Mamuju Membuktikan Bahwa Radiasi Dosis Rendah Itu Tidak Membahayakan

Radiasi nuklir seringkali menjadi momok bagi masyarakat umum. Sebagaimana fenomena di dunia sains lainnya seperti vaksin dan GMO, ketakutan terhadap radiasi pada dasarnya disebabkan pemahaman yang kurang dan edukasi yang belum sampai. Namun, sebagai pengecualian, ketakutan terhadap radiasi nuklir diperparah dengan regulasi keselamatan nuklir yang mengasumsikan “tidak ada dosis radiasi yang selamat.” [1] Padahal, data-data riil menunjukkan bahwa klaim ini keliru [2-5]. Termasuk data di Mamuju, Sulawesi Barat.

Selain Bangka Belitung [6], Mamuju merupakan daerah yang memiliki radiasi latar tinggi [7]. Artinya, penduduk Mamuju menerima dosis radiasi tahunan lebih tinggi dibandingkan sebagian besar daerah lain di Indonesia. Dosis radiasi lebih tinggi ini dikarenakan tanah Mamuju mengandung uranium dengan konsentrasi cukup tinggi.

Sebagai perspektif, penduduk dunia rata-rata menerima dosis radiasi 2,4 mSv/tahun dari berbagai jenis sumber paparan, sementara di Mamuju dosis yang diterima mencapai rata-rata 6,15 mSv/tahun [8] bahkan tertinggi hingga 18,62 mSv/tahun [9]. Sebagai komparasi, penduduk sekitar Belarusia, Ukraina, dan Rusia yang terdampak jatuhan radioaktif dari kecelakaan Chernobyl menerima dosis tambahan kurang dari 2,5 mSv dalam waktu 19 tahun pasca kecelakaan [10].

Apa implikasinya? Jika ingin berbicara risiko, maka sesungguhnya penduduk Mamuju lebih berisiko terkena dampak negatif radiasi dibandingkan penduduk negara sekitar Chernobyl. Namun, apa benar begitu?

Baca juga: Radiasi dan Rokok, Lebih Berbahaya Mana?

Berbagai penelitian yang dilakukan oleh Peneliti dari Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menunjukkan bahwa radiasi latar di Mamuju tidak secara signifikan memengaruhi kualitas hidup masyarakat. Misalkan pada penelitian yang dipublikasikan tahun 2012 [8]. Penelitian tersebut menganalisis respon sitogenik pada penduduk Mamuju, khususnya aberasi kromosom yang merupakan indikasi kerusakan DNA oleh paparan radiasi pengion.

Sampel darah dari 30 orang penduduk Desa Botteng, Mamuju, dianalisis untuk dicek kerusakan pada kromosomnya. Hasilnya, tidak ditemukan adanya aberasi kromosom pada penduduk yang dicek darahnya. Padahal, dosis radiasi setempat mencapai 6,51 mSv/tahun. Jauh lebih tinggi daripada rerata dosis radiasi alam yang diterima penduduk dunia dan lebih tinggi pula dari nilai batas dosis (NBD) eksternal yang ditetapkan oleh Bapeten bagi masyarakat umum [11].

Penelitian berikutnya pada tahun 2016 di desa yang sama menggunakan indeks binukleus untuk menganalisis abnormalitas pada limfosit darah penduduk [12]. Hasilnya, nilai indeks binukleus penduduk Desa Botteng relatif sama dengan nilai pada daerah kontrol (23,58 ± 9,60 untuk Desa Botteng dan 23,47 ± 6,24 untuk kontrol). Namun, para peneliti mengakui bahwa sampel yang diambil terlalu sedikit, hanya 13 sampel untuk Desa Botteng maupun kontrol, sehingga perlu dievaluasi lagi.

Tahun berikutnya, dipublikasikan penelitian tentang penggunaan γ-H2AX sebagai biomarker untuk double strand break (DSB) pada DNA [13]. DSB merupakan indikator kerusakan DNA lain akibat paparan radiasi pengion. Pengujian pada sampel darah 45 sukarelawan yang tinggal di berbagai desa di Mamuju (37 subjek uji, 8 kontrol) menunjukkan bahwa foci γ-H2AX pada subjek sedikit lebih tinggi daripada kontrol, yang mengindikasikan frekuensi DSB DNA lebih tinggi. Namun, secara statistik, perbedaan itu tidak signifikan. Sehingga, bisa dikatakan relatif tidak ada perbedaan berarti antara subjek penelitian dan kontrol.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Penelitian lain dilakukan menggunakan parameter analisis indeks mitosis dan indeks pembelahan nuklir [14]. Indeks ini terkait dengan proliferasi limfosit pada darah. Penelitian ini dilakukan di Desa Takandeang dan melibatkan 60 sampel (35 uji, 25 kontrol). Hasilnya, indeks mitosis rata-rata penduduk Desa Takandeang, baik manual maupun otomatis, serta indeks pembelahan nuklir, menunjukkan perbedaan statistik yang tidak signifikan. Dengan demikian, paparan radiasi lebih tinggi tidak memberikan dampak yang cukup berarti pada penduduk Desa Takandeang.

Penelitian terbaru yang terbit pada tahun 2020 menggunakan parameter analisis yang sama tetapi mengambil sampel dari tempat berbeda, yakni Desa Salletto dan Ahu, Mamuju [15]. Sebanyak 43 sampel darah dari penduduk kedua desa tersebut dibandingkan dengan kelompok kontrol sebanyak 31 sampel. Hasilnya mirip dengan penelitian [14], bahwa walaupun terdapat perbedaan indeks, tetapi tidak cukup signifikan secara statistik. Paparan radiasi latar lebih tinggi tidak terbukti menyebabkan masalah pada genetika penduduk Mamuju.

Terkejut? Tidak usah. Manusia memang memiliki mekanisme perbaikan biologis. Selama threshold perbaikan biologis tersebut tidak terlampaui, tubuh manusia masih bisa memulihkan diri. Maka, tidak logis jika dikatakan “tidak ada dosis radiasi yang selamat,” sekalipun itu untuk kepentingan proteksi radiasi. Mengklaim bahwa “tidak ada dosis radiasi yang selamat” sama sekali tidak membantu meningkatkan perlindungan terhadap potensi bahaya radiasi dalam dosis tinggi. Justru, klaim itu menyebabkan persepsi dan ketakutan keliru di tengah masyarakat. Publik jadi menganggap bahwa radiasi itu pasti selalu berbahaya, which is untrue.

Mamuju, Ramsar, Kerala, Guarapari, dan berbagai daerah lain di planet bumi menjadi bukti sahih bahwa radiasi dosis rendah itu tidak membahayakan masyarakat. Yang membahayakan adalah mitos-mitos bahwa radiasi nuklir itu membahayakan dalam dosis apapun. Mitos itulah yang sangat menghambat pemanfaatan energi nuklir.

Referensi:

Baca juga:
  1. Herman Cember, Thomas E. Johnson. 2009. Introduction to Health Physics, Fourth Edition. New York: McGraw-Hill.
  2. Bobby R. Scott and Sujeenthar Tharmalingam, 2019. The LNT model for cancer induction is not supported by radiobiological data. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 34-53.
  3. David Costantini and Benny Borremans, 2019. The linear no-threshold model is less realistic than threshold or hormesis-based models: An evolutionary perspective. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 26-33.
  4. Edward J. Calabrese, 2019. The linear No-Threshold (LNT) dose response model: A comprehensive assessment of its historical and scientific foundations. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 6-25.
  5. Paolo F. Ricci, Sujeenthar Tharmalingam, 2019. Ionizing radiations epidemiology does not support the LNT model. Chemico-Biological Interactions, vol. 301, pp. 128-140.
  6. Syarbaini, Dadong Iskandar, Kusdiana. 2015. Perkiraan Dosis Radiasi Yang Diterima Publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jurnal Ekologi Kesehatan, vol. 14, no. 4, pp 318-333.
  7. H. Syaeful, I. G. Sukadana, A. Sumaryanto. 2014. Radiometric Mapping for Naturally Occurring Radioactive Materials (NORM) Assessment in Mamuju, West Sulawesi. Atom Indonesia, vol. 40, no. 1, pp. 33-39.
  8. Zubaidah Alatas, Yanti Lusiyanti, Sofianti P., Dwi Ramadhani, Masnelly Lubis., Viria AS. 2012. Respon Sitogenetik Penduduk Daerah Radiasi Alam Tinggi Di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia, vol. 13, no. 1, pp. 13-26.
  9. Nurokhim, Kusdiana, Eko Pudjadi. 2020. Assessment of natural radioactivity levels in soil sample from Botteng Utara Village, Mamuju Regency Indonesia. In Journal of Physics: Conference Series 1436, 012139.
  10. Zbigniew Jaworowski, 2010. Observations on the Chernobyl Disaster and LNT. Dose-Response, vol. 8, issue 2, pp. 148-171.
  11. Perka Bapeten No. 4 Tahun 2013 Tentang Proteksi dan Keselamatan Radiasi Dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir.
  12. Dwi Ramadhani, Sri Sardini, Masnelli Lubis, Mukh Syaifudin. 2016. Evaluation of Lymphocytes Proliferation in Botteng Village (A High Background Radiation Area) Inhabitants Using Binucleate Index. Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi, vol. 12, no. 2, pp. 107-112.
  13. Iin Kurnia Hasan Basri et al. 2017. Study of γ-H2AX as DNA double strand break biomarker in resident living in high natural radiation area of Mamuju, West Sulawesi. Journal of Environmental Radioactivity, vol. 171, pp. 212-216.
  14. Dwi Ramadhani, Siti Nurhayati, Tur Rahardjo, Eko Pudjadi, Mukh Syaifudin. 2017. Lymphocyte Proliferation Kinetics in Inhabitant of Takandeang Village, Mamuju: A High Background Radiation Areas in Indonesia. The Indonesian Biomedical Journal, vol. 10, no. 1, pp. 66-73.
  15. Sofiati Purnami, Masneli Lubis, Suryadi, Mukh Syaifudin. 2020. The assessment of mitotic and nuclear division indexes as biomarkers for estimating the risk on the health of residents exposed to the high natural radiation of Mamuju, West Sulawesi. In Journal of Physics: Conference Series 1436, 012032.
R. Andika Putra Dwijayanto
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar