Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Dapatkah Kurangi Hujan Jabodetabek?

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Dapatkah Kurangi Hujan Jabodetabek?

Gambar 1. Proses TMC Dengan Menggunakan Pesawat

Gambar 1. Proses Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan Menggunakan Pesawat

 

Musim hujan di awal tahun 2020 ini memang cukup menghawatirkan. Cuaca ekstrem ditambah banjir disana sini membuat masyarakat Indonesia dilanda keresahan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa wilayah Jabodetabek dan sekitarnya berpotensi mengalami hujan lebat pada 17 Januari 2020 sampai dengan 23 Januari 2020.

Menyikapi prediksi tersebut, sejumlah upaya dilakukan. Diantaranya adalah dengan menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang diprakarsai oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Sebelum membahas lebih lanjut mengenai upaya TMC untuk mengurangi hujan di wilayah Jabodetabek, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan TMC.

Menurut Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT, Trihandoko Seto, TMC adalah sebuah pemanfaatan teknologi untuk inisiasi ke dalam awan. Sehingga proses yang terjadi di awan lebih cepat dibandingkan dengan proses secara alami. Hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan,” papar pria yang akrab dipanggil Seto tersebut.

Pada dasarnya, TMC bukanlah hal baru di dunia. Teknologi ini sudah dipakai oleh lebih dari 60 negara untuk berbagai kepentingan. Sejarah modifikasi cuaca di dunia diawali pada tahun 1946. Pada saat itu, Vincent Schaefer dan Irving Langmuir melihat fenomena terbentuknya kristal es dalam lemari pendingin. Pada waktu yang berdekatan, Schaever secara tidak sengaja melihat hujan yang berasal dari nafasnya waktu membuka lemari es. Pada tahun 1947, Bernard Vonnegut melihat fenomena terjadinya deposit es pada kristal Perak Iodida (Agl). Vonnegut tanpa disengaja melihat titik air di udara ketika sebuah pesawat terbang membuat tulisan asap berupa nama sebuah merk minuman. Kedua penemuan penting ini merupakan tonggak dimulainya perkembangan modifikasi cuaca di dunia.

Kegiatan modifikasi cuaca di Indonesia dikaji dan diuji pertama kali pada tahun 1977 atas gagasan Presiden Soeharto (Presiden RI saat itu). Kegiatan ini difasilitasi oleh Prof.Dr.Ing. BJ Habibie melalui Advance Teknologi yang merupakan cikal bakal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dibawah asistensi Prof. Devakul dari Thailand. Pada tahun 1985 dibentuk satu unit di BPPT yang bernama Unit Pelayanan Teknis Hujan Buatan (UPT-HB). Unit ini berfungsi memberikan pelayanan dalam meningkatkan intensitas curah hujan ksususnya untuk menjaga ketersediaan air pada waduk yang berfungsi sebagai irigasi dan PLTA.

Dalam pelaksanaannya, selama ini TMC banyak berfungsi untuk menambah curah hujan. Pada fungsi ini bahan semai yang dimasukkan ke dalam awan bersifat higroskopis dengan ukuran 1-100 mikro. Bahan semai yang berukuran kurang dari 10 µ berfungsi untuk meningkatkan energi awan. Ini berfungsi menambah suplai uap air yang masuk ke dalam sistem awan. Sedangkan bahan semai yang berukuran lebih dari 10 µ berfungsi mempercepat proses-proses di dalam awan sehingga mempercepat turunnya hujan. Dalam usaha menambah curah hujan, awan yang disemai adalah awan yang diperkirakan akan turun menjadi hujan di daerah yang memerlukan tambahan hujan.

Nah, bagaimana dengan proses TMC untuk mengurangi hujan di wilayah Jabodetabek? Berdasarkan konsep TMC untuk menambah  curah hujan, dengan sedikit modifikasi, teknologi  ini juga bisa digunakan untuk mengantisipasi (atau bisa diartikan mencegah) terjadinya banjir (akibat  curah hujan tinggi). Modifikasi yang dilakukan yaitu dengan menggunakan bahan semai higroskopis dengan ukuran 30-100 µ. Dengan cara ini, penyemaian awan hanya bertujuan untuk mempercepat terjadinya hujan (jumping process). Selain itu perlu dilakukan pengamatan terhadap awan. Awan-awan yang disemai adalah awan-awan yang masih berada di atas laut dan diperkirakan (dengan mengukur  kecepatan angin dan posisi awan) dalam tiga jam ke depan masih berada di atas laut. Dengan cara ini, awan-awan yang disemai akan menghasilkan hujan dalam waktu kurang dari dua jam akibat mekanisme (jumping process).

Pada kasus antisipasi banjir di wilayah Jabodetabek, awan yang disemai berada di wilayah Laut Jawa, Selat Sunda, dan Ujung Kulon. Hal ini bertujuan agar hujan turun sebelum memasuki wilayah Jabodetabek. Dalam sekali pengaplikasiannya, proses ini umumnya menghabiskan 3000 karung garam Perak Iodida seberat 4 ton. Operasi TMC ini telah dilakukan mulai 3 Januari 2020. Hingga Sabtu, 18 Januari 2020, operasi TMC telah dilakukan sebanyak 44 sorti. Dengan total jam terbang lebih dari 95 jam. Total bahan semai yang digunakan lebih dari 73 ton, dengan ketinggian penyemaian 9.000-12.000 kaki. Operasi TMC ini didukung dua unit pesawat TNI-AU, yakni pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4 Malang.

“Dari proses ini, berdasarkan data posko TMC, operasi ini telah mampu mengurangi curah hujan wilayah Jabodetabek sekitar 44% dari prakiraan. Hasil operasi ini juga menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek relatif lebih kecil daripada curah hujan di sekitarnya,” kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TMC BPPT), Tri Handoko Seto, dalam keterangan pers, Senin (13/1/2019).

 

Referensi :

[1] Adam. 2020. Begini Cara Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT untuk Atasi Banjir. Tersedia di https://www.itworks.id/24280/begini-cara-kerja-teknologi-modifikasi-cuaca-bppt-untuk-atasi-banjir.html, diakses Januari 2020.

[2] Damarjati, Danu. 2020. BPPT : Modifikasi Cuaca Berhasil Kurangi Hujan Jabodetabek Hingga 44%. Tersedia di https://news.detik.com/berita/d-4864990/bppt-modifikasi-cuaca-berhasil-kurangi-hujan-jabodetabek-hingga-44, diakses Januari 2020.

[3] Nugroho, Herwan. 2019. Teknologi Modifikasi Cuaca, Bukan Membuat Hujan? Ini Penjelasan BPPT. Tersedia di https://news.trubus.id/baca/31914/teknologi-modifikasi-cuaca-bukan-membuat-hujan-ini-penjelasan-bppt, diakses Januari 2020.

[4] Seto, T.H. 2008. Antisipasi Banjir dan TMC. Tersedia di https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teknologi-modifikasi-cuaca/, diakses Januari 2020.

 

Baca :

https://warstek.com/2020/01/20/berkaca-dari-film-mission-mangal-mungkinkah-indonesia-menggapai-mars/

https://warstek.com/2019/11/28/lisa/

 

Berkaca Dari Film Mission Mangal, Mungkinkah Indonesia Menggapai Mars?

 

Mission Mangal dirilis pada 16 Agustus 2019 mengisahkan tentang organisasi penelitian luar angkasa India, Indian Space and Research Organization (ISRO) yang bertekad meluncurkan satelit ke orbit planet Mars. Dengan biaya paling murah, India berhasil menjadi negara Asia pertama yang berhasil mencapai orbit mars.

Dari sebuah artikel dikatakan bahwa biaya pembuatan roket dan satelit atau disebut dengan Mars Orbiter Mission (MOM) ini bahkan lebih murah dari biaya pembuatan film Hollywood, Gravity. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada 24 September 2014, yang pada waktu itu sangat mendebarkan bagi para ilmuwan India yang terlibat. Diangkat dari kejadian nyata, Mission Mangal menjadi perhatian tersendiri bagi para pemerhati luar angkasa. Film tersebut menggambarkan besarnya perjuangan para ilmuwan India dengan kendala dan keterbatasan yang mereka miliki.

Berkaca dari film tersebut, mungkinkah Indonesia di kemudian hari akan berhasil menggapai Mars? Berkumpul dengan negara-negara lain untuk meneliti mineral atau komponen lain yang ada di Mars? Menjawab pertanyaan tersebut, mari kita analisis perkembangan roket dan satelit Indonesia.

Perkembangan teknologi roket di Indonesia diawali pada 27 Agustus 1963 di pantai Pakenawon, Sanden, Bantul. Roket setinggi 900 mm dengan diameter 76 mm berhasil dibuat dan diluncurkan oleh sejumlah mahasiswa teknik Universitas Gajah Mada (UGM). Roket yang diluncurkan tersebut dinamakan Gamma-III, sementara Gamma-I dan II peluncurannya tidak dipublikasikan karena masih terdapat banyak kekurangan.

Roket Gamma-IV dan IV berhasil diluncurkan pada 1 Maret 1964. Roket Gamma-IV merupakan roket bertingkat, yang panjang keseluruhannya mencapai 4,5 meter dengan berat 65 kilogram. Bahan bakar yang digunakan adalah tipe Z 2048. Gama IV bermuatan tikus putih, kamera, sensor suhu, dan sensor tekanan serta dilengkapi parasut. Ketinggian yang dicapai sejauh 11 mil atau 20 kilometer. Sedangkan Gama V adalah roket satu tingkat berbahan bakar padat tipe APT 71. Sayangnya, roket ini meledak pada saat diluncurkan.

Tiga kali peluncuran, roket Gamma cukup memikat pemerintah Indonesia kala itu. Presiden Soekarno dengan lantang mengumumkan bahwa Indonesia sudah bisa membuat roket. Suasana panas konfrontasi dengan Malaysia ketika itu membuat banyak instansi lain ikut mengembangkan roket. Tidak ketinggalan mahasiswa dan keluarga besar Institut Teknologi Bandung (ITB), yang bekerja sama dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Setelah peristiwa itu, kemudian lahirlah roket Ganesha, yang konon ”menjiplak” roket Leska buatan Uni Soviet (Rusia). Pada saat itu, tak hanya mahasiswa yang keranjingan roket. Pemerintah, lewat AURI, Pabrik Senjata dan Mesiu (sekarang PT Pindad), ITB, dan UGM, juga mengembangkan roket. Begitu antusiasnya masyarakat dengan roket pada waktu itu, maka lahirlah PRIMA (Proyek Roket Ilmiah Militer Awal) 1. Dari proyek ini lahirlah roket Kartika 1, yang berdiameter 250 milimeter dan berbahan bakar propelan double base. Kartika 1 diluncurkan pada 14 Agustus 1964.

Bagaimana dengan perkembangan roket saat ini? Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah menargetkan roket peluncur satelit khususnya untuk ketinggian Low Earth Orbit (LEO), sekitar 620 km pada tahun 2039. Untuk mencapai target tersebut butuh dukungan dan kerjasama dari negara lain khususnya dalam transfer teknologi. Akan sangat sulit bagi perkembangan teknologi roket jika tidak ada transfer teknologi dari negara yang telah memiliki pengalaman dengan teknologi roket itu sendiri. Mengingat kegunaan roket yang memiliki dual fungsi, yaitu sipil dan militer, maka cukup sulit bagi LAPAN untuk bekerja sama dalam pembuatan roket ini.

 

Gambar 1. Road map satelit dan roket LAPAN, Indonesia

 

Untuk meningkatkan terus kapabilitas para ilmuwan di bidang teknologi roket. Saat ini LAPAN telah berhasil meluncurkan roket balistik dengan panjang 7,1 m dengan diameter 0.45 m yang dinamakan Rhan-450 dan roket sonda (roket untuk penelitian atmosfer) dengan panjang 6,11 mm dengan diameter 450 mm yang dinamakan Rx-450. Dalam road mapnya, penelitian dalam bidang roket ini akan terus ditingkatkan agar roket tersebut memiliki peningkatan khususnya dari segi ketinggian yang dicapai.

Dari segi perkembangan teknologi satelit, Indonesia telah mengembangkan satelit skala mikro dengan ketinggian LEO sekitar 600 km. Saat ini Indonesia memiliki tiga satelit buatan sendiri yang telah mengorbit di angkasa, yaitu satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, satelit LAPAN-A2/ORARI, dan satelit LAPAN-A3/IPB. Selain itu, telah dikembangkan satelit LAPAN-A4 yang memuat kamera multispektral resolusi tinggi dan satelit LAPAN-A5 yang merupakan satelit komunikasi konstalasi.

Penelitian tentang satelit terus dikembangkan dari segi misi dan bus satelit. Sama halnya dengan penelitian pada teknologi roket, LAPAN juga telah memiliki road map perkembangan satelit Indonesia. Dimulai dengan satelit eksperimen berbasis remote sensing sampai dengan satelit remote sensing operasional yang ditargetkan akan meluncur pada tahun 2025.

Dari segi kemandirian, perkembangan teknologi roket dan satelit di Indonesia dapat dikatakan belum dapat benar-benar mandiri. Dari segi komponen dan manufaktur sangat sulit diperoleh dari Indonesia sendiri. Ditambah lagi pada teknologi roket sangat sulit dilakukan kerjasama dengan negara lain, karena sifat roket yang dapat digunakan dalam bidang militer.

Akan tetapi, menilik sejarah, Indonesia merupakan negara kedua Asia setelah Jepang yang mampu menerbangkan roket pada tahun 1963 (India dan China belum). Kini, saatnya bagi kita belajar dari sejarah bahwa Indonesia pernah unggul dibanding India. Maka, tak ada yang tidak mungkin. Di kemudian hari rasanya kita akan mampu menggapai Mars, asalkan semangat tahun 1963 itu terus berkobar dalam jiwa peneliti-peneliti Indonesia.

Referensi :

[1] Haryadi, Rohmat. 2007. Unjuk Digdaya Lewat Roket. Tersedia di http://arsip.gatra.com/2007-12-10/majalah/artikel.php?pil=23&id=110473, diakses pada Januari 2020.

[2] Pusat Teknologi Roket. 2017. Fokus Pengembangan Roket Peluncur Satelit. Tersedia di http://pustekroket.lapan.go.id/index.php/subblog/pages/2014/17/Fokus-Pengembangan-Roadmap-Roket-  Peluncur-Satelit, diakses pada Januari 2020.

[3]  Wikipedia. 2020. Mission Mangal. Tersedia di https://en.wikipedia.org/wiki/Mission_Mangal, diakses pada Januari 2020.

 

Baca : https://warstek.com/2019/11/28/lisa/

 

LISA, Si Cantik Penghasil Citra Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB

LISA, Si Cantik Penghasil Citra Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB

Berdasarkan artikel saya sebelumnya, saya telah menjelaskan secara global mengenai dua satelit karya anak bangsa yaitu satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3. Kali ini saya akan memperkenalkan primadona cantik yang merupakan salah satu muatan dari satelit LAPAN-A3 yang bernama LISA. Nama LISA sendiri diambil dari nama instrument asli itu sendiri (Line Imager) dan juga dari aplikasinya (for Space Application). Yup, LISA merupakan kependekan dari Line Imager Space Application dari kepanjangan tersebut maka lahirlah sebuah kamera yang diberi nama LISA, sungguh cantik bukan?

LISA merupakan muatan utama dari satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB yang sejak sebelum diluncurkan sudah diamanatkan untuk mengemban sebuah misi utama, yaitu untuk observasi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan memiliki misi utama sebagai pemantau wilayah NKRI, maka misi utama LISA dinamakan misi “NKRI Harga Mati”. Pada misi ini, LISA dituntut untuk menghasilkan citra seluruh wilayah NKRI sehingga terbentuklah peta wilayah NKRI secara utuh yang terbentuk dari citra satelit buatan anak bangsa.

Gambar 1. Tampilan satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB

LISA merupakan line scan camera, artinya kamera ini bekerja seperti layaknya sebuah scanner dimana untuk menghasilkan sebuah gambar kamera akan memindai garis per garis. Hal ini terlihat lebih rumit dibandingkan kamera pada umumnya (kamera matrix yang menghasilkan satu frame kamera dalam sekali pengambilan), akan tetapi jika kita ingin mengasilkan citra resolusi tinggi dengan objek memanjang, jenis kamera ini sangat cocok digunakan. Untuk mengetahui perbedaan kamera ini (line scan) dengan kamera pada umumnya (matrix kamera) dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2. Cara kerja Kamera Frame dengan Kamera Line Scan

Contohnya saja, dengan LISA kita bisa mengambil secara penuh panjang pulau Kalimantan (hanya panjangnya saja loh) sementara lebarnya 120 km. Angka ini dihasilkan dari resolusi LISA yaitu 15 m dikalikan dengan jumlah pixel dalam satu baris (8002 pixel). Dengan kemampuannya tersebut saat ini LISA hampir memenuhi misi “NKRI Harga Mati”, hasilnya sebagai berikut.

Gambar 3. Misi NKRI Harga Mati (LISA LAPAN-A3)

Selain menghasilkan citra wilayah NKRI, terkadang LISA juga mengambil wilayah luar NKRI sebagai targetnya dan hasilnya sebagai berikut.

Gambar 4. Citra LISA LAPAN-A3 (Kagoshima-Jepang)

Secara spektral LISA merupakan kamera multispektral. LISA memiliki empat kanal yaitu, kanal merah (red), hijau (green), biru (blue), dan NIR (Near Infra Red). Keberadaan kanal NIR pada LISA, sejak sebelum peluncuran diharapkan LISA dapat memiliki manfaat yang luas khususnya di bidang pertanian. Sampai saat ini LISA terbukti telah menghasilkan citra yang telah termanfaatkan cukup luas diantaranya untuk mengidentifikasi jenis tanaman dan jenis pertumbuhan tanaman (Setiawan et al., 2017) (Wijayanto, et al., 2018), monitoring wilayah kekeringan (Amalo et al., 2018), estimasi jumlah klorofil tanaman (Permatasari, et al., 2018), pemantauan lahan sawah (Raimadoya, et al., 2011) (Setiawan, et al., 2018), dan analisis perubahan penggunaan lahan (Nugroho, et al., 2018).

Spektral yang dimiliki LISA pada dasarnya mengacu pada muatan dari satelit Landsat 8 yaitu OLI (Operational Line Imager). LISA memiliki range panjang gelombang merah 630 – 700 nm, hijau 510 – 580 nm, biru 410 – 490 nm, dan NIR 770 – 900 nm. Sementara OLI memiliki range panjang gelombang merah 636 – 673 nm, hijau 533 – 590 nm, biru 452 – 512 nm, dan NIR 851 – 879 nm. Secara global tidak terlalu jauh berbeda ya, perbedaan nilai terjadi karena jenis sensor yang berbeda sehingga responsivitasnya berbeda. Dengan demikian mungkin bisa juga kita menganalogikan satelit LAPAN-A3 itu LANDSAT nya Indonesia.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3

Referensi :

[1] Amalo, L.F., et al., 2018. Drought Monitoring Using LISAT and LANDSAT 8 Satellite Imagery in Pakisjaya District, West Java, Paper presented at the 5th Sympoium on LAPAN-IPB Satellite, 2018.

[2] Permatasari, P.A., et al., 2018. Comparison of LISAT and LANDSAT Imagery for Estimating Chlorophyl-a, Paper presented at the 5th Sympoium on LAPAN-IPB Satellite, 2018.

[3] Raimadoya, M.A., et al., 2011. Analisis Misi dan Rancangan LAPAN-IPB Satellite (LISAT) untuk Pemantauan Kemandirian Pangan, Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, ISSN : 0853-4217.

[4] Setiawan, Y., et al., 2017. An Evaluation of The Use of LAPAN-A3/IPB Spectral Features to Identify Agricultural Land Use Types in Java, Paper presented at the 4th Sympoium on LAPAN-IPB Satellite, 2017.

[5] Wijayanto, A.K., et al., 2018. The Characteristic of Spectral Reflectance from LAPAN-IPB Satellite and Landsat 8 over Agricultural Area in Probolinggo, East Java, Paper presented at the 5th Sympoium on LAPAN-IPB Satellite, 2018.

[6] Teledyne Dalsa. 2014. Understanding Line Scan Camera Application. Tersedia di https://www.inspect-online.com/file/track/7757/1+&cd=3&hl=en&ct=clnk&gl=id. Diakses pada November 2019.

Stellarium, Belajar Astronomi Layaknya di Planetarium

Sebelum kita tahu mengenai Stellarium, mari kita mulai artikel ini dengan definisi Planetarium. Planetarium atau Plural Planetaria adalah gedung teater untuk memperagakan susunan bintang dan benda-benda langit.

Di dalam ruang pertunjukan terdapat sumber gambar berupa proyektor planetarium yang umumnya diletakkan di tengah ruangan. Proyektor dapat memperagakan pergerakan benda-benda langit sesuai dengan waktu dan lokasi.

Lahirnya planetarium itu sendiri didorong oleh keinginan dari diri manusia yang senantiasa mencari tahu dan memahami hakikat kehidupan ini. Hal-hal yang terjadi di sekelilingnya berusaha dipahami dengan akalnya.

Sejarah mencatat bahwa manusia sudah mulai memperhatikan benda-benda langit dengan karakternya masing-masing sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi. Pada waktu itu manusia telah mencoba membedakan benda-benda langit satu dengan lainnya. Manusia juga telah mengamati letak dan pergerakan benda-benda langit tersebut.

Dalam proses memahami itulah, kemudian sekitar abad 17 telah dikenal alat peraga yang disebut planetarium, stellarium, dan lunarium (sebuah alat yang digunakan untuk mengilustrasikan pergerakan dan fase bulan). Selain itu juga ada yang dinamakan dengan observatorium. Menurut wikipedia, observatorium adalah sebuah lokasi dengan perlengkapan yang diletakkan secara permanen agar dapat melihat langit dan peristiwa yang berhubungan dengan angkasa.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa planetarium dan observatorium, diantaranya yaitu di Taman Ismail Marzuki, di Lembang Bandung, di Museum Loka Jaya Crana Surabaya, dan di Taman Pintar Yogyakarta. Planetarium yang merupakan salah satu impian dari bung karno ini, sayangnya tidak lagi mendapatkan perhatian khusus. Sebut saja Planetarium Ismail Marzuki, perawatan terakhir dilakukan pada tahun 2015 sehingga tinggal menunggu waktu saja peralatan di planetarium rusak dimakan waktu.

Stellarium secara definisi merupakan peta tiga dimensi bintang-bintang, yang biasanya berpusat di Bumi. Stellarium merupakan perlengkapan umum di planetarium, yang merupakan gambaran dalam ruangan yang merepresentasikan sekitar 50 tahun cahaya.

Akan tetapi, stellarium telah dikembangkan dalam bentuk perangkat lunak (software) sehingga dapat digunakan oleh siapa pun, kapan pun, dimana pun. Pada websitenya (stellarium.org) dikatakan bahwa Stellarium merupakan free open source planetarium for your computer. Menggunakan software ini layaknya melihat langit dengan mata telanjang, binokular, maupun teleskop.

Intinya, Stellarium ini merupakan perangkat lunak yang memungkinkan komputer, PC, atau ponsel berubah menjadi planetarium virtual. Software ini dapat mengetahui posisi matahari, bulan, bintang, planet, dan juga bintang-bintang. Software ini juga dapat menggambarkan konstelasi dan dapat mensimulasikan fenomena astronomi, seperti hujan meteor ataupun gerhana matahari dan gerhana bulan.

Stellarium dapat digunakan sebagai alat pendidikan untuk pembelajaran langit malam maupun untuk tujuan observasi sebagai astronom amatir. Dengan software ini intinya kita dapat mempelajari tata surya dengan lebih leluasa dan lebih fleksibel tanpa harus berkunjung ke planetarium. Ditambah lagi versi Stellarium ini sangat variatif jenisnya, mulai dari berbasis installer biasa, versi web, sampai dalam bentuk mobile. So, dengan hanya bermodal ponsel/komputer dan proyektor kita bisa loh buat planetarium di rumah atau di ruangan yang kita sukai. So, silakan mencoba…

Referensi :

[1] Gates, Mattew. (2006). Stellarium User Guide. Tersedia di http://physics.mq.edu.au/astronomy/space2grow/software/stellarium/stellarium_user_guide-0.8.1-1.pdf. Diakses pada Oktober 2019.

[2] Wikipedia. (2017). Planetarium. Tersedia di https://id.wikipedia.org/wiki/Planetarium. Diakses pada Oktober 2019.

Oksigen, Si Biang Karat

Korosi pada badan mobil

 

Bagi kita, manusia dan juga makhluk hidup lainnya. Keberadaan oksigen sungguh tak ternilai harganya. Bagaimana tidak? Oksigen kita hirup dengan bebas tanpa membayar sepeser pun. Kecuali jika Tuhan dengan teganya meminta bayaran di akhir nafas kita nanti. InsyaAllah tidak. Begitulah baiknya Tuhan.

Sebanyak 21% udara yang tersebar di muka bumi ini terdiri dari oksigen. Begitu sepengetahuan saya ketika zaman belum berubah, belum begitu banyak pencemaran dan isu menipisnya lapisan ozon. Komposisi terbesar di urutan kedua setelah nitrogen. Begitu juga dengan isi perut bumi kita, penuh dengan kekayaan yang melimpah. Dan besi yang jadi komposisi terbanyaknya.

Bicara korosi jelas tak akan lepas dari material bernama besi. Karena sudah populer adanya kalau yang terkena korosi adalah besi.  Hingga muncullah berbagai macam cat besi untuk menghindari adanya korosi pada besi. Sebenarnya apa yang terjadi pada besi sehingga materialnya yang kokoh bisa berubah menjadi lapuk dan berwarna kecokelatan atau yang kita sebut dengan karat? Orang kebanyakan berfikir bahwa besi jika terkena air akan mudah terkena korosi. Namun, biang sesungguhnya adalah Oksigen. Karena tak mungkin bagi kita selama masih di bumi ini benar-benar terlepas dari oksigen.

Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks (reduksi oksidasi) antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi. Korosi besi atau yang dalam kehidupan sehari-hari kita sebut dengan karat besi merupakan proses kimia yang terjadi akibat adanya interaksi antara besi, air, dan oksigen.

Oksigen dapat bereaksi dengan hampir semua logam pada kondisi tertentu sehingga membentuk oksida logam. Maka salah jika dikatakan logam lain (selain besi) tidak terserang korosi. Hanya saja lapisan pertama  yang terbentuk pada logam lain mampu menghalangi kerakusan oksigen  sehingga membuat logam menjadi lapuk, berbeda dengan yang terjadi pada besi. Struktur besi yang terlihat kuat ternyata tidak mampu menahan serangan dari oksigen.

Seperti yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Karat yang terbentuk pada besi cenderung rapuh dan rompal sehingga membuka peluang besi lain untuk menjadi giliran yang terserang karat. Pada dasarnya, hampir semua logam kecuali emas dapat terserang oksidasi oleh oksigen. Mungkin karena sifatnya yang tahan korosi, langka dan warnanya yang unik menjadikan emas banyak dicari orang dan dijual mahal.

Untuk mencoba pengaruh oksigen terhadap karat , coba lakukan percobaan ini ! 

Didihkan sedikit air dalam wadah, tutup rapat dan diamkan selama semalam. Juga sediakan air PDAM dalam wadah lainnya. Masukkan paku ke dalam masing-masing wadah. Lalu biarkan beberapa hari. Hasilnya : karat pada paku di wadah air mendidih akan lebih sedikit dibandingkan dengan paku di air PDAM. (Mendidihkan air tidak bisa menghilangkan oksigen seluruhnya).

Pada dasarnya korosi atau karat dapat dicegah ataupun dihilangkan. Cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya korosi atau karat diantaranya yaitu dengan mengontrol atmosfer agar tidak lembap dan banyak oksigen, mencegah logam bersinggungan dengan oksigen (pengecatan, pemberian oli atau minyak, memberi lapisan plastik, galvanisasi-proses pelapisan logam dengan seng, elektroplating,-pelapisan logam dengan logam lain, pelapisan krom, pelapisan timah, dan sherardizing – mereaksikan logam dengan asam fosfat), dan  perlindungan katodik – menghubungkan logam yang akan dilindungi dengan logam lain yang mempunyai potensial elektrode yang sangat rendah (biasanya Mg).

Selain dengan mencegah jika ada barang kita yang sudah terlanjur berkarat tapi belum terlalu rapuh atau rompal dengan cara-cara berikut karat bisa dihilangkan loh.

1. Garam dan Jeruk Nipis

Ambil garam dapur secukupnya, lalu taburkan garam di atas benda yang berkarat. Setelah itu, diamkan saja selama beberapa saat. Selanjutnya, tuang air perasan jeruk nipis ini atas karat, lalu diamkan kembali selama 2-3 jam. Lanjutkan dengan menggosok karat menggunakan bagian dalam buah jeruk nipis. Setelah karat berhasil dibersihkan, jemur dulu sampai kering baru disimpan di tempat yang kering dan bersih.
2. Baking Soda dan Lemon

Buatlah pasta dari baking soda dan lemon, lalu usapkan pasta ini ke permukaan benda yang berkarat. Diamkan pasta tersebut selama 15-20 menit sampai pasta terlihat mengering di benda yang berkarat itu. Anda bisa mengoleskan pasta lagi jika karat masih tampak tebal di logam besi. Setelah itu, gosok dengan menggunakan bagian spons pencuci piring yang kasar. Kemudian, jemur benda tersebut sampai kering.

3. Asam Sitrat
Pastikan Anda sudah melarutkan asam sitrat dengan air sebelum menggunakannya untuk membersihkan karat. Setelah larutan asam sitrat jadi, rendam benda berkarat di dalam larutan tersebut semalaman. Pada keesokan harinya, angkat benda berkarat tersebut dari larutan asam sitrat. Hasilnya, karat akan luntur pada larutan asam sitrat dan logam besi terlihat lebih mulus tanpa karat. Selanjutnya, gosok benda besi itu dengan spons kawat untuk menghilangkan sisa-sisa karat yang masih menempel.
4. Kentang dan Sabun Cuci Piring
Anda pasti tidak menyangka bahwa kombinasi antara kentang dan sabun cair pencuci piring bisa menjadi senjata yang ampuh untuk membersihkan karat. Namun, Anda harus bekerja ekstra untuk membuat ramuan kentang dan sabun pencuci piring ini. Pertama, haluskan kentang dengan menggunakan blender. Anda tidak perlu merebus kentang sebelum dihaluskan. Campurkan kentang yang sudah dihaluskan dengan sabun cuci piring. Oleskan pasta kentang ini ke benda yang berkarat sampai seluruh bagian karat tertutup oleh pasta kentang ini. Setelah didiamkan selama beberapa jam, gosok benda berkarat dengan aluminium foil atau spons kawat. Pastikan karat benar-benar hilang sebelum menyimpan logam besi itu.
5. Minuman Berkarbonasi

Tuangkan soda ke dalam wadah yang cukup untuk merendam benda berkarat yang akan segera dihilangkan. Setelah direndam selama 30 menit atau 1 jam, gosok karat pada benda dari besi itu sampai karatnya benar-benar hilang. Selanjutnya, bilas benda besi dengan air bersih sampai sisa sodanya hilang. Segera keringkan sisa air dengan kain bersih sebelum disimpan agar tidak menimbulkan noda karat baru.

So, begitulah sekilas tentang korosi atau yang lebih dikenal dengan karat dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya dengan mengetahui definisi, proses, cara mencegah dan menghilangkan karat, kita dapat lebih menjaga barang-barang kita yang mengandung unsur logam khususnya besi agar terhindar dari karat.

Referensi :

[1] Wolke, Robert L. 2003. Einstein Aja Gak Tahu. Gramedia Pustaka Utama.

[2] Corrosion Doctors. 2019. Corrosion. Tersedia di http://www.corrosion-doctors.org/. Diakses pada Oktober 2019.

[3] Rabia Edra. 2017. Tiga Cara Mencegah Korosi. Tersedia di https://blog.ruangguru.com/cara-pencegahan-korosi. Diakses pada Oktober 2019.

[4] Linda. 2019. 10 Tips Menghilangkan Karat pada Besi yang Mudah dan Cepat. Tersedia di https://bacaterus.com/tips-menghilangkan-karat/. Diakses pada Oktober 2019.