Merasa Normal-Normal Saja bisa Berbahaya Sekali, Korona Belum Berakhir

Korona di Indonesia

Kasus bertambahnya jumlah pasien positif korona di Indonesia terus saja terjadi peningkatan. Kemarin Sabtu, 17 Juli 2020 dikonfirmasi sebanyak 83.130 positif korona dengan 41.834 sembuh dan 3.957 meninggal dunia.

Meski pemerintah sudah seringkali menghimbau warganya untuk tetap di rumah, tetapi ada juga malah kebanyakan kurang patuh dan masih beraktivitas outdoor. Kepercayaan dan kurangnya pengetahuan adalah hal mendasar yang membuat mereka selalu ngeyel dan bahkan menceramahi pemerintah. Anjuran stay at home dan protokol kesehatan kerap kali diabaikan dan bahkan dilanggar. Inilah hal yang mencemaskan, karenanya Indonesia selalu mendapatkan kenaikan grafik kasus positif korona lebih tinggi dibandingkan negara lain.

Memang jika terus-terusan di rumah, simpanan bisa saja habis kapanpun. Ditambah banyaknya masyarakat yang tidak bisa bekerja di rumah karena faktor pendidikan dan ketrampilan yang kurang, menjadikannya untuk tetap bisa produktif. Bagaimanapun pemerintah juga harus mengambil resiko untuk memperbolehkan kegiatan ekonomi terus berjalan. Akan tetapi, ketika sedang bekerja ataupun berbelanja keduanya harus tetap mengikuti protokol kesehatan. Peringatan demi peringatan ancapkali dikobarkan atau diutarakan oleh berbagai institusi dan pemerintah. Adanya keputusan new normal kala itu, juga merupakan faktor besar dalam kembalinya rutinitas masyarakat dalam kehidupan luar.

Aktivitas di Tengah Korona

blank
Keadaan di salah satu pasar tradisional
Sumber: (Liputan6.com / Nefri Inge)

Acara pernikahan, tasyakuran, perkumpulan tetap saja dilakukan. Bahkan jika dilihat, kehidupan masyarakat tetap saja seperti tanpa korona. Rutinitas, kesibukan, pekerjaan, dan segala sesuatu kegiatan luar tetap dikerjakan.
Ada juga kesalahan fatal dalam masyarakat, memang mengenakan masker adalah protokol kesehatan, tapi apa jadinya jika memakai masker hanya untuk sebuah formalitas dalam aturan. Banyak yang memakai masker ketika perjalanan, tetapi akan melepas masker ketika sedang ada perbincangan, tetap saja bukan? Kesalahan demi kesalahan terus saja dilakukan, entah karena kurang perhatian ataukah kurangnya pendidikan dan arahan? Padahal banyak sekali kegiatan LSM yang mengajak-ajak masyarakat tentang protokol kesehatan dan bagaimana virus itu menyebar. Tetapi kemungkinan besar adalah faktor kebiasaan dan kepercayaan, kalau tidak seperti ini kurang sopan, kurang adab, dikira sombong, takut korona padahal kita di suruh takut kepada Alloh. Pelecehan-pelecehan tersebutlah yang menjadikan korona tetap menyebar, memengaruhi masyarakat sekitar agar percaya sama aja menyebar kebodohan.

Achmad Yurianto juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 pada Senin (13/07) menyatakan, “Penambahan kasus yang masih terus terjadi ini membuktikan penularan masih terjadi di tengah-tengah kita. Karena itu, gunakan masker dengan benar.”
Kuncinya ada di kita jalankan protokol kesehatan. Kita harus meyakini menggunakan masker harus kita lakukan. Sekalipun kita merasa berada di tengah-tengah orang yang kita kenal, kolega kita, rekan kerja kita. Karena justru kesalahan terjadi di tempat seperti itu,” kata Yurianto.

Nadiem Makarim (17/03), mengatakan walaupun tidak punya gejala-gejala tapi kita masih saja bisa menjadi carrier dan menularkannya kepada orang-orang dengan kondisi kesehatan yang kurang memadai seperti orang-orang lanjut usia atau punya diabetes, hipertensi, dan berbagai macam kondisi kesehatan lainnya,” jelasnya.
“Jadi ingat, setiap kali kita keluar rumah kita bisa mengancam nyawa orang lain,” tegasnya.
Dari pernyataan tersebut diketahui bahwa banyak masyarakat yang menganggap enteng virus korona, padahal walau kita tidak terkena tetapi kita bisa membawa virus itu lalu menularkan virus yang dibawanya ke orang dengan imunitas rendah. Anjuran pemakaian hand sanitizer, dan masker harusnya dijalankan ketika sedang berada dengan orang-orang sekitar. Walaupun teman, sahabat, karib, atau lainnya yang sedang dengan kita, tetaplah patuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Lindungi Diri di Tengah Korona

Akibat adanya masyarakat yang tetap lalai, penambahan kasus positif di Indonesia mulai melaju cepat sejak 6 April yakni sekitar 200-300 orang per hari, lalu bergerak naik 300-400-an kasus baru per hari. Dan pada bulan Juni, bergerak fluktuatif antara 400-an hingga lebih dari 1.000-an kasus baru per hari.
Sangat berbahaya jika masyarakat tetap saja merasa normal. Di tengah-tengah bertambahnya kasus, Presiden Joko Widodo pada 29 Juni mengatakan, “Jangan sampai kita masih merasa normal-normal saja, berbahaya sekali.”

blank
Jangan merasa sudah normal menyedihkan sekali
Waspada korona masih ada
Data diambil dari Gugus Covid Pusat

Masa pandemi adalah masa krisisnya ekonomi dan kesehatan akibat adanya virus korona. Jangan sampai kita menyepelekan hal itu untuk tujuan bersenang-senang, karena masih banyak juga yang suka jalan-jalan. Sungguh ironis jika masyarakat abai terhadap virus korona, apalagi malah menyusahkan negara. Salah satu cara agar semua pihak dapat mengabdi kepada negara dengan mematuhi protokol kesehatan. Akan lebih baik lagi jika masa pandemi adalah masa untuk bertambah kreatif dengan bekerja tetap di luar, menambah penghasilan walau di rumah saja. Belajar dan bekerja daring sudah diprogramkan oleh pemerintah. Tinggal cara masyarakat dalam menaggapi dan mengambil solusi dari kesempatan ini.

Baca juga:

Harus diketahui juga bahwa sistem ekonomi Indonesia harus tetap berjalan untuk tidak terlalu dalam defisitnya. Jadi walau harus dan terpaksa bekerja di luar tetaplah patuhi dan laksanakan protokol kesehatan. Masyarakat juga tidak lepas dari adanya pemenuhan kebutuhan, pemenuhan ini bisa dilakukan lewat online juga bisa offline jika ada keterbatasan koneksi, karenanya mereka harus pergi ke toko, supermarket, pasar dan pusat perbelanjaan lainnya untuk pemenuhan materi. Oleh karena itu, ajakan untuk patuh dan taat pada protokol kesehatan adalah kunci utama dalam menghadapi penyebaran virus korona. Baik penjual dan pembeli, antarteman, antartim, dan siapapun jika bertemu tetaplah patuhi protokol kesehatan. Salah satu cara membantu Indonesia supaya penyebaran menurun adalah patuh saja. Jika ingin lebih sangat dianjurakan juga dengan menjadi more produktif walau di rumah. Stay at home adalah kunci mengatasi hal ini dan tetap patuhi aturan adalah cara membukanya.

Referensi

  1. https://m.mediaindonesia.com/read/detail/297129-mendikbud-sesalkan-masih-banyak-warga-beraktivitas-di-luar-rumah 17/07/2020
  2. https://sumut.antaranews.com/nasional/berita/1418849/alasan-ekonomi-jadi-faktor-masyarakat-tetap-beraktivitas-di-luar? utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews 17/07/2020
  3. https://m.harianjogja.com/news/read/2020/03/17/500/1034492/masih-banyak-orang-beraktivitas-di-luar-rumah-mendikbud-corona-bukan-virus-yang-bisa-diremehkan 17/07/2020
  4. https://kuasakata.com/read/berita/16128-kasus-positif-covid-19-terus-meningkat-pemkab-sukoharjo-kaji-penerapan-lockdown-lokal 17/07/2020

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

27 tanggapan pada “Merasa Normal-Normal Saja bisa Berbahaya Sekali, Korona Belum Berakhir”

  1. Bagaimanakah dengan orang² yang beraktivitas di luar sana ttpi kurang memerhatikan protokol kesehatan, sedangkan aktivitas tersebut sangatlah penting yaitu berupa menemukan suatu kajian tentang penyebaran virus corona trsbt. Bukankah itu juga membuat para warga lainnya merasa ngeyel?

  2. seharusnya para masyarakat lebih peduli dan serius menanggapi corona, dan tidak menyepelekannya. karna banyak korban yang sudah berjatuhan dan terus meningkat di negara kita, jika ingin pandemi ini berakhir maka kita harus bekerja sama dengan pemerintah agar virus corona ini selesai.

  3. Menurut anda, apa langkah perintah saat ini sudah tepat untuk menanggulangi dampak dari pandemi Covid-19? Dan bagaimana seharusnya pemerintah lakukan bagi para warga yang tidak menaati protokol kesahatan?

  4. Bagaimana pendapat anda mengenai sekolah yang belum bisa dibuka, padahal seperti pasar, mall dan tempat kerumunan yang lainnya telah dibuka? Dan apakah pembelajaran secara daring di tengah pandemi seperti ini tetap bisa mewujudkan cita-cita bangsa untuk mewujudkan kecerdasan bangsa?

  5. New normal? Ya bolehlah.. Bagaimana bila new normal adalah langkah awal pemerintah untuk penerapan herd immunity seperti Spanyol pada waktu lalu? Apakah akan terjadi revolusi di Indonesia?
    #salamdarirumah

    1. menuntutu kreatifitas dari seorang tukang becak, driver, tukang sapu dan sejenisnya rasanya amat susah sob. Mereka kerja hari ini untuk makan Hari ini. Tentu selain takut mati karena corona banyak orang yang takut mati karena kelaparan. Bagaimana pendapat anda sob?

  6. New normal? Ya bolehlah.. Bagaiamana bila new normal merupakan langkah awal pemerintah dalam penerapan her immunity pada waktu mendatang? Mengerikan? Mungkin bagi setiap orang. Namun herd immunity memang seperti hukum alam yang ada.. Apakah mindset orang Indonesia dapat berevolusi?

  7. New normal memang masih sangat jauh untuk diterapkan di Indonesia, bukannya sekarang. Jika diibaratkan kondisi Indonesia sama seperti wuhan pada masa awal-awal wabah. Seharusnya pemerintah tahu itu.

  8. New normal memang masih sangat jauh untuk diterapkan di Indonesia. Jika diibaratkan kondisi negeri ini sama seperti Wuhan pada masa awal-awal wabah, seharusnya pemerintah tahu mana langkah yang tepat.

  9. Artikelnya kereennnnn,, sangad menginspirasi sekali.. tapi begitu susah menyadarkan masyarakat pentingkan melakukan protokol kesehatan

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar