Senescent Cell dan Senolytics: Sel “Zombie” dan Cara Membunuhnya

blank
Peninsula, Film Zombie yang sedang terkenal saat ini. Sumber : IMDB

Anda pasti tidak asing dengan kata “Zombie”. Yup, makhluk mistis ini sudah sering diangkat ke layer lebar dan menjadi karakter dalam video game. Terlebih lagi, saat ini sedang ramai dibicarakan film zombie terbaru yang berhasil meramaikan dunia perfilman di masa Pandemi saat ini. Yup, “Peninsula”.

Zombie terkenal dengan sifat parasitnya yang merugikan makhluk di sekitarnya. Tahukah anda, sosok tersebut ternyata ada di dalam tubuh kita. Sosok tersebut dipercaya menjadi salah satu penyebab penuaan, apakah itu? Mari kita simak artikel ini bersama-sama.

Apa itu Senescent Cell?

blank
Ilustrasi Senescent Cell, Sumber : News Atlas

Senescent cell (atau Bahasa indonesianya “sel tua”) adalah sel yang tidak dapat membelah diri karena adanya tekanan dalam selular. Sel ini berbahaya untuk tubuh, selain karena tidak bermanfaat, sel ini dapat mengganggu kerja dari sel lain dengan cara mensekresi faktor-faktor yang merekrut sel-sel inflamasi, merombak matriks ekstraseluler, memicu kematian sel yang tidak diinginkan, menginduksi fibrosis, dan menghambat fungsi sel punca. Menurut Child, apabila sel ini terakumulasi cukup banyak dapat merusak jaringan secara aktif dan mengakibatkan penuaan[1].

Senescent cell biasanya diseleksi oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, seiring bertambahnya waktu, sistem kekebalan tubuh semakin menurun. Hal ini menyebabkan senescent cell lebih mudah lolos dan masuk ke dalam tubuh untuk merusak jaringan-jaringan tubuh. Jadi kalau kakek atau nenek kalian suka sakit-sakitan, jangan heran ya. Bisa jadi hal tersebut diakibatkan banyaknya senescent cell yang menumpuk[6].

Bagaimana Senescent Cell Terbentuk?

blank
Awal mula Terbentuknya Senescent Cells, Sumber : Wikipedia

Keberadaan Senescent cell pertama kali ditemukan oleh Hayflick pada tahun 1961. Hal itu terjadi karena suatu fenomena aneh dimana sel berhenti membelah diri setelah membelah diri selama 50 kali. Walaupun sempat ditolak oleh kalangan ilmiah, akhirnya teori ini dikembangkan saat ini[3].

Apa itu Senolytics?

blank
Senolytics, Sumber : Long Long Live

Senolytics adalah istilah yang menunjukkan tentang metode penghilangan senescent cell. Hingga pertengahan tahun dua ribuan, penelitian terkait toksin atau antibodi untuk menargetkan senescent cell telah dilakukan, namun masih belum ada yang secara efektif membunuh senescent cell dan menghindari sel lain dari serangan ini[7].

Hingga akhirnya tahun 2013, para peneliti menyadari bahwa senescent cell memiliki sebuah mekanisme untuk menghindari kematian. Mekanisme tersebut memungkinkan sel untuk menghindari apoptosis. Apoptosis adalah mekanisme biologi yang merupakan salah satu jenis kematian sel terprogram. Apoptosis digunakan oleh organisme multisel untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Sehingga dengan pendekatan bioinformatika, peneliti mempelajari tentang mekanisme ini dan mencari tahu bahan alam dan obat yang sekiranya mampu menghilangkan mekanisme tersebut[7].

Setelah kurang lebih 50 obat dicoba, peneliti menemukan dua obat yang berhasil membunuh senescent cell secara in vitro (dalam cawan petri) maupun secara in vivo (pada tikus). Dua obat tersebut diantaranya dasatinib, yang disetujui di AS untuk mengobati leukemia dan limfoma tertentu, dan quercetin, obat yang digunakan sebagai suplemen nutrisi[7].

Namun penggunaan kedua obat ini ternyata tidak ampuh untuk berbagai jenis senescent cell. Walaupun dapat bekerja dengan baik pada banyak jenis senescent cell, tapi masih ada senescent cell yang belum mati. Oleh karena itu, banyak perusahaan bioteknologi yang berani berinvestasi untuk mengembangkan metode pengobatan ini[7].

Apakah Kita Harus Membasmi Semua Senescent Cell?

Faktanya, kita tidak perlu membasmi semua senescent cell. Dalam penelitian lain, kita hanya perlu menghilangkan tiga puluh persen dari sel-sel tua untuk memperlambat penuaan. Hal ini dikarenakan senescent cell ternyata juga memberikan efek positif untuk tubuh[5].

Baca juga:

Penelitian menunjukkan bahwa Senescent Cells juga berperan dalam pemrograman ulang seluler[4] dan penyembuhan luka[2]. Sehingga terlalu banyak pembersihan sel tua akan buruk untuk penyembuhan luka dan pemrograman ulang seluler, tetapi terlalu banyak sel tua menyebabkan kerusakan[5].

Sumber :

[1] Childs, B., Gluscevic, M., Baker, D. et al. 2017. Senescent cells: an emerging target for diseases of ageing. Nat Rev Drug Discov 16, 718–735.

[2] Demaria, M., Ohtani, N., Youssef, S. A., Rodier, F., Toussaint, W., Mitchell, J. R., & Hoeijmakers, J. H. 2014. An essential role for senescent cells in optimal wound healing through secretion of PDGF-AA. Developmental cell, 31(6), 722-733.

[3] Hayflick, L. & Moorhead, P. S. 1961. The serial cultivation of human diploid cell strains. Exp. Cell Res. 25, 585–621.

[4] Lluc Mosteiro, Cristina Pantoja, Noelia Alcazar et al. 2016. Tissue damage and senescence provide critical signals for cellular reprogramming in vivo. Science, 354(6315).

[5] Tominaga, K. 2015. The emerging role of senescent cells in tissue homeostasis and pathophysiology. Pathobiology of Aging & Age-Related Diseases, 5.

[6] van Deursen, J. M. 2014. The role of senescent cells in ageing. Nature, 509(7501), 439-446.

[7] Wissler Gerdes EO, Zhu Y, Tchkonia T, Kirkland JL. 2020. Discovery, development, and future application of senolytics: theories and predictions. FEBS J.; 287 (12):2418-2427

Putera Rakhmat
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar