Khoirul Anwar: Ilmuwan “Wireless” Nasionalis yang Kontributif

Halo sahabat warstek.com, untuk kali ini saya berkesempatan mewawancarai secara eksklusif bersama seorang ilmuwan Indonesia mendunia bernama Dr.Eng. Khoirul Anwar, S.T., M.Eng. Wawancara ini dilakukan pada Sabtu, 15 Februari 2020 di Universitas Indonesia.

Tahu nggak sih? Akhir-akhir ini,  beliau menjadi viral semenjak diundang di berbagai forum. Baik itu forum televisi, misal dalam acara Kick Andy MetroTV, maupun sampai forum teknologi tingkat dunia salah satunya di Jenewa, Swiss. Beliau akhir-akhir ini sempat meluruskan “kesalahpahaman” yang sempat viral mengenai siapa sebenarnya sang “penemu 4G”. Dalam forum International Telecommunication Union (ITU) di Jenewa, beliau menjelaskan sebuah konsep Double FFT (Fast Fourier Transform) yang akhirnya menjadi hak paten dan diterima menjadi standar skala internasional untuk membangun teknologi bernama 4G.

“Teknologi 4G merupakan kesepakatan yang ditentukan dari ITU, jadi teknologi 4G itu tidak ditemukan” Jelas Pak Anwar, sapaan akrabnya. Beliau dinobatkan menjadi salah satu pimpinan perwakilan 3 negara tertinggi di Asia Pasifik dalam dunia informatika. “Saya pernah bermimpi ke Jenewa, sebab Jenewa seperti tempat yang diidam-idamkan oleh para ahli informatika karena dianggap sebagai pusatnya teknologi. Awalnya saya hanya bermimpi untuk berkunjung saja, akan tetapi saya alhamdulillah bisa ke sana (Jenewa) untuk mengenalkan hasil temuan saya (Double FFT).”

Aktivitas Pak Anwar
Semenjak pulang ke Indonesia pada tahun 2016 silam, Pak Anwar tetap konsisten menjadi reviewer jurnal internasional di bidang Telekomunikasi. Selain itu, beliau juga meneliti pengembangan telekomunikasi-terapan, coding theory dan juga pengembangan terbaru 6G.

“Saya sering ditantang oleh Professor saya waktu di Jepang untuk lolos dalam Jurnal Internasional, akhirnya saya lakukan dan lolos. Kemudian Professor saya berkata ‘kamu lolos karena ada nama saya di sana (artikel). Kemudian saya coba lagi dengan nama saya sendiri tanpa Professor saya dan akhirnya lolos, ini mendapat apresiasi dari Profesor saya.”

Dalam hal akademik Dr. Anwar selama menjalani tugas sebagai menjadi mahasiswa dan asisten Profesor juga mendapatkan pencapaian cemerlang yakni wisudawan terbaik saat mendapatkan beasiswa Panasonic di NAIST (NARA Institute of Science and Technology) Jepang. Dalam hal dunia profesi, beliau lebih memilih menjadi peneliti dan pengajar dibanding di bagian produksi (industri) sebab menurutnya dengan menjadi pengajar akan lebih bermanfaat menebar kebaikan yang kontinyu.

Baca juga:

Saat ini, Pak Anwar juga mengajar dan membimbing Mahasiswa di sebuah Universitas Telkom di Bandung. Pak Anwar menjelaskan suka duka saat pertama kali ke Indonesia pada tahun 2016, pasalnya beliau harus beradaptasi perbedaan sarana-prasarana penelitian antara Jepang dengan Indonesia. “Saya akan membuktikan bahwa pulang ke Indonesia itu merupakan langkah yang tepat karena tekad saya ingin membangun Indonesia walaupun harus melepaskan status peneliti di Jepang.”

Membicarakan Pengalaman Riset
Pengalaman riset diceritakan oleh seorang Dr.Eng. Khoirul Anwar dari mulai di Jepang hingga ke Indonesia. Ada beberapa hal menarik yang baik saya sampaikan kepada sahabat warstek.com. Beliau sering mengajak kepada para peneliti untuk memperbaiki bahasa dalam penulisan artikel jurnal. Menurutnya, penelitian yang baik harus diimbangi dengan pembawaan bahasa yang baik. Pria yang sempat mengeyam Pendidikan di ITB ini juga menggarisbawahi bahwa paper penelitian itu semua bermanfaat. Baik itu hasil penelitian teoretis, maupun terapan (produksi/industri).

“Di negara Jepang, yang saya amati selama ini (menjadi reviewer dan peneliti), negara tersebut menghargai segala penelitian. Baik itu penelitian yang menghasilkan ilmu pengetahuan (teori), maupun terapan (industri). Rasionya 60% untuk ilmu pengetahuan, 40% untuk penerapan teknologi. Jadi, walaupun penemuannya belum diketahui kegunaannya (penerapannya) dan masih bersifat teori, tetap diapresiasi. Bisa jadi, suatu saat sumbangan ilmu pengetahuan tersebut akan berguna.” Jelas Pak Anwar.

Foto Dr. Eng. Khoirul Anwar, S.T., M.Eng (kanan) dan Budiman Prastyo/Penulis (kiri)

Nah, jadi seperti itu sahabat warstek.com, kita sebagai generasi muda seyogyanya menuntut ilmu bisa dimana saja, asalkan muaranya tetap berkontribusi untuk negeri kita tercinta Indonesia. Sebagai penutup, saya mengutip kalimat mutiara Ki Hajar Dewantara, “Jadikan setiap orang adalah guru, jadikan segala tempat adalah sekolah”. Maju terus penelitian Indonesia.

Budiman Prastyo
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *