Hewan Berdarah Panas: Mitos Populer Sains

Hewan Berdarah Panas dan Dingin: Mitos Populer Sains
'Hewan berdarah panas' dan 'hewan berdarah dingin' cukup populer digunakan dan dipahami sebagai istilah saintifik. Padahal, ini merupakan miskonsepsi yang telah menjadi hal yang lumrah pada masyarakat.

Istilah ‘berdarah panas’ dan ‘berdarah dingin’ pun sebenarnya sudah tidak lagi dipergunakan di dunia sains. Alasanya karena ditakutkan akan menyebabkan kesalahpahaman. Sebagai contoh, ‘hewan berdarah panas’ tidak selalu memiliki suhu darah yang panas, bahkan pada suatu waktu bisa lebih dingin daripada yang disebut ‘hewan berdarah dingin’

‘Hewan berdarah panas’ biasanya merujuk kepada kelompok hewan yang merupakan endotermik. Ia merupakan kelompok hewan yang dapat menghasilkan, menggunakan, dan mempertahankan panas dari tubuhnya melalui aktivitas metabolismenya sebagai sumber energi termal. Hewan endotermik merupakan regulator panas. Sementara ‘hewan berdarah dingin’ merujuk kepada kelompok hewan ektotermik atau yang menggunakan panas dari lingkungan, atau konformer panas.

blank
Paus Bungkuk, Hewan Endotermik

Beberapa istilah juga sering dikaitkan dengan ‘pengelompokan’ darah panas dan dingin. Homeoterm dan poikiloterm sebenarnya hanyalah istilah untuk stabilitas suhu tubuh, bukan suhu tubuh itu sendiri.

Endoterm dan Ektoterm

Mayoritas mamalia dan burung merupakan contoh hewan endotermik. Mereka menghasilkan panas dari tubuhnya melalui berbagai mekanisme. Untuk meregulasi suhunya, hewan endodermik memiliki acuan yang disebut titik setelan, yaitu titik yang dijadikan sebagai dasar keseimbangan–atau homeostasis–suhu hewan. Jika suhu tubuh melebihi titik setelan, maka tubuh akan melakukan mekanisme yang akan menyebabkan suhu tubuh menurun atau mendingin, dan sebaliknya. Mereka harus tetap menjaga suhu mereka agar tetap dapat memberlangsungkan kinerja dan mekanisme selulernya.

Sementara, kebanyakan reptil, ikan, dan amphibi merupakan ektoterm. Ektoterm–dibandingkan endoderm yang memanen panas dari dalam tubuh–mengambil panas dari lingkungan untuk mengatur suhunya. Menjadi ektoterm cukup menguntungkan di satu sisi, karena dibandingkan endoderm, ektoderm menggunakan energi yang jauh lebih sedikit karena tidak perlu dihabiskan untuk regulasi suhu. Dan daripada memperoleh panas dengan cara fisiologis, mereka lebih menggunakan perilaku, seperti berjemur.

blank
Kadal ekor-belang, hewan ektotermik

Tidak ada batas yang resmi atau tegas dari kedua kelompok ini. Beberapa hewan memiliki kedua mode ini sekaligus. Hewan seperti ini biasanya dapat menggunakan panas dari tubuhnya–seperti endoderm, namun di waktu tertentu mereka berjemur–seperti ektoterm.

Baca juga:

Mitos Suhu Darah Hewan

Pembagian endoterm dan ektoterm tidak ada hubungannya sama sekali dengan suhu darah. Ia hanya berdasar kepada sumber energi panas untuk kerja selulernya. Istilah ‘darah panas’ dan ‘darah dingin’ memang seharusnya tidak dipakai lagi. Namun mungkin perkataan ‘menghasilkan panas sendiri’ menyebabkan kelompok hewan endotermik diberikan istilah ‘berdarah panas’, dan sebaliknya untuk kelompok lainnya.

Suhu darah maupun suhu tubuh difaktorkan dengan variabel yang lebih luas dari sekadar asal sumber panasnya. Endoterm memiliki suhu yang berfluktuasi manakala kondisi tertentu menyebabkan titik setelan berubah. Suhu tubuh ektoterm menyesuaikan dengan suhu habitatnya. Misalkan jika habitat suatu ektoterm adalah di gurun yang panas, suhu hewan tersebut bisa jauh lebih tinggi bahkan dari endoterm.

Referensi:

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

1 tanggapan pada “Hewan Berdarah Panas: Mitos Populer Sains”

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar