“Submarine landslides in the Makassar Strait” Potensi Tsunami Non-Tektonik di Dekat Calon Ibu Kota Baru Indonesia

Potensi Tsunami di Selat Makassar dekat Ibukota Baru

Tsunami Non-Tektonik.

Wilayah perairan Indonesia ternyata menyimpan potensi tsunami non-tektonik yang cukup besar. Riset yang terbit 1 April 2020 dan merupakan gabungan peneliti dari Britania Raya dan Indonesia telah menemukan potensi tsunami terbaru. Mereka mencatat salah satu bukti keberadaan sejumlah longsoran bawah laut kuno di Selat Makassar. Tim peneliti tersebut dipimpin oleh Rachel E. Brackenridge dari University of Aberdeen Skotlandia. Mereka menyebutkan jika aktivitas longsoran itu terjadi pada masa kini, dapat memicu terjadinya tsunami di Teluk Balikpapan. Teluk Balikpapan sendiri punya jarak yang relatif dekat dengan wilayah calon ibu kota baru Indonesia di Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, dengan jarak kurang dari 100 km.

Gambar (a.) Letak Selat Makassar (kotak merah) dalam kondisi regional tektonik dan oceanografi Indonesia. Gambar (b.) Kondisi arus Makassar Throughflow di Selat Makassar. Gambar (c.) Kondisi kedalaman laut, lokasi patahan struktur geologi, dan titik rawan gempa dan tsunami di Selat Makassar.
Gambar (a.) Letak Selat Makassar (kotak merah) dalam kondisi regional tektonik dan oceanografi Indonesia. 
Gambar (b.) Kondisi arus Makassar Throughflow di Selat Makassar. Gambar (c.) Kondisi kedalaman laut, lokasi patahan struktur geologi, dan titik rawan gempa serta tsunami di Selat Makassar.
(Sumber : Rachel E. Brackenridge, dkk, 2020)

Potensi Longsoran Mass Transport Deposits (MTD) di Selat Makassar.

Tim peneliti yang yang dipimpin Rachel E. Brackenridge tersebut memprediksi, potensi destruktif dari tsunami yang ditimbulkan dapat setara dengan peristiwa Grand Banks 1929. Saat itu gelombang setinggi 13 meter menghantam Pantai Newfoundland Pesisir Timur Kanada setelah terjadinya longsor di sekitar 340 km dari lepas pantai. Karakteristik longsornya lereng Grand Banks pada waktu itu, mirip seperti yang dipetakan di Selat Makassar. Kajian ilmiah yang juga disusun bersama peneliti Institut Teknologi Bandung Benyamin Sapiie, menyebutkan, riset ini dilakukan menggunakan data seismik di cekungan (basin) Makassar Utara. Metode tersebut digunakan untuk menyelidiki sedimen dan struktur geologi dari dasar laut Makassar. Data tersebut mengungkap ada 19 zona berbeda di sepanjang Selat Makassar yang menjadi tempat lumpur, pasir, dan endapan untuk longsor ke lereng yang lebih dalam.

Lokasi pengambilan data seismik di cekungan (basin) Makassar Utara Selat Makassar (gambar kiri) dan Kondisi material bawah permukaan laut yang berpotensi longsor (gambar kanan) (Sumber : Rachel E. Brackenridge, dkk, 2020)
Lokasi pengambilan data seismik di cekungan (basin) Makassar Utara Selat Makassar (gambar kiri) dan Kondisi material bawah permukaan laut yang berpotensi longsor di Selat Makassar (gambar kanan)
(Sumber : Rachel E. Brackenridge, dkk, 2020)

Semua potensi longsoran tersebut disebutnya berada di sisi barat saluran dalam laut yang melintasi Selat Makassar. Sementara sebagian besar potensi longsoran terjadi di sebelah selatan delta Sungai Mahakam. Beberapa potensi longsoran ini melibatkan volume Mass Transport Deposits (MTD) yang cukup besar, yakni dari rentang volume 10 km3 – 650 km3. Jumlah meterial tersebut sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan gelombang besar di permukaan laut untuk menjadi potensi bencana tsunami. Keberadaan Mass Transport Deposits (MTD) ini cukup mudah dikenali dalam data seismik. Keberadaan MTD tersebut berbentuk lensa dan endapan sedimen yang di dalamnya kacau-balau, bukan lapisan datar dan teratur. Tim peneliti memprediksi, tumpukan sedimen tersebut ada karena erosi. Mereka juga menduga bahwa sedimentasi tersebut mungkin dipicu oleh guncangan gempa bumi setempat pada masa lalu.

Potensi Tsunami Non-Tektonik yang Berisiko Mencapai Balikpapan dan Samarinda.

Dalam risetnya yang berjudul Indonesian Throughflow as a preconditioning mechanism for submarine landslides in the Makassar Strait, para peneliti menjelaskan, bahwa pelepasan sumber energi tsunami dari longsoran bawah laut tersebut bisa menghasilkan gelombang balik yang signifikan. Bergerak ke arah yang berlawanan dari tanah longsor. Oleh karena itu, jika terjadi tanah longsor bawah laut di Selat Makassar, maka diperkirakan mampu menghasilkan gelombang balik yang memicu potensi tsunami. Risiko tsunami ini dapat menempuh jarak 100 km mencapai kota-kota dataran rendah seperti Balikpapan dan Samarinda dengan morfologi channel dan muara, yang justru semakin menguatkan tinggi gelombang. Perkiraan waktu terjadinya longsoran pada wilayah ini belum dapat diketahui secara pasti. Namun, ilmuwan memperkirakan bahwa longsoran bawah laut di Selat Makassar sudah pernah terjadi selama 2,6 juta tahun terakhir.

Kondisi geologi Selat Makassar secara regional yang menunjukan tanah longsor material MTD bisa menghasilkan gelombang balik yang signifikan berpotensi memicu tsunami non-tektonik (Sumber : Rachel E. Brackenridge, dkk, 2020)
Kondisi geologi Selat Makassar yang menunjukan pengaruh hubungan Makassar Throughflow (MTF) dan material MTD dapat menghasilkan gelombang balik yang signifikan untuk memicu potensi tsunami non-tektonik di Selat Makassar
(Sumber : Rachel E. Brackenridge, dkk, 2020)

Rekam Jejak Peristiwa Tsunami Non-Tektonik di Indonesia.

Indonesia pernah mengalami 2 peristiwa tsunami yang diakibatkan oleh material longsoran pada 2018. Pertama, ketika sebagian sisi dari Gunung Anak Krakatau collapse dan kemudian longsor seingga memicu tsunami di sebagian daerah Banten dan Lampung. Kemudian yang kedua adalah saat lereng di Teluk Palu runtuh sehingga menyebabkan Tusnami di wilayah Palu Sulawesi Tengah. Menurut catatat sejarah tsunami di Indonesia dalam Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416 – 2018 yang diterbitkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, ada beberapa kasus tsunami masa lalu yang hingga kini belum terungkap penyebabnya dan diduga tsunami ini berasosiasi dengan longsoran dasar laut, antara lain seperti :

  1. Tsunami Teluk Ambon, 28 November 1708.
  2. Tsunami Manggarai, 14 April 1855.
  3. Tsunami Bacan, 10 Juni 1891.
  4. Tsunami Saparua, 20 Juni 1891.
  5. Tsunami Pulau Sumber Gelap, 16 Maret 1917.
  6. Tsunami Halmahera Utara, 2 April 1969.

Dalam Katalog yang diterbitkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika tahun 2019 tersebut, ahli gempa sekaligus Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan semua peristiwa tsunami tersebut tidak didahului oleh aktivitas gempa tektonik. Peristiwa Tsunami Pulau Sumber Gelap 1917 hingga kini belum diketahui sebabnya. Tsunami setinggi 1,5 meter ini teramati di Pulau Sumber Gelap dan menimbulkan kerusakan parah di Pantai Pagatan, Kalimantan Selatan.

Baca juga:

Penelitian Lebih Lanjut untuk Menentukan Langkah Mitigasi yang Tepat.

Uisdean Nicholson, salah satu peneliti dari Heriot-Watt University yang juga ikut dalam penelitian potensi tsunami di Selat Makassar ini, mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki langkah-langkah mitigasi dan peringatan dini tsunami di berbagai wilayah di negara ini. Akan tetapi belum seluruhnya berada pada daerah yang akan terkena dampak gelombang tsunami non-tektonik dari longsoran bawah laut seperti di wilayah Selat Makassar ini. Wilayah Balikpapan dan Samarinda yang memiliki populasi gabungan lebih dari 1,6 juta orang, tentunya menjadi perhatian serius terkait potensi tsunami yang ada. Hasil dari penelitian Rachel E. Brackenridge dan timnya ini telah menghasilkan peta risiko bencana tsunami non-tektonik di Selat Makassar dan sekitarnya.

Peta risiko bencana tsunami non-tektonik di Selat. Garis pantai dengan risiko tsunami non-tektonik paling besar ditunjukkan dengan warna merah (Sumber : Rachel E. Brackenridge, dkk, 2020)
Peta risiko bencana tsunami non-tektonik di Selat Makassar dan sekitarnya. Garis pantai dengan risiko tsunami non-tektonik paling besar ditunjukkan dengan warna merah
(Sumber : Rachel E. Brackenridge, dkk, 2020)

Nicholson mengatakan, tim peneliti akan meneruskan riset mereka untuk mengukur potensi tsunami di daerah tersebut lebih detail. Metode yang digunakan adalah dengan membangun berbagai model numerik kejadian longsor dan tsunami. Nicholson juga mengatakan, tim peneliti berencana untuk mengunjungi daerah pesisir Kalimantan untuk mencari bukti fisik keberadaan tsunami di masa lampau. Tujuannya adalah untuk menguji hasil model dan lebih meningkatkan pemahaman mereka tentang potensi tsunami ini. Hal ini bisa membantu memprediksi ukuran ambang batas kondisi geologi yang menyebabkan tsunami berbahaya dan membantu menginformasikan strategi mitigasi yang diperlukan.

Referensi.

Brackenridge, R. E., et al,. 2020. Indonesian Throughflow as a Preconditioning Mechanism for Submarine Landslides in the Makassar Strait. Geological Society London Lyell Collection, Special Publications, 500. (https://www.semanticscholar.org/paper/Indonesian-Throughflow-as-a-preconditioning-for-in-Brackenridge-Nicholson/5c00be1d5113c46b11c1bbc6bb839e0220bc4cab)

Daryono, dkk. 2019. Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416 – 2018. Jakarta : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. (https://cdn.bmkg.go.id/Web/Katalog-Tsunami-Indonesia-416-2018-per-Wilayah)

Harbitz, C. B., et al. 2006. Mechanisms of Tsunami Generation by Submarine Landslides: A Short Review. Norwegian Journal of Geology, Vol. 86, 255-264. (https://www.semanticscholar.org/paper/Mechanisms-of-tsunami-generation-by-submarine-a-Harbitz-L%C3%B8vholt/32affb92b84404d01d2129d23d0a99ac98d92e16)

McDaid, Sarah. (2020). New Tsunami Risk Identified in Indonesia. https://phys.org/news/2020-04-tsunami-indonesia.html. (Diakses pada tanggal 21 Mei 2020 pukul 22.24 WIB)

Nicolaus Ario Wicaksana
Follow me
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

6 tanggapan pada ““Submarine landslides in the Makassar Strait” Potensi Tsunami Non-Tektonik di Dekat Calon Ibu Kota Baru Indonesia”

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar