Mengenal Lebih Dekat Virus Penyebab Ebola

Melansir dari CNN Indonesia (Selasa, 02/06/2020), wabah Ebola kembali merebak di Republik Kongo dan telah dikonfirmasi oleh Lembaga Penelitian Biomedis Nasional (INRB)  setempat melaporkan 4 orang meninggal karena ebola di sebuah distrik di kota barat laut Mbandaka. Sebenarnya apasih yang dimaksud penyakit ebola itu ? Penyakit virus Ebola (EVD) adalah penyakit akibat infeksi virus mematikan Zaire ebolavirus yang termasuk dalam filovirus. Filovirus (famili Filoviridae) adalah virus RNA yang terbungkus, linier, tidak tersegmentasi, negatif, dan beruntai tunggal [2]. Nama family berasal dari kata Latin filum (benang), terkait dengan virion yang terlihat seperti benang bila dilihat di bawah mikroskop elektron [5].

Filovirus adalah patogen zoonosis terdapat dalam spesies reservoir, misalnya kelelawar, sesekali mewabah ke manusia atau mamalia lainnya yang dapat mengakhiri, membawa ataupun meningkatkan faktor penjamu [1]. Dua genera filovirus yaitu: Ebolavirus dan Marburgvirus telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit mematikan pada manusia. Dalam genus Ebolavirus, terdapat lima virus: EBOV(Zaire ebolavirus) , Sudan virus(Sudan ebolavirus), Restonvirus(Reston ebolavirus) , Taï Forest virus(Taï Forest ebolavirus), dan Bundibugyo virus(Bundibugyo ebolavirus). Sebaliknya, genus Marburgvirus mengandung spesies virus tunggal (Marburg Marburgvirus)[2].

Taksonomi Virus Penyebab EVD
Taksonomi Virus Penyebab EVD

Struktur Ebola Virus

Virion ebola berbentuk tubular umumnya berdiameter 80 nm dengan panjang 800 nm. Di tengah partikel terdapat nukleokapsid virus yang terdiri dari helical ssRNA genome yang dibungkus: nucleoprotein (NP), viralproteins 35 (VP35), viralproteins 30 (VP30) dan RNA-dependent RNA polymerase (protein L). Struktur ini kemudian dikelilingi oleh pembungkus virus yang berasal dari membran sel inang yang dipenuhi dengan spikes glycoprotein (GP) yang panjangnya 10 nm. Antara kapsid dan pembungkus adalah protein virus viralproteins 40 (VP40) dan viralproteins 24 (VP24)[5].

VE sebenarnya menyandikan dua bentuk gen glikoprotein tersebut. Yaitu yang bukan terkait struktural, Soluble Glicoprotein (SGP) disalin langsung dari virus mRNA, tetapi fungsinya masih belum diketahui. Protein ini tidak ditemukan dalam partikel virus, tetapi disekresikan dari sel yang terinfeksi di dalam darah. Hasil glikoprotein kedua dari perbaikan salinan tiruan glikoprotein pertama dan menyandi: trimerik, membrane-bound form. Envelope GP spike ditunjukkan di permukaan sel dan dimasukkan ke dalam virion agar berikatan dengannya (virus) dan melebur dengan membran. Hal ini merupakan faktor penting penimbulan penyakit VE. Gliko Protein sebenarnya pasca penerjemahan dipecah oleh furin proprotein convertase untuk menghasilkan disulfidalinkedsubunit GP1 dan GP2. GP1 yang berikatan di sel inang, sementara GP2 memediasi peleburan virus dan membran sel inang. Protein ini terangkai sebagai trimer heterodimer yang menyelimuti virus dan akhirnya mengalami perubahan penyesuaian bentuk ireversibel untuk menggabungkan dua membran [5].

Struktur Ebola Virus dan Materi Genetiknya (RNA)
Struktur Ebola Virus dan Materi Genetiknya (RNA)

Asal kata ‘Ebola

Harrod (2014) menjelaskan bahwa nama virus Ebola (EBOV) berasal dari Sungai Ebola di Republik Demokratik Kongo (sebelumnya Zaire) di mana wabah penyakit virus Ebola (EVD) pertama diidentifikasi pada tahun 1976. Wabah kedua terjadi pada 1995 di DRC, wabah di Uganda pada 2000 (oleh Sudan ebolavirus), dan wabah ketiga di Kongo pada 2003. Wabah berikutnya terjadinya di Uganda pada 2007 dan menghasilkan spesies Bundibugyo ebolavirus yang setelah dikonfirmasi ternyata merupakan spesies baru yang belum pernah diidentifikasi oleh CDC dan WHO di distrik Bundibugyo, Uganda barat. Wabah kedua yang disebabkan oleh spesies Bundibugyo ebolavirus diidentifikasi di Kongo pada 2012, menginfeksi 57 kasus yang dikonfirmasi dengan 29 kematian. Pada Maret 2014, terjadilah wabah Ebola terbesar sepanjang sejarah di Afrika Barat. Sepanjang wabah tersebut, hampir 14.000 kasus telah dilaporkan di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia dengan hampir 5.000 kematian [2]. Kini, Republik Kongo tidak hanya melawan pandemi Corona Virus Disease 2019  tetapi  tampaknya akan berjuang dalam memberantas virus penyebab EVD ini.

Skema Peralihan Transmisi Virus Reservoir Ebola Virus Disease
Skema Peralihan Transmisi Virus Reservoir Ebola Virus Disease

Penyebaran dan Penularan EVD

Penyebaran dan penularan virus Ebola pada manusia masih belum diketahui tapi dicurigai merupakan penyakit yang ditularkan oleh hewan yaitu kelelawar. Penularan virus Ebola dari manusia ke manusia mudah terjadi. Menurut para ahli, virus Ebola dapat ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh penderita seperti darah, urin, cairan semen, air liur dan muntahan. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui kulit atau mukosa yang tidak intak [4]. Menurut jurnal Kaner & Schaack (2016), penyakit virus Ebola sebenarnya dapat ditularkan melalui dua cara, yakni: hewan ke manusia dan manusia ke manusia. Penularan dari hewan telah terjadi melalui penanganan dan pemotongan hewan yang terinfeksi termasuk kelelawar dan primata non-manusia [2].

Pencarian hewan sebagai inang reservoir (baca juga: jenis-jenis hewan reservoir ) alami EBOV telah menjadi masalah investigasi selama beberapa dekade terakhir. Ada bukti yang semakin kuat bahwa sejumlah spesies mamalia dapat menampung dan menularkan virus. Beberapa spesies kelelawar: Epomops franqueti, Hypsignathus monstrosus dan Myonycteris torquata telah ditemukan membawa filovirus dan Marburgvirus. Selain itu spesies primata selain manusia seperti: monyet Rhesus (Macaca mulatta), monyet cynomolgus (Macaca fascicularis), monyet hijau Afrika (AGM)/(Chlorocebus aethiops), dan babon Hamadryas (Papio hamadryas) juga terbukti mampu menginfeksi manusia (Harrod, 2014) . Infeksi dari hewan terjadi ketika adanya cairan tubuh hewan yang terkontaminasi mengalami kontak langsung dengan manusia. Selain itu, masih adanya kebiasaan warga Afrika untuk memakan hewan liar (bushmeat) semakin meningkatkan potensi terjadinya infeksi [2].

Demam Berdarah Ebola (EHF)

Penyakit yang ditimbulkan virus Ebola disebut dengan Ebola hemorrhagic fever. Masa inkubasinya sekitar 6-8 hari. Manifestasi klinis yang terjadi adalah demam tinggi mencapai 40°C, nyeri kepala hebat, nyeri otot, muntah, diare, nyeri perut dan diikuti perdarahan spontan yang masif. Diagnosis Ebola pada awal penyakit sulit ditegakkan jika hanya berdasarkan gejala klinis. Jika ada kecurigaan kontak dengan penderita Ebola, perlu dilakukan pemeriksaan seperti ELISA, PCR, isolasi virus atau imunohistokimia [4].

Kaner & Schaack (2016) juga mengatakan bahwa Infeksi ebola pada manusia diperoleh secara khas melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari individu yang sudah terindikasi gejalanya. Secara umum, individu dengan kontak langsung ke cairan tubuh korban Ebola (tanpa peralatan perlindungan pribadi yang sesuai), kontak langsung dengan individu Ebola yang meninggal (tanpa peralatan pelindung pribadi yang sesuai), atau tinggal dengan dan memberikan perawatan kepada seseorang dengan gejala Ebola merupakan risiko tertinggi untuk infeksi. Petugas kesehatan sangat beresiko terpapar Ebola karena mereka lebih mungkin untuk melakukan kontak dengan cairan tubuh yang terkontaminasi. Praktik pemakaman dan penguburan tradisional di Afrika Barat melibatkan mencuci tubuh dengan tangan sebelum penguburan dan menghormati orang mati melalui kontak fisik yang keduanya merupakan kegiatan yang sangat berisiko tinggi berkaitan dengan penyebaran Ebola [2].

Tahapan Gejala Ebola

Ebola hemorrhagic fever (EHF) menjadi salah satu penyakit yang berbahaya karena gejala yang beragam dan awal penyakit ini mendadak, tetapi mirip dengan virus lain sehingga demam berdarah tidak didiagnosis dengan cepat. Berikut merupakan gambaran klinis EHF dibagi menjadi 4 tahapan utama [5], yaitu:

  1. Gejala influenza – Tahap A

Gejala influenza: Serangan tiba-tiba dengan gejala tidak khas seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri persendian (arthralgia) dan otot (mialgia), sakit tenggorokan, rasa sakit menyeluruh (malaise) dan mual.

Baca juga:

2. Gejala mendadak sakit – Tahap B

Mendadak sakit (antara hari ke 1−6): Demam menetap tidak respons terhadap obat antimalaria atau antibiotik, sakit kepala, kelelahan yang sangat, diikuti dengan diare, sakit perut, tidak bernafsu makan (anoreksia) dan muntah.

3. Gejala pengurangan penyakit palsu (pseudo-remisi) – Tahap C

Pengurangan gejala penyakit palsu (pseudo-remisi) (antara hari ke 7−8) selama tahapan ini pasien merasa lebih baik dan ingin menyantap makanan, kondisi kesehatan membaik. Beberapa pasien dapat sembuh selama tahapan ini dan bertahan dari penyakit.

4. Gejala aggraviation  – Tahap D

Aggravation (hari 9): Status kesehatan semakin buruk. Gejala berikut yang diamati adalah gangguan pernapasan, gejala perdarahan, manifestasi kulit seperti: ptekiechiae, purpura/ruam di seluruh tubuh yang mengandung darah, manifestasi saraf dan kejiwaan, cardiovascular distress dan renjatan hipovolemik (kematian).

Alur Diagnosis (European Centre for Disease Prevention and Control )
Alur Diagnosis (European Centre for Disease Prevention and Control)

Diagnosis dan Deteksi

Dalam perkembangan metode diagnose Ebola, Martínez, et al (2015) menjelaskan bahwa terdapat dua yang paling terkenal dan efektif yakni: ELISA dam RT-PCR. Sebelum tahun 2000, metode deteksi antigen [mis., Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)] adalah standar emas untuk deteksi EBOV pada beberapa wabah. Pada fase akut EVD, ELISA memiliki sensitivitas yang relatif tinggi (93%), tetapi tingkat antigen EBOV menurun ketika penyakit berkembang, menjadikan sensitivitas yang lebih rendah untuk deteksi antigen 1-2 minggu setelah onset gejala [2].

Beberapa tes pendeteksian antigen lainnya saat ini sedang dalam evaluasi dan dapat digunakan dalam waktu dekat untuk melengkapi pengujian RT-PCR.. Pengujian ELISA sebagian besar telah digantikan oleh RTPCR, yang memungkinkan deteksi lebih cepat dan sekarang dapat digunakan dalam platform pengujian seluler (portabel) dalam pengaturan wabah. Tes asam nukleat (NAT), khususnya RT-PCR, dianggap sebagai standar emas untuk diagnosis EVD, sebagian karena sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi genom virus Ebola. Ini umumnya dilakukan oleh tim seluler internasional yang ditempatkan di lembaga-lembaga seperti CDC [2].

RT-PCR

RT-PCR adalah tes amplifikasi asam nukleat yang cepat dan sangat sensitif untuk mendeteksi asam nukleat EBOV. Sensitivitas dan spesifisitas RT-PCR masing-masing sekitar 100% dan 97% . Dalam 3 hari pertama penyakit, uji molekuler mungkin tidak mendeteksi genom virus, yang dapat mengarah pada hasil negatif palsu. Oleh karena itu, RT-PCR harus diulang dalam sampel berikutnya. Untuk meminimalkan hasil negatif palsu, pengambilan sampel yang tepat, pengumpulan, penyimpanan atau transportasi, dan teknik RT-PCR yang tepat harus diterapkan untuk menghindari kontaminasi silang. RT-PCR kuantitatif telah dikembangkan dan mungkin dapat digunakan untuk memantau viral load karena data menunjukkan viremia tinggi mungkin dikaitkan dengan hasil yang tidak diinginkan dan kematian. Untuk pasien yang menerima perawatan eksperimental, pemantauan viral load EBOV dapat berguna untuk menilai tanggapan pengobatan. (Broadhurst et al., 2016) [2].

Teknik PCR portabel saat ini sedang dikembangkan dan ditampilkan untuk siap digunakan di lapangan untuk diagnosis cepat (10-30 menit). Teknik-teknik ini diantisipasi memiliki persyaratan keamanan hayati minimum dan tidak memerlukan infrastruktur laboratorium. Teknik PCR portabel dapat memainkan peran yang lebih efektif dalam pengawasan dan pengendalian penyakit termasuk wabah Ebola dan penyakit menular lainnya (Martínez et al., 2015) [2].

Virus Ebola tanpa henti menginfeksi sel monositmakrofag lineage, mempercepat pelepasan sitokin proinflamasi, termasuk Tumour-Necrosis Factor (TNF) dan interferon-γ (IFNγ). Hal tersebut yang bergilir dapat mengganggu arsitektur endotelium pembuluh darah dan jaringan lainnya. Memicu interaksi neutrofil dan leukosit polimorfonuklear lainnya dengan partikel virus dan memicu reseptor yang ditunjukkan oleh sel myeloid (TREMs) atau Reseptor Toll-like (TLRs) [5]. Obat antivirus maupun vaksin untuk penyakit Ebola belum ditemukan hingga saat ini. Terapi yang dapat diberikan kepada penderitanya hanya sebatas terapi suportif seperti pemberian oksigen, cairan intravena dan obat-obat simtomatik. Karena penularan dan penyebarannya sangat cepat dan prognosisnya buruk, penyakit Ebola harus segera dicegah [4].

Potensi Indonesia Terpapar Ebola

Dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) di Kalimantan teridentifikasi positif Zaire ebolavirus, Sudan ebolavirus, dan Bundibugyo ebolavirus yang seharusnya hanya terdapat di Afrika. Hal ini menunjukkan bahwa untuk terjadinya wabah EDV di Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil. Dengan demikian, pemerintah perlu melakukan penilaian risiko dan pengawasan terus menerus terhadap infeksi filovirus primata dan hewan liar di Indonesia. Selain itu, perlunya sosialisasi terhadap masyarakat terutama yang menetap di daerah hutan untuk lebih waspada terhadap hewan lair dan selalu menjaga kebersihan [2].

Masyarakat yang diserang atau mendapatkan luka akibat hewan liar sebaiknya segera membersihkan diri dengan sabun. Setelah itu penduduk dianjurkan untuk sesegera mungkin melakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat. Kemudian, masyarakat Indonesia yang masih memiliki tradisi untuk memakan daging hewan liar dianjurkan untuk tidak mengonsumsi daging tersebut. Hal itu didasari karena adanya kemungkinan bahwa daging hewan liar tersebut sudah terkontaminasi Zaire ebolavirus ataupun virus penyakit lain [2].

Referensi:

[1] Feldmann, Heinz, A. Sprecher, T. W. Geisbert. 2020. Ebola. The New England Journal of Medicine (NEJM).

[2] Houten, F. Jahja. Potensi Wabah Penyakit Virus Ebola (EVD) di Indonesia & Upaya Penanganannya (sumber: https://osf.io diakses pada 2 Juni 01.33 WIB)

[3] Rampengan, Novie H. 2014. Infeksi Virus Ebola. Jurnal Biomedik (JBM), Volume 6, Nomor 3, Halaman 137-140.

[4] Hendrawati, Asri (Ed). 2014. Kenali Ebola. JKKI, Volume 6, Nomor 1.

[5] Yanti, H. Elfira & Aryati. Penyakit Virus Ebola. Indonesia Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Volume 21, No 2, halaman 195-201.

Dewantoooo
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

1 tanggapan pada “Mengenal Lebih Dekat Virus Penyebab Ebola”

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar