Tinjauan Medis Dibalik Anjuran Berbuka dengan Kurma

Memiliki warna coklat kehitaman, terkadang tampak keriput dan akan sering ditemukan di bulan ramadhan merupakan ciri umum yang dimiliki buah kurma. Buah yang satu ini sering menjadi panganan wajib umat islam di negara-negara timur tengah juga beberapa kelompok masyarakat di Indonesia. Konsumsi kurma di kalangan umat Islam ketika momen ramadhan cukup tinggi. Salah satu alasan utamanya adalah adanya kebiasaan (sunnah) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mengutamakannya ketika berbuka puasa.

blank

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berbuka dengan kurma basa (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan kurma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air ” . (HR. Ahmad, Abu Daud, sanadnya shahih). Demikian terjemahan hadis yang menggambarkan kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika berbuka puasa.

Pada hadis yang lain (HR. Ibnu Majah No. 3327) dikatakan ” rumah yang tidak ada kurma di dalamnya, maka akan membuat penghuninya lapar” . Imam At Thibi memberikan dua penjelasan/makna terkait hadis ini [1].

Pertama, adanya keutamaan buah kurma dan bolehnya menyimpan serta menganjurkannya untuk keluarga. Kedua, adanya anjuran untuk bersifat qonaah (merasa cukup) bagi orang yang hidup di negara yang terdapat banyak kurma di dalamnya. Maksudnya barang siapa menerima dengan hal tersebut maka dia tidak akan lapar [1].

blank
Gambar 1. Kurma Ajwa yang merupakan salah satu dari sekian banyak jenis kurma

Mengkonsumsi buah kurma saat berbuka puasa merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Selain itu penelitian-penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa buah ini memiliki sederet manfaat bagi tubuh. Antioksidan, antimutagenik, anti‐inflamatori, anti-kanker dan meningkatkan sistem imun adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari buah kurma. Sederet manfaat tersebut tentunya bersesuaian dengan beragamnya zat yang dikandungnya, seperti karbohidrat, enzim, protein, lemak, mineral, vitamin, asam fenolik dan karotenoid [2].

Beberapa jenis kurma seperti Fara’d, Lulu, Bo ma’an, Dabbas dan Khalas memiliki kandungan fruktosa (C6H12O6) sekitar 28% hingga 33%. Kandungan gula alami ini akan mempercepat pengembalian energi dalam tubuh ketika kamu mengkonsumsinya saat berbuka puasa. Sebuah laporan ilmiah menyebutkan jenis-jenis kurma tersebut menunjukkan tingkat kenaikan gula darah (indeks glikemik) rendah setelah mengkonsumsinya [3,4].

blank
Gambar 2. Perbandingan kadar gula darah setelah mengkonsumsi gula murni dan 5 jenis kurma yang dilakukan pada orang sehat [3]

Pada laporan penelitian yang lain mengungkapkan adanya efek yang menjanjikan dari ekstrak kurma ajwa terhadap kanker Karsinoma Hepatoseluler (HCC). Jenis kanker ini muncul pada sel hati (hepatosit) dan lebih banyak ditemukan pada pria. Menurut sebuah literatur karsinoma hepatoseluler merupakan penyebab paling umum ke-3 terkait kematian akibat kanker [5,6].

Diethylnitrosamine (DEN) merupakan suatu senyawa kimia yang digunakan untuk penanganan kanker hati tersebut. Hanya saja penggunaannya dapat mengganggu mekanisme perbaikan asam nukleat (materi genetik). Selain itu juga dapat menghasilkan spesies oksigen reaktif (radikal bebas) yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan organ tubuh tertentu (stres oksidatif) [5].

Sekelompok ilmuwan gabungan dari King Abdul Aziz University dan American University of Beirut mencoba mengembangkan ekstrak kurma ajwa untuk penanganan kanker Karsinoma Hepatoseluler. Para peneliti mencoba menggabungkan ekstrak bahan alam tersebut dengan Diethylnitrosamine (DEN). Pengamatan efek ekstrak kurma ajwa terhadap kanker tersebut dilakukan pada hewan uji berupa tikus [5].

blank
Gambar 3. Gambaran umum uji coba ekstrak kurma ajwa dan Diethylnitrosamine terhadap kanker kanker Karsinoma Hepatoseluler [5]

Hasil penelitian laboratorium menunjukkan kombinasi dari kedua bahan tersebut telah membantu memperbaiki kembali kerusakan yang diakibatkan oleh den pada organ hati. Memulihkan enzim anti-oksidan dan hati, keseimbangan sitokin dan ekspresi gen pada kondisi normal serta meningkatkan fungsi hati dan menghambat sel kanker karsinoma hepatoseluler.

Baca juga:

Senyawa flavonoid seperti luteolin, apigenin, quercetin dan proantosianidin pada kurma tersebut dapat bersinergi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agen kemoterapi konvensional untuk terapi kanker Karsinoma Hepatoseluler [5] . Ungkap para peneliti.

Sahabat warstek, demikian nih ulasan singkat terkait anjuran mengkonsumsi kurma dan segala manfaatnya ditinjau dari segi medis. Semoga bermanfaat 😀😀😀

Referensi

  1. Ilham Maulana, 2019, Analisis Hadis Tentang Tamr Sebagai Makanan Anti Lapar (Skripsi), Program Studi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.
  2. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/jsfa.6154#accessDenialLayout , diakses pada 30 April 22.20 WITA.
  3. Juma M Alkaabi, Bayan Al-Dabbagh, Shakeel Ahmad, Hussein F Saadi, Salah Gariballa dan Mustafa Al Ghazali, 2011, Glycemic Indices of Five Varieties of Dates in Healthy and Diabetic Subjects, Nutrition Journal, 1-9.
  4. https://www.halodoc.com/buka-puasa-dengan-kurma-ini-manfaatnya-untuk-kesehatan, diakses pada 1 Mei 2020, pukul 22.00
  5. Fazal Khan, Tariq Jamal Khan, Gauthaman Kalamegam, Peter Natesan Pushparaj, Adeel Chaudhary, Adel Abuzenadah, Taha Kumosani, Elie Barbour dan Mohammed Al-Qahtani, 2017, Anti-Cancer Effects of Ajwa Dates (Phoenix dactylifera L.) in Diethylnitrosamine Induced Hepatocellular Carcinoma in Wistar Rats, BMC Complementary and Alternative Medicine, 17, 418, 1-10.
  6. https://www.aamg.co/liver/id/health-information-resources/hati/kanker-hati-primer/, diakses pada 2 Mei 2020, pukul 20.15 WITA.

Jumardin Rua
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

2 tanggapan pada “Tinjauan Medis Dibalik Anjuran Berbuka dengan Kurma”

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar