelistrikan di Bumi, namun bukan berarti badai geomagnetik tidak lagi mengancam. Lembaga-lembaga antariksa di dunia sudah menaruh perhatian akan pentingnya penelitian mengenai cuaca antariksa. Mereka memiliki berbagai observatorium di Bumi dan luar angkasa untuk mengamati aktivitas Matahari sehingga dapat diketahui kapan sebuah badai Matahari akan sampai di Bumi dan seberapa besar dampaknya. Penelitian seperti ini tentu sangat berguna di masa depan karena dampak dari CME pada aktivitas manusia cukup besar.

Referensi :

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *