Media Rekonstruksi Karakter Masyarakat Modern Indonesia menggunakan Wayang Hip Hop

                                                                  Source Picture : www.wikipedia.org

Dalam dunia yang lebih majemuk dan modern seiring dengan gencarnya globalisasi yang mengubah pola pikir masyarakat Indonesia menuju peradaban yang lebih modern maka kebudayaan tradsional kini mulai ditinggalkan. Munculnya kesenian-kesenian baru seiring dengan kemajuan zaman dan permintaan masyarakat yang majemuk akibat pengaruh gobalisasi yang merasuk kedalam segala wujud budaya mempengaruhi karakter masyarakat. Saat ini, hiburan bukan lagi tuntunan tapi sebatas tontonan. Padahal, Pagelaran wayag mempunyai esensi yang kuat terhadap masyarakat karena keberadaannya tidak hanya menjadi tontonan semata, tetapi juga menjadi tuntunan masyarakat berupa penyampaian pesan moral dalam membentuk tatanan kehidupan. Wayang memiliki kekuatan cerita yang religious, sehingga wayang mempunyai pengaruh yang besar pada masyarakat luas. Disadari ataupun tidak wayang membentuk karakter masyarakat yang menontonnya. Selain itu secara implisit wayang mempunyai nilai hegemonic yang kuat dalam pola pikir baik secara individu maupun kelompok.

Wayang mengandung nilai-nilai spiritual agama dan falsafah hidup yang baik guna membentuk karakter individu maupun secara kolektif masyarakat Indonesia. Maka dari itu untuk menjaga tuntunan dan rekonstruksi karakter inovasi pada warisan leluhur sangat urgent untuk diimplementasikan. kesenian –kesenian tradisional harus mampu bertahan dengan cara melakukan adaptasi melalui hibriditas kebudayaan untuk menjaga eksistensinya. Menilik masyarakat urban yang mempunyai ketertarikan yang terhadap Hip Hop maka hal ini merupakan hal yang tepat utuk menjadikan wayang sebaga acuan dalam dunia modern. Hal ini dimaksudkan sebagai pembentukan karakter pada anak-anak bangsa dengan cara lebih modern dengan menggunakan media wayang yang adiluhung warisan bangsa.

Hibriditas Wayang dan Musik Hip Hop
Pada masa kini terdapat jenis kesenian yang tertuang pada music yang diacu tidak hanya oleh penikmat music di Indonesia. Konstelasi tersebut dibuktikan dengan berlomba-lombanya para composer dalam menciptakan lagu yang bergenre Hip Hop. Diadopsi sedenikian rupa dan dipadukan dengan unsur local yang ada, biasanya bahasa dan budaya setempat, beat, lirik lagu dan maknanya. Wayang Hip Hop” merupakan perpaduan antara kedua bentuk kesenian barat stimulan munculnya “Wayang Hip Hop” (Hip Hop) dan timur (Wayang). Pada dasarnya jenis percampuran ini merupakan hal yang baru, baik pada dunia pewayangan, juga dunia musik.
“Wayang Hip Hop” merupakan wujud percampuran budaya lokal dan global yang menjadi satu keutuhan dalam pertunjukan Sesuai dengan namanya, pertunjukan “Wayang Hip Hop” juga mempertunjukkan pergelaran wayang.

Biasanya gelaran pewayangan yang diambil adalah adegan “gara-gara” dalam pementasan wayang kulit. Sosok yang ditampilkan adalah tokoh Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong. Dalam penyampaiannya kepada masyarakat „Wayang Hip Hop menggunakan beberapa bahasa, biasanya bahasa Indonesia dan sesekali bahasa Inggris juga digunakan. Cerita dibawakan dengan balutan komedi. Cerita dalam Wayang Hip-Hop disesuaikan dengan isu-isu hangat dalam ranah politik, social dan budaya dan disesuaikan dengan isu terkait masalah-masalah yang menjadi perbincangan pada khalayak umum. Perpaduan pada „Wayang Hip Hop‟ merupakan sebua solusi dalam memanfaatkan setiap unsur untuk berintegrasi dan saling berkorelasi. HB Raditya menyatakan bahwa: „Global dan local bercampur menjadi satu kesatuan membentuk nilai baru yang tidak meninggalkan kedua nilai percampuran, tetapi memperkaya. Hibriditas atas semua unsur musical membuat kekuatan pertunjukan semakin kuat, Perbedaan ras antara satu dengan yang lain menjadi kunci lahirnya hibriditas. Hasil perpaduan menjadi variatif dan menawarkan pembaruan. Pembaruan yang terjadi memperkaya budaya tanpa menanggalkan kesenian wayang yang adiluhung dalam menyampaikan pesanpesan moral.

Baca juga:

Wayang Hip Hop Dan Rekonstruksi Pembentukan Karakter Masyarakat Urban
Masyarakat urban kini mengacu pada moderitas karena dianggap jantung dari sebuah peradaban maju. Kebudayaan tradisional dianggap ketinggalan zaman dan mulai dilupakan. Seiring dengan kemajuan zaman yang begitu pesat tontonan semakin tidak terkontrol dan sedikit yang mengandung pesan moril. Hanya profane yang dianggap lebih menyenangkan untuk ditonton. Hip Hop semakin berintegrasi dengan masyarakat secara implisit integritas tersebut membentuk sebuah jalur dan arah yang diacu oleh khalayak umum. Kebasaan yang terbentuk berdasarkan kuantitas dan frekuensi tinggi menjadikan potensi peneriman semakin besar. Proses resesi oleh para pendengar tidak akan sulit dibandingkan dengan kesenian yang belum didengar. Pada hal ini music Hip Hop yang sedang melonjak tingkat kegemarannya disisipkan pada pagelaran wayang akan mempermudah menyampaikan misi dalam rekonstruksi karakter masyarakat modern saat ini. 4 Dengan demian tidak ada kata bosan, ketinggalan zaman, atau kampungan pada nilai budaya lama. Budaya bias bernegosasi dalam menjaga kelestariannya. Dan data membentuk karakter masyarakat ditengah kemajemukan modernitas yang semakin massif.

Wayang Hip hop merupakan media pembentukan karakter masyarakat modern melalui kesenian tradisional dengan gaya baru. Kemunculan kesenian „Wayang Hip Hop turut menentukan pembentukan karakter bangsa di tengah kemajemukan modernitas yang semakin massif pada abad ke 21 ini. Dengan tetap menjunjung nilai kedua kebudayaan yang dilebur menciptakan sebuah kebudayaan baru yang lebih efektif dalam pertunjukannya, sehingga karkter masyarakat modern Indonesia tetap terakomodasi pada nilai tuntunan dan tatanan dari hakikinya kesenian wayang.

DAFTAR PUSTAKA
Michael HB Raditya. 2013. Hibriditas Musik Dangdut dalam Masyarakat Urban.
Journal of Urban Society’s Arts.Vol. 13. No. 1 April 2013. Hal 13.
Michael HB Raditya. 2014. Wayang Hip-Hop Hibriditas sebagai Media Konstruksi
Masyarakat Urban. journal Jantra Vol.9. No 2 Desember 2014.
Robert J.C.Young, Hybridity in Theory, Culture and Race. (London: Routledge,
1995), hlm. 9
www.reverbnation.com/wayanghiphop.

fauzialmaliky17

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *