Apa yang Perlu Kamu Tahu tentang Mikroplastik

Mikroplastik merupakan jenis sampah plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 mm yang dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah hasil produksi plastik yang dibuat dalam bentuk mikro, seperti microbeads pada produk perawatan kulit yang masuk ke dalam saluran air. Mikroplastik sekunder adalah pecahan, bagian, atau hasil fragmentasi dari plastik yang lebih besar (Zhang et al., 2017). Plastik yang telah bermuara di perairan laut akan mengalami penyusutan ukuran, bermula dari plastik berukuran besar menjadi berukuran mikro. Penyusutan ukuran plastik ini disebabkan adanya aktivitas sinar UV yang bereaksi pada plastik, juga dapat disebabkan oleh adanya gelombang yang menyebabkan abrasi, sehingga plastik tersebut akan terakumulasi pada sedimen serta air laut (Hidalgo et al., 2012).

blank

Mikroplastik di ujung jari telunjuk

Menurut Lusher dan Peter (2015) plastik merupakan bahan yang dibentuk pada suhu dan tekanan tertentu. Plastik terbagi menjadi 3 kategori yaitu termoplastik, termosets, dan elastomer. Termoplastik melunak saat dipanaskan dan mengeras saat didinginkan (contoh: polietilen (PE), polipropilen (PP), politetrafloro-etilen, poliamid (PA), polivinil klorid (PVC), dan polistirin (PSI)). Termoset tidak dapat melunak setelah dibentuk (contoh: resin epoksi, poliurettan (PU), resinpoliester, bakalit). Elastomer adalah polimer elastis yang dapat kembali ke bentuk awal setelah ditarik (contoh: karet, neopren).

Salah satu wilayah yang berpotensi tercemar mikroplastik yaitu bantaran Sungai Bengawan Solo. Sungai Bengawan Solo merupakan sungai panjang yang dalam prosesnya banyak terkumpul sampah-sampah plastik yang bersumber dari rumah tangga dan kegiatan masyarakat lainnya. Sampah-sampah tersebut terbawa oleh arus dan akan terkumpul pada perairan di Desa (Ayuningtyas, 2010).

Mikroplastik dapat berperan sebagai kontaminan. Sebagai kontaminan kimia, mikroplastik dapat menyerap senyawa seperti PCB (Polychlorinated biphenyls), PAHs (Polycylic Aromatic Hydrocarbon), serta DDt (1,1,1-ttrichloro – 2,2-bis (p-chlorophenyl) ethane dan DDE (1,1-dichloro-2,2 bis(chlorophenyl) ethylene (Hollman et al., 2013). PCB sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena mengandung toksik (Ahmad, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

  •  Ahmad, E. 2012. Soil Cintamination, Nutritive Value, and Humn Health Risk Assesment of Heavy Metals: An Overview. Springer. 1(1): 1-10.
  • Ayuningtyas, P.2010. Eyewitnes Great Scientist (Jacqueline Fortey.) Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Hidalgo-Ruz, V., Gutow, L., Thompson, R.C., and Thiel, M. 2012. Microplastics in the marine environment: A review of the methods used for identification and quantification. Environ. Sci. Technology. 6, 3060–3075.
  • Hollman, P.C.H.,H.Boumeester,and R.J.B.Peters. 2013. Microplastic in the Aquatic Food Chain.Netherlands: Rikilt Wageningen UR.
  • Lusher, A. and Peter. 2015. Microplastics in teh Marine Environment: Distribution, Interaction and Effects, Mar Antrop Litt June 2015. 245-307.
  • Zhang, W., Zhang S., Wang J., Wang Y., Mu J., Wang P., Lin X., Ma, P. 2017. Microplastic Pollution in the Surface Waters of the Bohai Sea China. Environ Pollut. 231: 541-548.

 

Baca juga:

Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar