Siringmakar 29: Seri 3 – Pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut selama pandemi COVID-19

Pemateri: drg. Rini M. Wulansari (dokter gigi di Faskes 1, alumni FKG Universitas Jember)
Moderator: Abdul Halim, PhD (Founder dan kontributor warstek.com)

Diskusi

Menghadapi pandemi COVID-19 yang sedang merebak seperti saat ini, tentunya kita perlu menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarga. Banyak langkah preventif yang bisa dilakukan untuk mencegah atau memutus penularan COVID-19, mulai dari pola hidup bersih dan sehat (PHBS), social distancing sampai meningkatkan daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan sehat serta multivitamin. Salah satu yang mungkin terlupakan saat ini adalah menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal ini penting karena rongga mulut merupakan pintu masuk makanan serta mikroorganisme ke dalam tubuh kita. Hasil riset kesehatan dasar Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa 57,6% orang memiliki masalah gigi dan mulut. Apakah anda salah satunya?, saya prediksi dari sebagian besar orang yang sedang membaca ini sekarang pasti memiliki gigi berlubang atau gangguan gigi mulut lainnya.

blank

freepik.com

Banyak yang belum mengetahui bahwa selama pandemi COVID-19 ini, masyarakat dihimbau untuk menunda perawatan gigi atau tidak datang ke praktek dokter gigi. Hal ini karena dokter gigi dianggap profesi yang paling beresiko terhadap COVID-19 selain petugas medis yang langsung menangani pasien COVID-19.  Kita tahu bahwa penyebaran COVID-19 adalah melalui droplet. Droplet merupakan percikan saliva atau cairan rongga mulut. Dokter gigi bekerja dalam jarak dekat dengan droplet rongga mulut pasien. Dikhawatirkan akan terjadi penularan baik antara pasien dengan dokter maupun antara pasien dengan pasien, karena tidak ada yang tahu siapa diantara kita yang menjadi silent carrier COVID-19. Adapun silent carrier COVID-19 adalah seseorang yang tidak mengetahui dirinya membawa virus tersebut. Bayangkan jika salah satu pasien yang datang di tempat praktek dokter gigi adalah carrier dan mengantri bersama pasien lainnya kemudian dilakukan tindakan oleh dokter gigi. Dalam hal ini, yang paling beresiko adalah dokter gigi karena berkontak langsung dengan droplet rongga mulut pasien.

Selama pandemi COVID-19 ini belum mereda, mereka yang boleh datang ke praktek dokter gigi adalah yang ada dalam kondisi emergency (darurat), seperti sakit atau nyeri gigi yang tidak tertahankan, gusi bengkak karena infeksi, terjadi perdarahan yang tidak berhenti, atau ada trauma gigi dan tulang rahang atau wajah akibat kecelakaan. Adapun untuk perawatan seperti kontrol rutin, perawatan estetik (seperti tambal gigi dan bleaching), Scalling (pembersihan karang gigi), perawatan saluran akar dan pencabutan gigi harus ditunda. Pasien dengan keluhan demam, flu, dan batuk, serta setelah perjalanan ke daerah pandemi atau kontak dengan suspect COVID-19 juga dihimbau untuk menunda ke dokter gigi.

blank

freepik.com

Apakah yang harus dilakukan pertama kali jika saat ini tiba-tiba timbul nyeri atau sakit gigi?. Pada umumnya sakit gigi  disebabkan karena karies atau gigi berlubang. Karies jika masih sebatas lapisan email atau dentin gigi mungkin belum menimbulkan keluhan atau mungkin hanya ngilu saja. Tetapi, jika karies sudah mencapai pulpa gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah dapat menimbulkan nyeri hebat dan jika dibiarkan akan menjadi abses dan menyebabkan pembengkakan. Oleh karena itu, jika ada nyeri atau sakit gigi pertolongan awal yang bisa dilakukan adalah sikat gigi dengan benar, berkumur dan minum obat anti nyeri. Penggunaan obat anti nyeri untuk anak-anak dan ibu hamil yang boleh atau paling aman adalah paracetamol saja, atau bisa dikonsultasikan dulu dengan dokter /dokter gigi. Jika terjadi kondisi pembengkakan bisa dibantu dengan kompres es. Hindari penggunaan sesuatu yang panas seperti minyak angin, balsam, koyo ataupun kompres air hangat karena akan menambah pembengkakan. Jika nyeri atau sakit gigi sudah benar-benar tidak tertahankan barulah kunjungi dokter gigi.

Adapun beberapa prinsip menjaga kesehatan gigi dan mulut selama pandemi COVID-19 ini yang bisa dilakukan antara lain :

  1. Menggosok gigi 2x sehari, sebelum tidur dan setelah makan pagi (sikat gigi tunggu minimal 30 menit setelah makan);
  2. Memakai pasta gigi dalam jumlah sedikit (sebesar biji jagung) dan sikat gigi dengan teknik yang benar;
  3. Membersihkan lidah setelah menyikat gigi;
  4. Menggunakan dental floss bukan tusuk gigi untuk membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi;
  5. Menggunakan obat kumur jika diperlukan (optional);
  6. Mengonsumsi makanan yang sehat dan kaya serat seperti sayur dan buah serta batasi konsumsi manis serta banyak minum air putih;
  7. Menghindari merokok dan minuman bersoda;
  8. Pemeriksaan berkala ke dokter gigi 6 (enam) bulan sekali.

Sesi Tanya-Jawab (Q&A)

  1. Vania: Q. Apakah apabila terinfeksi virus corona bisa berdampak pada gigi dan mulut?. A. Sejauh ini belum ada kasus yang melaporkan adanya efek pada rongga mulut, COVID-19 secara umum memang menimbulkan gangguan pada organ pernapasan, tapi kita tetap harus memperhatikan kebersihan rongga mulut kita karena bagaimanapun rongga mulut adalah salah satu jalan masuk mikroorganisme ke dalam tubuh.
  2. Remilda: Q. Gigi saya patah dan mengalami perdarahan, katanya harus segera ke dokter karena khawatir infeksi. Tapi, dokter gigi disini tutup. Juga saya takut kalau alat-alat di tenpat prakteknya tidak steril sehingga bisa menyebabkan penularan corona. Bagaimana solusinya ya, Dok?. A. Langkah pertama, kompres es pada area patah untuk menghentikan perdarahan, hindari sesuatu yang panas, jangan kumur-kumur karena akan memperparah perdarahan, sebaiknya jika ada perdarahan memang harus segera ke dokter gigi. Jika sulit mencari dokter gigi praktek saat ini bisa ke klinik/ rumah sakit saja ya, bisa lewat IGD jika poli giginya libur, dokter gigi tetap on call lewat IGD di saat seperti ini.
  3. Alawi: Q. “Menggosok gigi 2x sehari, sebelum tidur dan setelah makan pagi (sikat gigi tunggu minimal 30 menit setelah makan)”, Apa tujuan dan manfaat menunggu 30 menit sebelum akhirnya melakukan sikat gigi?, dan saya sering  ketika membersihkan lidah itu merasa mual dan muntah. Kira-kira apa penyebabnya bisa seperti itu?, dan apa solusi dari hal tersebut ya, Dok?. A. Kondisi rongga mulut setelah makan adalah dalam pH yang tidak normal, dalam pH tinggi permukaan struktur gigi, yaitu email & dentin dalam kondisi lunak sehingga jika langsung disikat dengan pasta gigi akan menimbulkan erosi pada email/ dentin gigi, jadi idealnya kita tunggu 30 menit setelah makan agar pH dalam rongga mulut netral. Jika merasa mual saat membersihkan bagian lidah, jangan terlalu ke dirsum/ pangkal lidah, tidak perlu pakai pasta gigi untuk bagian lidah, dan jika mual pakai sikat gigi bisa dicoba dengan sendok untuk mengerok pelan bagian permukaan lidah.

    Baca juga:
  4. Putri: Q. Virus COVID-19 sering diberitakan memilih tenggorokan sebagai pintu masuk menginfeksi. Nah, apakah mungkin virus COVID-19 ini memilih rongga mulut sebagai pintu masuknya (berusaha menempel di dinding sel pada rongga mulut)?. A. Rongga mulut adalah pintu masuk segala jenis mikroorganisme, termasuk virus COVID-19 ditularkan dalam bentuk droplet atau percikan, saat penderita bersin/ bicara. Jadi sangat mungkin jika droplet dari suspect COVID-19 masuk melalui rongga mulut kita.
  5. Ayu Nurhabibah: Q. Apakah virus COVID-19 dapat bersarang pada gigi berlubang?, dan jika ada, apakah akibatnya?. A. Jika seseorang positif COVID-19, tentu dalam cairan rongga mulut/ saliva akan ada virus tersebut, dan saliva membasahi semua organ dalam rongga mulut termasuk gigi, tapi untuk efek pada gigi sepertinya belum ada laporan seperti itu, sejauh ini yang menyebabkan gigi berlubang adalah bakteri,
  6. Maulid: Q. Seperti yang telah dipaparkan bahwa praktek dokter gigi dibatasi, yaitu hanya melayani pasien pada keadaan darurat dengan kriteria yang telah disebutkan, sebagai masyarakat awam yang kurang mengerti seperti apa itu keadaan darurat yang diperbolehkan ke praktek dokter gigi, dan apakah ada layanan konsultasi terkait permasalahan gigi ini, Dok?, karena siapa tahu yang kita anggap darurat ternyata setelah dikonsultasikan hanya perlu obat saja atau perlakuan individu saja?. A. Kondisi darurat apabila ada nyeri tidak tertahankan meskipun sudah minum obat anti nyeri. Khusus bengkak, perdarahan & patah rahang harus segera ke dokter gigi. Biasanya dokter gigi memberi nomor telepon untuk konsultasi, saya pun begitu, sehingga jika ada kondisi darurat bisa kirim foto & konsul via WA atau kalau rs/ klinik biasanya bisa lewat nomor telepon IGD.
  7. Nala: Q. Seperti yang kita ketahui bahwa gigi dan mulut merupakan jalan masuk makanan dan minuman, apakah penularan COVID-19 bisa ditularkan melalui makanan/ minuman?. A. Tentu bisa, seperti yang kita ketahui COVID-19 ada dalam droplet air liur/ saliva, jika kita makan di tempat umum bersama dengan orang yang positif COVID-19, dan droplet dari orang positif tersebut terpercik ke makanan kita, maka tentu saja bisa masuk lewat apa yang kita makan, itulah kenapa saat pendemi ini kita dihimbau untuk makan di rumah sebisa mungkin, atau kalau makan diluar tidak dimakan di tempat berbaur dengan orang lain.
  8. Ai: Q. Beberapa kabar di berita yang muncul menyebutkan bahwa virus corona berdiam di tenggorokan selama beberapa waktu, solusinya adalah minum air hangat atau menggunakan obat kumur. Apakah pernyataan tersebut valid, Dok?. A. Minum air yang banyak menjaga rongga mulut dari kondisi kering, dengan minum air yang cukup akan mendorong virus/ mikroorganisme ke dalam saluran pencernaan, sehingga tidak masuk ke organ pernapasan, tapi bukan berarti dengan minum saja bisa menghilangkan virus, karena virulensi virus tergantung juga pada imunitas seseorang. Oleh karena itu, kita tetap harus jaga pola makan, olahraga meskipun sebentar, minum yang banyak. Mengenai obat kumur, jelas tidak bisa, karena obat kumur adalah antimikroba dan penggunaannya hanya sebatas rongga mulut saja.
  9. Ica: Q. Saya menggunakan behel gigi perawatan yang harus kontrol berkala ke dokter, jika tidak boleh pergi ke dokter gigi kecuali dalam kondisi darurat, apa yang harus saya lakukan, sedangkan dokter gigi saya mengatakan tidak masalah asal tidak demam. Atas bacaan yang dokter share sebelumnya dikhawatirkan penularan dari droplet. Bagaimana alur penularannya?, baik antara pasien-dokter atau pasien-pasien?, sedangkan dokter selalu sterilisasi tiap pasien berganti dan tentu menggunakan sarung tangan sekali pakai pada tiap pasien?. A. Tidak apa-apa untuk menunda kontrol behel, Persatuan Dokter Gigi Spesialis Ortodonti juga menganjurkan untuk menunda perawatan, konsultasi dahulu dengan dokter yang merawat juga lebih baik. Droplet adalah percikan dari rongga mulut pasien, meskipun satu pasien menggunakan satu alat dan satu sarung tangan, kita tidak tahu apakah kita terkena percikan dari rongga mulut pasien atau tidak, bisa saja saat dilakukan pengeburan gigi, percikan air dari pasien masuk ke hidung atau wajah dokter, kemudian dokter tersebut masih akan melakukan perawatan ke pasien lain. Antar pasien di ruang tunggu juga sangat mungkin, jika anda mengantre bersama carrier COVID-19 dan bicara dalam jarak dekat bisa jadi percikan droplet masuk ke tubuh anda. Inilah kenapa sebisa mungkin kita tidak berkunjung ke praktek dokter saat ini, untuk menghindari terjadinya infeksi silang.
  10. Nadif: Q1. Apakah menggosok gigi lebih dari 2× sehari tidak dibolehkan dan apa dampaknya, Dok?. A1. Boleh, minimal 2x, lebih tidak apa-apa, bahkan ada hadist juga yang menyebutkan andai saja tidak memberatkan pasti dianjurkan bersiwak tiap akan sholat. Yang tidak boleh adalah kalau cara sikat gigi kita yang tekniknya salah, itu yang akan merusak gigi, dan juga sikat gigi yang digunakan harus yang bulunya lembut, serta kepala sikat kecil agar bisa menjangkau seluruh bagian gigi. Jangan lupa ganti sikat giginya kalau bulunya sudah mekar ya, hehe. |
    Q2. Apakah yang  maksud dari pemakaian pasta gigi dengan jumlah sedikit, Dok?,  apakah tidak boleh kalau pemakaian pasta gigi yang banyak?. A2. Ya,ini yg banyak salah di masyarakat kita,pasti sebagian dari Anda ketika menyikat gigi akan pakai pasta gigi sampi penuh diatas bulu sikat, padahal itu akan membuat proses menyikat gigi tidak maksimal, karena bulu sikat akan sedikit menyentuh permukaan gigi & sisa makanan.

Penutup

Mari bersama tetap jaga kesehatan, terapkan pola hidup bersih dan sehat, social distancing dan stay at home sebisa mungkin. Jangan lupa berdoa, karena doa adalah alat perlindungan kita yang paling utama. Semoga kita tetap dikaruniakan kesabaran di tengah ujian pandemi ini, serta bisa terus meningkatkan iman, taqwa dan rasa syukur dalam setiap keadaan. Ketika doa sudah dilangitkan, ikhtiar sudah maksimal dan ikhlas dalam menerima keadaan ini, maka Allah SWT.pasti akan mengurus segala sesuatunya dengan baik.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar