Radiasi dan Rokok, Lebih Bahaya Mana?

Penemuan material radioaktif di Perumahan Batan Indah beberapa waktu lalu sedikit banyak membuat paranoia terhadap radiasi muncul kembali di tengah-tengah publik. Greenpeace sampai menyerang sistem pengelolaan limbah radioaktif Indonesia di akun instagramnya, sebelum kemudian dikuliti habis-habisan [1]. Walau dalam taraf tertentu radiasi nuklir memang berbahaya, tapi perspektif bahaya ini kadangkala keliru. Khususnya ketika dibandingkan dengan salah satu pembunuh terbesar di dunia: rokok.

Radiasi nuklir yang paling sering disorot tentu saja radiasi gamma. Pasalnya, radiasi jenis ini memiliki daya tembus dan daya jangkau paling tinggi, meski daya ionisasinya paling rendah. Untuk alasan ini, radiasi gamma sering digunakan di sektor medis dan industri untuk berbagai keperluan, misalkan untuk terapi kanker, gauging, radiografi, dan sebagainya. Paparan berlebih terhadap radiasi gamma dikhawatirkan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari kanker sampai dengan kematian [2,3]

Radiasi gamma memang dapat menyebabkan dampak negatif pada tubuh manusia. Namun, dampak tersebut baru tampak pada dosis radiasi tinggi. Sebagaimana dianalisis oleh Allison [4], terdapat threshold dari dosis radiasi serentak, yakni sebesar 100 miliSievert (mSv). Artinya, jika dalam satu waktu singkat, dalam orde menit atau jam, seseorang terpapar radiasi nuklir dengan dosis 100 mSv, maka akan terjadi kenaikan potensi kanker yang mungkin baru tampak beberapa puluh tahun ke depan. Itupun kalau kankernya benar-benar muncul.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Dosis radiasi serentak minimal yang dapat menyebabkan kematian adalah sekitar 4.000 mSv [4,5]. Terpapar radiasi dalam jumlah sebesar ini, kematian dapat terjadi dalam beberapa minggu, jika tidak ditangani sebagaimana mestinya.

Bagaimana dengan dosis radiasi yang diterima dalam rentang waktu tertentu? Allison [4] mengungkapkan angka 100 mSv/bulan menjadi batas konservatif dari paparan radiasi jangka panjang. Angka ini jauh lebih tinggi dari ketentuan regulasi nuklir, misalkan 20 mSv/tahun untuk pekerja radiasi dan 1 mSv/tahun untuk masyarakat umum [6]. Angka dalam regulasi ini sama sekali tidak berarti bahwa ketika manusia menerima dosis radiasi lebih tinggi dari batasan, lalu pasti terkena dampak kesehatan. Sama sekali tidak bermakna seperti itu. Batasan itu dibuat hanya sebagai pembatas untuk tidak perlu bermain-main dengan sumber radiasi kalau tidak perlu.

Berdasarkan informasi dari BATAN per 18 Februari 2020, tingkat paparan radiasi hanya tinggal 7 µSv/jam [7]. Angka ini kurang dari sepersepuluh ribu dosis yang dapat menyebabkan kenaikan potensi kanker. Kalau dikonversi ke tahun, angkanya jadi 61 mSv/tahun. Angka ini lebih tinggi daripada batasan regulasi nuklir, tetapi masih jauh lebih rendah daripada limit yang disebutkan di [4].

Beberapa pihak mungkin mengatakan bahwa “tidak ada dosis radiasi yang selamat.” Artinya, serendah apapun radiasi nuklir, akan ada potensi menyebabkan kanker [5,8]. Namun, argumentasi ini tidak beralasan, tidak memiliki justifikasi secara ilmiah. Pasalnya, argumentasi ini dilandaskan pada model linear no-threshold (LNT), yang tidak pernah terbukti dan dipenuhi kecacatan historis, teoretis, maupun faktual [9-20].

Lagipula, penduduk di Kerala, India, hidup dengan radiasi latar hingga mencapai 70 mSv/tahun dan tidak ada kenaikan insidensi kanker. Malah, kasus insidensi kanker di Kerala hanya sepertiga dari kasus Australia. Kalau klaim “tidak ada dosis radiasi yang selamat” itu benar, harusnya penduduk Kerala sudah banyak menderita kanker. Namun faktanya tidak demikian [21].

Baca juga:

Baca juga: Apakah Radiasi Nuklir Dapat Menyebabkan Kemandulan?

Singkatnya, sangat sulit bagi manusia untuk terkena dampak kesehatan dari radiasi nuklir. Mengingat, dampak radiasi nuklir dosis rendah bisa dikatakan tidak ada, sementara untuk mendapatkan paparan radiasi dosis tinggi sangat sulit untuk ditemukan kondisinya. Risiko seseorang terkena masalah kesehatan akibat radiasi nuklir itu sangat rendah, termasuk dalam kasus Perumahan Batan Indah.

Daripada radiasi nuklir, seseorang lebih mungkin terkena kanker karena merokok. Sementara jumlah kematian karena efek radiasi dosis tinggi kurang dari 100 orang, itupun dari kecelakaan PLTN Chernobyl [22], merokok menyebabkan setidaknya 5 juta kematian tiap tahun dan dapat naik hingga 8 juta orang tiap tahunnya pada 2030 [23]. Rata-rata, perokok meninggal 10 tahun lebih awal daripada bukan perokok [24].

Dampak kesehatan utama dari rokok adalah kanker paru, dan berbagai penelitian telah membuktikan bahwa merokok menyebabkan kanker paru [25-30]. Apakah semua perokok dapat terkena kanker paru-paru? Tidak juga, tetapi kenaikan risikonya tinggi. Penelitian di Eropa menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko terkena kanker paru berkisar 6,6-15,7% [31]. Sementara, di Kanada, risikonya bisa mencapai 17,2% [32]. Kecil? Bandingkan dengan bukan perokok yang risiko kanker parunya hanya 0,2-0,6% [31].

Bahkan, risiko kanker dapat naik ketika faktor radon dimasukkan dalam pertimbangan. Radon merupakan gas radioaktif yang merupakan hasil peluruhan dari uranium. Radon berada di alam dan dapat terakumulasi di rumah-rumah, terhirup oleh manusia. Walau tidak menyebabkan risiko kanker signifikan pada bukan perokok, kandungan radon sebesar 100 ppm meningkatkan risiko kanker pada perokok hingga 2% [4]. Artinya, perokok lebih sensitif terhadap paparan radiasi dari radon, dan imbasnya lebih mungkin terkena kanker paru.

Untuk lebih menabur garam pada luka, rokok juga mengandung substansi radioaktif, dalam bentuk polonium-210. Sebagaimana radon, polonium-210 juga merupakan hasil peluruhan dari uranium. Merokok dua pak sehari selama setahun memberi dosis setara dengan 300 kali paparan sinar-X di dada [33]. Sehingga, merokok sama saja dengan memasukkan bahan radioaktif dengan sukarela ke paru-paru.

Dari sini, dapat dilihat bahwa bahaya yang disebabkan oleh merokok jauh lebih nyata dan mematikan daripada radiasi nuklir. Sementara penggunaan material radioaktif diatur dengan ketat oleh regulasi, rokok beredar bebas tanpa aturan khusus, bahkan anak kecil pun bisa mengonsumsinya. Rokok merupakan ancaman kesehatan yang jauh lebih besar terhadap kesehatan manusia daripada radiasi nuklir.

Jangan sampai keliru dalam menilai risiko. Seseorang lebih mungkin mati karena merokok daripada karena radiasi nuklir.

Referensi:

  1. R Andika Putra Dwijayanto. Meluruskan Argumentasi Greenpeace Indonesia Tentang Limbah Nuklir dan PLTN Yang Menyesatkan. Available online at https://warstek.com/2020/02/21/kritik-greenpeace/
  2. Mondjo. 2008. Proteksi Radiasi. Yogyakarta: Program Studi Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada.
  3. Nicholas Tsoulfanidis (ed.). 2013. Nuclear Energy, Second Edition: A Volume in the Encyclopedia of Sustainability Science and Technology Series, Second Edition. New York: Springer Science+Business Media.
  4. Wade Allison. 2009. Radiation and Reason: The Impact of Science on a Culture of Fear. York: Wade Allison Publishing.
  5. Raymond L. Murray. 2009. Nuclear Energy: An Introduction to the Concepts, Systems, and Applications of Nuclear Processes, Sixth Edition. Oxford: Butterworth-Heinemann.
  6. Perka Bapeten No. 4 Tahun 2013 Tentang Proteksi dan Keselamatan Radiasi Dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir.
  7. Paparan Radiasi di Perum Batan Indah Tangsel Turun hingga 90%. Diakses dari https://megapolitan.okezone.com/read/2020/02/18/338/2170242/paparan-radiasi-di-perum-batan-indah-tangsel-turun-hingga-90
  8. Herman Cember, Thomas E. Johnson. 2009. Introduction to Health Physics, Fourth Edition. New York: McGraw-Hill.
  9. Alexander Vaiserman et al, 2018. Health Impacts of Low-Dose Ionizing Radiation: Current Scientific Debates and Regulatory Issues. Dose-Response, vol. 16, issue 3, pp. 1-27.
  10. Antone L. Brooks, 2019. The impact of dose rate on the linear no threshold hypothesis. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 68-80.
  11. Bobby R. Scott and Sujeenthar Tharmalingam, 2019. The LNT model for cancer induction is not supported by radiobiological data. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 34-53.
  12. David Costantini and Benny Borremans, 2019. The linear no-threshold model is less realistic than threshold or hormesis-based models: An evolutionary perspective. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 26-33.
  13. Edward J. Calabrese, 2015. On the origins of the linear no-threshold (LNT) dogma by means of untruths, artful dodges and blind faith. Environmental Research, vol. 142, pp. 432-442.
  14. Edward J. Calabrese. 2019. Muller’s Nobel Prize data: Getting the dose wrong and its significance. Environmental Research, vol. 176, 108528.
  15. Edward J. Calabrese, 2019. The linear No-Threshold (LNT) dose response model: A comprehensive assessment of its historical and scientific foundations. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 6-25.
  16. Paolo F. Ricci, Sujeenthar Tharmalingam, 2019. Ionizing radiations epidemiology does not support the LNT model. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 128-140.
  17. Rebecca A. Clewell et al., 2019. Dose-dependence of chemical carcinogenicity: Biological mechanisms for thresholds and implications for risk assessment. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 112-127.
  18. Sujeenthar Tharmalingam, 2019. Re-evaluation of the linear no-threshold (LNT) model using new paradigms and modern molecular studies. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 54-67.
  19. Zbigniew Jaworowski, 2010. Observations on Chernobyl After 25 Years of Radiophobia. 21st Century Science and Technology, Summer 2010, pp. 30-45.
  20. Zbigniew Jaworowski, 2010. Observations on the Chernobyl Disaster and LNT. Dose-Response, vol. 8, issue 2, pp. 148-171.
  21. Geoff Russell. What Can We Learn from Kerala? Available online at https://bravenewclimate.com/2015/01/24/what-can-we-learn-from-kerala/
  22. United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation, 2011. Sources and Effects of Ionizing Radiation Volume II Annex D. New York: UNSCEAR.
  23. D. Rizzuto and L. Fratiglioni. 2014. Lifestyle Factors Related to Mortality and Survival: A Mini-Review. Gerontology, vol. 60, issue 4, pp. 327-335.
  24. Richard Doll et al. 2004. Mortality in relation to smoking: 50 years’ observations on male British doctors. British Medical Journal. 328:1519.
  25. Richard Doll, and Bradford A. Hill. 1950 Smoking and Carcinoma of the Lung. British Medical Journal. 2:739.
  26. EL Wynder, EA Graham. 1950. Tobacco smoking as a possible etiologic factor in bronchogenic carcinoma; a study of 684 proved cases. J Am Med Assoc. vol. 143, pp. 329–336.
  27. R Doll, BA Hill. 1954. The mortality of doctors in relation to their smoking habits; a preliminary report. British Medical Journal. 1:1451–1455.
  28. J Hjelmborg, et al. 2016. Lung cancer, genetic predisposition and smoking: the Nordic Twin Study of Cancer. Thorax. Vol. 72, issue 11, pp. 1-7
  29. LB Alexandrov et al. 2016. Mutational signatures associated with tobacco smoking in human cancer. Science. Vol. 354, Issue 6312, pp. 618-622.
  30. W Duan et al. 2009. Expression of a Mutant p53 Results in an Age-Related Demographic Shift in Spontaneous Lung Tumor Formation in Transgenic Mice. Plos One. Vol. 5, issue 5, e5563.
  31. A Crispo et al. 2004. The cumulative risk of lung cancer among current, ex- and never-smokers in European men. British Journal of Cancer. Vol. 91, pp. 1280-1286.
  32. PJ Villeneuve, Y Mao. 1994. Lifetime probability of developing lung cancer, by smoking status, Canada. Canadian Journal of Public Health. Vol. 85, issue 6, pp. 385-388.
  33. Vincenzo Zaga et al. 2011. Polonium and Lung Cancer. Journal of Oncology. Vol. 2011: 860103.
R. Andika Putra Dwijayanto
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *