Sampah Plastik Ancaman Bagi Biota Akuatik

blank

Seekor hiu paus memakan plastik yang mirip dengan makanannya. Sumber:  https://phys.org

Akhir-akhir ini isu pencemaran sampah plastik menjadi salah satu isu lingkungan yang menjadi perhatian hampir sebagian besar negara di dunia. Tak terkecuali Indonesia yang menjadi penyumbang sampah ke laut terbesar kedua di dunia setelah China. Terlebih saat ditemukan beberapa biota laut yang mati karena menelan sampah plastik. Yang terbaru, seekor paus di Thailand ditemukan mati akibat menelan ratusan sampah plastik. Belum lagi, di pantai-pantai Indonesia banyak dijumpai sampah plastik yang bertebaran di bibir pantai dan terbawa ke laut lepas.

Menurut seorang peneliti dari University of Georgia, Jenna R. Jambeck, menyebutkan bahwa sekitar 4.8-12.7 juta ton sampah di dunia terbuang dan mencemari laut. Untuk Indonesia sendiri sekitar 0,48-1,29 ton sampah plastik tersebut mencemari laut. Dan jumlah ini dipastikan akan terus bertambah seiring dengan semakin meningkatnya pesanan plastik. Banyaknya sampah plastic yang masuk ke perairan Indonesia tentunya akan berbahaya terhadap kelangsungan hidup biota laut. Pasalnya, sampah plastik yang terbawa arus akan terurai menjadi partikel plastik yang berukuran mikro (mikroplastik) yang berbahaya jika tertelan oleh biota laut.

Mikroplastik Masuk Ke Rantai Makanan Biota Laut

Mikroplastik merupakan fragmen plastik yang terdegradasi menjadi partikel dengan ukuran kurang dari 5 mm. Dan mikroplastik bisa terakumulasi dalam jumlah yang tidak terbatas dalam air atau mengendap di sedimen. Ukuran yang kecil dengan jumlah melimpah dan tersebar kemana-mana membuat mikroplastik bisa dengan mudah termakan oleh biota laut. Setelah masuk ke tubuh biota laut baik itu ikan ataupun bivalvia, mikroplastik bisa masuk ke dalam sistem rantai makanan. Dan ini tentunya sangat membahayakan, karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah penggemar seafood.

Sumber mikroplastik sebagian besar berasal dari sampah plastik dari daratan yang tidak tertangani dengan baik sehingga terbuang begitu saja ke lautan. Sehingga, perlu dilakukan kajian lebih mendalam tentang kadar mikroplastik dalam seafood. Khususnya pada kerang-kerangan yang sifatnya filter feeder. Dimana kerang menjadi salah satu seafood favorit masyarakat pesisir di Indonesia. Bahkan,menurut penelitian yang dilakukan oleh Fitri et al., menunjukkan bahwa kerang darah yang diambil dari pantai di Semarang memiliki kandungan mikroplastik sebesar 2,4-3,4 partikel tiap ekornya.

Mikroplastik Mengancam Keamanan Pangan Seafood

Menurut Kementerian Perikanan Dan Kelautan, 2015, penemuan mikroplastik dalam tubuh seafood menjadi salah satu ancaman bagi keamanan pangan dalam negeri. Apalagi, Indonesia adalah negara maritim yang memiliki potensi sumberdaya laut melimpah. Khususnya seafood yang menjadi salah satu komoditi ekspor terbesar. Dan juga menjadi sumber makanan favorit sebagian masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat di daerah kepulauan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2015, total produksi hasil laut Indonesia mencapai mencapai 15 juta ton.

Hasil penelitian dari Rohman et al menunjukkan bahwa kandungan mikroplastik terbesar ditemukan dalam tubuh ikan dari family Carangidae. Seperti ikan baronang, ikan kembung, ikan layang dan ikan herring. Untuk total akumulasinya sendiri berkisar antara 5,1-5,9 partikel per ekor. Selain ikan, mikroplastik juga ditemukan di dalam tubuh udang. Berdasarkan penelitian dari Devriese et al menunjukkan bahwa sebanyak 63% dari udang yang diteliti ternyata mengandung partikel mikroplastik sebesar 0,99-1,23 per ekor.

Sedangkan pada bivalvia yang memiliki sifat filter feeder maka dapat dipastikan memiliki kandungan mikroplastik dengan jumlah yang bervariasi. Mulai dari 0,9-4,6 item/g hingga 1,5-7,6 item/individu. Baik itu bivalvia yang ditangkap dari laut ataupun yang dibudidayakan, keduanya sama-sama memiliki kandungan mikroplastik.

Informasi diatas menunjukkan bahwa mikroplastik jelas menjadi ancaman bagi keamanan sumber pangan dari laut. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam dan menyeluruh terkait kandungan dan kadar mikroplastik yang ada dalam seafood. Sehingga, dapat mengantisipasi masuknya seafood yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Baca juga:

Referensi:

[1] Widianarko Budi & Hantoro Inneke.(2018).Mikroplastik Dalam Seafood Di Pantai Utara Jawa. Universitas Katolik Soegijapranata: Semarang.

[2] Hiwari Hazman, dkk. (2019). Kondisi Sampah Mikroplastik Di Permukaan Air Laut Sekitar Kupang Dan Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Prosiding Semnas Masyarakat Biodiversitas Indonesia.Universitas Padjajaran: Bandung.

Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar