Kokon Ulat Sutera: Alternatif Pembungkus Makanan untuk Mencegah Pertumbuhan Mikroba

Gambar 1. Berbagai jenis pembungkus makanan

Dewasa ini, membawa makanan menggunakan wadah, terutama makanan kategori basah sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Makanan basah biasanya hanya akan bertahan satu hari jika dikemas, setelah itu akan tumbuh bakteri maupun jamur yang ditandai dengan makanan berlendir. Saat ini, makanan telah dikemas menggunakan packaging yang telah menjadi trend di masyarakat, bahkan hampir di setiap daerah. Untuk masyarakat kalangan modern, biasanya mereka menggunakan bahan pembungkus yang praktis dan mudah didapat. Beberapa contoh pembungkus makanan yang sering digunakan adalah aluminium foil, plastik, dan kertas.

Diantara beberapa pembungkus tersebut, salah satu yang paling sering digunakan oleh masyarakat adalah plastik. Mayoritas masyarakat menggunakan plastik karena harganya murah, mudah didapat, praktis, kedap air dan udara, sehingga kekenyalan dari makanan tersebut dapat terjaga. Meskipun demikian, plastik yang kita gunakan memiliki sifat non biodegradable yaitu suatu bahan yang sulit terurai di alam. Plastik juga dikhawatirkan akan menimbulkan racun pada makanan atau bahan makanan karena adanya bahan-bahan tambahan seperti plasticizer, antioksidan, stabilisator panas dan cahaya. Oleh karena itu, perlu adanya kemasan pengganti yang aman bagi kesehatan dan tetep menjaga kualitas makanan tersebut. Salah satu bahan yang berpotensi sebagai pembungkus makanan adalah kokon ulat sutera. Apa itu kokon ulat sutera? Yuk simak penjelasannya dibawah ini.

Kokon Ulat Sutera

Kokon adalah materi yang terbuat dari filament-filamen sutera yang didalamnya berisi pupa. Kokon diperoleh dari hasil akhir pemeliharaan ulat sutera yang nantinya akan diproses dan dipintal menjadi benang yang kita gunakan untuk bahan pembuatan pakaian [1].

Komposisi dan Sifat Serat Kokon Ulat Sutera

Gambar 2. kokon ulat sutera

Serat kokon ulat sutera mengandung protein yang didalamnya terdapat fibroin dan serisin. Kandungan fibroin sebesar 70-80%, sedangkan serisin sebesar 20-30%. Fibroin pada serat kokon, rersusun atas asam amino glisin, alanin, serin dan tirosin. Sedangkan serisin tersusun atas serin dalam jumlah banyak, asam aspartat dan asam glutamat. Komponen selain protein yaitu karbohidrat sebesar 1,2-1,55%, materi lilin sebesar 0,4-0,8%, pigmen hampir 0,2% dan bahan organik  hampir 0,7% [2].

Tidak hanya itu, kokon ulat sutera diketahui memiliki aktifitas antimikroba. Kokon ulat sutera dapat penghambatan pertumbuhan mikrobia karena serat sutera merupakan protein serabut yang memiliki sifat semi hidrofiliknya dengan struktur konformasi amphibolik haliks. Konformasi tersebut jika kontak langsung dengan membran sel bakteri akan menyebabkan fungsi sistem membran sel mikrobia akan terganggu karena sifat amphiboliks yang akan mengganggu proses osmosis maupun difusi pada membran sel tersebut, yang pada akhirnya akan mengganggu metabolisme bakteri. Pertumbuhan mikroba yang ada pada makanan akan terhambat karena sifat serat yang dapat jenuh, sehingga kemampuan amphipatik menjadi menurun yang berarti penghambatan terhadap mikrobia menjadi berkurang [3]. Dengan dibungkus lembaran kokon, tekstur makanan tidak berubah. Sehingga makanan lebih tahan lama dari biasanya karena pertumbuhan bakteri terhambat.

Dari paparan diatas, dapat memberikan terobosan baru dalam pembungkus makanan dengan melihat potensi kokon ulat sutera. Kokon ulat sutera yang awalnya dibuat bahan baku pembuatan pakaian, dapat menjadi alternatif bahan pembungkus makanan yang dapat mencegah pertumbuhan mikroba.

Referensi:

Baca juga:
  1. Atmosoedarjo, H. S., J. Katsubrata., M. Kaomini., W. Saleh, dan W. Moerdoko. 2000. Sutera Alam Indonesia. Jakarta: Sarana Wana Jaya.
  2. Rui, H. G. 1997. Silk reeling (Cocoon Silk Study). Science publisher Inc, USA.
  3. Faatih, M. 2005. Aktivitas Anti-Mikrobia Kokon Attacus atlas, L. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. 6 (1). 35-48.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar