Lingkungan Alam Banjarmasin Abad ke-15

Berbicara mengenai sejarah, Pasti tidak bisa lepas dari ruang tempat manusia beraktivitas atau locus. Faktor geografis merupakan aspek penting dari sebuah peristiwa sejarah karena tempat lahirnya berbagai peradaban besar sangat ditentukan oleh faktor geografis yang menyebabkan motif manusia untuk melakukan langkah-langkah perubahan sekaligus mengukir sejarah peradabannya. Begitu juga dengan keadaan sosial dan lingkungan alam Banjarmasin abad ke-15 sedikit banyaknya mempengaruhi motif dan gerak sejarah yang menjadi bagian penting dalam memahami Islamisasi Banjarmasin, setidak-tidaknya keterkaitan antara kekayaan alam Banjarmasin dengan motif kedatangan para pedagang Muslim. Daya dukung sumber daya alam memiliki daya tarik pasar, yang sejak zaman kuno membawa pengaruh besar dalam perubahan masyarakat.

Perbukitan dan Pegunungan

Borneo, termasuk bagian selatan (Oost) sebagian besar terbangun dari sedimen laut yang berasal dari laut Jawa dan Cina Selatan. Bagian barat daya Borneo terdiri dari singkapan batuan berumur 400 juta tahun yang pada masa lampaunya merupakan bagian dari Dataran Sunda yang suatu saat pernah menyatu dengan semenanjung Melayu, Jawa, dan Sumatra. Berkenaan dengan hal ini, Menurut M. Idwar Saleh, Kaki-kaki Pegunungan Meratus di Banjarmasin dulunya adalah pantai laut.

Pegunungan Meratus dan Pegunungan Babaris merupakan kawasan pegunungan membentang dari Gunung Karamaian dekat dengan Tanjung Selatan di bagian selatan ke utara berbaris-baris sampai ke Tanjung. Di bagian tenggara sampai ke Tanah Paser, bagian timur Borneo. Pegunungan ini membelah bagian pedalaman Banjarmasin, yang memengaruhi iklim dan curah hujan. Iklim kawasan pegunungan dengan hutan yang lebat berpengaruh pada kontinuitas curah hujan yang cukup dan musim kemarau yang singkat. Sementara itu, suhu udara dipengaruhi ketersediaan ekologis yang asri.

Pegunungan Meratus memiliki berbagai jenis kayu khas hutan tropis yang lebat, tinggi dan besar. Pohon-pohon kayu yang terkenal antara lain; kayu ulin, kayu keruing, kayu tingi, kayu meranti, dan lain-lain. Banjarmasin yang memiliki alam perbukitan dan pegunungan mempunyai ketinggian 100-2000 meter dari permukaan laut. Tanahnya berasal dari bentukan batuan beku, batuan endapan, batuan metamorf, serta endapan paleogen yang terangkat ke atas oleh gaya tektonik zaman kuarter.

Menurut Geolog Jerman, Fransisco Herman Bank, bentukan perbukitan kawasan meratus berasal dari bentukan vulkanik dan tektonik. Terbukti dengan batuan peridotit yang keras serta banyaknya mineral logam serta batuan keras seperti; intan, kuarsa, kuarsit, dan “titimahan” serta “buntat kalulut”. Pada sebelah barat dan timur Pegunungan Meratus, Babaris, dan Kusan merupakan pegunungan rendah dengan ketinggian 300-800 meter dari permukaan laut. Sedangkan kawasan inti pegunungan Meratus, Babaris, dan Kusan memiliki ketinggian 800-2000 meter di atas permukaan laut.

Rawa dan Sungai

Pada kawasan dataran rendah aluvial dan rawa-rawa serta danau, mengalirlah sungai-sungai besar dan kecil. Salah satu sungai terbesar di Banjarmasin adalah Sungai Barito, yang bermuara ke Laut Jawa. Panjang sungai ini mencakup hampir seluruh kawasan Borneo, bagian selatan dan tengah. Berbagai istilah digunakan untuk menyebut aliran sungai, di antaranya; sungai, batang banyu, antasan, saka, rai, handil, susungaian, dan lain-lain. Istilah paling tua, untuk penyebutan sungai adalah batang banyu. Pada abad ke-16 berdiri Kesultanan Banjarmasin. Ibu negeri Kesultanan Banjarmasin terletak di tepi aliran Sungai Kuin, yang bermuara ke Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Pada kawasan muara sungai ditumbuhi tanaman nipah dengan tanahnya yang penuh dengan lumpur akibat pengaruh pasang-surut. Tempus pasang surut berkaitan dengan pasang perbani, yakni seiring dengan penanggalan komariah. Bahwa pasang air laut yang bertaut dengan muara Sungai Barito sejak bulan muda hingga mencapai bulan purnama 14 air menggenangi permukaan daratan dan kembali surut seiring meredupnya bulan. Begitulah kondisi pasang surut berlaku secara periodic. Kala musim hujan, Sungai Barito meluap dan menimbulkan ba’ah atau banjir. Setiap musim dalam satu tahun ba’ah pasti datang menggenanggi tepian-tepian sungai kawasan Sungai Barito.

Baca juga:

Rawa pasang surut membentang luas mencapai lebih dari 200.000 ha, dan rawa bukan pasang surut terdapat di sepanjang Sungai Barito beserta anak sungainya dan luasnya mencapai 600.000 ha. Rawa bukan pasang-surut adalah rawa monoton, rawa periodik, dan danau-danau. Fenomena rawa abad ke-16 menjadi karakter kawasan Banjarmasin di kawasan aliran Sungai Barito sehingga berdampak pada berbagai flora dan fauna yang menyesuaikan dengan ekologisnya.

Kondisi pantai dan tepian sungai abad ke-15 lebih dekat dengan gugusan Pegunungan Meratus yang merupakan daratan tertua di Banjarmasin. Semakin banyak endapan lumpur maka semakin jauh ke tengah Laut Jawa penarikan garis pantai dan semakin sempit pula garis tepian sungai dengan kedalaman yang kurang dari sebelumnnya. Aliran pantai dari muara Sungai Barito memiliki percabangan sampai ke pedalaman, berawal dari Sungai Bahan atau Sungai Nagara sebagai percabangan Sungai Barito. Sungai Nagara memiliki lagi anak-anak sungai, seperti: Batang Balangan, Batang Tabalong, Batang Pitap, Batang Alay, Batang Amandit dan Labuan Amas. Dekat Banjarmasin, Sungai Barito mempunyai cabang Sungai Martapura dan anak-anak Sungai Riam Kanan dan Riam Kiwa. Istilah Batang, pada Batang Balangan dan tempat-tempat lainnya, berasal dari kata “batang banyu”, yang maksudnya adalah sungai. Sementara itu, istilah Riam adalah sungai yang berbatu-batu dan terjal yang dikelilingi oleh pegunungan.

Banua Bauntung Batuah jalur masuk dakwah Muslim

Kondisi geografis Banjarmasin yang kaya telah digambarkan dalam berita; Ptolomeus, Marco Polo, dan Berita Dinasti Ming yang menjadi sumber penghidupan Urang Banjar dan etnis Dayak selama ribuan tahun. Nenek moyang Banjar dan Dayak menyebut tanah bagian Selatan Borneo dengan sebutan Banua Bauntung Batuah. Maksudnya, tanah banyu (tanah air) yang sangat baik dan selalu akan memberikan keberuntungan dan keberkahan. Sebutan lainnya adalah Tanah atau Pulau Kencana, yang artinya pulau emas.

Gambaran lingkungan alam Banjarmasin memberikan penjelasan bahwa jaringan transportasi sungai merupakan bagian paling dominan dari jalan niaga sekaligus jalan dakwah para pedagang Muslim dan mubalig dalam Islamisasi Banjarmasin.

Referensi:

Noor, Yusliani. 2016. Islamisasi Banjarmasin Abad ke-15 sampai ke-19. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Muhammad Rifa'i

Manuasi yang memanusikan manusia ini sedang menempuh pendidikan strata satu di salah satu universitas di kalimantan selatan. Minat keilmuan saya pada Sejarah, Sosiologi, Psikologi, Ekonomi dan Lingkungan.
Muhammad Rifa'i

Latest posts by Muhammad Rifa'i (see all)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *