Cegah Corona: Siswa SMA IT Latansa Cendekia Racik Hand Sanitizer Ekstrak Daun Kersen

Halo sahabat warstek.com, dewasa ini, kita dikejutkan dengan fenomena pandemi global bernama COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). Seperti yang dirilis oleh WHO (World Health Organization), virus ini merupakan virus jenis baru yang menyerang bagian pernafasan. Gejalanya dapat kita kenali dengan tanda-tandanya yakni panas (demam), batuk, sampai pneumonia. WHO, pada lamannya menyarankan untuk melakukan pencegahan yang dapat dilakukan dengan membersihkan tangan secara rutin [1].  Forum  ECDC (European Centre For Disease Prevention and Control) pada Maret 2020 pernah memberikan saran terkait langkah pencegahan terinfeksinya virus Corona yaitu dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer berbahan dasar alkohol [2]. Oleh sebab itu, pada kesempatan kali ini, saya akan membahas masalah pencegahan tertularnya Covid-19.

Pada artikel ini ada dua pembahasan: (1) Mengenai resep pembuatan hand sanitizer dan (2) Penambahan ekstrak daun kersen untuk zat tambahan hand sanitizer. Untuk pembahasan pembuatan hand sanitizer, penulis meliput kegiatan siswa di Laboratorium SMA IT Latansa Cendekia, Tangerang pada Minggu, 15 Maret 2020. Akhir-akhir ini juga di daerah tersebut sudah ada instruksi dari Pemerintah Daerah (PEMDA) Banten dalam surat edaran No. 420/0930-Dindikbud/2020, untuk meliburkan kegiatan instansi pendidikan guna mencegah menyebarnya virus corona. Nah, sebagai langkah nyata pencegahan, para siswa membuat produk yang tengah ramai dicari, yakni hand sanitizer, di sini digunakan tambahan ekstrak Kersen. Selamat membaca sahabat warstek.

Resep Menurut Para Ahli

Tanggal 11 Maret 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran mengenai pembuatan hand sanitizer. Dalam resep tersebut, BPOM menggunakan Etanol 96% sebagai bahan dasar, berfungsi sebagai antiseptik [3]. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam lamannya menggunakan kadar Etanol 95%. Angka persen bahan ini maksudnya, dalam larutan tersebut terkandung 95% Etanol sedangkan sisanya (5%) adalah air. Jenis alkohol yang dipakai oleh beberapa pihak terkadang beragam, baik itu jenis maupun kadarnya. LIPI misalnya, pernah juga menggunakan bio-etanol (etanol dari hasil fermentasi) [4], kemudian WHO menggunakan isopropil alkohol 99,8 % sebagai bahan dasar [5]. Kesamaannya adalah alkohol ini sama-sama bertujuan sebagai antiseptik yang akan membunuh virus dan bakteri.

Pada intinya, bahan dasar yang digunakan adalah bahan yang sama yakni senyawa alkohol. Hanya saja berbeda-beda rumus molekulnya—perbedaan ini juga menyebabkan titik didihnya berbeda. Semakin panjang rantai alkohol, maka semakin tinggi juga titik didihnya. Senyawa alkohol yang strukturnya bercabang (isopropil alkohol) dibanding dengan rantai lurus (propil alkohol), memiliki titik didih lebih rendah. Hal itu terjadi sebab luas permukaan molekul rantai lurus lebih besar, walaupun jumlah atom-atom penyusunnya keduanya sama—ini ada kaitannya dengan pengaruh gaya antarmolekul [6]. Jadi, didapatkan fakta bahwa etanol lebih cepat menguap (berubah menjadi gas) di suhu ruangan dibanding isopropil alkohol dan propil alkohol. Berikut data titik didihnya:

Senyawa Rumus Molekul Titik Didih
Propil alkohol CH3CH2CH2OH 97,2 oC
Isopropil alkohol CH3CH(OH)CH3 82,3 oC
Etanol CH3CH2OH 78,3 oC

Tabel 1. Data Titik Didih dari beberapa senyawa alkohol

   Selain bahan primer, digunakan juga bahan-bahan sekunder untuk mendukung kualitas dari hand sanitizer, seperti Hidrogen peroksida 3% sebagai oksidator yang berfungsi menonaktifkan kontaminasi virus dan bakteri dan Gliserol 98% sebagai pelembab kulit. Ada juga yang menambahkan ekstrak tumbuhan tertentu atau nanomaterial (nano silver) seperti yang dilakukan oleh LIPI menggunakan nanoteknologi. Untuk lebih jelasnya, pilihan resep menurut WHO (2010) yang sampai saat ini masih dijadikan rujukan berbagai instansi (contohnya BPOM) sebagai berikut:

Resep 1 Resep 2
– Etanol 96% sebanyak 8333 ml
– Hidrogen peroksida 3% sebanyak 417 ml
– Gliserol 98% sebanyak 145 ml
– Isopropil Alkohol 99,8% sebanyak 7515 ml
– Hidrogen peroksida 3% sebanyak 417 ml
– Gliserol 98% sebanyak 145 ml

Tabel 2. Resep Hand Sanitizer WHO

Bahan Tambahan (Ekstrak Daun Kersen)

“Kami ada kendala ketiadaan bahan di Laboratorium (hidrogen peroksida) sehingga ada alternatif antibakteri dan antivirus yaitu ektrak daun kersen” Jelas Faishal Helmy, salah satu murid SMAIT Latansa Cendekia saat diwawancarai.

Pohon kersen (Muntingia calabura) merupakan pohon berbuah yang relatif mudah ditemui di daerah Tangerang. Pada pembuatan hand sanitizer ini dimanfaatkan pohon tersebut pada bagian daunnya. Menurut penelusuran, daun tersebut memiliki senyawa aktif sebagai antivirus dan antibakteri. Penelusuran fitokimia didapatkan bahwa kandungan daun kersen positif senyawa flavonoid, tannin, triterpene, saponin  dan polifenol. Metabolit sekunder berupa flavonoid inilah yang berfungsi sebagai antivirus dan antibakteri [7]. Proses pengambilan kandungan pada daun kersen dilakukan dengan ekstraksi maserasi, teknik ini dilakukan dengan merendam daun kersen (100 gram) yang sudah dikeringkan (dijemur), menggunakan alkohol sebanyak 500 ml (bisa digunakan alkohol pada bahan dasar). Alhasil, kandungan ekstraksi kini dapat ditambahkan ke campuran hand sanitizer. Pada pembuatannya, dicampurkan 5 ml hasil ekstrak daun kersen untuk setiap 500 ml hand sanitizer. Terakhir, sebagai zat tambahan juga, telah ditambahkan minyak atsiri greentea untuk menambah aroma.

Baca juga:
Gambar 1. Dokumentasi Siswa SMAIT Latansa Cendekia (Firman Fitriyanto/kiri, Fawas/Tengah dan Faishal Helmy/Kanan)

Sebenarnya, untuk penambahan bahan-bahan agar lebih berkualitas dapat divariasikan sesuai kreatifitas, selama masih aman digunakan. Misalkan digunakan nanomaterial antibakteri, ekstrak daun, buah, kulit buah tertentu juga bisa. Dengan catatan, sudah melewati proses pemeriksaan (skrining) fitokimia dengan baik, agar mengetahui kandungan kimianya, apakah berbahaya atau tidak.

“Untuk penggunaannya, sebaiknya dipakai sebelum makan atau sesudah memegang sesuatu yang berpotensi terdapat mikroorganisme, seperti memegang uang, gagang pintu dan lain sebagainya. Cara pemakaiannya, dengan mengusap ke seluruh telapak tangan dan punggung tangan minimal 20 detik.” Kata Bu Louly Risdiyanty, SP., selaku guru Biologi.

Gambar 2. Dokumentasi Pembuatan Hand Sanitizer

Nah, seperti itu sahabat warstek.com, semoga sharing pada kesempatan ini bermanfaat untuk sahabat warstek. Semoga dengan pengetahuan ini, dapat diterapkan juga guna menjaga kebersihan dan kesehatan kita semua. Jaga kesehatan selalu, salam teknologi!

Referensi:

[1] WHO, who.int, diakses pada tanggal 15 Maret 2019

[2] European Centre For Disease Prevention and Control. Infection Prevention and Control for COVID-19 in Helathcare Settings March 2020. ECDC: Stockholm; 2020

[3] Surat Edaran BPOM, pembuatan hand sanitizer dalam upaya mencegah virus corona, 11 Maret 2020

[4] lipi.go.id/siaranpress/hand-sanitizer-sederhana-untuk-cegah-virus-corona/21970, diakses pada 15 Maret 2020

[5] World Health Organization. 2010. Guide to Local Production: WHO-recommended Handrub Formulations

[6] Solomons, T.W.G & Fryhle, C.B. 2011. Organic Chemistry 10th Edition. Wiley

[7] Ilkafah. (2018) ‘Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Sebagai Alternatif Terapi pada Penderita Gout Artritis’, Pharmacy Medical Journal, 1(1): 33-41

Budiman Prastyo
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *