Zona Rasa pada Lidah Merupakan Kesalahan Besar dalam Sains

Bagikan Artikel ini di:

Mungkin kita masih ingat pelajaran IPA saat sekolah dasar dulu tentang lidah yang punya daerah atau zona rasa seperti pahit di bagian belakang, manis di bagian depan, asin di sisi dekat bagian depan dan asam di sisi dekat bagian belakang. Atau mungkin pernah membuat campuran cairan gula dan garam dan menteskannya dengan pipet ke berbagai bagian di lidah kita untuk memastikan apakah benar dan saat itu semua terasa masuk akal[1].

Zona pada lidah

Lidah merupakan kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan[2]. Makanan maupun minuman yang telah halus dalam mulut akan merangsang ujung – ujung saraf pengecap. Kemudian rangsangan rasa itu diteruskan ke pusat saraf pengecap di otak, selanjutnya otak menanggapi rangsangan tersebut sehingga kita dapat merasakan berbagai rasa pada makanan dan minuman[3].

Gambar saraf pengecap atau papilla

Namun tahukah anda bahwa teori tersebut tidak benar? Bahkan dibantah oleh ilmuwan chemosensory (orang-orang yang mempelajari bagaimana lidah menanggapi rangsangan kimia) sejak lama. Peta atau zona lidah yang banyak kita pelajari di sekolah tidak memiliki dasar ilmiah, kata Dr. Steven Munger, Associate Director Center for Smell and Taste di University of Florida[5]. Sekelompok peneliti Eropa dan Amerika Serikat juga menyatakan zona rasa pada lidah adalah sebuah kekeliruan atau miss perception.

Teori tersebut berasal dari disertasi seorang ilmuwan jerman David pauli Hänig pada tahun 1901 yang berjudul Zur Psychophysik des Geschmackssinnes. Hänig melakukan uji coba dengan cara menetaskan sampel cairan yang asin, manis, asam dan pahit ke berbagai bagian lidah. Dari percobaannya itu Hänig merasa kepekaan rasa bervariasi pada area lidah[1]. Hänig merasa ujung dan pinggir lidah adalah daerah yang paling sensitif, tapi Hänig tidak mengaitkannya dengan sensitifitas rasa tertentu. Namun saat Hanig memindahkan informasi tersebut ke sebuah grafik, kesannya adalah area tersebut berkaitan dengan rasa[1].

Pada 1940-an, grafik ini ditata ulang oleh Edwin G Boring, seorang profesor psikologi Harvard, dalam bukunya Sensation and Persception dalam History of Experimental Psychology. Versi Boring juga tidak memiliki skala yang berarti, yang mengarah ke daerah-daerah yang paling sensitif dari masing-masing rasa yang dipisahkan dari apa yang sekarang kita kenal sebagai peta lidah[4].

Pemahaman tentang Ppta atau zona lidah itu muncul pada awal abad ke – 20 sebagai hasil dari salah tafsir dari penelitian yang buat pada awal 1900-an. Pada kenyataannya, semua jenis rasa dapat dirasakan oleh semua daerah.

Pemahaman kita tentang bagaimana informasi rasa dibawa dari lidah ke otak menunjukkan bahwa suatu rasa tidak terbatas pada satu wilayah lidah saja. Ada dua saraf kranial yang bertanggung jawab untuk persepsi rasa di berbagai area lidah yaitu, saraf glossopharyngeal di belakang dan cabang chorda tympani dari saraf wajah di depan[4].

Sumber : Zenius.net

Jika peta lidah benar, maka orang berharap reseptor manis dilokalisasi ke bagian depan lidah dan reseptor pahit terbatas pada belakang lidah. Sebaliknya, masing-masing jenis reseptor ditemukan di semua area rasa di mulut. Terlepas dari bukti ilmiah, peta lidah telah membenamkan pengetahuan umum dan masih diajarkan di banyak sekolah – sekolah dasar dan buku – buku pelajaran[4].

Lalu Bagaimana dengan Rasa Pedas? dan Dimanakah Letaknya?

Pedas bukan merupakan rasa yang dapat dirasakan oleh lidah, melainkan sensasi terbakarnya lidah yang muncul akibat zat capsaicin[8]. Jika rasa lain memiliki reseptor sendiri dari saraf manusia untuk merasakannya, capsaicin hanya diterima di papilla oleh reseptor saraf sensorik khusus panas tinggi dan menyebabkan sensasi pedas muncul[8]. Resptor tersebut menyampaikan isyarat ke otak berupa iritasi sel atau “terbakarnya” sel hampir seperti kulit yang terkena panas sehingga otak mengirimkan respon kepanasan saat sensasi pedas terasa.

Kaitan Lidah dan Indra Penciuman

Lidah dan indra pemciuman saling berkaitan. Bau atau aroma dari makanan yang kita hirup masuk memalui rongga hidung dan diterima oleh reseptor olfaktori yang diteruskan ke pusat rasa dan bau di otak[7]. Kemudian otak mulai memerintahkan sel – sel dan kelenjar bersiap akan adanya makanan yang masuk ke mulut. Otak dapat mengenali aroma yang kemudian mengirimkan sinyal ke reseptor pada lidah tentang rasa yang cocok untuk aroma tersebut, lalu menghasikan air liur[7]. Contohnya saat kita mencium aroma terasi yang digoreng, kita bisa menduga bahwa terasi tersebut dapat menambah rasa sedap dan menambah nafsu makan. Otomatis, kelenjar saliva akan menghasilkan air liur lebih banyak.

Namun kerja sama ini terganggu jika indra penciuman kita tidak berfungsi normal, seperti saat kita sedang mengalami flu. Saat flu, fungsi indra penciuman akan terganggu sehingga aroma makanan yang masuk ke rongga hidung tidak terdeteksi oleh otak karena serabut saraf penciuman tertutup oleh lendir pilek.

Referensi :

[1]. www.bbc.com. Benarkah Lidah Kita Memiliki “Zona Rasa”. Diakses pada 8 Agustus 2018.

[2]. id.wikipedia.org. Lidah. Diakses pada Agustus 2018.

[3]. www.gurukita.com. Alat Indra Manusia – Pengecap : Lidah. Diakses pada 8 Agustus 2018

[4]. www.cbsnews.com. Tongue Taste Buds Map All Wrong. Diakses pada 8Agustus 2018.

[5]. www.huffingtonpost.com. Map Taste Tongue No Scientific Basis. Diakses pada 8 Agustus 2018.

[6]. Jurnal The Taste Map : All Wrong.

[7]. news.labsatu.com. Kerja Sama Hidung Dengan Lidah : Mengetahui Rasa Dari Aroma. Disakses pada 4 September 2018.

[8]. sains.me. Begini Cara Lidah Merasakan Sensasi Pedas. Diakses pada 4 September 2018.

Bagikan Artikel ini di:

Hoaks: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?

Bagikan Artikel ini di:

Oleh: Abraham Kevin Prasetyo Sasongko

Steve Jobs, seorang tokoh visioner dalam bidang teknologi infomasi sekaligus founder perusahaan teknologi raksasa Apple pernah memprediksi beberapa fenomena yang akan terjadi di masa depan. Seperti yang dilansir dari techno.okezone.com, tiga puluh tahun yang lalu ia memprediksi bahwa komputer yang ada di masa depan mampu digunakan untuk melakukan komunikasi nasional. Ia juga dalam salah satu pidatonya tahun 1983 pernah menyampaikan bahwa nantinya manusia tidak perlu bertatap secara langsung untuk melakukan komunikasi. Kedua prediksi Steve Jobs tersebut telah dan sedang terjadi saat ini dengan kehadiran teknologi internet pada komputer, yang tidak hanya mampu melakukan komunikasi nasional, namun juga internasional. Selain itu, dengan berkembangnya internet, platform-platform  komunikasi yang berbasis jaringan internet banyak bermunculan, baik yang bersifat komunikasi personal (WhatssApp, LINE, Telegram, dsb) maupun komunikasi sosial yang lebih luas atau biasa disebut media sosial (medsos) seperti Instagram, Facebook, Twitter, LinkedIn, yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dan berkomunikasi tanpa bertemu secara langsung dengan orang lain.

Dunia saat ini benar-benar telah memasuki era baru, yakni era teknologi informasi digital. Sebuah era dimana sumber-sumber informasi marak bermunculan terutama dalam dunia media sosial. Menurut Shu Kai, et al. (2017)[1] ada dua alasan utama mengapa manusia gemar mencari informasi melalui media sosial: (1) media sosial cenderung memakan waktu, biaya, dan tenaga lebih sedikit bagi seseorang untuk mencari informasi, (2) lebih mudah bagi seseorang untuk memberi komentar, kritik, dan menyebarkan berita yang ia baca kepada pembaca lainnya.

Kemudahan manusia dalam menjangkau arus informasi dalam media sosial seharusnya memberi dampak positif seperti peningkatan intelektualitas, efisiensi dan efektifitas kerja, serta peningktan sisi humanistik manusia. Namun sayangnya, arus informasi yang sangat deras belum diimbangi dengan adanya teknologi dalam media sosial yang secara efektif mampu menyaring segala bentuk berita yang tidak sahih, yang berpotensi menyebabkan terjadinya disinformasi ditengah masyarakat yang bisa berujung pada munculnya gejolak sosial.

Keberadaan berita-berita yang tidak sahih yang kita kenal dengan hoaks (hoaxes) bukanlah hal baru. Menurut Lynda Walsh penulis dari buku Sins Against Science, mengungkapkan bahwa istilah hoax diperkirakan sudah muncul sejak zaman revolusi industri di Inggris tahun 1808. Sejarah juga mencatat ada banyak hoaks yang terjadi dari masa ke masa. Salah satunya tentang berita seorang astronom bernama Sir John Herschel. Seperti yang dilansir dari businessinsider.com Sir John Herschel menganggap bahwa ia telah menemukan “kehidupan” di bulan pada tahun 1853 melalui percobaan astronomis matematis (mathematical astronomy) yang ia lakukan. Namun keyataanya, teori kehidupan tersebut tidak bisa dibuktikan secara penuh olehnya dan akhirnya terpatahkan.

Media sosial dan hoaks saat ini telah menjadi seperti dua sisi mata koin, yang tidak bisa dipisahkan. Secara logika, semakin banyak pengguna media sosial dalam suatu negara, maka berpotensi pula mempermudah penyebaran hoaks dalam negara tersebut.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)[2] merilis data tahun 2017, sebanyak 143,26 juta dari 262 juta atau 54,68 % dari total penduduk Indonesia, merupakan pengguna internet. Persentase penggunaan internet terbesar oleh masyarakat Indonesia adalah untuk melakukan chatting (89,35%) dan diikuti kegiatan bermedia sosial (87,13%). Durasi penggunaan internet di Indonesia juga tergolong tinggi. Sebanyak 43,89% menggunakan internet 1-3 jam per hari, setiap hari. Melalui data-data tersebut bisa kita simpulkan bahwa penggunaan internet di Indonesia tergolong cukup tinggi, dan semakin menandaskan betapa internet sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari manusia Indonesia.

Keadaan ini sangat berpotensi mempermudah penyebaran hoaks melalui internet secara spesifik media sosial, dan terbukti melalui data Kominfo yang rilis tahun 2017, diperkirakan ada 800.000 situs di Indonesia yang terindikasi menyebarkan hoaks. Apabila kita berasumsi tiap situs tersebut memproduksi satu berita hoaks setiap hari, maka ada 800.000 berita hoaks tiap hari di tengah media sosial masyarakat Indonesia, yang siap disebar diantara 143 juta pengguna internet Indonesia. Hasilnya dalam satu minggu akan ada 5.600.000 berita hoaks yang tersebar diantara 143 juta pengguna internet di Indonesia.

Sains sebenarnya memiliki penjelasan mengapa fenomena hoaks bisa terjadi di tengah masyarakat meskipun hoaks sendiri belum memiliki definisi yang tetap. Menurut Shu Kai, et al. (2017) [1], hoaks atau false news memiliki arti sebagai berita yang sengaja dibuat salah dan terbukti memang salah. Menurut  kamus Meriam-Webster dalam Rahadi (2017)[3] mendefinisikan hoaks sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu dimana sang pencipta berita tersebut tahu bahwa berita yang ia sampaikan palsu. Terdapat benang merah yang dapat ditarik dari kedua definisi di atas yakni berita hoaks memang sengaja untuk diproduksi dan disebarkan dengan tujuan tertentu. Menurut Rahadi (2017)[3] ada beberapa tujuan diproduksinya hoaks:

  1. Bahan bercanda/lelucon
  2. Membentuk/menggiring opini publik terhadap kasus atau peristiwa tertentu
  3. Menjatuhkan lawan seperti melalui ujaran kebencian
  4. Mengajak publik untuk melakukan tindakan tertentu yang belum jelas dalilnya

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, keberadaan media sosial selain mempermudah komunikasi juga diikuti dengan mudahnya penyebaran hoaks. Ilmu sosiologi memandang fenomena hoaks melalui media sosial sebagai kemunduran moral yang dapat membahayakan peradaban khususnya bagi masa depan generasi muda (Juliswara,2017)[4]. Sedangkan ilmu psikologi menganggap fenomena hoaks lebih pada konsekuensi logis akibat terlalu banyaknya informasi yang beredar namun tidak diimbangi dengan kemampuan kognitif si penerima informasi seperti yang ditulis oleh Laura Lauzen Collins dalam presentasinya bertajuk The Psychology of Fake News. Laura menjelaskan dalam kondisi ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan manusia cenderung memproses informasi dengan mengikuti alur Peripheral processing dimana manusia akan berpikir seacara automatis, mendasarkan pada intusisi dan pola – pola yang ia ketahui (pattern-based).

Pernytaan Lauren tersebut didukung oleh Baum et al (2017)[5] yang menyatakan bahawa sebenarnya sensitivitas kita dalam penerimaan kurang bergantung pada rasionalitas pribadi, melainkan pada narasi-narasi heuristik yang timbul dan tersebar dalam kelompok kita. Shu Kai, et al. (2017)[1] menambahkan bahwa memang pada dasarnya manusia susah untuk membedakan berita palsu dengan berita benar. Hal tersebut telah dituangkan dalam beberapa teori psikologi, yakni teori (1) Naiive realism dan (2) Confirmation Bias. Teori pertama yakni teori Naiive realism menjelaskan bahwa manusia cenderung hanya mempercayai keyakinan yang dianutnya, dan menganggap keyakinan orang lain sebagai suatu Bias. Teori kedua yakni teori Confirmation Bias menjelaskan bahwa manusia cenderung hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangannya. Kesimpulannya, memang ditinjau dari segi ilmu psikologi, manusia memiliki apa yang disebut individual vulnerability atau kerentanan individu.

Kondisi ini bukan berarti bahwa tidak ada langkah untuk membendung hoaks bagi kita manusia. Teknologi juga senantiasa berkembang untuk membendung berita-berita palsu. Salah satu teknologi yang sudah dikembangkan oleh putra-putri Indonesia adalah Hoax Analyzer. Software ini dibuat oleh sekelompok putra-putri Indonesia terdiri atas Adinda Putra (Adi), Feryandi Nurdiantoro (Fery), dan Tifani Warnita (Tifa). Ketiganya merupakan mahasiswa ITB yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang Imagine Cup yang diselenggarakan oleh Microsoft di Manila tahun 2017. Dalam kejuaraan tersebut mereka bertiga berhasil menyabet juara pertama.

Gagasan pembuatan software ini berangkat dari peristiwa Pilkada Jakarta tahun 2016 dimana pada saat tersebut banyak sekali berita hoaks yang tersebar melalui media sosial. Cara kerja dari software ini secara sederhana yakni dengan mengkonfirmasi pernyataan yang berupa kalimat melaui mesin pencari. Mesin pencari kemudian akan mencari kesesuaian kalimat yang diunggah pengguna dengan kalimat yang ada di website-website yang menjadi rujukan Kominfo, untuk memastikan kebenaran konten acuan, sehingga akurasi kebenaran beritanya bisa meningkat.

Adapun diagram cara kerja nya adalah sebagai berikut:

Meskipun saat ini software tersebut masih dalam tahap pengembangan sehingga memiliki banyak kekurangan, namun menurut mereka proyek ini akan digarap secara serius karena sudah didukung oleh Kominfo dan pihak Kepolisian Indonesia seperti yang dikutip dari laman cnnindonesia[6]. Salah satu kelemahan yang paling fundamental dari software ini adalah perannya yang belum sebagai pengecek fakta yang independen dan masih sangat bergantung pada media lain yang menjadi rujukan. Oleh sebab itu meskipun teknologi ini sangat potensial, namun sangat dianjurkan bagi kita untuk tetap memiliki pemikiran yang kritis terhadap berita-berita yang ada di media sosial.

Kesimpulannya, teknologi ini sangat berpotensi untuk disebarluaskan di kalangan pengguna media sosial di Indonesia, karena teknologi ini sangat sederhana dan mudah diedukasi kepada masyarakat. Selain itu, teknologi ini merupakan karya anak bangsa yang wajib kita dukung.

DAFTAR REFERENSI

  1. Shu K., A. Silva, S. Wang, J. Tang, H. Liu. Fake News Detection on Social Media: A Data Mining Perspective. ACM SIGKDD Exploration Newsletter, 2017 19 (1), 22-36
  2. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Infografis Penetrasi & Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017.
  3. Rahadi, D.R. 2017. Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax di Media Sosial. J. Manajemen dan Kewirausahaan. 5 (1): 58-70
  4. Juliaswara, Vibriza. 2017. Mengembangkan Model Literasi Media yang Berkebhinnekaan dalam Menganalisis Informasi Berita Palsu (Hoax) di Media Sosial. J. Pemikiran Sosiologi. 4 (2): 142-164
  5. Baum, M., D. Lazer, N. Mele. 2017. Combating Fake News: An Agenda for Research and Action. Conference on Fake News on Feb 17-18 2017 Harvard University
  6. Bintoro, A. 2017. Kegelisahan Mahasiswa Bandung Berbuah Aplikasi Anti-Hoax. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170426111022-185-210180/kegelisahan-mahasiswa-bandung-berbuah-aplikasi-anti-hoax diakses pada tanggal 17 Mei 2018.
Bagikan Artikel ini di:

Radiasi Handphone: “Handphoneku Sayang Katakan Kau Tak Menyakitiku”

Bagikan Artikel ini di:

Oleh: Laras Isna Rahmawati

Handphone sudah menjadi kebutuhan pokok semua manusia, tidak mengenal batas usia dari anak-anak sampai lansiapun menggunakannya. Padahal setiap hari terdapat informasi bahwa radiasi dari handphone mampu mempengaruhi kesehatan tubuh penggunanya, salah satu hal yang sering disampaikan adalah mampu memicu sel kanker apabila didekatkan kepala atau bagian tubuh lainnya. Tapi siapa sangka ternyata informasi tersebut bisa dikatakan sebagai informasi hoax yang tidak dapat dipercaya dan mempunyai fakta yang berlainan.

Akhir-akhir ini terdapat riset mengenai radiasi handphone yang ternyata tidak menganggu kesehatan penggunanya, padahal setiap hari kita mendengar himbauan bahaya radiasi handphone sangat berbahaya bagi kesehatan seperti yang tertera dalam sebuah riset salah satu ilmuwan senior NTP John Bucher mengatakan pihaknya telah melakukan beberapa percobaan menggunakan dua ekor tikus. Percobaan tersebut yakni tikus pertama diberi paparan radiasi sedangkan yang lain tidak beri.  “Maka hasil yang didapat sangat mencengangkan yaitu kedua tikus sama-sama memiliki tingkat kesehatan yang sama, bahkan tikus yang terpapar radiasi frekuensi radio (RFR) memiliki waktu hidup lebih lama dibandingkan tikus yang tidak terpapar sama sekali,” ujarnya kepada New York Post (1).

Berdasarkan hasil penelitian National Toxicology Program (NTP) Amerika Serikat, menunjukan bahwa penggunaan ponsel dalam jangka panjang tidak akan membunuh manusia secara langsung. Kesimpulan dari penelitian berjudul “Cell Phones and Cancer Risk” ini, berkaitan dengan radiasi ponsel yang memicu sel kanker. NTP menjelaskan, paparan energi radio frekuensi yang dihasilkan ponsel, merupakan bentuk radiasi non-ionisasi. Tak seperti radiasi ionisasi, radio frekuensi tidak menyebabkan kerusakan DNA yang dapat menyebabkan kanker. Radiasi non-ionisasi secara konsisten menyebabkan efek biologis, yakni peningkatan suhu dalam jaringan. Sebab, jaringan yang berdekatan dengan antena ponsel akan menyerap energi radio frekuensi (2).

Namun, tetap harus ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dan dibatasi dalam penggunaan handphone. Hingga kini, penelitian terus dilakukan tentang kemungkinan bahaya radiasi HP sebagai pemicu kanker. Walaupun belum dapat dibuktikan, ada baiknya Anda mencoba meminimalisir paparan radiasi dengan membatasi penggunaan HP. Selain itu, beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memanfaatkan jaringan telepon kabel yang umumnya ada di rumah atau kantor.
  • Menggunakan perangkat audio tambahan yang memungkinkan tidak menempatkan HP secara langsung di sekitar kepala.
  • Sedapat mungkin menjauhkan HP dari tubuh saat tidak digunakan.

Kemajuan teknologi HP semakin banyak membantu beragam aktivitas. Namun, disarankan tetap menggunakan HP secara tidak berlebihan, agar terhindari dari dugaan risiko bahaya radiasi HP yang dapat memicu gangguan kesehatan (3).

Semakin kita tanggap, waspada dan pintar dalam menggunakan teknologi, semakin banyak pula manfaat yang kita dapat. Semua kembali kepada kita sang pengguna bagaimana bisa memanfaatkan teknologi sebagaimana mestinya. Betapa banyak sekali informasi yang salah yang membahas tentang radiasi handphone sehingga banyak tanggapan dan himbauan yang negatif terhadap penggunaan handphone. Namun dengan membatasi pengggunaanya dan menghindari beberapa hal yang sudah dihimbau dapat meminimalisir apabila sewaktu-waktu terdapat riset yang menyatakan benar, karena sampai sekarangpun risep mengenai radiasi ponsel ini masih terus dilakukan.

Secara tidak langsung riset tersebut menjelaskan kepada khalayak ramai bahwa radiasi handphone tidak sebahaya itu terhadap kesehatan manusia, hanya saja khalayak ketika mendapat suatu informasi tanpa dicerna panjang langsung disebarkan bahkan sering kali ditambahkan informasi yang tidak melihat fakta. Itulah pentingnya mencerna informasi yang didapat sebelum menyebarkannya, untuk mengurangi tersebarnya berita hoax. Bijaklah dalam menerima informasi, dan bijaklah dalam menggunakan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

[1] CNN Indonesia. 2018. Riset Terbaru Ungkap Radiasi Ponsel Tak Ganggu Kesehatan. Diakses dari: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180313213213-185-282748/riset-terbaru-ungkap-radiasi-ponsel-tak-ganggu-kesehatan pada 3 Mei 2018.

[2] Wahyu Nanda Kusuma Pertiwi. 2018. Riset terbaru: Ponsel Tak Membunuh Manusia. Diakses dari: https://tekno.kompas.com/read/2018/03/12/19060057/riset-terbaru-ponsel-tak-membunuh-manusia?page=all pada 4 mei 2018.

[3] Alodokter. 2018. Ini Fakta Tentang Bahaya Radiasi HP. Diakses dari: https://www.alodokter.com/ini-fakta-tentang-bahaya-radiasi-hp pada 5 Mei 2018.

Bagikan Artikel ini di: