Efek Rumput Fatimah bagi Hewan

     Pernah mendengar efek rendaman rumput fatimah yang diujikan terhadap hewan sebelumnya? 🙂

Background

        Pasti kalian pernah menjumpai saudara atau tetangga yang akan melahirkan meminum  ramuan berbahan dasar rumput fatimah. Ya, tumbuhan rumput fatimah (Anastatica hierochuntica) memang banyak diyakini sebagai herbal tradisional yang mampu membantu proses persalinan. Caranya cukup mudah, hanya dengan merendam tanaman tersebut ke dalam air hangat, kemudian, air hasil rendamannya diminum menjelang persalinan tiba. Selain di Indonesia, kepercayaan ini juga berkembang di wilayah Malaysia dan Arab. Sebanyak 63,9% masyarakatnya menggunakan rumput fatimah untuk menyusui, memperlancar proses persalinan, dan perawatan postpartum (sesudah melahirkan) (Safitri dkk., 2019). Lantas, apakah kepercayaan tersebut telah dibuktikan secara ilmiah?

Gambar 1. Tumbuhan Rumput Fatimah di Saudi Arabia (Sumber: Shah et al, 2014)

Karakteristik Rumput Fatimah

            Rumput fatimah (Anastatica hierochuntica) memiliki beberapa kandungan senyawa, seperti flavonoid yang tergolong dalam fitoestrogen, tannin, dan alkaloid. Fitoestrogen adalah zat kimiawi pada tanaman yang memiliki struktur menyerupai hormon estrogen sehingga dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen. Sifat interaksi tersebut dapat menimbulkan pro/kontra tehadap sistem reproduksi. Fitoestrogen dapat berasal dari kelompok isoflavon, lignin, maupun koumestan. Contoh tanaman yang mengandung fitoestrogen ialah kacang-kacangan dan daun katuk (Safitri dkk., 2019).

            Kandungan flavonoid pada tanaman berjuluk mawar gurun itu memiliki peran yang penting. Senyawa yang memperlihatkan aktivitas estrogenik tersebut dapat terikat pada reseptor estrogen α (REα) dan reseptor estrogen β (REβ), serta dapat meningkatkan afinitas (kemampuan menempel) REβ. Struktur senyawa flavonoid menyerupai estradiol (salah satu kelompok pada hormon estrogen) (Nani, 2009).

            Berbicara tentang genus, Anastatica sendiri termasuk ke dalam famili Brassicaceae, divisi Magnoliophyta, dan kelas Magnoliopsida. Anastatica hierochuntica merupakan tanaman tahunan yang berukuran kecil dan berwarna keabuan, dengan tinggi umumnya kurang dari 15 cm, serta menghasilkan bunga putih. Dikenal memiliki sebutan unik resurrection plant (tanaman kebangkitan) karena kemampuannya bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang gersang. Selain itu, termasuk ke dalam jenis tumbuhan tumbleweed. Ketika tua dan mengering, tanaman akan berpisah dari sistem perakarannya sehingga mudah terbawa angin, sekaligus berfungsi menyebarkan biji (Baker et al, 2013).

Gambar 2. Tumbuhan Rumput Fatimah yang Segar dan Kering (Sumber: Baker et al, 2013)

            Rumput fatimah dapat ditemui di Gurun Sahara, daerah Afrika Utara, Mesir, Iran, Irak, Jordania, Palestina, dan Pakistan. Setelah musim hujan berakhir, tumbuhan yang dikenal dengan nama Kaff-E-Maryam tersebut akan mengering, menggugurkan daun, rantingnya mengeriting serupa bola tebal, lalu ‘mati’. Di dalam bola, tersimpan buah yang melindungi biji-biji di dalamnya agar tidak berhamburan secara prematur. Kemampuan kriptobiosis, atau berhentinya metabolisme akibat kondisi lingkungan yang ekstrim tersebut disebabkan adanya disakarida “trehalose” (Baker et al, 2013).

Kandungan Rumput Fatimah

Phytochemical Class Aqueous Extract
Alkaloids +
Phenolic Content +
Carbohydrates +
Reducing Sugars +
Tannins +
Proteins +

Gambar 3. Hasil Penyaringan Fitokimia pada Anastatica hierochuntica (Sumber: Baker et al, 2013)

Penelitian mengenai Efek Rumput Fatimah bagi Hewan

            Bagaimana proses eksperimen untuk mengetahui efek rendaman rumput fatimah terhadap kadar hormon pada hewan? Eksperimen ini dibagi menjadi empat kelompok dengan 13 ekor tikus (Micromys minuts) betina di tiap kelompoknya:

  1. Kelompok kontrol: tikus diberikan air distilasi sebanyak 10 mL/hari secara oral selama 1 bulan.
  2. Kelompok perlakuan dengan tanaman: tikus diberikan ekstrak tanaman 100 mg/mL sebanyak 10 mL/hari secara oral selama 1 bulan.
  3. Kelompok perlakuan dengan clomid: tikus diberikan clomid sebanyak 50 mg/hari selama satu bulan. Clomid atau clomiphene adalah modulator reseptor estrogen selektif (SERM) yang dapat meningkatkan produksi hormon gonadotropin dengan cara menghambat umpan balik negatif ke hipotalamus. Tujuan dari penelitian ini di samping untuk mengetahui pengaruh esktrak tanaman Anastatica hierochuntica pada tikus, juga untuk membandingkan efek ekstrak tersebut dengan obat clomid yang telah dikenal luas.
  4. Kelompok perlakuan dengan campuran clomid dan ekstrak tanaman: tikus diberikan 500 mg/hari clomid selama 1 bulan, kemudian 10 mL/hari ekstrak tanaman satu bulan selanjutnya.

            Selanjutnya, tiap-tiap tikus akan diambil sampel darahnya. Dari darah itu, diambil serum agar dapat mengetahui level hormon yang akan diuji. Analisis deskriptif digunakan untuk menunjukkan rata-rata/mean ± standar deviasi dari variabel terkait. Perbedaan signifikan antar nilai rata-rata diperkirakan dengan uji komparatif Student T-Test, di mana p<0,05 = signifikan (Baker et al, 2013).

Baca juga:
Gambar 4. Ilustrasi Level Nilai Hormon LH, FSH, Prolaktin, dan Progesteron pada Darah Tikus Betina (Sumber: Baker et al, 2013)

 

            Tabel di atas menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, ekstrak larutan Anastatica hierochuntica memberikan efek yang signifikan terhadap kadar hormon LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), PRL (Prolactin), dan PRO (Progesterone) pada tikus betina. Sementara untuk perlakuan clomid, juga menunjukkan peningkatan yang signifikan, kecuali pada hormon progesteron (Baker et al, 2013).

            Pada tahun 2014, dengan peneliti yang sama, dilakukan uji coba ekstrak tanaman Anastatica hierochuntica sebagai premarin (suplemen pengganti estrogen) pada kelinci (Oryciolagus cuniculus) betina. Hasilnya memperlihatkan bahwa tanaman tersebut dapat meningkatkan kadar hormon estrogen (Ali et al, 2014).

            Selanjutnya, bagaimana efek rendaman rumput fatimah terhadap kontraksi uterus hewan? Penelitian ini dirancang dengan menggunakan post-test only control group design. Subjeknya yaitu tikus bergalur Sprague dawley betina yang dibagi menjadi lima kelompok:

  1. Kelompok kontrol: diberi pelarut air.
  2. Kelompok pembanding: diberi estradiol 0,0225 mg/hari.
  3. Kelompok pembanding: diberi air rendaman rumput fatimah 10 gram.
  4. Kelompok pembanding: diberi air rendaman rumput fatimah 20 gram.
  5. Kelompok pembanding: diberi air rendaman rumput fatimah 40 gram.

            Setelah diberikan air rendaman per oral, dua puluh jam kemudian hewan coba diberi eter dan dimatikan dengan metode dekapitasi (pemotongan leher). Lalu, perut tikus dibuka (pembedahan laparatomi/irisan dinding ke rongga perut) untuk diambil otot uterus kanan-kirinya sepanjang 3 cm. Sediaan tersebut dimasukkan ke dalam organ bath, berisi larutan De Jalon’s yang dialiri oksigen 95% dan karbon dioksida 5% agar tetap hidup. Organ bath dihubungkan dengan alat kimograf, fungsinya untuk merekam kontraksi otot uterus.

           Hasil menunjukkan bahwa frekuensi (jumlah kontraksi otot uterus per menit) tanpa distimulasi oksitoksin paling tinggi dihasilkan oleh kelompok 5 (0,88 ± 0,189), frekuensi kontraksi otot uterus dengan stimulasi oksitoksin paling tinggi dihasilkan oleh kelompok 3 (1,25 ± 0,129), dan frekuensi kontraksi otot uterus dengan stimulasi oksitosin dan air rendaman rumput fatimah menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok 2 hingga 5. Dengan demikian, air rendaman rumput fatimah dapat meningkatkan jumlah frekuensi kontraksi otot uterus pada hewan.

            Kesimpulannya, pemanfaatan rumput fatimah secara turun-temurun dalam mempermudah proses persalinan sejauh ini belum dapat dinyatakan aman, terutama jika dikonsumsi tanpa pertimbangan takaran yang jelas. Dikhawatirkan penggunaan rumput fatimah dapat memicu kontraksi yang berlebihan pada uterus sehingga terjadi atonia ataupun ruptura uteri. Atonia uteri adalah kegagalan serabut miometrium untuk berkontraksi yang menyebabkan perdarahan, sedangkan ruptura adalah kerobekan dinding rahim. Oleh karena itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai khasiat, keamanan, dan aktivitas mekanik lain untuk menegaskan penelitian tersebut.

Referensi:

Ali, B. H., R. K. Baker, T. U. Mohammd, & H. A. Hassn. 2014. Anastatica hierochuntica L. Used as an Alternative of Conjugated Estrogen (Premarin) in Rabbit Females. Journal of Advances in Chemistry, 9 (1): 1783-1786. https://journals.indexcopernicus.com/search/article?articleId=2242344

Baker, R. K., T. U. Mohammd, B. H. Ali, & N. M. Jameel. 2013. The Effect of Aqueous           Extract of Anastatica hierochuntica on Some Hormones in Mouse Females.     Ibn Al-Haitham Journal for Pure and Applied Science, 26 (2): 198-205. https://www.iasj.net/iasj?func=fulltext&aId=76926

Nani, D. 2009. Pengaruh Rendaman Air Rumput Fatimah (Anastatica           hierochuntica L.) terhadap Frekuensi Kontraksi Otot Uterus Tikus Galur    Sprague Dawley pada Fase Estrus. Jurnal Keperawatan Soedirman, 4(1): 1- 8.http://jks.fikes.unsoed.ac.id/index.php/jks/article/view/215

Safitri, Y., Afriwardi, & E. Yantri. 2019. Pengaruh Pemberian Air Rendaman Rumput            Fatimah (Anastatica hierochuntica) terhadap Kadar Hormon Oksitosin dan   Hormon Prolaktin pada Tikus Putih (Rattus novergicus) Menyusui. Jurnal          Kesehatan Andalas, 8 (1): 31-35.https://onesearch.id/Record/IOS478.article-923

Shah, A. H., M. P. Bhandari, N. O. Al-Harbi, & R. M. Al-Ashban. 2014. Kaff-E-Maryam           (Anastatica hierochuntica L.): Evaluation of Gastro-Protective Activity and Toxicity in Different Experimental Models. Biol Med, 6(1): 197-206.https://www.semanticscholar.org/paper/Kaff-E-Maryam-(Anastatica-hierochuntica-L.)%3A-of-and-Shah-Bhandari/ba2381530616181120af1e603ab668e1bbeda32f

           

           

Syifa Amalia

Latest posts by Syifa Amalia (see all)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *