Apa itu Humor dan Mengapa Kita Tertawa? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Humor adalah bentuk motivasi sosial dan cara mengekspresikan kebencian. Humor menyediakan sarana untuk mengekspresikan diri dan mencapai agresi, karena humor “dianggap tidak serius.” Humor sering melibatkan konten agresif dan digunakan untuk menunjukkan superioritas. Humor juga dapat digunakan untuk meningkatkan status sosial. Namun, substansi saraf yang mendasari kognisi sosial dan agresi reaktif humor yang mewakili daya tarik afektif belum dapat dipahami dengan baik.[2] Humor juga sering dilabeli dengan attention-gaining strategy, serta cara menciptakan efek positif.[5]

Humor adalah stimulus yang sering ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari dan evaluasi materi humor dapat dianggap sama dengan kehidupan nyata.[7] Humor juga dapat dikatakan sebagai apapun yang seseorang katakan atau lakukan, yang dianggap lucu dan dapat membuat orang lain tertawa.[4] Humor dapat digunakan sebagai cara mengomunikasikan gagasan dan memperkuat hubungan. Selain itu, humor juga dapat meningkatkan harmoni kelompok dan mengekspresikan agresivitas dengan cara yang positif.[9] Humor juga dapat digunakan sebagai media paling penting dan fleksibel untuk interaksi sosial serta juga mampu mengurangi tekanan dalam hidup seseorang.[3][7] Oleh karena itu, penting untuk mengekspresikan dan memahami humor untuk dapat berkomunikasi dengan lebih efektif.[7]

Martin & Kuiper (2016) menyebutkan bahwa humor terdiri dari beberapa aspek yaitu :

  1. Kognitif

Otak Manusia

Aspek kognitif yaitu persepsi ketidaksesuaian, yang juga disebut sebagai “bisociation” atau “cognitive synergy”. Hal ini tampaknya melibatkan aktivasi simultan dari dua atau lebih interpretasi yang tidak sesuai dari suatu situasi dalam pikiran. Ini juga cenderung dikaitkan dengan kerangka berpikir yang menyenangkan dan tidak serius, yang mana hal-hal tersebut dipandang kurang penting atau lebih mengagumkan daripada biasanya. Unsur-unsur kognitif inilah yang membuat sesuatu menjadi lucu.[10]

2. Komponen emosional

Komponen emosional adalah proses kognitif yang mengaktifkan respons emosional yang unik, disebut sebagai “mirth”. Dalam bahasa Inggris, kata “mirth” tampaknya sempurna sebagai istilah teknis untuk aspek emosional humor. Mirth berhubungan dengan sukacita, tetapi agak berbeda karena unsur “funniness” yang terlibat. Hal ini disertai dengan aktivasi dopamine reward circuit dalam sistem limbik serta berbagai respons otonom dan endokrin. Inilah yang membuat humor begitu menyenangkan.[10]

Keadaan Emosional

3. Sosial atau interpersonal

Komunikasi Interpersonal

Humor dapat menjadi kegiatan sosial yang fundamental. Kita jauh lebih mungkin untuk tertawa dengan orang lain daripada saat sendirian dan sebagian besar humor muncul sebagai respon terhadap perilaku orang lain atau sifat mirip manusia pada hewan. Dari perspektif evolusi, humor berkembang sebagai mekanisme untuk meningkatkan kohesi kelompok.[10]

4. Tawa

Aspek tawa sebagai ekspresi non-verbal terprogram atau cara mengomunikasikan emosi kegembiraan. Tawa juga terjadi pada primata lain, sehingga memiliki sejarah evolusi panjang, yang terjadi jauh sebelum kita berevolusi dalam hal bahasa dan kemampuan kognitif lainnya yang lebih tinggi. Tawa adalah cara kita memberi tahu orang lain tentang kegembiraan yang kita alami dan mampu menciptakan emosi yang sama, yang juga dirasakan oleh pendengar. Ini adalah alasan mengapa tawa sangat menular. Tawa yang kuat juga dapat memperkuat emosi kegembiraan. Biasanya, hal ini terjadi ketika orang-orang berada dalam kelompok kecil, yang membuat mereka terlibat dalam serangan tawa intens yang sangat menyenangkan dan mampu menciptakan perasaan kuat akibat dari kohesi kelompok.[10]

Mimik Saat Tertawa

Proses pemahaman humor mirip seperti proses pemecahan masalah yang kompleks dan terdiri dari tiga tahap, yaitu: constructing, reckoning, dan resolving.[8] Teori kedua menyebutkan ada tiga tahap juga, tetapi sedikit berbeda dalam hal penyebutan, yaitu: incongruity detection, incongruity resolution, dan feelings of amusement during humor elaboration.[1] Teori yang lain menyebutkan bahwa pengolahan humor terdiri dari dua tahap: incongruity detection (tahap pertama) dan incongruity resolution (tahap kedua).[6] Oleh karena itu, humor membutuhkan proses yang kompleks dan proses berpikir tingkat tinggi yang melibatkan kognitif, perilaku, fisiologis, emosional, dan sosial.[4]

Menurut Weems (2014), humor merupakan proses berpikir yang kompleks dan tercipta melalui tiga tahapan yang terjadi di dalam otak, yaitu:

  1. Constructing

Tahap ini menunjukkan seberapa aktif kita dalam memproses lingkungan sekitar. Saat memecahkan masalah, kita tidak hanya mencari ingatan tentang kemungkinan solusi yang sudah ada. Sebaliknya, otak akan bekerja menghasilkan banyak kemungkinan jawaban, beberapa solusi berguna (membahagiakan) dan yang lainnya tidak (menyakitkan). Hal serupa terjadi saat kita berusaha memahami lelucon. Dalam tahap ini, otak akan membangun teori, persepsi, atau harapan dari informasi yang diterimanya. Anterior cingulate cortex (ACC) sangat berperan penting dalam tahap ini.[8]

Anterior Cingulate Cortex

Anterior cingulate cortex di dalam otak berfungsi sebagai pengawas seluruh kegiatan otak, lokasinya di atas corpus callosum dan menggabungkan dua hemisfer cerebral. Di bagian depan ACC adalah lobus frontal, pusat penalaran utama dan area yang bertanggung jawab untuk mengendalikan gerakan tubuh. Bagian belakang ada lobus parietal dan temporal, yang membantu penalaran, serta fungsi bahasa dan memori, dan sebagai bagian dari wilayah limbik otak, ACC terhubung erat dengan amigdala, nucleus accumbens, dan ventral tegmented area (VTA), yaitu daerah yang merupakan inti dari dopamine reward circuit. Anterior cingulate cortex akan lebih aktif daripada bagian-bagian otak yang lain ketika ada suatu masalah, karena ia tidak akan terstimulus untuk mencari solusi seketika, namun lebih berorientasi untuk mengontrol atau menangani masalah.[8]

Baca juga:

Spesialisasi tugas anterior cingulate cortex tergambar melalui fenomena stroop effect. Fenomena ini membuktikan bahwa kita masih mampu mengenali warna dalam sebuah kata-kata yang dicetak dengan tinta yang berbeda, misalnya: B-I-R-U, dicetak dengan tinta merah. Pikiran alami manusia selalu berkeinginan untuk membaca. Maka, kita menjadi lebih lambat dan kurang akurat dalam menginterpretasi warna yang tercetak dalam kata tersebut. Anterior cingulate cortex bertugas mengontrol regio otak, supaya saat membaca menjadi tetap tenang. Kemudian, ACC akan membiarkan bagian otak lain yang berfungsi untuk mengenali sebuah warna dan menganalisis warna dalam kata tersebut. Namun, dalam suasana hati yang kurang baik, stroop effect akan menghilang karena kinerja ACC dipengaruhi mood (suasana hati) dan happiness (kebahagiaan). Suasana hati yang positif akan membantu ACC untuk menolak respons yang tidak diinginkan.[8]

Manusia tidak hanya menerima informasi begitu saja, namun lebih condong membuat informasi dengan cara membuat teori-teori baru dengan informasi yang sudah ada, kemudian merevisi kembali informasi tersebut jika diperlukan. Semua kejadian ini berhubungan dengan pemahaman humor tentang bagaimana persepsi kita terhadap suatu hal atau informasi yang kita miliki tentang suatu hal atau teori. Oleh karena itu, jika ada suatu hal yang muncul dengan sudut pandang yang tidak sesuai dengan persepsi kita, maka terciptalah humor. Dalam tahap ini, humor mempengaruhi persepsi maupun informasi yang sudah kita simpan di dalam otak kita.[8]

2. Reckoning

Bagian terpenting dari humor adalah kejutan. Kesenangan muncul ketika kita memulai persepsi tentang sesuatu dengan asumsi yang salah, kemudian argumen kita dipatahkan dengan punch line yang mengejutkan. Reckoning adalah proses evaluasi kembali mispersepsi, yang menggiring ke sebuah kejutan yang menggembirakan. Kejutan merupakan suatu emosi yang bernilai, sebagai dasar dari kebahagiaan atau kebanggaan. Dopamin dan ACC sangat aktif di tahap ini. Humor membutuhkan punch line untuk membuatnya menjadi sesuatu yang lucu. Pada tahap ini, otak memperhitungkan semua kemungkinan kesalahan yang mungkin dibuat dalam interpretasi suatu informasi.[8]

3. Resolving

Humor tidak cukup hanya memuat kejutan, namun juga dibutuhkan perubahan perspektif. Dalam tahap ini, seseorang akan menyelesaikan suatu pemahaman humor dengan perspektif yang berbeda. Otak berusaha mencari tahu mengapa informasi yang sebenarnya atau yang ada dalam persepsinya tidak sesuai dengan kerangka acuan aslinya. Penyelesaian dari pengolahan informasi ini adalah sebuah kejutan yang melibatkan kemampuan kognitif. Pada akhirnya, sesuatu yang kita anggap lucu akan membuat kita tertawa dan kita juga merasa bahagia akibat dopamin yang dihasilkan dalam proses memahami humor.[8]

Wah, ternyata tertawa merupakan hasil dari pengolahan segala informasi yang sangat rumit di dalam otak kita. Menarik bukan?

Baca juga : Film Joker (2019): Analisis Penyebab Gangguan Jiwa Pada Arthur Fleck

Referensi:

[1] Chan YC, Chou TL, Chen HC, Yeh YC, Lavallee JP, Liang KC, dan Chang KE, 2013, Towards a Neural Circuit Model of Verbal Humor Processing: An fMRI Study of The Neural Substrates of Incongruity Detection and Resolution, Neuroimage.

[2] Chan YC, Liao YJ, Tu CH, dan Chen HC, 2016, Neural Correlates of Hostile Jokes: Cognitive and Motivational Processes in Humor Appreciation, Frontier in Human Neuroscience, Vol.10.

[3] Kao JT, Levy R, dan Goodman ND, 2015, A Computational Model of Linguistic Humor in Puns, Cognitive Science.

[4] Martin RA, 2007, Introduction to the Psychology of Humor, In : Martin RA, The Psychology of Humor: An Integrative Approach, 1st edn, Elsevier Academic Press, United States of America.

[5] Savage BM, Lujan HL, Thipparthi RR, dan DiCarlo SE, 2017, Humor, Laughter, Learning, and Health! A Brief Review, Advances in Physiology Education, Vol. 41.

[6] Shibata M, Terasawa Y, Osumi T, Masui K, Ito Y, Sato A, dan Umeda S, 2016, Time Course and Localization of Brain Activity in Humor Comprehension: an ERP/sLORETA study, Brain Research, Vol. 6.

[7] Vrticka P, Black JM, dan Reiss AL, 2013, The neural basis of humour processing, Nature Reviews Neuroscience, Vol.14.

[8] Weems S, 2014, The Kick of The Discovery, In : Weems S, The Science of Why We Laugh dan Why, 1st edn, Basic Books, United States of America, pp. 39-58.

[9] Wu CL, Zhong S, Chan YC, Chen HC, dan He Y, 2018, White-Matter Structural Connectivity in Relation to Humor Styles: An Exploratory Study, Frontiers in Psychology, Vol. 9, Article : 1654.

[10] Martin R, Kuiper NA, 2016, Three Decades Investigating Humor and Laughter: An Interview With Professor Rod Martin, Europe’s Journal of Psychology. Vol. 12(3), pp. 498–512.

Sumber gambar:

https://id.pinterest.com/pin/170292429646339636/

https://id.pinterest.com/pin/265008759311758340/

https://id.pinterest.com/pin/377528381242058251/

https://id.pinterest.com/pin/633952085031532215/

https://en.wikipedia.org/wiki/Anterior_cingulate_cortex#/media/File:Gray727_anterior_cingulate_cortex.png

Karunisa Kirana
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *