Mengenal Teknologi EM (effective microorganism) Untuk Pertanian yang Lebih Unggul

Kemajuan teknologi dan informasi telah menuntut perkembangan yang selalu beradaptasi. Berbagai bidang kehidupan turut terkena dampak dari perkembangan yang tak terbendung ini, mulai dari gaya hidup, makanan, kesehatan, pendidikan bahkan pertanian. Meskipun pertanian seringkali dianggap jauh dari modernisasi, namun itu tak lagi berlaku. Berbagai teknologi pertanian semakin menunjukkan keberhasilannya dalam menyesuaikan perkembangan zaman.
Pertanian organik pun tengah gencar dibicarakan sebagai alternatif pertanian di masa yang akan datang. Hasil pertanian yang lebih aman dikonsumsi kini juga tengah menjadi tren masyarakat. Selain itu, pengolahan limbah menjadi salah satu tantangan terbesar seiring meningkatnya pencemaran lingkungan.

Seorang insinyur lulusan S-2 Fakultas Pertanian, Universitas Ryukyus di Okinawa, Jepang, Ir. Gede Ngurah Wididana tergerak untuk menjawab permasalahan tersebut. Berkat ilmu yang beliau peroleh selama studi, beliau mengenalkan teknologi effective microorganism (EM) di Indonesia.
Teknologi ini ditemukan oleh Prof. Dr. Teruo Higa, seorang ahli mikrobiologi dari Jepang. Dalam penelitiannya selama 12 tahun, Prof. Dr. Teruo Higa meneliti aktivitas mikroba pada proses fermentasi yang menghasilkan senyawa de-ion seperti alkohol, glukosa, ester, asam amino, asam nukleat, hormon, enzim-enzim serta anioksi. Dalam teori mikronutrisi, tanaman menyerap senyawa berupa ion dan de-ion. Tanaman yang menyerap de-ion cenderung lebih sehat dan tahan penyakit.

Fermentasi Mikroba

EM merupakan produk mikroba yang memanfaatkan aktivitas berbagai mikroba yang ada di alam seperti asam laktat, ragi dan bakteri fototrofik. Selain itu, dikenal pula EM Bokashi yakni produk hasil fermentasi anaerob dari limbah pertanian yang diinokulasi dengan EM (Nikitin, dkk., 2019). Dalam dunia biologi, dikenal lima kelompok mikroba yang bermanfaat bagi manusia. Kelima kelompok tersebut yakni asam laktat, actinomycetes, fotosintetik, ragi dan cendawan fermentasi.
Teknologi EM ini menggunakan mikroba fotosintetik (Rhodopseudomonas plastris) sebagai mikroorganisme utama.

blank
Rhodopseudomonas palustris
sumber: RSC Publishing, Royal Society of Chemistry

Mikroba ini dikenal sebagai mikroba abadi karena mampu bertahan hidup pada suhu ekstrem lebih dari 1000°C. Selain itu, mikroba ini dapat mensintesis zat-zat berbahaya seperti metan, amonia, hidrogen sulfida (H2S). Bahkan makhluk kecil ini dapat mengurangi racun-racun kimia, logam berat, oksigen yang bebas di udara serta menetralisir limbah industri dan perlindungan radiasi nuklir. Sebuah penelitiaan yang dilakukan oleh tim dari Institute of Radiobiology of the National Academy of Sciences of Belarus, Republik Belarus membuktikan bahwa EM mempercepat peluruhan zat radioaktif Cesium (137 Cs) dalam tanah (Nikitin, dkk., 2019).

Inovasi Untuk Pertanian Berkelanjutan

Inovasi yang dikembangkan Ir. Wididana menjadi perintis pertama yang mengenalkan teknologi EM kepada masyarakat Indonesia. Beliau menggunakan EM sebagai pupuk cair dan obat herbal alternatif seperti minyak tetes, masker, salep, balsem, air herbal serta relaksasi untuk spa.

Teknologi EM sangat berguna untuk meningkatkan kesuburan tanaman dengan menghasilkan senyawa bioaktif. Di Pakistan, teknologi ini telah dikenalkan sejak 1980 oleh Pusat Penelitian Pertanian Alam, Universitas Pertanian, Faisalabad. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa EM memberi pengaruh pada penyerapan nutrisi tanaman gandum, beras serta kapas.
Aplikasi EM pada tanah terbukti dapat meningkatkan kandungan N, P dan K sehingga mampu mengurangi ketergantungan tanaman terhadap pupuk sintesis (Javaid, dkk., 2011). Hal ini tentu sangat menunjukkan secercah harapan bagi pertanian Indonesia untuk mengurangi penggunaan pupuk buatan yang mencemari tanah. Selain itu, teknologi ini dapat dimanfaatkan sebagai probiotik pakan unggas dan ternak serta mempercepat proses pembuatan kompos dengan mendaur ulang limbah (Javaid, dkk., 2011).
Dengan berbagai keunggulan tersebut, perlu dilakukan sosialisasi penggunaan teknologi EM sebagai salah satu cara mewujudkan pertanian Indonesia yang berkelanjutan. Cara pembuatan yang mudah serta berbagai kelebihan EM, menjadikan teknologi ini sebagai salah satu inovasi pertanian yang perlu dipertimbangkan pemerintah Indonesia demi mewujudkan pertanian berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan berorientasi pada kemandirian.

Baca juga:

Referensi

Enna Hasna Ainun Nuurul Ma'rifah
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar