Mengenal Spesies Burung Pemangsa (Raptor) Selain Elang

Burung menempati hampir semua tingkat piramida makanan mulai dari konsumen primer, konsumen sekunder, konsumen puncak sampai pemakan bangkai (scavenger). Dua peran terakhir menjadi perhatian konservasi burung karena rentan sekali ketika terjadi kerusakan ekosistem. Bioakumalasi akan terjadi ketika polutan seperti bahan kimia maupun logam berat terkonsentrasi di konsumen puncak atau scavenger. Sebagai contoh, penggunaan masif DDT pada pertanian Amerika Serikat membuat penurunan drastis populasi burung pemangsa seperti Elang [1].

Secara terminologi burung pemangsa dalam bahasa kerennya disebut Raptor atau Bird of Preys. Burung raptor dicirikan dengan sebagai predator makhluk hidup lain (karnivora), penglihatan tajam, cakar yang kuat dan tajam, dan paruh runcing dan tajam. Tidak salah, jika kita langsung menyebut elang sebagai contoh burung pemangsa atau raptor. Namun, burung pemangsa ternyata tidak hanya elang lho. Mengikuti MacCluree dkk [2] dalam artikelnya di Jurnal Raptor Research, berikut kelompok burung yang termasuk sebagai burung pemangsa atau raptor:

Elang (Ordo Accipitriformes)

Elang sudah jelas adalah salah satu contoh paling mudah untuk menyebut burung pemangsa. Secara taksonomi Elang ada dua suku yaitu Pandionidae dan Accipitridae. Pandionidae terdiri dari elang tiram (Osprey) yang memiliki kebiasaan menyelam berburu ikan di dalam air. Untuk suku Accipitridae lebih beragam mulai dari Elang dan Rajawali yang memiliki morfologi seperti elang yang sering kita ketahui. Ada juga Sikep Madu dimana burung pemangsa yang unik karena juga memakan sarang madu. Selain itu, ada juga Elangalap yang secara morfologi perpaduan antara elang dan alap-alap. Secara umum, elang memiliki paruh berkait, cakar tajam dan kemampuan terbang tanpa mengepakan sayap dengan memanfaatkan energi panas (soaring). Elang paling terkenal di antara kita mungkin Elang Jawa Nisaetus bartelsi yang dijadikan simbol negara Indonesia atau Elang Bondol Haliastur indus yang dijadikan maskot Provinsi DKI Jakarta.

Alap-alap (Ordo Falconiformes)

Pembeda alap-alap dari elang dilihat dari ukuranya yang lebih kecil ramping dan kepalanya yang lebih bulat. Alap-alap terkenal dengan kemampuan terbang dan menyambar mangsa dengan secepat kilat. Uniknya ada alap-alap yang ukuranya kecil hanya sebesar 15 cm namun memangsa ukuran yang lebih besar. Kejadian ini terekam di Taman Nasional Baluran, seekor Alap-alap Capung Microhierax fringillarius memangsa Pelanduk Topi-hitam Pellorneum capistratum yang berukuran lebih besar (17 cm) [3]. Paling terkenal tentu Alap-alap Kawah Falco peregrinus terkenal sebagai burung paling cepat dengan kecepatan terbang mencapai 390 km/jam. Selain alap-alap, ada juga jenis Caracara, sejenis burung pemangsa Ordo Falconiformes yang hanya dijumpai di Benua Amerika.

Burung Nasar (Ordo Cathartiformes dan Accipitriformes)

Burung nasar atau juga burung hering atau lebih jelas lagi disebut burung bangkai. Dinamakan demikian karena perilakunya sebagai pemakan bangkai (scavenger). Memiliki fungsi vital mencegah penyebaran wabah karena kuman yang ada dibangkai akan mati oleh enzim yang sangat asam di dalam perut burung hering (pH=1) [4].  Akan tetapi, kenyataan sekarang banyak burung hering terancam karena keracunan akibat akumulasi polutan kimia di bangkai hewan.

Burung nasar terbagi menjadi dua jenis berdasarkan sebaran geografis, yaitu Old World Vultures dan New World Vultures. Old World Vultures tersebar di Asia, Eropa dan Afrika yang lebih berkerabat dengan Elang sehingga masuk Ordo Accipitriformes. Sedangkan, New World Vultures tersebar di Amerika Utara dan Amerika Selatan yang lebih berkerabat dengan bangau, masuk dalam Ordo Cathartiformes. Indonesia bukan termasuk sebaran alami burung ini sehingga kurang dikenal masyarakat. Walaupun demikian, pernah tercatat burung hering Himalaya (Gyps himalayensis) sebagai jenis vagrant melintasi pulau Bintan, Sumatra [4].

Burung Hantu (Ordo Strigiformes)

Bagi penggemar film Harry Potter, burung ini sudah begitu akrab dan ternyata termasuk burung pemangsa juga. Bahkan sampai berkorelasi dengan penurunan populasi burung hantu di alam karena demam film Harry Potter. Berbeda dengan yang lain, burung hantu termasuk pemangsa yang aktif berburu pada malam hari (nocturnal). Salah satu burung hantu yaitu Serak Jawa Tyto alba menjadi sahabat petani karena memangsa tikus sebagai hama pertanian. Selain Serak yang masuk Suku Tytonidae, ada juga burung hantu termasuk suku Strigidae bervariasi ada Beluk Bubo, Beluk-watu Glaucidium, Pungguk Ninox, Celepuk Otus, dan Kukuk Strix.

Burung Sekretaris (Ordo Accipitriformes)

Burung ini mungkin kurang kita kenal karena endemik di Benua Afrika. Berkaki jenjang, berwarna dominan hitam dan putih, bermuka oranye serta memiliki semacam jambul seperti pena seolah seperti sekretaris yang suka menyelipkan pena di telinga. Masih berkerabat dengan elang namun berbeda suku yaitu Sagittariidae. Memiliki nama ilmiah Sagitarius serpentarius memiliki beragam mangsa mulai dari serangga, reptil, mamalia kecil, kepiting dan anakan burung. Burung sekretaris berburu tidak dengan menyabar dengan terbang melainkan berjalan di atas tanah sambil menyisir mangsa.

Seriema (Ordo Cariamiformes)

Hampir serupa dengan Burung Sekretaris, Burung Seriema juga kurang dikenal karena endemik Amerika Latin. Ciri khas burung inia dalah berkaki jenjang dan memiliki jambul khas di atas dekat paruh. Burung ini hanya ada dua jenis di dunia yaitu Burung Seriema Kaki-merah Cariama cristata dan Burung Seriema Kaki-hitam Chunga burmeisteri. Mangsa burung ini juga bervariasi mulai dari serangga, ular, kadal, kodok, anakan burung dan hewan pengerat.

Perdebatan

Konsep burung pemangsa atau raptor ini masih banyak terdapat perbedaan walaupun sudah ada penciri yang jelas. Burung-burung petengger (Passiformes) seperti Gagak dan Bentet dan Burung Laut seperti Skua bisa dianggap burung pemangsa karena memiliki perilaku memangsa verterbrata. Sebaliknya, burung nasar Gypohierax angolensis seharusnya bukan termasuk burung pemangsa karena lebih banyak memakan buah (frugivora). Konsep ini kemudian diperjelas lagi selain dari perilaku ekologi dan morfologi, raptor juga didasarkan pada garis keturunan burung pemangsa darat dari nenek moyang sama [2]. Sehingga, burung pemangsa hanya terdiri dari Ordo Accipitriformes, Cathartiformes, Strigiformes, Cariamiformes, dan Falconiformes. Lebih jelasnya bisa dilihat dari dendrogram berikut:

Baca juga:
Dendogram burung pemirsa
Dendogram kelompok burung pemangsa berasal dari nenek moyang yang sama (Sumber gambar: MacCluree dkk [2])

Referensi

id.wikipedia.com

[1] Reece, JB, LA Urry, ML Chain. SA Wasserman, PV Minorsky, RB Jackson, 2011. Campbell biology 9th Edition. Benjamin Cumming.

[2] McClure, C. J., Schulwitz, S. E., Anderson, D. L., Robinson, B. W., Mojica, E. K., Therrien, J. F., & Johnson, J. (2019). Commentary: Defining Raptors and Birds of Prey. Journal of Raptor Research53(4), 419-430.

[3] Setiyono, J., Diniarsih, S., Noske, R. A., Budi, N. S., Oscilata, E. N., & Amna, M. M. (2014). Large prey for a small predator: Black-thighed Falconet Microhierax fringillarius preying on Black-capped Babbler Pellorneum capistratum. Kukila18(1), 32-36.

[4] Sekercioglu, H.C. 2006. Increasing awareness of avian ecological function. TRENDS in Ecology and Evolution, 21(8): 664-671.

[5] Li, Y. D., & Kasorndorkbua, C. (2008). The status of the himalayan griffon Gyps himalayensis in South-east Asia. Forktail24, 57-62.

Emiliana Ditya
Follow me
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar