Mengenal Senyawa Kimia Made in Indonesia yang Bernama Hardjono-ionon (H-ionon)

Jumardin Rua

Senyawa bahan alam dan pemanfaatannya

Senyawa kimia dapat dipahami sebagai suatu zat yang dibentuk oleh paling sedikit dua atom atau unsur yang berbeda. Ditinjau dari keberadaannya, senyawa kimia dapat dibedakan atas senyawa kimia bahan alam dan sintetis (buatan manusia). Para ahli sepakat mendefinisikan senyawa bahan alam sebagai senyawa tunggal atau campuran, maupun ekstrak yang diperoleh dari sumber alami, seperti tumbuhan, hewan, bakteri, jamur, maupun organisme laut [1]. Senyawa kimia bahan alam telah lama dimanfaatkan manusia untuk keperluan tertentu seperti pengobatan penyakit.

Eksplorasi senyawa bahan alam terus berlanjut hingga saat ini seiring dengan perkembangan IPTEK. Tujuannya pun beragam. Mulai dari hanya sekedar pengembangan sains maupun untuk mendapat manfaat ekonomis dari pengembangannya menjadi produk-produk yang diperdagangkan. Obat-obatan herbal, minyak goreng, sabun, kosmetik adalah beberapa contohnya.

Satu hal yang pasti, bahwa secara umum untuk menghasilkan produk-produk tersebut baik senyawa bahan alam maupun sintetis tidak dapat berdiri sendiri. Diantara keduanya harus terjadi kombinasi. Hingga pada akhirnya reaksi antara senyawa bahan alam dan sintetis di laboratorium menghasilkan senyawa baru yang belum pernah ada sebelumnya. Inilah yang dilakukan peneliti Indonesia, beliau menamai senyawa temuannya dengan Hardjono-ionon (H-ionon) [2,3].

Tulisan ini didedikasikan untuk guru penulis yang telah bersusah payah mencurahkan tenaga dan pikiran. Membantu memajukan pengembangan sains Indonesia dengan buku-buku yang ditulisnya. Prof. Hardjono Sastroamidjojo (alm.), guru besar bidang Kimia Organik Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia.

Komponen minyah sereh

H-ionon merupakan produk turunan ke-3 dari senyawa kimia yang terkandung dalam minyak sereh. Analisis menggunakan instrumen GC-MS telah menunjukkan komponen senyawa kimia pada tanaman tersebut. Besaran persentase komponen tergantung pada beberapa faktor, salah satunya letak geografis dimana tanaman tersebut tumbuh. Satu hal yang pasti adalah sitronelal merupakan komponen terbanyak pada minyak sereh [2,3].

Baca juga:
blank
Gambar 2. Hasil analisis komponen minyak sereh berupa kromatogram

Komponen lain dalam minyak sereh yang cukup dominan adalah sitronelol dan geraniol. Kedua senyawa tersebut dapat diisolasi menggunakan metode distilasi fraksinasi dengan pengurangan tekanan. Campuran keduanya dinamakan rhodinol, yang memiliki bau yang harum (rose like) [2,3].

Sintesis dan identifikasi senyawa kimia H-ionon

Bila rhodinol direfluks dengan aseton menggunakan katalis aluminium isopropoksida maka hanya geraniol yang akan teroksidasi menjadi sitral. Reaksi kondensasi sitral dengan aseton menghasilkan suatu senyawa kimia pseudo-ionon (Ψ-ionon) [2].

Senyawa Ψ-ionon yang direaksikan dengan H3PO4 85% (1:4) pada temperatur 40 °C selama 2 jam akan terbentuk alfa-ionon dan beta-ionon (α- dan β-ionon). Reaksi siklisasi ini telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya [2]. Sifat kedua senyawa kimia -ionon tersebut telah tersedia pada laman https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/ .

Pada kesempatan yang lain Prof. Hardjono mereaksikan senyawa Ψ-ionon  dengan H2SO4 60% (1:4) pada temperatur 40 °C selama 10 menit. Proses inilah yang menghasilkan senyawa tak diketahui dengan titik didih pada kisaran 115-125 °C/13 mmHg. Identifikasi menggunakan metode spektroskopi telah memberikan kita gambaran struktur senyawa baru tersebut (Gambar 3) [2].

blank
Gambar 3. Reaksi Ψ-ionon dengan H3PO4 atau H2SO4 menghasilkan (1) α-ionon, (2) β-ionon dan (3) H-ionon [3]

Spektroskopi Inframerah (IR) salah satu instrumen yang digunakan pada proses identifikasi ini telah memberikan informasi adanya puncak lebar pada daerah 3500 cm−1. Selain itu adapula serapan pada 1750 cm−1 yang merupakan rentangan gugus C=O alifatik jenuh. Peneliti menambahkan senyawa baru ini dapat mengandung enol [2]. Selain dengan IR identifikasi senyawa baru tersebut juga menggunakan instrumen Kromatografi Gas (GC) dimana luarannya berupa kromatogram (Gambar 4).

blank
Gambar 4. Hasil analisis berupa kromatogram α-ionon, β-ionon dan H-ionon (senyawa tak diketahui) [2]

Terhadap senyawa baru yang disintesis tersebut peneliti menamainya dengan Hardjono-ionon (H-ionon). H-ionon dan dua senyawa -ionon lainnya berbentuk cairan berwarna kekuningan dan berbau harum. Senyawa-senyawa ionon tersebut merupakan komponen penting dalam parfum yang mempunyai nilai ekonomis [2,3].

Keberhasilan peneliti Indonesia menciptakan senyawa baru merupakan suatu hal yang patut diapresiasi. Tidak cukup dengan itu, pengembangan berkelanjutan perlu dilakukan. Agar semua pihak dapat merasakan manfaatnya.

Referensi

  1. http://majalah1000guru.net/2019/03/kimia-bahan-alam/, diakses pada 11 Mei 2020 pukul 11.08 WITA.
  2. Sastroamidjojo, H., 1994, Kimia Minyak Sereh, Berkala Ilmiah FMIPA-UGM, 1, 23-50.
  3. Sulaswatty, A., Rusli, M., S., Abimanyu, H., Tursiloadi, S., 2019, Quo Vadis Minyak Serai Wangi dan Produk Turunannya, LIPI Press: Jakarta.
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar