BAHAYA! Jangan Tinggalkan Jejak Karbon Sembarangan

Apa itu jejak karbon?

Sudah pastinya semua makhluk hidup di bumi ini akan melakukan segala aktivitas yang dirasa dibutuhkan dan diinginkan. Tetapi segala aktivitas makhluk hidup tentunya akan meninggalkan jejak, yaitu yang biasa disebut sebagai jejak karbon.
Jejak karbon adalah total dari segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap makhluk hidup maupun kelompok dalam hal emisi karbon yang dikeluarkannya.

Semakin banyak aktivitas dan populasi makhluk hidup, maka semakin banyak pula jejak karbon yang dihasilkannya. Bahkan semua benda seperti baju, peralatan elektronik, makanan, dan lain sebagainya punya jejak karbon sendiri-sendiri, yaitu pada proses pembuatannya.
Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) tentu disuplai dari adanya jejak karbon ini.
Semakin bertambah tahun, emisi terus meningkat dan terus memanaskan bumi ini.

Pengaruhnya Terhadap Bumi

Jejak karbon sangat mempengaruhi perubahan iklim bumi. Pemanasan global saat ini sudah mengkhawatirkan jika melihat keadaan bumi terutama daerah kutub yang dapat terihat dan menjadi bukti nyatanya.
Es di lautan lambat laun mulai mencair, dataran yang dulunya diselimuti es perlahan menghilang.

Es Mencair

Sebuah satelit dari Perusahaan Planet Earth pada tanggal 3 Agustus 2020 merekam Dataran Es Milne yang ada di Arktika sedang terbelah. Dataran es itu adalah glasier yang mengalir dari darat ke laut. Hal ini menunjukan kondisi iklim akan terus memburuk.

blank
Gambar 1 Foto radar pada 6 Agustus dari Satelit Sentinel-1 Uni Eropa menunjukan pecahan dataran es mengapung menjauh. (Sumber: bbc Indonesia)

Kepunahan beruang kutub

Walau hanya perlahan, banyak bukti lain yang sudah ditemukan terkait mencairnya es kutub. Emisi gas yang disuplai oleh jejak karbon semakin besar, alasan itu dikarenakan banyaknya aktivitas-aktivitas penghuni bumi.
Dampak yang dihasilkannyapun terus berpengaruh terhadap kehidupan sekitar, layaknya adanya resonansi yang terjadi.
Beruang kutub contohnya, beruang kutub diprediksi akan punah kurang lebih tahun 2100 jika penyusutan es terus berlanjut. Hewan karnivora tersebut sangat bergantung pada lapisan es untuk memburu mangsanya demi asupan lemak di tubuhnya. Ketika es pecah dan tidak adanya gugusan es untuk sembunyi, menyulitkan mereka dalam berburu mangsa terutama anjing laut yang hidupnya di perairan. Dalam sekenario emisi gas rumah kaca, yang mampu menyusutkan lapisan es sampai saat ini, diprediksi oleh peneliti bahwa beruang kutub akan punah pada tahun 2100 jika perubahan iklim terus berlangsung tanpa henti.

blank
Gambar 2 Beruang kutub kesulitan mencari makan karena Es laut di Arktika menurun dari ketebalan maupun luasan. (Sumber: Katharina M Miller, bbc Indonesia)

Pemanasan global

Pelepasan gas rumah kaca akibat suplai jejak karbon yang banyak mendorong pemanasan lebih besar. Suhu yang tinggi akibat pemanasan global akan diperparah dengan tingkat kebakaran hutan yang tinggi. Tak hanya daerah tropis, suhu di Lingkar Arktika besar kemungkinan akan mencapai rekor tertinggi dibanding tahun sebelumnya. Cuaca panas pada musim panas sudah sering terjadi, namun suhu atau temperatur pada bulan terakhir mencapai batas tidak normal. Catatan mengenai temperatur di Lingkar Arktika masih harus diverifikasi, dibanding suhu rata-rata maksimum harian pada bulan Juni tampaknya suhu sekarang lebih tinggi 18° celsius.
Pada awal Juni, sebagian Siberia mencatat 30° celsius. Bulan sebelumnya, di Khatanga, Rusia-terletak di Lingkar Arktika sebelah 72 derajat utara mencatat rekor suhu bulan Mei sebesar 25,4° celsius.

blank
Gambar 3 Suhu di daerah utara meningkat lebih tinggi dari kawasan lain – sekitar 4° celsius. (Sumber: NASA-GISS)

Penanggulangan

Pemanasan global yang terjadi sampai sekarang ini, adalah yang terpanas dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin akan terus memanas pada tahun-tahun berikutnya jika jejak karbon untuk suplai gas rumah kaca semakin besar. Memang tak ada cara mengurangi percepatan pelepasan emisi gas rumah kaca jika masyarakat ataupun penduduk bumi merasa tenang saja dalam kasus ini. Walaupun sekarang ini sedang lagi ditekan sedikit dan sementara akibat adanya lockdown yang diterapkan oleh sebagian besar negara, tentunya jejak karbon akan terus dihasilkan dan emisi akan bertambah.

Baca juga:

Akan tetapi menjadi sadar akan hal-hal kecil disekitar adalah kunci utama menyusutkan laju penambahan jejak karbon. Mengurangi pemakaian listrik, menanam pohon, mengurangi aktivitas bermotor dan lain sebagainya bakal memberikan dampak kecil terhadap penurunan emisi gas rumah kaca jika hanya dilakukan satu orang saja.
Tetapi jika dilakukan oleh semua penduduk bumi, niscaya prediksi kepunahan pada 2100 akan terbantahkan. Mewujudkannya memang sulit jika masih saja abai terhadap lingkungan sekitar.
Penggalakan go green oleh banyak komunitas dan penghematan energi sudah sering digemborkan oleh pemerintah maupun mereka yang sadar.
Sebagai penghuni bumi juga, manusia sebagai lakon utama diwajibkan juga sadar walau kecil untuk bisa mengurangi laju bertambahnya emisi gas rumah kaca.

Kasian juga jika beruang kutub punah dikarenakan es mencair. Tidak hanya beruang kutub tentunya, tetapi seluruh kehidupan di bumi akan lenyap ditelan oleh banjir akibat lelehan es kutub. Oleh karena itu, manusia diwajibkan untuk seefektif mungkin dalam beraktivitas sehingga kandungan emisi karbon dapat ditekan lebih banyak.

Referensi:

  1. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53746676?at_medium=custom7&at_custom2=facebook_page&at_custom4=927E5A0C-DC42-11EA-AE18-78C7923C408C&at_custom3=BBC+Indonesia&at_campaign=64&at_custom1=%5Bpost+type%5D tanggal akses 13 Agustus 2020
  2. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53481958 tanggal akses 12 Agustus 2020
  3. https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53161688 tanggal akses 13 Agustus 2020

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

1 tanggapan pada “BAHAYA! Jangan Tinggalkan Jejak Karbon Sembarangan”

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar