Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Dapatkah Kurangi Hujan Jabodetabek?

Gambar 1. Proses TMC Dengan Menggunakan Pesawat

Gambar 1. Proses Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan Menggunakan Pesawat

 

Musim hujan di awal tahun 2020 ini memang cukup menghawatirkan. Cuaca ekstrem ditambah banjir disana sini membuat masyarakat Indonesia dilanda keresahan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa wilayah Jabodetabek dan sekitarnya berpotensi mengalami hujan lebat pada 17 Januari 2020 sampai dengan 23 Januari 2020.

Menyikapi prediksi tersebut, sejumlah upaya dilakukan. Diantaranya adalah dengan menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang diprakarsai oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Sebelum membahas lebih lanjut mengenai upaya TMC untuk mengurangi hujan di wilayah Jabodetabek, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan TMC.

Menurut Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT, Trihandoko Seto, TMC adalah sebuah pemanfaatan teknologi untuk inisiasi ke dalam awan. Sehingga proses yang terjadi di awan lebih cepat dibandingkan dengan proses secara alami. Hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan,” papar pria yang akrab dipanggil Seto tersebut.

Pada dasarnya, TMC bukanlah hal baru di dunia. Teknologi ini sudah dipakai oleh lebih dari 60 negara untuk berbagai kepentingan. Sejarah modifikasi cuaca di dunia diawali pada tahun 1946. Pada saat itu, Vincent Schaefer dan Irving Langmuir melihat fenomena terbentuknya kristal es dalam lemari pendingin. Pada waktu yang berdekatan, Schaever secara tidak sengaja melihat hujan yang berasal dari nafasnya waktu membuka lemari es. Pada tahun 1947, Bernard Vonnegut melihat fenomena terjadinya deposit es pada kristal Perak Iodida (Agl). Vonnegut tanpa disengaja melihat titik air di udara ketika sebuah pesawat terbang membuat tulisan asap berupa nama sebuah merk minuman. Kedua penemuan penting ini merupakan tonggak dimulainya perkembangan modifikasi cuaca di dunia.

Kegiatan modifikasi cuaca di Indonesia dikaji dan diuji pertama kali pada tahun 1977 atas gagasan Presiden Soeharto (Presiden RI saat itu). Kegiatan ini difasilitasi oleh Prof.Dr.Ing. BJ Habibie melalui Advance Teknologi yang merupakan cikal bakal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dibawah asistensi Prof. Devakul dari Thailand. Pada tahun 1985 dibentuk satu unit di BPPT yang bernama Unit Pelayanan Teknis Hujan Buatan (UPT-HB). Unit ini berfungsi memberikan pelayanan dalam meningkatkan intensitas curah hujan ksususnya untuk menjaga ketersediaan air pada waduk yang berfungsi sebagai irigasi dan PLTA.

Dalam pelaksanaannya, selama ini TMC banyak berfungsi untuk menambah curah hujan. Pada fungsi ini bahan semai yang dimasukkan ke dalam awan bersifat higroskopis dengan ukuran 1-100 mikro. Bahan semai yang berukuran kurang dari 10 µ berfungsi untuk meningkatkan energi awan. Ini berfungsi menambah suplai uap air yang masuk ke dalam sistem awan. Sedangkan bahan semai yang berukuran lebih dari 10 µ berfungsi mempercepat proses-proses di dalam awan sehingga mempercepat turunnya hujan. Dalam usaha menambah curah hujan, awan yang disemai adalah awan yang diperkirakan akan turun menjadi hujan di daerah yang memerlukan tambahan hujan.

Nah, bagaimana dengan proses TMC untuk mengurangi hujan di wilayah Jabodetabek? Berdasarkan konsep TMC untuk menambah  curah hujan, dengan sedikit modifikasi, teknologi  ini juga bisa digunakan untuk mengantisipasi (atau bisa diartikan mencegah) terjadinya banjir (akibat  curah hujan tinggi). Modifikasi yang dilakukan yaitu dengan menggunakan bahan semai higroskopis dengan ukuran 30-100 µ. Dengan cara ini, penyemaian awan hanya bertujuan untuk mempercepat terjadinya hujan (jumping process). Selain itu perlu dilakukan pengamatan terhadap awan. Awan-awan yang disemai adalah awan-awan yang masih berada di atas laut dan diperkirakan (dengan mengukur  kecepatan angin dan posisi awan) dalam tiga jam ke depan masih berada di atas laut. Dengan cara ini, awan-awan yang disemai akan menghasilkan hujan dalam waktu kurang dari dua jam akibat mekanisme (jumping process).

Pada kasus antisipasi banjir di wilayah Jabodetabek, awan yang disemai berada di wilayah Laut Jawa, Selat Sunda, dan Ujung Kulon. Hal ini bertujuan agar hujan turun sebelum memasuki wilayah Jabodetabek. Dalam sekali pengaplikasiannya, proses ini umumnya menghabiskan 3000 karung garam Perak Iodida seberat 4 ton. Operasi TMC ini telah dilakukan mulai 3 Januari 2020. Hingga Sabtu, 18 Januari 2020, operasi TMC telah dilakukan sebanyak 44 sorti. Dengan total jam terbang lebih dari 95 jam. Total bahan semai yang digunakan lebih dari 73 ton, dengan ketinggian penyemaian 9.000-12.000 kaki. Operasi TMC ini didukung dua unit pesawat TNI-AU, yakni pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4 Malang.

Baca juga:

“Dari proses ini, berdasarkan data posko TMC, operasi ini telah mampu mengurangi curah hujan wilayah Jabodetabek sekitar 44% dari prakiraan. Hasil operasi ini juga menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek relatif lebih kecil daripada curah hujan di sekitarnya,” kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TMC BPPT), Tri Handoko Seto, dalam keterangan pers, Senin (13/1/2019).

 

Referensi :

[1] Adam. 2020. Begini Cara Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT untuk Atasi Banjir. Tersedia di https://www.itworks.id/24280/begini-cara-kerja-teknologi-modifikasi-cuaca-bppt-untuk-atasi-banjir.html, diakses Januari 2020.

[2] Damarjati, Danu. 2020. BPPT : Modifikasi Cuaca Berhasil Kurangi Hujan Jabodetabek Hingga 44%. Tersedia di https://news.detik.com/berita/d-4864990/bppt-modifikasi-cuaca-berhasil-kurangi-hujan-jabodetabek-hingga-44, diakses Januari 2020.

[3] Nugroho, Herwan. 2019. Teknologi Modifikasi Cuaca, Bukan Membuat Hujan? Ini Penjelasan BPPT. Tersedia di https://news.trubus.id/baca/31914/teknologi-modifikasi-cuaca-bukan-membuat-hujan-ini-penjelasan-bppt, diakses Januari 2020.

[4] Seto, T.H. 2008. Antisipasi Banjir dan TMC. Tersedia di https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teknologi-modifikasi-cuaca/, diakses Januari 2020.

 

Baca :

https://warstek.com/2020/01/20/berkaca-dari-film-mission-mangal-mungkinkah-indonesia-menggapai-mars/

https://warstek.com/2019/11/28/lisa/

 

Sartika Salaswati
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *