Identifikasi Faktor Bioklimat Hama Ulat Bulu pada Wilayah Tanjung Priok dan Bogor tahun 2001-2010

Letak geografis Jakarta Utara berada pada 106020’ 00” Bujur Timur dan 06010’ 00’’ Lintang selatan, serta ketinggian 20 meter di atas permukaan laut.  Suhu maksimum, minimum, dan rata-rata Tanjug Priok ialah 35,4 oC, 23 oC, dan 28,7oC. Kelembaban maksimum, minimum, dan rata-rata Tanjug Priok ialah 97%, 42%, dan 75%. Tekanan udara di Tanjung Priok ialah 1010 mb. Kecepatan angin 4,2 knot, curah hujan 196,3 mm, dan penyinaran matahari sebesar 5,2% (BPS 2015).

Kabupaten Bogor terletak diantara 6o19’ –6o47’ LS dan 106o21’ – 107o13’ BT dengan ketinggian tempat berkisar antara 15 mdpl pada daratan di bagian utara hingga 2.500 mdpl pada puncak gunung di bagian selatan (Syafei dan Hidayati 2014). Kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap bulan 260 C dengan suhu terendah 21,80 C dengan suhu tertinggi 30,4o C. Kelembaban udara 70 %, Curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3.500 – 4000 mm dengan curah hujan terbesar pada bulan Desember dan Januari (Profil Daerah Kota Bogor 2015).

Spesies ulat bulu yang menyerang pohon mangga berasal dari famili Lymantriidae (Rauf 2011 dalam Utomo 2012). Ulat famili Lymantridae berjumlah lebih dari ribuan spesies, dan sebagian besar ditemukan di wilayah Indo-Australia (Barlow 1982). Spesies yang menyerang di daerah Probolinggo yaitu Arctornis submarginata. Pengamatan pada saat di lapangan menunjukkan bahwa ulat bulu ini lebih memilih menyerang daun mangga manalagi dibandingkan dengan varietas mangga yang lain. Pemilihan inang ulat bulu ini dilakukan oleh dewasanya saat meletakkan telur. Ulat bulu bukan termasuk kupu-kupu tetapi bangsa ngengat. Diduga ngengat ulat bulu meletakkan telur pada celah kulit batang pohon mangga dan atau di bawah daun. Ulat bulu bersifat nocturnal yaitu aktif pada malam hari.

Iklim dan cuaca memiliki peranan penting, baik langsung maupun tidak langsung pada proses penyebaran, pemencaran, kelimpahan, dan perilaku serangga. Ada beberapa unsur iklim yang berpengaruh pada ulat bulu, antara lain suhu udara, kelembaban udara, dan curah hujan. Kemampuan penyesuaian terhadap suhu lingkungannya tergantung pada tiap spesies serangga, sehingga ada beberapa spesies serangga yang mampu beradaptasi pada kisaran suhu yang lebar (eury-thermal) dan ada pula yang hanya mampu beradaptasi pada kisaran suhu yang sempit (stenothermal). Namun Sunjaya (1970) menyebutkan bahwa serangga mempunyai suhu optimum sekitar 260C. Sedangkan kondisi kisaran suhu optimal untuk perkembangan ulat bulu adalah pada suhu 26-30°C. Kelembaban udara memiliki pengaruh terhadap proses biologi serangga. Kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menghambat aktivitas dan kehidupan serangga, kecuali pada beberapa jenis serangga yang biasa hidup ditempat basah. Kelembaban optimum serangga berbeda menurut jenis dan stadium (tingkatan kehidupan) pada masing-masing perkembangan. Pada serangga, kisaran kelembaban udara optimum pada umumnya sekitar 73-100% (Sunjaya 1970). Peranan hujan cukup besar pengaruhnya dalam bidang ekologi serangga, terutama pada pertumbuhan dan aktivitas serangga. Sunjaya (1970) menyatakan bahwa periodisitas timbulnya suatu hama erat hubungannya dengan periodisitas curah hujan tahunan dan perubahannya. Tetesan air hujan secara fisik langsung dapat menghanyutkan serangga-serangga yang berukuran kecil, sedangkan secara tidak langsung curah hujan dapat mempengaruhi kelembaban udara. Para peneliti mengatakan bahwa ledakan populasi ulat bulu terjadi karena terjadinya musim hujan secara terus menerus dalam satu tahun.

Gambar 1 Kombinasi antara curah hujan dengan suhu di Tanjung Priok
blank
Gambar 2 Kombinasi antara curah hujan dengan suhu di Bogor

Pola curah hujan di Tanjung Priok dan di Bogor adalah monsunal. Pola tersebut dicirikan dengan bentuk pola hujan unimodal di mana ada satu puncak curah hujan tertinggi pada bulan tertentu seperti tampak pada gambar 2 dan 3. Curah hujan relatif tinggi selama lima  bulan dan tujuh bulan berikutnya relatif lebih rendah di Tanjung Priok sedangkan di Bogor curah hujan relatif tinggi selama 7 bulan dan 5 bulan berikutnya relatif rendah. Tanjung Priok dan Bogor mengalami puncak curah hujan tertinggi pada bulan Februari. Para peneliti mengatakan bahwa ledakan populasi ulat bulu terjadi karena terjadinya musim hujan secara terus menerus dalam satu tahun. Pola suhu rata-rata Tanjung Priok 2001-2010 berada di antara 27,5oC sampai 29oC. Sedangkan pola suhu rata-rata Bogor 2001-2010 berada di antara 25,2oC sampai 26,2oC.Kondisi kisaran suhu optimal untuk perkembangan ulat bulu adalah pada suhu 26-30°C (Sunjaya 1970) maka berdasarkan literatur kondisi suhu di Tanjung Priok sangat optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan ulat bulu, namun tidak optimal atau tidak sesuai untuk tumbuh dan berkembang di wilayah Bogor.

Baca juga:
blank
Gambar 3 Kombinasi antara suhu rata-rata dengan kelembaban rata-rata di Tanjung Priok
blank
Gambar 4 Kombinasi antara suhu rata-rata dengan kelembaban rata-rata di Bogor

Kondisi kisaran suhu optimal untuk perkembangan ulat bulu adalah pada suhu 26-30°C. Kelembaban udara memiliki pengaruh terhadap proses biologi serangga. Kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menghambat aktivitas dan kehidupan serangga, kecuali pada beberapa jenis serangga yang biasa hidup ditempat basah. Kelembaban optimum serangga berbeda menurut jenis dan stadium (tingkatan kehidupan) pada masing-masing perkembangan. Pada serangga, kisaran kelembaban udara optimum pada umumnya sekitar 73-100% (Sunjaya 1970). Berdasarkan literatur maka nilai suhu di Tanjung Priok sangat optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan ulat bulu, seperti yang di tampilkan pada gambar 4 maka dari bulan Januari sampai bulan Desember wilayah Tanjung Priok berpotensi terkena serangan hama ulat bulu. Namun jika dilihat berdasarkan kelembaban wilayah Tanjung Priok bulan Juli, Agustus, dan Oktober berada di bawah kelembaban optimum sehingga di bulan ini akan sangat sulit ulat bulu untuk tumbuh dan berkembang. Jadi berdasarkan gambar 4 tersebut bulan yang berpotensi serangan hama ialah Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, September, November, dan Desember karena suhu dan kelembaban yang optimum untuk tumbuh dan berkembang ulat bulu. Sedangkan di Bogor nilai kelembaban sangat optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan ulat bulu, seperti yang di tampilkan pada gambar 5 maka dari bulan Januari sampai bulan Desember wilayah Bogor berpotensi terkena serangan hama ulat bulu. Namun jika dilihat berdasarkan suhu wilayah Bogor  bulan Januari, Februari, Maret, Juni, Juli, Agustus, September, November, dan Desember berada di bawah nilai suhu optimum sehingga di bulan ini akan sangat sulit ulat bulu untuk tumbuh dan berkembang. Jadi berdasarkan gambar 5 tersebut bulan yang berpotensi serangan hama ialah April, Mei, dan Oktober karena suhu dan kelembaban yang optimum untuk tumbuh dan berkembang ulat bulu.

[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Jakarta Utara. 2015. Statistik Geografi dan Iklim. https://jakutkota.bps.go.id/subject/153/geografi.html#subjekViewTab3 diunduh pada 19 Maret 2020.

Barlow H. 1982. An Introduction to the Moths of South East Asia. Kuala Lumpur (MY) : Art Printing Works Sdn. Bhd., K.L.

Profil Daerah Kota Bogor. 2015. [Internet]. [Diakses 11 April 2020]. Tersedia pada: http://kotabogor.go.id/index.php/page/detail/9/letak-geografis#.Vehp9NKUdSI

Sunjaya P I . 1970. Dasar-dasar Ekologi Serangga. Diktat tidak dipublikasikan. Bagian Hama dan Penyakit Tumbuhan. Bogor (ID) : Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Utomo ET. 2012. Analisis hubungan kondisi iklim dengan ledakan ulat bulu: studi kasus di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

citra rahma niar
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar