Apakah Normalisasi Sungai akan Membuat Jakarta Tenggelam? Sebuah Pendapat dari Pakar Hidrodinamika ITB

Sahabat warstek.com, akhir-akhir ini muncul polemik adanya normalisasi sungai atau pendimensian ulang sungai. Semenjak banjir yang menimpa daerah Jabodetabek pada awal tahun, kembali mengulang narasi-narasi yang pernah dibahas pada kejadian banjir tahun lalu. Uniknya, pada tahun ini kegiatan normalisasi menjadi perhatian masyarakat sebab hal tersebut masih menuai pro dan kontra.

Apa itu normalisasi? Sebelum kita berbicara jauh pro-kontra tersebut, mari kita memahami definisi normalisasi pada sungai.

Normalisasi sungai merupakan langkah upaya mengurangi bencana banjir dengan kegiatan pengerukan, pembangunan tanggul, pelebaran dimensi sungai (pendimensian ulang) yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai [1-2].

Penulis mendapatkan pernyataan menarik dari perbincangan di salah satu acara talkshow di sebuah televisi swasta yang menghadirkan pakar hidrodinamika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Bpk. Muslim Muin, Ph.D. Beberapa waktu lalu, menurut pernyataan Menteri PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) yang disampaikan ulang oleh pembawa acara pada talkshow tersebut, proses normalisasi sungai sejauh 33 kilometer (Sungai di Jakarta) kini dipertanyakan tindak lanjutnya. Hal ini menuai kontra dari pakar hidrodinamika yang tidak sepakat terhadap kelanjutan dari normalisasi sungai tersebut [3].

Muslim Muin Ph.D, Pakar Hidrodinamika dari ITB

“Pertama saya sampaikan prihatin saya terhadap korban banjir. Kalau saya lihat dari besaran dan lama hujan, mungkin ini hujan 100 tahunan. Saya sebagai pakai hidrodinamika, saya bersyukur bahwa normalisasi (sungai) tidak dilakukan. Kalau misal air yang tertahan (di hulu) diperlancar, maka air yang mengalir ke hilir akan semakin besar, sehingga BKB (Banjir Kanal Barat) meluap dan Jakarta akan hancur.” Jelas Muslim Muin Ph.D.

“Kalau Pak Menteri mau menormalisasi mulailah dari hilir, mulailah dari BKB terlebih dahulu, BKB-nya sudah bisa belum menerima air yang sedemikian banyak dari Ciliwung ?.” “Kalau normalisasi di hulu, maka air yang masuk ke hilir akan semakin besar. Hilirnya kini tidak sanggup.” “Paling tidak hilirnya itu dikeruk, tanggulnya dipertinggi, kapasitas angkutnya diperbesar.” Tambah Beliau.

Lulusan S3 University of Rhode Island Kingston Amerika Serikat tersebut sebelumnya juga pernah mengkritik rencana pembangunan Giant Sea Wall di Jakarta pada tahun 2013 yang dimuat dalam website itb.ac.id [5], yang menurut beliau proyek tersebut berpotensi berdampak pada kerusakan alam seperti merusak lingkungan laut Teluk Jakarta, mempercepat pendangkalan sungai dan lain sebagainya. Surinati (2014) mengangkat hal tersebut dan dimuat dalam jurnal Oseana No.4 tahun 2014, melakukan analisis menggunakan software MuTeknologi milik Muslim Muin Ph.D [4].

Giant Seawall (GSW) (Sumber gambar: muteknologi dalam Surinati (2014))

Di tahun 2019 ini, Muslim Muin Ph.D. kembali mengkritik polemik rencana penanggulangan bencana banjir yang ada di Jakarta. Pasalnya, beberapa pihak yang menyatakan bahwa normalisasi aliran sungai sebagai satu-satunya jalan solusi banjir kini kembali menuai kritikan. Seperti yang beliau jelaskan pada beberapa forum bahwa harus diadakannya perbaikan juga di hilir, tidak hanya di hulu.

Baca juga:
Peta Sungai Jakarta (Sumber gambar: id.wikipedia.org)

Sebuah hal yang wajar seorang Muslim Muin Ph.D berkomentar mengenai sesuatu yang berada di ruang lingkup kepakarannya. Untuk latar belakang karir risetnya selama ini, beliau memiliki h-index 4 dengan jumlah sitasi sebanyak 209. Beliau juga memiliki paten software hidrodinamika bernama MuTeknologi yang juga dipakai seluruh dunia, salah satunya di Bay of Fundy, Canada.

Bagaimana menurut sahabat warstek.com terhadap pernyataan Muslim Muin Ph.D? Pro atau kontra? Silahkan sampaikan di kolom komentar ya.

Referensi:

[1] Pitanggi, et al. (2017) ‘Normalisasi Sungai Dolok Semarang-Demak Jawa Tengah’, Jurnal Karya Teknik Sipil, 6(4), pp. 367-375

[2] Wigati, R., Soedarsono & Pribadi. (2016) ‘Normalisasi Sungai Ciliwung Menggunakan Program HEC-RAS 4.1 (Studi Kasus Cililitan-Bidara Cina), Jurnal Fondasi, 5(1), pp. 1-12

[3] https://www.youtube.com/watch?v=-yWuGXlFGS8

[4] Surinati, D. (2014) ‘Paradigma Giant Seawall’, Oseana, XXXIX(4), pp. 15-22

[5] Muslim Muin Ph.D.: ‘Jakarta Tak Perlu Bangun Giant Sea Wall’, diakses dari https://www.itb.ac.id/news/3918.xhtml pada 8 Januari 2020

Budiman Prastyo
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *