Zeno dan Stoikisme

      Hallo teman-teman semua apa kabar? Semoga baik-baik saja tentunya. Kembali lagi Bersama penulis yang pada kesempatan kali ini akan membahas tentang salah satu madzhab filsafat dan pendirinya.

            Sebelum itu kita harus mengetahui apa definisi dari filsafat yaitu induk segala ilmu (the mother of science). Berdasarkan sejarah kelahirannya, filsafat mula-mula berfungsi sebagai induk ilmu pengetahuan. Artinya, sebelum ilmu-ilmu sebagaimana yang kita kenal sekarang, yang didapatkan dari metode ilmiah, segala macam persoalan manusia dijawab dengan cara filosofis.

Berbagai problem manusia itu misalnya di bidang politik, hukum, ekonomi, Negara, kesehatan, dan lain-lain. Karena perkembangan keadaan, banyak persoalan kehidupan manusia yang tidak cukup hanya dijawab secara filosofis (filsafat). Oleh karena itu, lahirlah ilmu yang didapatkan melalui penelitian atau riset (research) yang dikenal dengan metode ilmiah (scientific method).    

            Filsafat tentu saja banyak memiliki aliran atau madzhab,tetapi penulis hanya akan membahas salah satunya saja yaitu stoic. Mengapa penulis memilih aliran ini tentu saja karena stoic termasuk aliran yang lebih mudah untuk dipahami apabila dibandingkan dengan aliran filsafat yang lainnya. Stoikisme lahir di era setelah filsafat Aristoteles berkembang, ia dilahirkan dari pemikiran filosof zeno of citium (336-265 SM). Sebelum mengenal lebih jauh pemikiran beliau kita harus tau dulu biografi dari zeno of citium

Siapakah zeno of citium?

Zeno lahir di siprus pada tahun 336 SM dan wafat di Athena pada tahun 265 SM. Ia lahir berbarengan dengan alexander agung naik tahta di Macedonia. Ayahnya adalah pedagang yang sering bepergian ke Athena dan Zeno, tentu saja, mengambil profesi ayahnya.

Dimasa mudanya zeno tidak diketahui mengenal filsafat dari mana. Ada salah satu Riwayat yang mengatakan ia mengambil gulungan Xenophon memorabilia yang berisi dialog Socrates yang ditulis oleh Xenophon. Karena hal tersebut ia langsung mendalami filsafat karena terpukau oleh pemikiran Socrates. Zeno termasuk kedalam filosof pasca arsitoteles dan mendalami etika pemikiran di hellenistik

Zeno memulai studi filsafatnya dari crates of thebes yang merupakan salah satu filosof aliran sinis termasyhur di Athena kala itu. Aliran Sinis adalah yang tidak mempunyai cita-cita dan selalu menganggap orang lain lebih buruk karena itu ia cynic atau sinis.  Mereka menekankan bahwa kebahagiaan sejati merupakan ketidaktergantungan kepada sesuatu yang acak atau mengambang.  Maka kaum Sinis menolak kebahagiaan dari kekayaan, kekuatan, kesehatan, dan kepamoran. Selanjutnya belajar dengan Stilpo The Margarian dan terakhir menjadi murid Polemo.

Dari stilpo ia mendapatkan pelajaran bahwa kesalahan terbesar dalam hidup adalah mengatakan ‘ya’ terlalu cepat agar mendapatkan kehidupan yang tenang. Ia mendahului pernyataan Sartre bahwa mengatakan ‘tidak’ adalah pernyataan identitas pribadi seseorang sementara menyetujui permintaan orang lain mengurangi kepribadian individu.

Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu dari para gurunya sudah saatnya zeno mendirikan sebuah sekolah. Pada tahun 300 SM ia mendirikan sekolah yang diberi nama stoic.

Zeno mempunyai pemikiran tentang kehidupan sebagian rakyat Athena yang  menderita karena mereka menginginkan apa yang tidak mereka miliki atau takut kehilangan apa yang mereka cintai. Mengejar kesenangan dengan memperoleh kesenangan dan mempertahankan apa yang sudah diperoleh. Alih-alih kesenangan, seseorang harus mempertimbangkan alasan dan mengakui bahwa semua hal tidak kekal dan tanpa nilai abadi. Begitu seseorang memahami hal ini, ia akan mencapai keadaan apatis yang tercerahkan, seseorang akan dibebaskan dari “perbudakan terhadap hasrat seseorang”. Keyakinan ini adalah apa yang membuat sekolah tabah begitu populer kepada orang-orang Yunani saat itu dan, kemudian, kepada orang-orang Romawi: Zeno ‘ Ajaran menjernihkan pikiran dan memungkinkan seseorang untuk melihat melampaui apa yang dipikirkan seseorang yang ingin dia kenali semua yang benar-benar dibutuhkan seseorang – yang sebenarnya adalah diri.

Zeno mempunyai pemikiran lain tentang perbedaan manusia dengan hewan  yaitu hewan mengejar kesenangan karena mereka dikendalikan oleh naluri yang mendorong mereka untuk terdorong; tetapi manusia, karena mereka telah diberi alasan, harus diatur oleh pemikiran rasional dan hidup secara wajar. Mengejar kesenangan sebagai makna hidup, dan berpikir bahwa seseorang hidup dengan baik, berarti menjadi tidak lebih dari binatang atau, seperti yang dikatakan Shakespeare di Hamlet , “Apa itu manusia, jika pemimpinnya baik dan memasarkan waktunya. jadilah tidur dan makan? Seekor binatang buas, tidak lebih. Untuk menjadi manusia sejati, seseorang perlu berperilaku seperti manusia sejati yaitu rasional.

Ketika dia belajar di bawah Crates of Thebes , Zeno menulis Republiknya yang merupakan visi yang sangat berbeda dari soceity sempurna dari negara kota ideal seperti yang dibayangkan oleh Plato dalam karyanya dengan nama yang sama. Republik Zeno adalah utopia yang warganya mengklaim alam semesta sebagai rumah mereka dan di mana setiap orang hidup sesuai dengan hukum alam dan pemahaman rasional. Pria dan wanita benar-benar sama di mata masyarakat dan tidak ada ketidakadilan karena semua tindakan berasal dari akal. 

Baca juga:

Tidak ada hukum yang diperlukan karena tidak ada kejahatan dan, karena kebutuhan semua orang diurus dengan cara yang sama seperti hewan di alam, tidak ada keserakahan, tidak ada keserakahan atau kebencian dalam bentuk apa pun. Cinta mengatur semua hal dan semua orang yang tinggal di kosmopolis ini mengerti bahwa mereka memiliki apa yang mereka butuhkan dan inginkan untuk tidak lebih. Diperkirakan bahwa visi ini sebagian besar diilhami oleh kehidupan Crates dan istrinya, Hipparchia dari Marneia, yang hidup dalam kondisi yang sepenuhnya sama dengannya, mengenakan pakaian pria, dan mengajarkan filsafat kepada pria. Crates dan Hipparchia menjalani kehidupan mereka sesuai dengan kesederhanaan akal dan visi Zeno di Republik mencerminkan pandangan itu. 

Zeno tinggal dan mengajar di Athena sampai kematian menjemputnya. Dia meninggal, tampaknya karena bunuh diri, setelah tersandung keluar dari sekolah dan patah jari kakinya. Ketika beberapa periode bahagia dalam hidup seseorang berakhir, adalah tidak rasional untuk berpegang teguh pada masa lalu dan berharap itu akan kembali; tidak ada yang bisa membuat waktu itu datang lagi dan merindukan masa lalu yang mustahil hanya merampas salah satu dari masa kini. Zeno adalah seorang lelaki tua ketika dia dikatakan telah mematahkan jari kakinya dan, menyadari bahwa dia telah menjalani kehidupan yang baik dan bermakna di Athena, dia mungkin hanya menyimpulkan bahwa sudah waktunya baginya untuk pindah ke sesuatu yang lain.

Dibagian kedua penulis akan menuliskan tentang pemikiran beliau yaitu stoikisme

REFERENSI

Teuku Rizky Ramadhan
Latest posts by Teuku Rizky Ramadhan (see all)
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar