Plastik Terpecah, Penyu Terancam Punah

Ditulis oleh: Gusman Santika

Sudah bukan rahasia umum, plastik menjadi komoditas yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Disamping kuat dan mudah diolah, plastik juga tergolong murah. Berdasarkan salah satu website penjualan biji plastik, harga untuk 1 bag (25 kg) biji plastik bisa dibeli mulai kisaran Rp.40.000 hingga Rp.500.000, tergantung jenis plastik dan kualitasnya.

Baca juga: Kombinasi Jaring Laba-laba dan Serat Kayu dapat Menghasilkan Material Unggul Pengganti Plastik

Sejak pertama kali ditemukan pada 1907, plastik yang pada saat itu masih terbuat dari bahan bakelit (ditemukan oleh Leo Hendrick Bakeland), telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hingga saat ini, terdapat beragam jenis plastik yang dapat kita temukan, diantaranya: Polyethylene Tereftalat (PET), High-Density Polyethylene (HDPE), Low-Density Polyethylene (LDPE), Polystyren (PS), dan lain sebagainya. Jika dilihat dari sudut pandang kegunaan, plastik merupakan bahan yang sangat menguntungkan. Namun, segala keuntungan ini tidak serta merta menjadikan plastik sebagai bahan yang sempurna. Seiring waktu bergulir, masalah demi masalah bermunculan akibat adanya penggunaan plastik yang sangat masif. Salah satunya adalah terancam punahnya fauna penyu akibat limbah plastik.

Menurut McKinsey Co & Ocean Conservancy, Indonesia sempat di nobatkan sebagai produsen sampah kedua terbesar di dunia setelah china. Bahkan setiap hari, Indonesia sanggup memproduksi sampah plastik hingga 175.000 ton atau 63,9 juta ton dalam setahun. Hal ini cukup mengkhawatirkan, mengingat pengolahan sampah di Indonesia masih belum terlalu optimal. Dikutip dari Harian investor.id, baru 30% dari total keseluruhan limbah plastik yang telah didaur ulang oleh 50 perusahaan yang tersebar di pulau jawa. Hal ini bukanlah sesuatu yang menggembirakan, mengingat Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah terutama dalam hal fauna. Limbah plastik yang tak terolah bisa saja mengancam eksistensi fauna yang hidup di alam Indonesia.

Gambar 1. Seekor penyu mati terjerat kursi pantai

Pada dasarnya, sebanyak 10% limbah plastik dunia selalu berakhir di laut, yang mana itu menjadikan plastik sebagai limbah nomor 1 yang mencemari lautan. Sampah-sampah tersebut mengapung di lautan dan berkumpul menjadi satu, bahkan di atas samudera pacific terbentuk sebuah area berisi kumpulan sampah yang disebut The Great Pasific Garbage Patch Area seluas 1,6 juta kilometre persegi.

Gambar 2. The Great Pasific Garbage Patch Area

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di University of Exeter, Inggris, sampah plastic telah berkontribusi atas tewasnya 1.000 penyu laut setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan dengan metode survey pada kasus kematian penyu di berbagai belahan bumi ini menunjukan hasil bahwa 91% penyu mati dikarenakan terjerat oleh limbah plastik. Hal in belum begitu memilukan dibandingkan dengan penyu-penyu yang mati karena secara tidak sadar memakan plastik yang mereka anggap sebagai makanan. Sebuah foto yang di publikasi oleh Gumbo Limbo Nature Center pada Oktober 2019 menunjukan pecahan-pecahan plastik ditemukan di dalam perut bayi penyu yang telah mati.

Baca juga:

Gambar 3. Pecahan plastik ditemukan dalam bangkai bayi penyu

Banyak sekali faktor yang dapat membuat plastik terfragmentasi, paparan sinar UV, hantaman ombak, dan semacamnya bisa membuat plastik terpecah menjadi bagian-bagian kecil, bahkan hingga menjadi sangat kecil hingga berukuran nano. Pecahan-pecahan plastik yang cenderung lunak itu pada akhirnya dianggap oleh banyak biota laut sebagai makanan.  Belum lagi, partikel nanoplastik hasil fragmentasi yang secara sengaja maupun tidak akan terkonsumsi oleh hewan laut.

Berangkat dari uraian masalah diatas, masyarakat sudah sepatutnya bijak dalam menggunakan plastik. Begitupun, para cendikia dan pemerintah Indonesia sudah seharusnya memperhatikan permasalahan ini dengan lebih baik lagi.

REFERENSI:

[1] Anonim. (2017). Marine turtles dying after becoming entangled in plastic rubbish. https://www.exeter.ac.uk/news/research/title_629352_en.html diakses pada 6 November 2019 pukul8:09 WIB.

[2] Hickok, Kimberly. (2019). Depressing Image Shows Dead Baby Sea Turtle Found with 104 Pieces of Plastic in Its Belly.  https://www.livescience.com/baby-sea-turtle-dies-from-eating-too-much-plastic.html diakses pada 6 November 2019 9:35 WIB.

[3] McKinsey & Company and Ocean Conservancy. (2015). Stemming the Tide: Land-based strategies for a plastic- free ocean. Ocean Conservancy: Washington, D.C.

[4] Lund University. “Plastic waste disintegrates into nanoparticles.” ScienceDaily. ScienceDaily, 19 December 2018. www.sciencedaily.com/releases/2018/12/181219115557.htm diakses pada 6 November 2019 pukul 10.33 WIB

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *