Teknologi Fotokatalis Sebagai Solusi Limbah Cair Industri Organik

Bagikan Artikel ini di:

Permasalahan limbah di era industrialisasi merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan keberadaannya dan menjadi persoalan yang serius bagi kelangsungan hidup. Limbah hasil produksi industri baik limbah cair, padat, atau bentuk lainnya menghasilkan limbah yang rentan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pengolahan limbah harus dilakukan sejak awal ketika proses produksi dilakukan hingga akhir agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Limbah cair organik merupakan sisa dari suatu proses produksi industri yang berwujud cair yang dibuang ke lingkungan dan dapat menurunkan kualitas lingkungan. Salah satunya adalah industri tahu yang menghasilkan limbah cair dengan banyak kandungan senyawa organik, sehingga nilai BOD dan COD dari limbah akan tinggi. Terdapat pula industri tekstil yang limbah cairnya mengandung senyawa organik dan anorganik cukup tinggi, dan masih banyak industri yang menghasilkan limbah cair dengan berbagai komponen di dalamnya. Salah satu solusi mengatasi limbah cair industri organik yaitu dengan menggunakan fotokatalis Titanium dioksida (TiO2).

TiO2 sering digunakan pada teknologi pengolahan lingkungan karena selain mempunyai harga celah energi yang tinggi, juga stabil secara kimia dan fisika, aman, serta harganya murah (Gunlazuardi, 2001). TiO2 merupakan fotokatalis yang menyerap energi foton pada daerah UV. TiO2 dapat berfungsi sebagai fotokatalis, yaitu bahan yang dapat mempercepat reaksi yang diinduksi oleh cahaya, karena TiO2 memiliki struktur semikonduktor.

Titanium dioksida memilik 3 jenis struktur Kristal, yaitu rutil, anatase dan brukit. Namun diantara tiga jenis struktur tersebut, hanya anatase dan rutillah yang cukup stabil keberadaannya. Jenis struktur yang berbeda tentunya berpengaruh pada perbedaan masa jenis (3,9 g/cc untuk anatase dan 4,2 g/cc untuk rutil), dan tentunya hal ini dapat mempengaruhi pada luas permukaan dan sisi aktif dari TiO2 tersebut. Selain itu, struktur kristal ternyata mengakibatkan perbedaan tingkat energi struktur pita elektroniknya. Besarnya energi gap (Eg) diantara keduanya akan berbeda bila lingkungan, dalam hal ini penyusunan atom Ti dan O di dalam Kristal TiO2 berbeda. Contohnya, struktur anatase memiliki Eg sebesar 3,2 eV dan rutile memiliki Eg sebesar 3,0 eV (Arutanti, 2009).

Gambar 1. Energi celah, posisi pita valensi (bawah), konduksi (atas), dan potensial redoks. Potensial reduksi bertanda negatif dan potensial oksidasi bertanda positif. Satuan dalam volt diukur pada larutan elektrolit dengan PH = 1 [4] (Arutanti,2009)

Dari Gambar 1 di atas, dapat dilihat bahwa TiO2 memiliki energi celah sebesar 3,2 eV yang merupakan selisih absolut antara energi pita konduksi (-4,5 eV) dengan posisi tingkat energi pita valensi (-7,7 eV). Hal ini mengindikasikan bahwa h+ pada permukaan TiO2 merupakan spesis oksidator kuat sehingga dapat mengoksidasi spesi kimia lainnya yang mempunyai potensial redoks lebih kecil. Dalam hal ini adalah air yang akan menghasilkan radikal hidroksil. Karena berdasarkan data yang ada, radikal hidroksil pada pH = 1 memiliki potensial sebesar 2,8 Volt, dan berdasarkan data yang lain juga, sebagian besar zat organik yang ada memiliki potensial redoks yang lebih kecil dari 2,8 Volt. Hal inilah yang membuat penyinaran pada TiO2 dapat memecah zat organik menjadi senyawa lainnya (Arutanti, 2009).

Fotokatalis, secara umum didefinisikan sebagai proses reaksi kimia yang dibantu oleh cahaya dan katalis padat. Dimana dalam langkah reaksinya melibatkan pasangan electron-hole (e- dan h+). Definisi umum tersebut mempunyai implikasi bahwa beberapa langkah-langkah fotokatalis adalah merupakan reaksi redoks yang melibatkan pasangan e- dan h+ .

Gambar 2. Peristiwa eksitasi dan de- eksitasi pada TiO2 di bawah sinar UV (Arutanti, 2009)

            Pada prinsipnya, reaksi oksidasi pada permukaan semikonduktor dapat berlangsung melalui donasi electron dari substrat ke h+ . Apabila potensi oksidasi yang dimilikio leh TiO2 pada pita valensi ini cukup besar untuk mengoksidasi air pada permukaan partikel, maka akan dihasilkan gugus hidroksil. Radikal hidroksil merupakan spesi pengoksidasi kuat dan memiliki potensial redoks sebesar 2,8 Volt. Potensial sebesar ini cukup kuat untuk mengoksidasi sebagian besar zat organik menjadi air, asam mineral dan karbon dioksida. Berikut adalah gambaran reaksi kimia yang terjadi pada fotokatalisis :

Gambar 3. Air limbah yang sebelum disaring dan sesudah di saring (Arutanti, 2009)

Gambar 4. Limbah leuwigajah (200 ml) yang dicampur dengan TiO2 (5,883 gram) dibawah sinar matahari dengan selang waktu 1 jam (Arutanti, 2009)

Hal yang termudah dalam mendeteksi apakah air tersebut tercemar adalah dilihat dari warna, bau, viskositas dan PH. Asumsi pertama, jika air tersebut terlihat sudah berwarna bahkan mengeluarkan bau, maka air tersebut sudah tercemar. Asumsi kedua, jika air tersebut sudah tercemar oleh sampah non-organik, maka cara mensterilisasi air tersebut tidaklah mudah. Dalam kata lain tidak dapat di sterilisasi dengan cara fisik akan tetapi harus secara kimia.

Pada Gambar. 3 digunakanlah asumsi ke dua. Limbah leuwigajah tersebut dicoba dijernihkan dengan cara difilter. Jika pencemarnya adalah non-organik, maka sampah tersebut tidak mudah larut dalam air sehingga air yang tercemar sampah non-organik dapat dengan mudah dipidahkan terutama dengan cara difilter. Akan tetapi, setelah melihat hasil dari eksperimen pertama, maka sangat diyakini bahwa air tersebut sudah tercemar sampah organik. Buktinya, ketika air tersebut difilter, tidak ada perubahan yang mencolok ketika sebelum dan sesudah disaring (Arutanti, 2009).

Pada Gambar. 4, cawan yang berisi 200 ml limbah ditambahkan masing-masing 5,883 gram TiO2 serbuk. Larutan di campur dan didiamkan di bawah sinar matahari selama kurang lebih 8 jam. Setiap 1 jam sekali perubahan larutan diabadikan. Dari gambar tersebut perubahan warna air cukup signifikan. Limbah yang pada mulanya berwarna kehitam-hitaman, berubah menjadi jauh lebih bening. Selain itu, bau yang tadinya cukup menyengat, setelah dilakukan fotokatalisis ternyata menghilang.

Kemampuan permukaan TiO dalam menjalankan fungsinya sebagai fotokatalisator dengan menyediakan h+ dengan radikal oksidasi yang besar, sistem tersebut mampu menyediakan radikal hidroksil secara kontinu sesuai dengan sumber fotonnya. Sifatnya sebagai pengoksidasi yang kuat yang memiliki potensial sekitar 2,8 Volt, membuatnya mampu mengoksidasi senyawa organik yang ada di dalam limbah. Senyawa-senyawa organik yang sifatnya merugikan di ubah kedalam bentuk senyawa lain yang tidak berbahaya. Sehingga sistem ini dapat dikelola menjadi suatu perangkat yang mampu mengolah zat organik beracun menjadi zat lain yang tidak beracun di dalam air yang tercemar (Arutanti, 2009).

Referensi:

  • Gunlazuardi, J., 2001, June. Fotokatalisis pada permukaan TiO2: Aspek Fundamental dan aplikasinya. In Seminar Nasional Kimia Fisika II.
  • Arutanti, O., Abdullah, M., Khairurrijal, K. and Mahfudz, H., 2009. Penjernihan Air Dari Pencemar Organik dengan Proses Fotokatalis pada Permukaan Titanium Dioksida (TiO2). Jurnal Nanosains & Nanoteknologi, pp.53-55.
Bagikan Artikel ini di:

Begini Kondisi Ozon di Antartika Sekarang

Bagikan Artikel ini di:

BEGINI KONDISI LUBANG OZON DI ANTARTIKA SEKARANG

Kondisi Ozon pada 23 Januari 2019

Sejak dimulainya masa Revolusi Industri, Negara-negara di dunia semakin banyak mendirikan pabrik dan berkembang pesatlah dunia industry disamping pesatnya dunia industri hal ini menimbulkan efek samping diantaranya meningkatkan kadar CO2 serta CFC di atmosfer. CFC atau Chlorofluorocarbon adalah gas yang biasa digunakan sebagai spray dan sebagai pendingin. Melihat dampak buruk penggunaan CFC bagi lapisan atmosfer terutama Ozon,  akhirnya pada 1987 dibuatlah protokol montreal yaitu sebuah traktat internasional yang dirancang guna melindungi lapisan ozon dengan meniadakan produksi sejumlah zat (CFC) yang diyakini bertanggung jawab atas berkurangnya lapisan ozon. [2]

Kondisi Ozon di Tahun 1980-an Mulai munculnya Lubang Ozon

Ozon pertama kali ditemukan oleh C.F Schonbein pada tahun 1840. penamaan ozon diambil dari bahasa yunani OZEIN yang berarti smell atau bau. Ozon dikenal sebagai gas yang tidak memiliki warna. Soret pada tahun 1867 mengumumkan bahwa Ozon adalah sebuah molekul gas yang terdiri dari tiga buah atom oksigen. [1]

Proses Pembentukan Ozon:

Secara Alamiah Ozon dapat terbentuk melalui radiasi sinar ultraviolet pancaran sinar Matahari. Chapman menjelaskan pembentukan ozon secara alamiah pada tahun 1930. Ia menjelaskan bahwa sinar ultraviolet dari pancaran sinar Matahari mampu menguraikan gas oksigen di udara bebas. Molekul oksigen tadi terurai menjadi 2 buah atom oksigen. proses ini kemudian dikenal dengan nama photolysis. Lalu atom oksigen tadi secara alamiah bertumbukan dengan molekul gas oksigen yang ada di sekitarnya. lalu terbentuklah ozon. [1]

Reaksi Fotolisis dalam pembentukan ozon secara alamiah

Selain proses alamiah, ozon juga dapat dibuat dengan mempergunakan peralatan antara lain dengan metode electrical discharge dan sinar radioaktif. Pembuatan ozon dengan eletrical discharge pertama kali dilakukan oleh Siemens pada tahun 1857 dengan mempergunakan metode dielectric barrier discharge. [1]

Pembentukan ozon dengan eletrical discharge ini secara prinsip sangat mudah. Prinsip ini dijelaskan oleh Devins pada tahun 1956. Ia menjelaskan bahwa tumbukan dari elektron yang dihasilkan oleh eletrical discharge dengan molekul oksigen menghasilkan dua buah atom oksigen. [1]

selanjutnya atom oksigen ini secara alamiah bertumbukan kembali dengan molekul oksigen disekitarnya, lalu terbentuklah ozon. Dewasa ini, metode electrical discharge merupakan metode yang paling banyak dipergunakan dalam pembuatan ozon diberbagai kegiatan Industri. [1]

Proses pembentukan ozon melalui electrical discharge.

Di Lapisan Stratosfer pada ketinggian 12-45 km dari Bumi terdapat lapisan ozon. Lapisan ozon tersebut berbentuk seperti mantel yang menyelimuti Bumi. Pada lapisan ini terdapat konsentrasi ozon tertinggi di atmosfer, tetapi dibandingkan dengan gas-gas lain (N2, O2, dll), Konsentrasi ozon tersebut masih sangat rendah. Ozon di stratosfer (lapisan ozon) melindungi semua makhluk hidup dari pancaran sinar ultraviolet yang berasal dari Matahari. Karena itu, Ozon di stratosfer bermanfaat bagi manusia.[1]

Pada tahun 1985 Lubang di lapisan ozon pertama kali terdeteksi. Lubang ozon secara teknis bukan sebuah lubang dimana tidak ada ozon tetapi daerah dimana ozon mulai menipis atau mulai habis di stratosfer di atas antartika. Daerah ini biasanya muncul pada Southern hemisphere spring (agustus-oktober). [3]

Hasil observasi satelit dari tahun 1979-2012. Warna biru dan Ungu menunjukkan area dengan ozon menipis(Lubang ozon) sedangkan warna hijau, kuning dan merah menunjukkan area memiliki banyak ozon.

Lubang ozon diatas antartika mencapai luas maksimum tiap tahunnya selama musim dingin dibagian selatan. Berkurangnya ozon disebabkan oleh CFC yang berada diatmosfer yang terjadi secara cepat pada suhu yang dingin dan berhenti ketika suhu memanas. Jadi setiap oktober, lapisan ozon perlahan membaik setiap tahunnya. [3]

Lubang Ozon terbesar pada tahun 2000. Diperkirakan lubang ozon ini berukuran 11,5 juta mil kuadrat dan area ini berukuran 3x lebih besar dari Amerika Serikat.

Menurut Paul A. Newman chief saintis for earth sciences pada NASA’S Goddard Spaceflight Center. “Klorin di stratosfer antartika mulai menurun 11% sejak tahun 2000 dan Tahun 2018 ini temperatur paling dingin ini harusnya memberikan lubang ozon terbesar jika kadar klorin tidak menurun seperti di tahun 2000.” [3]

Referensi:

[1] Cahyono Eko W,Prosiding Pengaruh Penipisan Ozon terhadap Kesehatan Manusia, 200, Yogyakarta: FMIPA-UNY diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/11728/1/26_Pengaruh%20Penipisan%20Ozon%20terhadap%20Kesehatan%20Manusia%20%28W.%20Eko%20Cahyono%29.pdf pada 29 Januari 2019 pukul 07.03 WIB.

[2] Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Montreal pada tanggal 22 Januari 2019.

[3] Diakses dari https://earthsky.org/earth/2018-ozone-hole-slightly-above-average pada tanggal 22 Januari 2019.

Bagikan Artikel ini di:

Alat Neurostimulator yang Bekerja Secara Wireless Berpotensi Untuk Menyembuhkan Penyakit Epilepsi dan Parkinson

Bagikan Artikel ini di:

Sebagian besar dari pembaca Warstek.com disini pasti sudah sering mendengar penyakit Parkinson dan Epilepsi. Sebenarnya, apa sih penyakit Parkinson dan Epilepsi ini?

Penyakit Parkinson dan Epilepsi

Dikutip dari Parkinson’s Disease Handbook American Parkinson Disease Association, Parkinson merupakan penyakit yang disebabkan keadaan neurologis yang tergganggu sehingga menyebabkan gangguan pergerakan dan memengaruhi kemampuan sesorang dalam beraktivitas. Pada penyakit Parkinson terjadi kehilangan banyak neuron atau sel saraf pada beberapa bagian otak, termasuk area yang disebut Substantia Nigra atau bahasa latin dari Substansi Hitam. Disebut sebagai Substansi Hitam karena area tersebut dibawah mikroskop terlihat sangat gelap atau hitam. Neuron pada Substansi Nigra menghasilkan neurotransmitter yang disebut dopamin. Hormon dopamin disini berfungsi untuk mengatur pergerakan. Ketika jumlah sel pada Subtansi Nigra menurun, maka hormon dopamin pada otak juga menurun. Padahal hormon dopamin sangat penting untuk menyokong gerakan normal [1].

Gambar 1. Struktur Kimia Dopamin [2]

Sedangkan penyakit epilepsi dikutip dari Epilepsy Atlas World Health Organization merupakan kelainan medis dan sosial yang ditandai dengan sering terjadinya kejang-kejang. Kejang yang terjadi pada seseorang dapat bersifat idiopatik atau secara spontan tanpa sebab yang jelas dan bersifat simptomik atau memiliki gejala-gejala tertentu. Beberapa penyakit seperti hipokalsemia, meningitis, dan stroke apabila tidak ditangani dengan baik, kejang-kejang dapat terus berkepanjangan dan menyebabkan anoksia atau kondisi otak yang kekurangan oksigen, selanjutnya kekurangan oksigen pada otak akan menyebabkan kerusakan otak yang menjadi penyebab epilepsi [3].

Gambar 2. Ilustrasi Dokter dengan pasien [1]

Penyakit Parkinson dan Epilepsi memang memiliki gejala dan sebab yang berbeda, namun dari kedua penyakit tersebut akhirnya diketahui bahwa gangguan atau kelainan yang menyebabkan penyakit Parkinson dan Epilesi terjadi pada otak.

Neuromodulasi

Dalam perkembangan penyembuhan penyakit Parkinson dan Epilepsi, sebuah perangkat neuromodulasi yang dapat memodulasi saraf dengan cara menstimulus jalur abnormal saraf yang menyebabkan penyakit. Terapi neuromodulasi melakukan stimulasi ke saraf secara spesifik pada otak, tulang belakang atau saraf, dan terapi ini tidak bersifat invasif atau sedikit invasif tergantung pada target yang diterapi [4].

Prosedur terapi neuromodulasi bersifat reversible yang artinya perangkat neuromodulasi tersebut dapat tidak diaktifkan jika diperlukan. Terapi neuromodulasi dapat membantu untuk mengembalikan saraf yang rusak dengan perangkat yang dapat digunakan eksternal atau diimplant [4].

Wireless Neurostimulator

Baru-baru ini, sebuah perangkat berhasil dikembangkan di Universitas California, Barkeley,yang dapat menangkap dan menstimulasi sinyal elektrik pada otak secara simultan, dan berpotensi untuk menyembuhkan penyakit Parkinson dan epilepsi. Perangkat Neurostimulator yang disebut WAND (Wireless Artifact-free Neuromodulation) ini bekerja seperti alat pacu jantung pada otak, memberikan stimulus secara spesifik ke saraf yang membutuhkan.

Gambar 3. Wireless Neurostimulator UC, Barkeley [1]

Percobaan pertama perangkat ini dilakukan pada monyet. WAND melakukan monitoring sinyal elektrik aktifitas otak dan memberikan stimulasi elektris ketika dideteksi adanya gangguan pada saraf otak. Perangkat WAND bekerja secara wireless dan automasi, yang artinya perangkat tersebut menyetel parameter stimulasi sendiri untuk mencegah sinyal yang tidak diinginkan ketika sinyal tersebut diketahui sebagai penyebab tremor atau kejang. Perangkat ini juga dapat merekam aktifitas elektrik pada 128 titik pada otak dan bekerja secara closed-loop atau dapat menstimulasi dan merekam secara bersamaan dan mengatur parameter secara tepat waktu [5].

Gambar 4. Percobaan sistem WAND pada monyet [5].

Berbeda dengan sistem open-loop, closed-loop neuromodulasi dapat memberikan estimasi yang akurat dari substansi saraf dan sinyal yang terekam dan secara otamatis mengatur kapan dan bagaimana sebuah stimulasi diberikan ke otak. Dengan desain closed-loop, perangkat WAND dapat bekerja lebih adaptif karena memberikan terapi yang tepat sasaran, mengurangi efek samping, dan memperpanjang umur baterai pada perangkat wireless.

Studi terakhir menunjukkan stimulasi responsive merupakan pilihan yang baik pada pasien epilepsi, selain itu sistem closed-loop pada perangkat WAND dapat memberikan improvisasi stimulasi Deep Brain Stimulation (DBS) pada pasien Parkinson dan pasien penyakit motorik lainnya. Walaupun pada saat ini belum ada perangkat komersil dengan stimulasi DBS closed-loop untuk pasien dengan kelainan motorik dan pengimplementasian sistem tersebut masih dalam investigasi. Pada nyatanya, beberapa percobaan stimulasi DBS berhasil dilakukan dalam durasi singkat menggunakan perangkat yang tidak sepenuhnya diimplan. Untuk melanjutkan penelitian sistem closed-loop pada neuromodulation lebih lanjut, dibutuhkan platform penelitian yang lebih fleksibel untuk melakukan pengetesan dan pengimplementasian sistem closed-loop secara wireless [5]. Berikut adalah video dari Deep Brain Stimulation yang diaplikasikan pada penderita Parkinson

Sistem dan Desain WAND

WAND didesain sedemikian rupa agar berfungsi dan dapat diaplikasikan pada lingkungan yang berbeda-beda serta mengimbangi keterbatasan ukuran perangkat dan daya yang digunakan. Integrated Circuit (IC) pada perangkat WAND menggunakan Neuromodulation Integrated Circuit (NMIC) untuk memberikan pulsa stimulasi dengan rentang mulai dari 20uA sampai dengan current yang dibutuhkan DBS yakni 5mA. Selain itu, IC tersebut juga digunakan untuk menangkap sinyal Local Field Potential (LFP) dengan bandwidth sampai dengan 500Hz.

LFP merupakan sinyal yang banyak digunakan dalam aplikasi medis dan pada perangkat ini digunakan sebagai indikator adanya gangguan. Sinyal LFP sangat berguna untuk memahami proses neural dan sangat relevan dengan beberapa studi dasar neuroscience, mulai dari memahami bagaimana saraf dapat mengatur pergerakan dan cara kerja memori pada saraf.

Gambar 4. Integrated Circuit (IC) pada perangkat WAND [1]

Gambar 5. Circuit Elektronik WAND [1]

Walaupun saat ini sudah berkembang circuit elektronik yang mampu membaca sinyal high-channel, kecanggihan suatu circuit elektronik tersebut tidak bisa menoleransi, kadang semakin memperburuk, efek dari artifak stimulasi. High-channel pada perangkat stimulator ini penting karena semakin banyak channel yang digunakan, maka semakin banyak pula titik pengambilan sinyal dan titik stimulus yang diberikan. Sedangkan, artifak stimulasi adalah suatu kondisi sinyal yang tidak diinginkan, bahkan mengganggu dalam proses perekaman atau pengambilan sinyal. Stimulasi elektrik menghasilkan tegangan transien yang besar (artifak langsung), seiring dengan stimulasi current dan charge yang diberikan ke saraf dan beberapa elektroda terdekat. Artifak langsung dapat menyebabkan magnitude tegangan yang besar (dalam skala mV) sehingga menghalangi sinyal saraf (dalam skala uV).

Kemudian, diikuti dengan post-stimulus sinyal tegangan luruh (artifak tidak langsung) yang ditentukan dengan adanya perbedaan fasa stimulasi dan propertis elektroda yang digunakan. Amplifier circuit elektronik konvensional noise-rendah dan daya-rendah sangat sensitif terhadap artifak langsung dan tidak langsung. Sinyal yang dihasilkan akan mengalami saturasi dari kedua artifak tersebut. Pemulihan sinyal dapat berlangsung lama (dalam skala ms) yang menyebabkan data loss setelah pulsa stimulasi. Data loss yang terjadi walaupun dalam skala milisecond tidak diinginkan karena pada saat pemulihan sinyal, perangkat tidak dapat menangkap atau merekam sinyal saraf.

Saturasi sinyal dapat dicegah dengan menaikkan rentang input linear amplifier atau dengan mengurangi komponen sinyal amplitudo yang besar pada artifak. Durasi artifak dan direduksi dengan melakukan discharge secara cepat pada elemen circuit dari sinyal stimulus. Circuit elektronik pada WAND didesain menggunakan NMIC dengan improvisasi stimulasi dan arsitektur penangkapan sinyal yang dapat mencegah artifak dan meminimalisasi efeknya pada circuit.

Dalam konteks pengobatan medis, perangkat WAND dapat dikemas kedap udara dan digunakan sebagai terapi pada stimulasi otak dan secara bersamaan dilakukan monitoring terus-menerus pada respon saraf selama dilakukan terapi. Sebagai contoh, pada pasien penyakit Parkinson diterapi dengan DBS, Swann, dan lainnya, kemudian dari hasil terapi dan monitoring tersebut ditemukan substansi biologi lainnya yang berhubungan dengan diskinesia yang merupakan efek samping dari terapi DBS berupa gerakan tidak terkendali pada lidah, bibir, dan wajah. Sistem closed-loop yang digunakan pada perangkat WAND secara adaptif mampu dimodifikasi pada aplikasi yang dibutuhkan sehingga dapat mengurangi efek samping yang merugikan.

Referensi

[1] Mraz, Stephen. 2019. Neurostimulator “Listens”, then Applies “Curing” Stimulation to the Brain. Diakses dari : https://www.machinedesign.com/community/neurostimulator-listens-then-applies-curing-stimulation-brain pada tanggal 16 Januari 2019

[2] Wikipedia. Dopamin. Diakses dari : https://id.wikipedia.org/wiki/Dopamin pada tanggal 23 Januari 2019

[3] American Parkinson Disease Association. 2017. Parkinson’s Disease Handbook. Amerika : Medtronik

[4] Epilepsy Atlas. 2005. Epilepsy : The Disorder. Amerika : WHO

[5] Zhou, Andy., Santacruz, Samantha R., Johnson, Benjamin C., Alexandrov, George., Moin, Ali., Burghardt, Fred L., Rabaey, Jan M., Carmena, Jose M., Muller, Riky . 2019. WAND: A 128-channel, closed-loop, wireless artifact-free neuromodulation device. USA : Universitas of California, Berkeley

Bagikan Artikel ini di: