Menggabungkan Aspal Penyerap Air sekaligus Tahan Kerusakan untuk Jalanan Indonesia

Para pengguna jalan raya tentu sering mengeluh jalan yang berlubang lagi becek. Baru-baru ini bahkan beberapa konstruksi ambrol, seperti tanggul Kalidami di jalan raya Kejawan Putih Tambak Surabaya yang pernah ambrol setahun lalu di dua titik.

Selain itu, genangan air yang terkadang tidak tersalur secara sempurna ke pelimbahan memberikan pemandangan tak menyenangkan hingga panas matahari menguapkannya. Atau kasus yang lucu, ketika pintu gorong-gorong malah ‘menolak’ mengalirkan air, justru yang aspalnya rusak sehingga berlubang malah lebih efektif menyalurkannya.

Improvisasi lubang yang dibuat pada titik jalan di mana hujan menggenang seringkali lebih efektif menyalurkan air ke salurannya.

Masalah di atas sebenarnya sudah dapat terselesaikan dengan membuat aspal berpori, dalam hal ini Topmix yang dikembangkan Tarmac TopMix Permeable. Tidak harus di seluruh permukaan jalan, karena konstruksinya lebih mahal, tapi cukup di pinggiran untuk memudahkan penyerapan air.[1]

Aspal Tarmac yang mampu menyerap air karena berporinya

Di Indonesia, Prof. Dr. Ir. Bambang Sunendar Purwasasmita juga menciptakan aspal sejenis yang disebut teknologi Geopori atau Geopolimer. Idenya sudah ada sejak 2003, sedangkan menuju pengerjaan dimulai 2009. Pada 2014, business plan sudah dihitung. Lalu pada 2015, secara teknologi geopori itu sudah bisa dipraktekkan dengan pembuatan konstruksi. Di antara bahannya yaitu kerikil dan limbah batu bara. Selain untuk konstruksi jalan dan paving blok, material geopori itu bisa digunakan untuk pembuatan biopori hingga lantai kamar mandi.[2]

Video berikut mencontohkan pembuatan aspal berpori oleh Maryland Paving, Inc.

Sedangkan terobosan untuk masalah aspal jalan yang sering rusak telah dilakukan Prof. Hendro Subroto, dosen Teknologi Aspal dan Konstruksi Jalan Universitas Narotama Surabaya. Pada 2001 Prof. Hendro mulai serius menjajaki risetnya, mengembangkan jenis stonemastic asphalt yang telah dibuat Jerman. Lalu ditambahkan fiber dan wax. Istimewanya, fiber yang digunakan berasal dari alam, dari semua jenis pohon. Beliau menamakan produknya ‘Double Enforcement in Stonemastic Asphalt‘ atau disingkat DESA.[3]

LEBIH KUAT: Prototipe campuran bahan-bahan aspal ciptaan Hendro Subroto. Foto kanan, Hendro Subroto di Belanda. (Hendro Subroto for Jawa Pos)

Apakah keajaiban dari kedua aspal tersebut akan terjadi pada seluruh jalan di Indonesia?

 

Sumber: 

Syubhat Fisika dan Bid’ah Teknologi

Syubhat Fisika dan Bid’ah Teknologi

“Jangan pelajari Teknik Fisika! Banyak syubhat di dalamnya. Pelajari fisika yang masih murni saja!”

Pernyataan koplak di atas tidak mungkin pernah keluar dari profesor fisika teori kelas tinggi seperti mendiang Prof. Stephen Hawking atau Allahuyarham Prof. Muhammad Abdussalam, bahkan oleh fanatik terkoplaknya sekalipun. Mana mungkin ada sains tanpa terapan kalau tidak disebut Al ilmu bi la amal alias jarkoni (ujar tok ora nglakoni atau bicara saja tanpa tindakan) kasarnya,“membual tanpa bukti”. Memang tidak semua sains bisa langsung diterapkan seperti pengetahuan gravitasi atau Deret Fourier yang ketika dirumuskan tidak jelas faedahnya, baru berpuluh atau beratus tahun kemudian tersingkap rahasianya.

Fisika termasuk ilmu tua karena muncul seiring interpretasi manusia terhadap alam nyata. Segala sesuatu yang mampu terjangkau penginderaan manusia menjadi titenan (penelitian) yang terus dicari makna dan maksudnya. Berbagai cabang pembelajarannya ditekuni banyak ilmuwan dengan berbagai penalaran dan pemikiran. Namun pencapaian dari satu ilmuwan bisa serupa dengan pencapaian ilmuwan lain sehingga menimbulkan madzhabmadzhab akibat perbedaan “akidah” [1]. 

Sedikit berbeda dengan  pengertian madzhab dan akidah dalam lingkup keilmuan Islam, di mana akidah adalah ilmu yang tidak bisa dikompromi, Sedangkan madzhab sendiri adalah kompromi dalam ilmu fiqh yang memang tidak mungkin tidak, bahkan harus, menimbulkan berbagai ijtihad. [2]

Akidah berasal dari Bahasa Arab, maknanya “dasar”. Kalau dasarnya tidak sama, apa yang dikerjakan seterusnya tidak akan bisa disatukan. Jika mau berganti akidah, harus dikonversi dahulu bukan? Sedangkan madzhab diprakarsai oleh seorang ilmuwan yang ijtihadnya diikuti banyak ilmuwan lain, tentu dengan prasyarat sebagai mujtahid yang luar biasa kompleks. 

Contohnya dalam elektromagnetika, madzhab satuan Gaussian yang berakidah cgs serupa tapi (pastinya) tak persis madzhab Satuan Internasional yang berakidah mks. Madzhab Gaussian diambil dari nama Johannes Carl Friedrich Gauss, penemu kemagnetan kutub bumi yang diabadikan sebagai satuan kepadatan flux magnetik. Dalam madzhab Satuan Internasional, satuan sejenis menggunakan Tesla, dari nama penemu listrik Arus Bolak-Balik Nikola Tesla. Tampaknya tak perlu membuat jurusan perbandingan madzhab atau perbandingan akidah tersebut, bisa-bisa menambah beban belajar dan pengangguran terpelajar.

Perbedaan Madzhab Gaussian yang menggunakan satuan cgs dan Madzhab Satuan Internasional yang menggunakan satuan mks. Buku-buku elektromagnetika terbaru lebih banyak menggunakan satuan mks.

Sumber : https://www.qdusa.com/sitedocs/UnitsChart.pdf

Elektromagnetika terus berkembang dan bisa digabungkan oleh gaya fundamental lainnya, salah satunya setelah disadari Prof. Muhammad Abdussalam bersama Sheldon Glashow dan Steven Weinberg pada 1968 yang merumuskan Electroweak, gabungan Electromagnetic dan Weak Forces. Suatu kali beliau menulis,

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk merenungkan kebenaran hukum alam yang diciptakan Allah; namun, bahwa generasi kita memiliki hak istimewa untuk melihat sekilas bagian dari rancangan-Nya adalah karunia dan anugerah yang karenanya saya mengucapkan terima kasih dengan rendah hati.”[3]

Sedangkan dalam pidato penganugerahan Nobel Fisika di Karolinska Institute, Swedia, beliau mengawali dengan bismillah dan berkata,

Saya berharap Unifying the Forces dapat memberi landasan ilmiah terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Tunggal.”[4]

Kedua kalimat di atas menjadi penegas bahwa berbagai rumus temuan manusia merupakan hasil mengekstrak dari satu sumber, yaitu Sang Maha Pencipta. Prof. Muhammad Abdussalam sendiri tidak dianggap penganut Islam oleh pemerintah negaranya di Pakistan karena mengikuti firqoh Ahmadiyah.[5]


Professor Muhammad Abdussalam

Sumber : https://www.nobelprize.org/images/salam-13319-portrait-mini-2x.jpg

Mekanika dan elektronika merupakan cabang fisika yang menghasilkan banyak temuan teknologi yang diterapkan secara luas dalam kehidupan manusia. Semakin maju zaman, ternyata banyak penerapan yang tak bisa terpisah di antara keduanya, tidak mungkin saling mengafirkan. Perjodohan keduanya terutama dimakcomblangi induksi elektromagnetis yang dirumuskan Michael Faraday dan penemuan sifat magnetik dari kawat berarus listrik secara tidak sengaja oleh Hans Christian Oersted.[4] Disempurnakan Lorentz dengan aturan tangan kiri untuk perubahan Gaya Gerak Listrik menjadi Gaya Gerak Magnet sedangkan Lenz dengan aturan tangan kanan untuk perubahan Gaya Gerak Magnet menjadi Gaya Gerak Listrik. Kemudian tampil James Clerk Maxwell sebagai penghulu listrik dan magnetik dan lahirnya elektromagnetika. Kelihatannya para Imam Madzhab elektromagnetika tersebut berfatwa hukum yang sama bukan?

Istilah “Mekatronika” dipopulerkan Perusahaan Yaskawa Electric Company, yang mengandungi makna penerapan gabungan dari mekanika dan elektronika.[6] Dalam perkembangannya, masuk unsur teknik pengendalian dan komputer terutama. Lagi-lagi muncul cabang baru yaitu robotika dan otomasi. Di dalam keduanya bisa saja menggunakan cabang fisika fluida, elektronika, mekanika, fotonika, elektromagnetika, dll. 


Ruang Lingkup Mekatronika

Sumber : http://mekatronika.pens.ac.id/wp-content/uploads/2018/12/Mecha_workaround_1.png dengan sedikit perubahan

Pada zaman ini robotika dan otomasi cenderung bekerja menggunakan energi listrik dibanding energi dari unsur lain seperti air dan udara dalam hidrolik dan pneumatik. Salah satunya karena dapat disimpan dalam baterai dan teknik penghantarannya sudah banyak dimengerti. Jika ditemukan cara dan alat penyimpan cahaya, kemudian penghantar elektron pada Printed Circuit Board yang menggunakan tembaga diganti penghantar cahaya seperti serat optik, sangat dapat dipastikan pengoperasian robot menggunakan cahaya. Selain itu, ditemukannya Plasmonics dapat menjembatani sistem elektronika dan fotonika.[7] Adalah soalan lain apabila elektron adalah unsur penyusun setan dan foton adalah unsur penyusun malaikat.

Sebelum Mekatronika lahir, istilah robotika sudah sudah terlebih dahulu populer. Bukan oleh ilmuwan, melainkan seniman teater bernama Karel Capek dari Ceko yang mementaskan “Robot”.[8] Sedangkan ilmuwan yang ditetapkan sebagai pencetus robotika modern ternyata hidup jauh sebelum istilah tersebut. Pendapat pertama menyatakan Leonardo da Vinci, namun ada nama Abu Al Izz Ibnu Ismail Al Jazari yang menciptakan banyak alat yang lebih kompleks dan lebih dahulu ada.

Terlepas dari apa madzhab atau malah firqoh yang dianut Al Jazari, terobosan teknologinya telah menembus zaman. Entah apakah pada zamannya, beliau ditahdzir dengan ucapan,“sudah bikin berhala, mirip makhluk bernyawa, main musik pula! Siksa neraka menumpuk padamu!”? Karya Al Jazari kebanyakan memang demikian adanya, termasuk rancangan dan petunjuk robot-robot tersebut dalam Kitab fi Ma’rifat Hiyalal Handasiyya yang penuh warna. [9]

Kitab tersebut mengandung banyak inovasi/bid’ah teknologi [10]. Katakanlah Jam Gajah, orang-orangan bernyanyi, mesin bekam, pompa air tenaga sapi, keran wudhu otomatis, dan berbagai perangkat yang bekerja memanfaatkan tenaga air. Susunan kendali dan kemudinya terutama terdiri dari roda gigi, piston, dan tuas yang masih digunakan dalam berbagai mekanik hingga sekarang. Tentu berlimpah amal jariyah dari beliau yang bergelar Raisul A’mal [9], yaitu kepala tukang atau kepala insinyur jika dibandingkan pada masa kini [4].

Salah satu halaman dari salinan Kitab fi Ma’rifat Hiyalal Handasiyya yang dipegang Prof. Salim T.S. Al-Hassani dari University of Manchester

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=pnj5UCMKAwo&t=1436s

Bid’ah teknologi semakin menggila terutama setelah revolusi industri akibat semakin ribet dan anehnya kebutuhan manusia. Pertumbuhan penduduk semakin padat, persaingan hidup semakin ketat, dan kemajuan semakin zaman semakin pesat. Akhirnya kebutuhan makin meningkat mengakibatkan berbagai macam cara orang cari makan, dari menjual koran sampai menjual jaringan. 

Menjadi beriman jelas bukan menumpulkan nalar. Karena sudah diberitahu kalau tidak mampu meniru lalat, lantas tak berusaha melampaui ciptaan Nya. Kita dipersilakan menembus gravitasi bahkan ditantang meniru firman-Nya dengan segenap kekuatan, terlihat maupun ghaib.

Bukankah orang beriman adalah orang yang berpikir? [11]

 

Acuan : 

[1] Muhammad Zayyana Abdussalam, Apakah ATM (Amati-Tiru-Modifikasi) itu Plagiat?, diterbitkan 12 Maret 2018 di https://warstek.com/2018/03/12/atm/

[2] Ahmad Zarkasih, Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf, https://www.rumahfiqih.com/y.php?id=161 dibuka 30 Desember 2018

[3] Miriam Lewis, Abdus Salam Biographical, https://www.nobelprize.org/prizes/physics/1979/salam/biographical/ dibuka 17 Desember 2018 pukul 21:53

[4] Aditya Nor Kurniawan, 2017, Biografi Ilmuwan Modern Barat Dan Muslim, Azka Pressindo, Surakarta

[5] Arman Dhani, Abdus Salam, Ilmuwan Ahmadiyah yang Diabaikan Negara Muslim, https://tirto.id/abdus-salam-ilmuwan-ahmadiyah-yang-diabaikan-negara-muslim-cqV2 dibuka 26 November 2018

[6] http://mekatronika.pens.ac.id/selayang-pandang/ dibuka 17 Desember 2018

[7] Harry A. Atwater, The Promise of Plasmonics, Scientific American edisi April 2017 hal. 59

[8] Ade Sulaiman, Usut Asal Kata Robot: Budak yang Bukan Manusia,  12 April 2016, http://intisari.grid.id/read/0338938/usut-asal-kata-robot-budak-yang-bukan-manusia?page=all , dibuka 17 Desember 2018 pukul 14:36

[9]  ابو العزّ اسمعيل بن رزّاز الجزري, كتاب في معرفة الحيل الهندسية, مكتبة قطر الوطنية, diunduh dari https://s3-eu-west-1.amazonaws.com/live.archive.pdf/81055_vdc_100023421307.0x000001_ar.pdf 16 Desember 2018

[10] Munandar Harits Wicaksono, Seputar Bid’ah dan Inovasi Beragama, 22 Mei 2018, http://www.nu.or.id/post/read/68388/seputar-bidah-dan-inovasi-beragama dibuka 17 Desember 2018 pukul 14:40

[11] M. Quraish Shihab, Arti Penting Menggunakan Akal Menurut Alquran, https://tirto.id/arti-penting-menggunakan-akal-menurut-alquran-cpUn dibuka 17 Desember 2018 pukul 14:46

“Berkhayal atau Berhitung Dahulu?” Bentuk Keresahan Terhadap Sistem Pendidikan Indonesia Saat Ini

“Berkhayal atau Berhitung Dahulu?” Bentuk Keresahan Terhadap Sistem Pendidikan Indonesia Saat Ini

Membaca buku IPA karya Janice van Cleave atau Yohanes Surya, terpikir bahwasanya pelajaran pertama untuk ilmuwan masa depan adalah berkhayal. Sebagaimana ucapan Einsten bahwa khayalan atau imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Tak kalah penting pula penguatan jiwa sebagaimana ucapan Einstein, lagi, bahwa agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama buta. Lalu bagaimana isi buku kedua pengajar IPA terkemuka tersebut?

Contoh buku percobaan populer. Sebelah kiri karya Janice van Cleave dan sebelah kanan karya Yohanes Surya.

Pertama, tidak muncul hitung-hitungan dalam setiap percobaan. Bahkan keberadaan angka-angka untuk menjustifikasi keilmiahan karya tersebut seperti sangat dihindari. Petunjuk percobaan cenderung melalui gambar dan sedikit tulisan panduan. Ampuhkah? Terlihat bahwa murid-murid Yohanes Surya sudah tak terhitung yang lolos olimpiade sains, serta buku Janice van Cleave diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dengan pelaksanaan percobaan yang bisa langsung dilihat kenyataannya, maka bocah akan lebih mudah memperkirakan kejadian sesuai hukum alam atau sunnatullah. Maksudnya berkhayal secara ilmiah atas ibrah suatu kejadian. Setidaknya mampu mengira-ngira kapan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil terjadi.

Acara TV Hand Made yang pernah diputar di Trans7 adalah salah satu tayangan yang bagus untuk melatih kreativitas anak-anak.

Salahkah jika pelajaran hitung menghitung diberikan di awal? Tidak mesti! Ada siswa yang langsung menikmati sajian angka-angka dan tanpa beban mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ada siswa yang lebih memilih hidup merdeka dengan mengeksplorasi alam liar bersama bocah sebayanya. Secara umum, bocah lebih suka bermain daripada berpikir serius apalagi membuat perhitungan. Jangankan bocah, perekayasa yang sudah “gede” sekalipun mungkin tidak mau terlibat perhitungan selain menyerahkannya pada juru hitung atau cukup percaya data komputer. Seorang akuntan ahli pun bisa saja tak lagi melakukan pekerjaan kasar kasir tersebut.

Inginnya sih, anak-anak segera mampu berpikir sistematis praktis dan siap pakai alias bisa segera dimanfaatkan supaya dapat diperas otaknya.

Barangkali pembaca sekalian masih ingat masa kecil masing-masing, apakah paham seketika dengan apa yang diajarkan guru di sekolah? Ada kalanya orangtua memerintahkan ini itu kepada anak, sedangkan anak sendiri tidak tahu ini itu apa. lupa bahwa yang dihadapinya adalah bocah polos yang belum tahu banyak makna. Contohnya pada kisah dibuku karya Jamie, mengisahkan tentang si anak berkali-kali diperingatkan jangan berbelok ke tikungan, eh tapi ternyata si anak belum tahu apa itu tikungan [1].

Memang, ada bocah yang mampu saja melampaui pemikiran umumnya bocah seusianya. Siapa tak bangga anaknya dianggap cerdas oleh orang banyak seperti Musa Izzanardi Wijanarko yang masuk MIPA ITB ketika berusia 14 tahun [3] atau Nur Wijaya Kusuma yang masuk UGM ketika berusia 15 tahun [4]? “Siapa dulu yang ngelahirin” begitu mungkin kata ibunya sambil menepuk dada ?.

Jangan ambisius dulu, lihat potensi anak seperti apa! Jika “gesit” seperti orangtua kedua bocah di atas, tentu sangat menyenangkan. Kalau anaknya telmi, anaknya disuruh mengikuti birokrasi sekolah yang panjang dan menjemukan, akhirnya si anak menganggap sekolah hanya kutukan karena melihat banyak ketidakjujuran ketika ujian sekaligus bosan melihat Lembar Jawaban Komputer.[5]

Saya sendiri lebih memilih tidak terburu menuntut anak bisa berpikir layaknya orang dewasa. Apa mau bocah yang belum berani sunat sudah mengerti cara buat anak atau berkomplot kriminal? Jika memang demikian, pantaslah kurikulum sekolah dasar, bahkan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini zaman now yang semakin cepat matangnya dibuat secara high expectated dibanding high order melampaui kewajaran jalan pikiran anak-anak. Einstein yang dijuluki sang jenius pun dianggap sebagai pembelajar yang lambat (slow learner) selama sekolah. Einstein cenderung berpikir dengan caranya sendiri (yang diklaim oleh beberapa peneliti sebagai proses menikmati setiap detail) sedangkan sekolah memberi pemahamanan dengan cara berpikir guru semata yang cenderung cepat [6]. Dalam buku Growth Mindset karya Carol Dweck juga dijelaskan bahwa yang terpenting dalam proses belajar bukanlah kecepatan, tapi kepahaman!

Jadi sangat keliru ketika menjustifikasi seseorang atau anak sebagai orang yang “bodoh” karena lambat dalam belajar. Bisa jadi ia seperti Einstein, menikmati sedikit demi sedikit namun tertancap di otak. Atau seperti Abraham Lincoln sang presiden ke-16 Amerika Serikat yang sangat terkenal. Lincoln mengakui dirinya sebagai pembelajar yang lambat dalam quote yang cukup fenomenal berikut ini:

“Saya lambat dalam belajar dan juga lambat dalam melupakan apa yang telah saya pelajari. Otak saya seperti sepotong baja, sangat sulit untuk diukir di atasnya. Namun ketika telah diukir, maka hampir mustahil Anda untuk menghilangkan ukiran tersebut. ”

Menurut Kak Seto, anak dinyatakan benar-benar siap menghadapi kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya di atas 10 tahun. Sedangkan dari di usia kanak-kanak sampai sembilan tahun, ada baiknya anak diajarkan soal pembentukan karakter diri. Misalnya memantapkan etika dan estetika agar dia berbuat lebih baik dan santun. 

“Sebab kalau materi yang disajikan terlalu padat, yang ada siswa malah stres, etika rusak, menjadi pemarah. Dan sifat-sifat itu kan salah satu dasar prilaku anak berbuat tawuran,” jelasnya.

Pria yang akrab dengan boneka si Komo ini menambahkan, ada baiknya anak kelas I sampai III SD, belajar sambil bermain. Misalnya tempat belajar di alam bebas, sehingga ketika dia berhitung dia akan menghitung apa yang dia lihat bukan yang disajikan di buku, atau menghitung balok.

“Nah ketika kelas IV, sudah lebih serius,” tambahnya. [2]

Diakui atau tidak, pada masa ketatnya persaingan mendapat pekerjaan seperti saat ini menuntut orang dewasa untuk menjadikan anaknya lebih cerdas. Lebih cerdas yang oleh beberapa orang tua diterjemahkan secara konyol sebagai lebih awal disekolahkan, lebih awal dijejali matematika, dan lebih awal disodorkan teknologi. Kekonyolan tersebut membuat anak-anak sedikit atau tidak memiliki waktu untuk bermain. Padahal ketika anak masuk ke suatu lapangan permainan misalkan permainan mandi bola, orangtua tak perlu banyak mengatur. Biarkan mereka berimajinasi dalam dunianya sendiri sehingga kreativitas bisa terpicu dan nalar terbentuk secara simultan, karena ada pelampiasan otak dan otot yang masih panas.

Tidak mesti permainan yang melibatkan aktivitas fisik. Beberapa permainan komputer atau gadget (gawai) dapat pula merangsang kreativitas, meskipun masih ada banyak kekurangannya seperti menyebabkan kecanduan, berdampak buruk bagi kesehatan mata, dll. Adanya televisi dan gawai memerlukan penanganan lebih keras sebagaimana pernah dilakukan salah satu kepala desa di Magetan. Beliau berhasil meningkatkan prestasi anak-anak di wilayahnya dengan menerapkan jam belajar setelah maghrib hingga pukul 21.00 dengan melarang anak-anak menonton televisi atau bermain gawai pada rentang jam tersebut [8]. 

Menurut saya, permainan paling bermakna adalah permainan leluhur kita yang semakin tergerus zaman. Di antaranya adalah dakon, gobag sodor, bentengan, engklek, egrang, 3 daerah, petak umpet, ular-ularan, cublak-cublak suweng, dan masih banyak macam lainnya [7].

Dakonan, salah satu permainan tradisional yang mengajarkan pembagian kekayaan.
Sumber : https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738

Pada sistem pendidikan Indonesia saat ini terutama pendidikan pada masa anak-anak dan remaja, saya rasa masih kurang dalam hal penanaman budi pekerti dan pengendalian diri. Padahal kedua hal tersebut sangatlah penting untuk menjadi manusia dewasa yang cerdas dan bermoral. Tak lupa pula pendidikan aqidah dan akhlak beserta kedisiplinan bagi generasi Islami.

Sia-sia menebang pohon untuk membuka jalan jika jalannya saja ternyata keliru [9]. Percuma berkompeten kalau digunakan untuk hal yang negatif, misalnya DPR yang dipilih oleh rakyat karena dirasa kompeten eh ternyata melakukan korupsi.

Referensi:

[1] Jamie C. Miller, 1998, Mengasah Kecerdasan Moral Anak melalui Permainan 10-menit, diterjemahkan dari judul 10-Minute Life Lessons for Kids:  52 Fun and Simple Games and Activities to Teach Your Child Trust, Honesty, Love, and Other Important Values, Penerbit Kaifa, Bandung.

[2] Lia Harahap, Kak Seto: Pelajaran siswa SD terlalu padat, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kak-seto-pelajaran-siswa-sd-terlalu-padat.html dibuka tanggal 26 Desember 2018

[3] Putra Prima Perdana, Ini Pola Belajar Bocah Izzan, Bocah 14 Tahun yang Masuk ITB Lewat SNMPTN, dari https://regional.kompas.com/read/2017/06/16/03200061/ini.pola.belajar.izzan.bocah.14.tahun.yang.masuk.itb.lewat.sbmptn dibuka 26 Desember 2018

[4] Ika, Nur Wijaya Kusuma Mahasiswa Termuda UGM Berusia 15 Tahun, dari https://www.ugm.ac.id/id/news/16768-nur.wijaya.kusuma.mahasiswa.termuda.ugm.berusia.15.tahun dibuka 26 Desember 2018

[5] Pengalaman pribadi melihat kesepakatan para guru dan kepala sekolah menyuruh para murid bekerjasama ketika ujian supaya peringkat sekolah tidak jatuh. Tindakan ini lumrah di banyak sekolah sebelum Ujian Nasional Berbasis Komputer diselenggarakan.

[6] Adiya Nor Kurniawan, 2017, Biografi Ilmuwan Modern Barat & Muslim, Azka Presindo, Surakarta.

[7] Luluk, Cara Melestarikan Permainan Tradisional, dari https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738 dibuka 25 Desember 2018

[8] Rijal Mumazziq Zionis, penting kita perhatikan adalah mengontrol akses terhadap televisi, http://www.penerbitimtiyaz.com/blog/penting-kita-perhatikan-adalah-mengontrol-akses-terhadap-televisi/ dibuka 25 Desember 2018

[9] Kisah ini diuraikan Professor Steven Franklin Covey, pengarang “7 Habits” dan “First Thing First” yang saya tonton dalam kuliah Pandangan Dunia yang belum bisa diumumkan. Materi yang serupa terinspirasi dari beliau dapat ditonton di The Clock vs. The Compass by Dan Hawkins | Life Leadership

Cable Driven Parallel Robot, 3 Dimension Maneuver Robot

Cable Driven Parallel Robot, 3 Dimension Maneuver Robot

Pembaca komik Shingeki no Kyojin atau Attack on Titan tentu sangat tahu apa itu 3 Dimensional Maneuver Gear (3DMG) [1], alutsista andalan Kerajaan Paradis yang mampu membawa pemakainya memanjat tempat-tempat tinggi menggunakan tali jangkar yang didorong gas untuk melawan Raksasa.

diakses 10 September 2018
Alat pengikat dan penarik tubuh untuk melakukan panjatan menggunakan 3DMG. Sumber : http://attackontitan.wikia.com/wiki/Vertical_maneuvering_equipment

Untuk saat ini tampaknya tidak penting menciptakan alat semacam itu. Mana ada Raja Fritz sampai usil melepas ribuan Titan Bangsa Eldia dari Pulau Paradis. Kalau menciptakannya, apakah memang memungkinkan? Tentu saja, semisal pada Cable Driven Parallel Robot  (CDPR).

Skema sederhana dari sebuah CDPR dengan satu motor dan dua pesawat Atwood atau katrol [2]

Jika pada 3DMG menggunakan pendorong dan penarik yang terpasang pada pemakai, maka CDPR ditarik dari luar melalui katrol yang digerakkan motor atau menggunakan hidrolik maupun aktuator lain. Desain paling sederhana dari CDPR berupa 4 pesawat Atwood alias katrol yang talinya disusupkan lubang di setiap ujung ruangan  untuk menarik balok pada sudut-sudutnya. Robocrane [3] yang dikembangkan The Intelligent Systems Division of the National Institute of Standards and Technology (NIST) memanfaatkan bentuk CDPR untuk mengangkut barang. Sedangkan [4] merakit CDPR sebagai plotter dibuat .

 

CDPR lain yang dibuat M. Nasyir T., dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Kotak besar berongga di sebelah kiri adalah robot utama, sedangkan kotak hitam di sebelah kanan adalah perangkat daya dan kendali. abaikan kabel belakangnya

Dengan dengan adanya katrol yang ditarik-ulur kepada sebuah beban dalam ruang bergravitasi, perhitungan gaya tegangan tali dan kekuatan material sangat penting. Apalagi jika beban tersebut berupa makhluk hidup yang sensitif terhadap perubahan arah dan kecepatan serta isu keamanan. [5] menjelaskan lebih detail mengenai perhitungan tegangan kabel yang berjumlah lebih dari 2. Sedangkan [2] menghitung penyaluran tegangan kabel secara aman. Video berikut adalah CDPR yang bisa ditumpangi manusia .

Secara kebetulan periset CDPR yang penulis temukan seringkali berasal dari Negara Jerman sementara tokoh-tokoh dalam komik Attack on Titan pun mengadopsi nama-nama berbahasa Jerman. Apapun kebetulan yang ada, apakah anda tertarik membuat 3DMG dengan memindah katrolnya?

 

Acuan:

[1] Hajime Isayama, 2010, Shingeki no Kyojin, Volume 1

[2] Per Henrik Borgstrom, Brett L. Jordan, Gaurav S. Sukhatme, Maxim A. Batalin, William J. Kaiser, 2009, Rapid Computation of Optimally Safe Tension Distributions for Parallel CableDriven RobotsIEEE Transactions on Robotics, Volume 25Issue: 6, Pages: 1271 – 1281

[3] https://www.nist.gov/programs-projects/robocrane, diakses 11 September 2018 pukul 09:44 Waktu Indonesia Barat

[4] Saif Rohmatillah, 2018, Rancang Bangun Cable Suspended Robot (CSR) 3 Degree of Freedom (DOF): Perencanaan Lintasan Dari Titik ke Titik Oleh (CSR), Tugas Akhir Teknik Mekatronika, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

[5] Marc Gouttefarde, Johann Lamaury, Christopher Reichert, Tobias Bruckmann, 2010, A Versatile Tension Distribution Algorithm forn-DOF Parallel Robots Driven byn+2Cables, IEEE Transactions on Robotics, Volume 31

Belajar Pemrograman Semudah Membalik Telapak Tangan

Belajar Pemrograman Semudah Membalik Telapak Tangan

Ada yang kram otak ketika belajar koding? Ingin membenturkan kepala supaya meledak syaraf buntunya, atau memang sudah melakukannya? Kalau saya, sudah. Hehe.

Sebenarnya memprogram, atau lebih sering disebut ‘ngoding’(kadang juga disebut bikin script atau apalah), semudah membalik telapak tangan. Karena kalau tidak dibalik, jadinya berdoa. Kan menengadah ke atas.

Telapak tangan sebelum dibalik, berdoa dulu sebelum nulis larik

Ini mau bercanda atau ngelantur? Baik, ini dia:

1. Tulis algoritma dengan bahasa ibu atau bahasa sehari-hari, untuk sementara.

Pada dasarnya, algoritma pemrograman adalah sederetan kode (jangan kode-kodean gitu lah, kaya cewek) yang diperintahkan kepada prosesor untuk mengeksekusinya. Pusing kalau bicara ke kode heksadesimal, kita bicara yang tingkat tinggi saja.

Bahasa pemrograman tingkat tinggi yang terkenal seperti python, m, C++, PHP, Java(sekarang katanya ganti Jakarta) dan sebagainya. Lalu mengapa harus sedemikian macam kalau akhirnya jadi heksadesimal yang sama? Jawabannya ada pada peruntukan aplikasi yang menyesuaikan alur berpikir alami manusia. Penerjemahan dari bahasa tingkat tinggi menjadi bahasa heksadesimal sangat dipengaruhi cara berpikir pencipta program. Jika penyusunnya adalah orang Jawa asli misalnya, hampir bisa dipastikan algoritmanya menggunakan kalimat “kanggone, yen, mangka, nalikane” untuk beberapa fungsi umum, terutama untuk pengambilan keputusan.

Nah, jika belum hafal instruksi-instruksi dari pustaka program semisal stdio.h atau stdafx.h (saya yakin ada yang sudah pusing ketika baca ini), tulis saja dulu perintah-perintah anda secara bersusun dan dengan bahasa masing-masing. Kasihan komputernya kalau dipukuli karena tidak paham omongan anda, dan anda tidak tahu cara ngomong ke dia.

Ini baru nomor satu kok panjang sekali? Pakai baper segala. Baik, sambung saja ke…

2. Pastikan tidak membenci matematika

Namanya juga algoritma, diambil dari nama Al Khawarizm, pengarang kitab Al Hisab wa Muqabbala, singkatnya ‘matematika’. Istilah-istilahnya tidak akan jauh-jauh dari istilah matematika juga. Seperti variabel, fungsi, matriks, vektor, dan sebagainya. Berhubung kode-kode yang ada hanya tulisan-tulisan bermakna tersirat, maka tidak bisa (atau belum ada) penulisan dengan cara papan tulis yang bisa dengan bebas membuat garis dan pecahan atau notas-notasi pembantu.
Kalau sudah alergi dengan matematika, lalu bagaimana? Coba saja langsung ..

3. Ulang terus

Melatih diri membuat program di papan ketik adalah mutlak harus dilakukan. Ini yang paling penting di antara proses belajar pemrograman, dan tentunya di pelajaran lain juga harus ada pengulangan. Apalagi akan sangat banyak sistem perulangan di dalam kode yang kita susun, apalagi jika sudah masuk kecerdasan buatan semacam Jaringan Syaraf Tiruan. Dan namanya mengulang, pasti berputar. Makanya mbulet bukan kotak, kecuali bundaran Simpang Lima Semarang. Hehe.

Bagi pembelajar yang tidak fokus di bidang pemrograman, hal ini menjadi sangat sulit. Akan membutuhkan proses lama. Saya pun juga bukan orang yang mengkhususkan diri di dunia program. Namun demi kemudahan dan pengiritan pekerjaan, suka tak benci, harus memrogram juga.

Jangankan satu buku, satu sub bab saja penulis butuh waktu sebulan sampai paham. Bahkan inisialisasi variabel dan membuat algoritma dasar saja harus nunggu diajari ketika dapat mata kuliah pemrograman. Bertahun-tahun belajar sendiri mengandalkan contoh program jadi, video tutorial, dan tulisan blog serta buku, tidak menghasilkan pemahaman berarti. Di sinilah pentingnya di’ulang’.

Gimana, sudah mau pecah kepala? Daripada bingung, baca dulu kisah ini:

Legenda Arduino

Massimo Banzi dan David Cuartielles, dosen di Italia mendapatkan masalah mengenai mahalnya perangkat keras dan referensi untuk belajar program. Karena mahasiswa dituntut bisa me’ngait’kan perangkat lunak ke perangkat keras, atau istilahnya mengantarmukakan, larik program yang begitu panjang membuat pembelajaran menjadi kurang efisien sedangkan penyelesaian tak kunjung ditemukan sementara materi harus dilanjutkan. Itu baru pemrograman Bahasa C dan C++, belum Assembly apalagi heksadesimal.

Dari masalah itu, beliau berusaha menciptakan suatu Development Board berbasis mikrokontroler ATMEL sekaligus Integrated Development Environtment (IDE) berbasis Java. Adapun Bahasa Pemrograman pada IDE nya adalah C++ yang dimodifikasi melalui library khusus Development Board tersebut. Terciptalah Arduino, Open Source Development Board yang telah mendunia.

Dengan Arduino, siapapun bisa menjadi programmer mikrokontroler. Mengapa? Karena larik programnya yang ringkas (larik yang perlu ditulis pengguna, bukan yang tersembunyi seperti katak di balik tempurung) dan contoh program beserta keterangan yang jelas. dari ‘nol puthul’ sampai belum bisa juga, hehehe. Nggak lah, pasti sampai mahir mahir. Mulai dari mengedipkan LED hingga menggerakkan Motor Stepper, bahkan pesawat tanpa awak seperti kit ArduPilotMEGA.

Kini Arduino dikembangkan hampir di seluruh dunia. Sifatnya yang terbuka dan ringkas membuat siapapun mudah berkontribusi.

Web Arduino

Bagi yang penasaran, kisah Arduino, simak dokumentari dari Massimo Banzi dan tim pencipta Arduino

Sumber lain:

Arduino dan Revolusi Teknologi dengan Konsep Open Source

All about Arduino.

Bagi yang ‘terpaksa’ menulis program, ada buku bagus karangan Dr. Abdul Kadir yang berjudul “Pemrograman C++”. Walau ‘hanya’ C++, buku ini sudah cukup sakit kalau menghantam kepala. C++ menjadi bahasa dasar yang diajarkan di sekolah kejuruan maupun perguruan tinggi. Bagi yang membenci kurung kurawal dan titik koma, silakan bermain dengan python, di mana saya edang mencoba menyelesaikan “Otodidak Pemrograman Python” karya Jubilee Enterprise. Untuk aplikasi pembuat program yang serbaguna dan serbabisa, gunakan codeblocks.