Self Improvement dalam Berpikir dan Belajar Layaknya Ahli

Ketika kita melakukan self improvement dalam berpikir dan belajar layaknya ahli, kita mungkin pernah melakukan setidaknya salah satu poin dari beberapa poin di bawah ini secara sadar atau tidak sadar.

  1. Belajar suatu keterampilan/pelajaran tertentu sampai mahir atau menguasainya secara profesional?
  2. Merasa sangat percaya diri atas apa yang telah kamu ketahui/pahami/kuasai karena kamu telah melakukan pembelajaran suatu keterampilan/pelajaran sehingga kamu merasa bahwa kamu adalah orang yang ahli pada keterampilan/bidang ilmu tertentu?
  3. Melakukan suatu pekerjaan secara otomatis/tanpa perlu melakukan pemikiran secara kompleks?
  4. Mengerjakan soal tes potensi akademik/bakat skolastik berkaitan dengan Diagram Venn?

Untuk menelusuri pembahasan terkait masing-masing poin di atas secara singkat, kamu mungkin bisa membaca beberapa informasi ilmiah berikut ini.

  • blank
  • blank
  • blank
  • blank

1. DELIBRATE PRACTICE

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh K. Anders Ericsson dari Florida State University pada tahun 1993, kita mengetahui bahwa untuk memperoleh suatu keterampilan atau kemampuan dengan taraf profesional atau ahli pada bidang tertentu, kita membutuhkan waktu selama 10.000 jam. Judul dari artikel ilmiahnya adalah The Role of Delibrate Practice in Acquisition of Expert Performance [1].

Self Improvement dalam Berpikir dan Belajar Layaknya Ahli
Gambar 1. Penghargaan Nobel Prize sebagai salah satu capaian dari hasil Delibrate Practice. Sumber: universidadedointercambio.com

2. DUNNING – KRUGER EFFECT

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Justin Kruger dan David Dunning dari Cornell University pada tahun 1999, kita mengetahui bahwa seseorang yang tidak memiliki kompetensi tetapi memiliki tingkat kepercayadirian terhadap penguasaan suatu bidang yang melampaui seseorang yang memiliki kompetensi bahkan melampaui tingkat kepercayadirian seseorang yang ahli dikategorikan sebagai seseorang yang mengalami bias kognitif. Judul dari artikel ilmiahnya adalah Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One’s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments. Selanjutnya, hasil penelitiannya memperoleh Nobel Prize pada bidang psikologi tahun 2002 [2].

Self Improvement dalam Berpikir dan Belajar Layaknya Ahli
Gambar 2. Kurva dari Dunning-Kruger Effect. Sumber: blog.akhdani.co.id

3. KAHNEMAN – TVERSKY SYSTEMS

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Daniel Kahneman dari Princenton University dan Amos Tversky dari Hebrew University/Stanford University pada tahun 1979, kita mengetahui bahwa manusia memiliki dua sistem berpikir. Selanjutnya, dua sistem itu dinamakan dengan sistem i dan ii. Sistem i dikategorikan sebagai sistem bepikir yang beroperasi secara otomatis, cepat, sedikit atau tanpa usaha, dan tanpa pengendalian secara sadar sedangkan sistem ii dikategorikan sebagai sistem berpikir yang mengalokasikan perhatian penuh pada aktivitas mental, termasuk komputasi kompleks. Judul dari artikel ilmiah atas penelitian tersebut adalah Prospect Theory: An Analysis of Decision Under Risk dan teori tersebut kemudian termasuk dalam salah satu behavioral economics. Selanjutnya, hasil penelitian tersebut dianugerahi Nobel Prize bidang ekonomi pada tahun 2002 [3].

Baca juga:
Self Improvement dalam Berpikir dan Belajar Layaknya Ahli
Gambar 3. Buku tentang Sistem I dan II Manusia. Sumber: shopee.co.id

4. CATEGORICAL SYLLOGISM

Berdasarkan hasil pemikiran yang dilakukan oleh Aristoteles (384 – 322 SM), kita mengetahui apa yang dinamakan dengan categorical syllogism yang mendasari cara berpikir deduktif dalam berargumen. Selanjutnya, kita mengetahui bahwa suatu argumen yang valid tidak selalu disusun atas dua premis benar dengan konklusi yang benar atau dengan kalimat lain, suatu argumen yang valid dapat disusun dari kombinasi antara dua premis yang benar dengan konklusi yang benar atau dua premis yang salah dengan konklusi yang benar atau salah. Namun, kita perlu ingat bahwa argumen yang valid tidak mungkin dibangun dari kombinasi antara dua premis yang benar dengan konklusi yang salah. Salah satu buku yang membahas perihal ini adalah buku berjudul Introduction to Logic Edition XIV oleh Irving M. Copi, Carl Cohen, dan Kenneth McMahon yang terbit pada tahun 2014 [4].

Self Improvement dalam Berpikir dan Belajar Layaknya Ahli
Gambar 4. Buku yang mendasari Categorical Syllogism. Sumber: amazon.com

Apa Simpulan dari Self Improvement dalam Berpikir dan Belajar Layaknya Ahli?

Beberapa simpulan yang dapat diambil berdasarkan uraian informasi di atas adalah sebagai berikut.

  1. Kamu perlu mengatur target durasi belajar harian dengan akumulasi dalam beberapa tahun sehingga kamu dapat memenuhi setidaknya setengah dari total waktu yang dimaksud oleh penelitian di atas. Artinya, kamu harus belajar secara berkelanjutan. Tiada hari tanpa belajar. Tentu, hal itu dilakukan dengan regulasi manajemen waktu sedemikian rupa hingga kamu tetap bisa melakukan aktivitas selain belajar;
  2. Kamu tidak boleh merasa sudah menguasi semua hal dalam bidang yang kamu geluti. Tujuannya adalah untuk menjaga konsistensimu dalam mempelajari bidang yang kamu geluti secara berkelanjutan;
  3. Kamu perlu belajar secara efektif terlebih dahulu. Setelah itu, kamu bisa memikirkan cara agar hasil belajarmu dapat digunakan secara efisien/praktis. Artinya, kamu harus melalui prosesnya (seperti belajar secara konseptual) sehingga kamu memperoleh progress berupa efek dalam bentuk ilmu pengetahuan/keterampilan/sikap tertentu dan juga ketepatgunaannya;
  4. Kamu harus paham bahwa argumen yang valid belum tentu benar dalam categorical syllogism, di mana hal itu sudah diketahui oleh para ahli logika (logician). Artinya, kamu perlu menguji kebenaran suatu argumen yang valid, dalam hal ini berarti kamu perlu melakukan pengujian kebenarannya (contohnya, uji hipotesis dalam sebuah penelitian) sehingga kamu akan memiliki semangat melakukan penyelidikan (inquiry) dan keingintahuan (curiosity) tinggi (praktiknya mungkin bisa diwujudkan dalam bentuk kegiatan-membaca literatur ilmiah, seperti jurnal penelitian dengan topik tertentu) yang mampu mengantarkanmu pada proses belajar berkelanjutan.

DAFTAR REFERENSI

[1] Ericsson, K.A., Krampe, R. T., Tesch-Rรถmer, C. (1993). The Role of Delibrate Practice in Acquisition of Expert Performance. Psychological Review. 100 (3), 363-406.

[2] Kruger, J., Dunning, D. (1999). Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One’s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments. Journal of Personality and Social Psychology. 77 (6), 1121-1134.

[3] Kahneman, D., Tversky, A. (1979). Prospect Theory: An Analysis of Decision Under Risk. Econometrica. 47 (2), 263-291.

[4] Copi, I.M., Carl, C., McMahon, K. (2014). Introduction to Logic Fourteenth Edition. London: Pearson Education, Inc.

Raditya Setiawan
Latest posts by Raditya Setiawan (see all)
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

19 tanggapan pada “Self Improvement dalam Berpikir dan Belajar Layaknya Ahli”

  1. Self improvement itu penting… Krn setiap manusia memiliki titik potensi tersembunyi yg bisa di optimalkan tapi terkadang mrk blm tahu bgm memaksimalkan jya….
    Tuliskan ini bagus diantaranya utk membantu mengarah kesana… ,
    Trs berkarya ya Kang Radit…

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar