Mengenal Lebih Dekat Manfaat Lendir Lele Bagi Kesehatan

Lele (Clarias batracus) merupakan  salah satu komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar yang memiliki tubuh memanjang, pipih serta tubuh yang licin berlendir. Ikan lele diminati masyarakat karena memiliki berbagai kelebihan, seperti mampu beradaptasi pada segala kondisi, dagingnya gurih dan enak bila dikonsumsi, pertumbuhan cepat, dan memiliki kandungan gizi yang tinggi bagi kesehatan. Menurut buku pedoman analisis zat gizi yang diterbitkan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat dan Puslitbang Depkes RI tahun 1991, ikan lele memiliki kandungan kadar air 76 gr, protein 17 gr, lemak 4,5 gr, fosfor 200 mg, kalsium 20 mg, zat besi 1 gr, vitamin A 150 IU (International Unit) dan vitamin B1 0,05 gr.

baca juga: Benarkah Limbah Sisik Ikan Bisa Digunakan Sebagai Bahan Kosmetik?

Selan itu, ikan lele juga mengandung asam lemak omega-3 13,6 gr/100 gr, asam lemak omega-6 22,2 gr/100 gr dan asam lemak omega-9 19,5 gr/100gr [1]. Tingginya kandungan omega-6 pada ikan lele dapat digunakan untuk perkembangan gizi pada anak-anak , khususnya balita. Omega-6 dikenal dapat membantu perkembangan otak yang berperan dalam peningkatan prestasi akademik anak. Kandungan gizi inilah yang dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan lainnya seperti ikan salmon dan tuna yang harganya lebih mahal daripada ikan lele.

Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa lendir pada tubuh lele juga bermanfaat untuk dunia medis?

Sebelum kita bicara mengenai manfaat lendir ikan lele untuk dunia medis, kita kenali dulu fungsi lendir yang ada pada tubuhnya untuk ikan lele itu sendiri. Lendir ikan lele berfungsi sebagai pelindung diri karena lele tidak memiliki sisik. Selain itu lendirnya juga berfungsi sebagai media bergerak lele, baik di dalam lumpur ataupun di dalam air [2]. Lalu apa saja manfaat lele untuk dunia medis?

Sebagai Obat Penyembuh Luka pada Penderita Diabetes

Lendir pada tubuh lele juga dapat digunakan sebagai obat luka pada penderita diabetes kronis. Khususnya penderita diabetes yang telah terinfeksi oleh bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Kandungan Antimicrobial peptides dalam lendir lele inilah yang dapat melawan bakteri patogen penyebab luka pada penderita diabetes kronis [3].

 Lalu apa itu bakteri MRSA?

Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan bakteri Staphylococcus aureus yang telah kebal terhadap antibiotik. Pemicu bakteri ini mengalami resistensi adalah terapi antibiotik yang tidak rasional. Bakteri ini berpindah dari satu pasien ke pasien lainnya, baik melalui alat medis yang kurang steril, maupun melalui udara. Banyak sekali faktor yang dapat memicu terjadinya MRSA ini, yaitu lingkungan, kebersihan individu, riwayat infeksi, riwayat operasi dan penyakit, serta riwayat pengobatan [4].

Sebagai Formulasi Saliva Buatan dalam Mengatasi Mulut Kering Pasca terapi kanker Nasofaring

Salah satu efek yang dihasilkan pasca kemoterapi pasien penderita kanker nasofaring adalah kondisi mulut kering bahkan susah dalam proses menelan. Karena itu, dapat diatasi dengan perawatan menggunakan saliva buatan. Namun, produk saliva buatan yang beredar di pasaran Indonesia belum menggunakan bahan-bahan organik. Alternatif yang bisa dipakai ialah menggunakan formulasi lendir lele sebagai saliva buatan. Di dalam lendir lele, mengandung senyawa-senyawa antimikroba seperti claricin, hepcidin, dan protease. Dimana senyawa-senyawa ini dapat melawan bakteri dan jamur penyebab mulut kering pada pasien pasca kemoterapi kanker nasofaring [5]. Wow, meskipun lele hidup di lingkungan kompleks dan lingkungan tercemar sekalipun, tetapi lele punya manfaat luar biasa.

 

 

Referensi :

[4] Mahmudah, R., T. U. Sholeha, dan CN. Ekowati. 2013. Identifikasi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Tenaga Medis dan Paramedis di Ruang Intensivecare Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek. Medical Journal of Lampung University Vol 2(4). Halaman 70-78.

[1] Nurasmi.,  A. P. Sari dan Rusmiati. 2018. Analisis Kandungan Asam Lemak Omega 3, Omega 6 dan Omega 9 dari Ikan Lele (Clarisas sp) pada Peningkatan Nutrisi Balita. Journal of Borneo Holistic Health. Vol 1(1). Halaman 99-100.

[2] Remi. (2015, 10 Oktober). Karakteristik Tubuh Ikan Lele. Dikutip 18 Oktober 2019 dari https//ternakpedia.com/10/karakterist-lele/.

[3] Kurniawan, B. (2016, 5 Agustus). Lendir lele Berkhasiat Obati Luka Diabetes. Dikutip18 Oktober 2019 dari https://m.detik.com/health/berita-detikhealth/lendir-lele-berkhasiat-obati-luka-diabetes.

[4] Mahmudah, R., T. U. Sholeha, dan CN. Ekowati. 2013. Identifikasi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Tenaga Medis dan Paramedis di Ruang Intensivecare Unit (ICU) dan Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek. Medical Journal of Lampung University Vol 2(4). Halaman 70-78.

[5] Sabandar, S. (2018, 21 Juli). Mahasiswa UGM Temukan Khasiat lendir Lele untuk Pasien Kanker. Dikutip 18 Oktober 2019 dari  https://m.liputan6.com/mahasiswa-ugm-temukan-khasiat-lendir-lele-untuk-pasien-kanker.

Film Joker (2019): Analisis Penyebab Gangguan Jiwa Pada Arthur Fleck

Film Joker (2019): Analisis Penyebab Gangguan Jiwa Pada Arthur Fleck

Film Joker kembali menyadarkan kita bahwa gangguan jiwa itu sangat bahaya dampaknya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dalam film tersebut, diceritakan bahwa Arthur Fleck mengalami pseudobulbar affect, yang didefinisikan sebagai episode tertawa atau menangis secara tidak sengaja, tiba-tiba, tidak terkendali, dan sering terjadi berulang yang umumnya tidak proporsional atau tidak sesuai dengan situasi. Selain itu, ibunya yaitu Penny Fleck, mengalami gangguan kepriadian narsisistik dan gangguan delusional. Terlepas dari apakah mungkin rekam medis Penny dipalsukan oleh Thomas Wayne untuk menutupi kisah masa lalunya dengan Penny atau memang benar Penny mengalami gangguan jiwa, kita akan lebih fokus ke gangguan jiwa tersebut.

Pengertian dari gangguan jiwa adalah sindroma yang ditandai oleh gangguan klinis yang secara signifikan mengganggu kognitif individu, regulasi emosi atau perilaku yang mencerminkan disfungsi psikologis, proses biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental. Kita perlu menandai di bagian kata “sindroma” dan “disfungsi”. Sindroma adalah kumpulan dari symptom atau gejala. Lalu, bagaimana cara kita mengukur disfungsi psikologis, proses biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental? American Psychiatric Association (APA) sudah mengembangkan kuesioner sebagai alat diagnosis untuk gangguan jiwa atau psikiatri yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-5).[1]

Manusia merupakan hasil interaksi antara badan, jiwa, dan lingkungan (fisik dan sosial). Ketiga unsur ini saling memengaruhi sejak saat pembuahan. Oleh karena itu, dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan manusia, kita harus memperhatikan dan mempertimbangkan segala aspek tersebut sebagai suatu kesatuan, yang disebut pendekatan holistik. Apa pentingya pendekatan holistik? Dalam hal ini, pendekatan holistik juga diperlukan dalam menganilisis penyebab gangguan jiwa pada seseorang.[3]

Selain itu, menurut Hendrik L. Blum (1974), faktor-faktor yang mempengaruhi derjat kesehatan ada empat, yaitu: gaya hidup, lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya); pelayanan kesehatan, dan faktor genetik (keturunan). Keempat determinan tersebut saling berinteraksi dan akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. Arthur Fleck menderita sakit jiwa karena keempat determinan itu ada yang tidak terpenuhi, terpenuhi tetapi tidak cukup, atau semuanya tidak terganggu.[4]

Diambil dari: https://bastamanotes.wordpress.com/2017/11/24/teori-h-l-blum/

Sumber stres psikologi yang dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

  1. Frustasi

Frustasi muncul ketika ada hambatan antara kita dan tujuan kita. Frustasi dapat muncul karena stressor dari dalam maupun dari luar tubuh, sehingga penilaian diri sendiri menjadi buruk. Frustasi yang muncul dari dalam tubuh misalnya cacat fisik atau kegagalan dalam usaha dan yang timbul dari luar antara lain, bencana alam, persaingan yang berlebihan, pengangguran, kecelakaan, kematian orang tercinta, dan lain-lain. Dalam kasus Arthur, ia mengalami frustasi ketika ia sangat ingin tampil sebagai pelawak yang lucu dan mampu membuat setiap orang bahagia saat mendengar leluconnya, namun ia justru memiliki pseudobulbar affect yang membuatnya tertawa tanpa sebab, sehingga membuatnya ditertawakan bukan karena ia lucu, tetapi lebih karena dianggap menyedihkan. Selain itu, ia harus menjadi pengangguran karena dikhianati oleh sahabatnya sendiri, dan membuatnya gagal untuk menggapai mimpinya.[3]

  1. Konflik

Konflik terjadi jika kita tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan.[3]

  1. Tekanan

Tekanan juga dapat menimbulkan masalah penyesuaian. Tekanan sehari-hari yang terlihat kecil, jika dibiarkan menumpuk dan berlangsung lama, dapat menimbulkan stres yang hebat. Seperti yang kita saksikan di film, hidup Arthur memang sebuah tragedy yang di dalamnya banyak tekanan. Kehidupannya mendapat tekanan dari berbagai pihak, walaupun ia sudah merasa melakukan yang terbaik dalam kehidupannya. Mendapat keluhan dari atasan, diganggu oleh anak-anak iseng di jalanan saat ia bekerja, dan ia semakin tidak dihargai orang-orang dan dianggap aneh karena tertawa tanpa sebab. Bahkan saat ia belum sempat menjelaskan apa penyakitnya, orang-orang justru memilih untuk tidak sabaran dan memukulnya, ini di adegan kereta bawah tanah ketika akhirnya ia memutuskan untuk menembak tiga pegawai Wayne yang mengganggu seorang wanita dan memukulinya habis-habisan.[3]

  1. Krisis

Krisis adalah keadaan karena stressor mendadak dan besar yang menimbulkan stress pada seseorang individu atau pun suatu kelompok. Misalnya: kematian, kecelakaan, penyakit yang memerluka operasi, atau masuk sekolah untuk pertama kali. Dalam hipotesis saya, krisis yang terjadi pada Fleck adalah ketika ia mendengar pernyataan dari Thomas Wayne yang menyatakan bahwa ibunya mengalami gangguan delusional dan hubungan antara ia dan ibunya hanyalah delusi semata. Kemudian, ternyata hal itu didukung oleh rekam medis yang ia curi di rumah sakit jiwa yang menyatakan ibunya menderita gangguan delusional dan gangguan kepribadian narsisistik. Ibunya dulu menganiaya anaknya sendiri, yaitu dirinya, karena anaknya menangis, padahal sebelumnya selalau terlihat bahagia. Kejadian ini bahkan sampai mengakibatkan trauma otak berat pada Arthur kecil. Usai membaca rekam medis itu, Arthur yang sebelumnya sudah terganggu jiwanya, mendapatkan stressor yang lebih besar dan mendadak, sehingga membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidup ibunya saat itu juga karena merasa penderitaan yang selama ini ia alami adalah karena kesalahan ibunya.[3]

Individu yang melakukan perilaku abnormal atau dinyatakan sakit jiwa, ketika ia tidakmampu atau gaga luntuk melakukan kompensasi stres terhadap masalah yang dihadapinya. Hal ini disebut dekompensasi mental. Biasanya, hal ini terjadi ketika stressor terus menerus menempa seseorang kita, sampai pada nilai ambang stress (frustration threshold) yang dimiliki seseorang. Frustration threshold setiap orang berbeda-beda tergantung keadaan somato-psiko-sosial seseorang. Setiap orang mepunayi cxara sendiri untuk menysuaikan diri terhadap stres, karena penilaian terhadap stressor dan stress berbeda (faktor internal) dan karena tuntutan tiap individu berbeda (faktor eksternal). Hal ini tergantung pada usia, seks, kepribadian, inteligensi, emosi, status sosial, dan pekerjaan individu.[3]

Sebelum masuk ke tahap dekompensasi mental, individu pasti sudah berusaha melakukan kompensasi stres dengan cara penyesuaian (task oriented) atau mekanisme pembelaan ego (ego defense oriented) untuk mempertahankan kesehatan mentalnya. Task oriented bertujuan untuk menghadapi tuntutan keadaan yang menjadi stressor. Akan tetapi, jika stress itu mengancam kemampuan dan harga dirinya, maka reaksi yang muncul akan cenderung ego defense oriented, yang tujuan utamanya untuk melindungi diri sendiri terhadap rasa evaluasi diri yang buruk secara berlebihan dan meringankan ketegangan serta kecemasan yang menyakiti.[3]

Joker memutuskan untuk melakukan salah satu mekanisme pembelaan ego (MPO) yaitu rasionalisasi. “Orang jahat adalah orang baik yang disakiti.” Katanya. Faktanya, ia hanya melakukan pembenaran atau rasionalisasi atas perbuatan-perbuatan jahat yang ia lakukan dengan mengatakan bahwa ia orang baik yang sudah disakiti banyak orang. Lalu, apakah pernyataannya sepenuhnya salah? Tentu tidak. Namun, rasionalisasi berlebihan akan membuat seseorang justru akan semakin lari dari kenyataan dan tidak mau mengahadapi masalahnya. Ia juga melakukan displacement, yaitu saat melampiaskan kemarahannya pada tempat sampah untuk mengurangi kecemasan dan kekecewaannya. Selain itu, ia juga menyalahkan pejabat publik dan orang-orang kaya karena mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pernah memedulikan rakyat kecil seperti dirinya.[3]

Dari sisi teori hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan manusia ada lima macam yaitu: kebutuhan fisiologis (physiology), rasa aman (safety), cinta (love), rasa percaya diri (esteem), dan self-actualization. Seperti yang kita tahu, kebutuhan fisiologis Joker saja sudah tidak terpenuhi dengan baik, ia memiliki badan yang kurus kering dan saya mempunyai hipotesis bahwa Body Mass Index (BMI) Joker masuk dalam kategori underweight atau bahkan malnutrisi. Hal ini tentunya semakin memperparah kesehatan mental Joker.[4]

Diambil dari: https://www.coachilla.co/blog/the-new-hierarchy-of-needs

[1] Science In The News (SITN) Harvard Integrated Life Sciences (HILS), diakses 12 Oktober 2019 pukul 23.25 WIB <http://sitn.hms.harvard.edu/wp-content/uploads/2015/04/Psych_DayCon_060315.2.pdf>

 [2] Sadock BJ, Sadock VA, dan Ruiz V, 2015, Contribution of The Psychososial Sciences, In : Pataki CS, Sussman N (Eds.), 11th edn, Synopsis of Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry.

[3] Maramis WF & Maramis AA, 2012, Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi Kedua, Airlangga University Press

[4] Setiawan FEB, 2018, Ilmu Kedokteran Keluarga, UMM Press

 

Polri Akui Gunakan Gas Air Mata Kedaluwarsa, Lebih Berbahaya atau Bahayanya Berkurang?

Polri Akui Gunakan Gas Air Mata Kedaluwarsa, Lebih Berbahaya atau Bahayanya Berkurang?

Sejumlah unggahan di media sosial menjadi viral, unggahan tersebut berupa foto selongsong gas air mata kedaluwarsa berkode MU54-AR yang telah kedaluwarsa pada Mei 2016.  Namun meski telah kedaluwarsa, masih digunakan Brimob Polri untuk memukul mundur massa aksi di Gedung DPR beberapa hari lalu. Polripun mengakui bahwa telah menggunakan gas air mata yang sudah kedaluwarsa untuk melancarkan aksinya tersebut [1].

Foto ini viral di berbagai media sosial

Mantan Direktur Utama Pindad (BUMN bidang produk militer) Adik Avianto menjelaskan bahwa yang dimaksud kedaluwarsa dan tertulis di selongsong gas air mata adalah alatnya, bukan zat kimianya [2]. Alat gas air mata terdiri dari 3 komponen utama yakni pendorong, bahan peledak, dan senyawa gas. Jadi seandainya ditembakkan yang telah kedaluwarsa, maka alat gas air mata tersebut kemungkinan besar tidak akan berfungsi, tidak akan meledak, atau jika meledak maka daya ledaknya menjadi tidak optimal. Itulah mengapa dipakai sebelum kedaluwarsa supaya alat gas air mata dapat beroperasi secara optimal.

Adik Avianto juga berpesan agar masyarakat tidak membuat hoax dan percaya bahwa zat di dalam gas air mata yang kedaluwarsa bisa lebih berbahaya dan mematikan, karena jika senyawa bisa mematikan pasti ada warning. Beberapa tokoh bahkan memprediksi efektivitas senyawa kimia bukannya meningkat tapi malah menurun, seperti yang disampaikan oleh Steve Wright dari Leeds Metropolitan University [3]. Steve Wright yang telah meneliti teknologi yang berkaitan dengan dunia kepolisian mengatakan jika gas air mata telah kadaluwarsa, kemungkinan bahan kimia di dalamnya telah rusak sehingga efek gas menjadi kurang efektif.

Penggunaan gas air mata yang telah kedaluwarsa untuk membubarkan aksi demonstrasi juga terjadi di Hong Kong dan Iowa. Di Hong Kong, pakar keamanan dan mantan pengawas kepolisian bernama Clement Lai Kai-chi memberikan analisisnya terkait kasus tersebut. Dia mengatakan tanggal yang tercantum di selongsong gas air mata hanyalah menunjukkan waktu ‘sebaiknya digunakan’ dan amunisi masih bisa digunakan lima tahun lagi setelah tanggal kadalursa habis [4]. Sedangkan polisi Iowa bernama sersan Brian Braymen  mengatakan bahwa gas air mata yang kedaluwarsa justru lebih berbahaya bagi petugas kepolisian yang menembakkan gas air mata. Hal ini disebabkan oleh alat yang tidak dapat berfungsi, macet, bocor, atau meledak tidak semestinya [5]. Argumen-argumen ini diamini oleh CEO perusahaan pembuat gas air mata yakni Jon Goodrich dari Mace Security International yang menjelaskan bahwa tanggal kedaluwarsa dicantumkan karena propelan (pendorong yang memicu pembakaran) dalam selongsong gas air mata bisa melemah [6].

Senyawa kimia gas air mata dapat membuat ketidaknyamanan jangka pendek seperti mata perih, iritasi saluran pernapasan bagian atas, menyebabkan batuk, tersedak, dan lemas. Dua kandungan gas air mata yang paling sering digunakan adalah Phenacyl chloride atau CN dan 2-chlorobenzalmalononitrile atau CS. Meskipun demikian, pemaparan berulang atau berkepanjangan terhadap gas air mata bisa berdampak berbahaya [3].

Struktur senyawa kimia gas air mata

Tidak hanya zat kimianya yang berbahaya, tetapi orang juga bisa terluka karena tabung gas air mata,. Tabung gas air mata bekerja seperti granat tangan, dengan cara ditarik dan memicu pengapian yang mengirim bahan kimia ke udara. Gas air mata juga bisa ditembakkan dari pistol.

Lantas bagaimana pertolongan pertama bagi yang terkena gas air mata?

Pertolongan pertama untuk iritasi mata akibat gas air mata adalah dengan mencuci wajah dan mata dengan larutan saline atau larutan garam. Jika tidak tersedia maka bisa menggunakan air hingga sengatan mereda. Selain itu, terdapat salah satu minuman yang umum ditemui yang dinilai dapat mengobati gas air mata, yakni susu. Susu dinilai mampu meringankan rasa sakit yang disebabkan oleh gas air mata [7].

Pertolongan pertama yang cukup populer selain cara diatas adalah penggunaan odol atau pasta gigi. Beberapa ahli kesehatan dan dokter menilai tindakan tersebut kurang tepat karena partikel odol berisiko menyebabkan iritasi lebih lanjut apabila masuk ke mata [8].

Baca juga: Respon Pendidikan Tinggi Terhadap Revolusi Industri Keempat

 

Referensi:

  1. https://kabar24.bisnis.com/read/20190926/16/1152675/polri-akui-gunakan-gas-air-mata-kadaluarsa . Diakses pada 27 September 2019.
  2. https://news.detik.com/berita/d-4723464/benarkah-gas-air-mata-kedaluwarsa-lebih-berbahaya/2 . Diakses pada 27 September 2019.
  3. https://tirto.id/apa-isi-dari-gas-air-mata-yang-ada-di-demo-mahasiswa-eiLz . Diakses pada 27 September 2019.
  4. https://news.detik.com/berita/d-4723464/benarkah-gas-air-mata-kedaluwarsa-lebih-berbahaya/4 . Diakses pada 27 September 2019.
  5. http://www.iowastatedaily.com/news/expired-gas-posed-no-higher-risk/article_f28af87c-ebd2-511b-9393-50dabe12968e.html . Diakses pada 27 September 2019.
  6. https://news.detik.com/berita/d-4723464/benarkah-gas-air-mata-kedaluwarsa-lebih-berbahaya/5 . Diakses pada 27 September 2019.
  7. https://www.kompas.com/tren/read/2019/09/25/112458165/mengenal-gas-air-mata-kandungan-hingga-tips-mengurangi-dampaknya?page=all . Diakses pada 27 September 2019.
  8. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4719713/mahasiswa-mulai-oleskan-masker-odol-ampuhkah-menangkal-gas-air-mata . Diakses pada 27 September 2019.

Hati-hati Makanan dan Minuman Jangan Ditiup!! Dapat Berdampak Buruk bagi Kesehatan

Hati-hati Makanan dan Minuman Jangan Ditiup!! Dapat Berdampak Buruk bagi Kesehatan

Makan dan minum merupakan salah satu kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar dari kita, ketika hendak makan atau minum dengan makanan atau minuman yang panas, kurang sabar untuk menunggu agar makanan atau minuman menjadi sedikit dingin, sehingga memilih untuk meniupnya dengan tujuan agar makanan atau minuman panas bisa lebih cepat dingin. Beberapa dari kita juga lebih suka mengonsumsi makanan atau minuman yang panas karena dapat menghangatkan tubuh, terutama pada saat cuaca sedang dingin.

Apakah anda salah seorang yang memiliki kebiasaan meniup atau mengonsumsi makanan dan minuman panas? Jika iya, maka segera hentikan kebiasaan tersebut, karena ternyata kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Terlalu sering meniup makanan atau minuman dapat menyebabkan shock, koma, hingga kematian.

Ketika meniup makanan atau minuman panas, berbagai mikroorganisme dari dalam mulut akan keluar bersama dengan karbon dioksida yang dihasilkan dari proses pernapasan. Mikroorganisme yang biasanya berkumpul disisa-sisa makanan merupakan organisme yang tidak baik.

Meniup makanan atau minuman berhubungan dengan bakteri helicobacter pylori yang merupakan bakteri yang dapat hidup di saluran cerna manusia. Bakteri ini dapat hidup di lingkungan yang bersifat asam. Bakteri ini menyebabkan peradangan kronis pada lapisan lambung. Bakteri ini menjadi penyebab paling umum borok-borok (ulcers) di seluruh dunia. Infeksi bakteri ini terjadi akibat mengonsumsi makanan atau air yang tercemar, serta melalui kontak dari orang ke orang. Bakteri ini sangat berbahaya bagi orang yang memiliki gangguan lambung. Bakteri helicobacter pylori ini dapat mengontaminasi makanan dan minuman. Dampak berkepanjangan dari meniup makanan atau minuman adalah kanker perut yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Selain helicobacter pylori, bakteri-bakteri lain dari mulut dapat dengan mudah berpindah ke dalam makanan atau minuman melalui tiupan, sehingga untuk menjaga kesehatan diri, orang lain, serta lingkungan dapat dimulai dengan tidak meniup makanan atau minuman.

Karbon dioksida, dengan rumus kimia CO2 merupakan salah satu zat buangan dari hasil pernapasan manusia. Ketika meniup makanan atau minuman panas atau saat kita menghembuskan napas ke dalam gelas saat minum, maka kita akan mengeluarkan karbon dioksida yang apabila bereaksi dengan uap air akan membentuk asam karbonat (H2CO3) yang bersifat asam, sehingga membuat sifat makanan atau minuman yang ditiup menjadi asam. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan pH darah menjadi lebih asam akibat pembentukan asam karbonat tersebut. Dalam keadaan normal, kadar keasaman (pH) dari darah berkisar antara 7,35 sampai 7,45. Jika kadar keasaman lebih tinggi, maka tubuh akan berada pada keadaan asidosis. Asidosisi adalah kondisi dimana darah memiliki kadar asam yang tinggi (kadar basa yang rendah) sehingga menyebabkan pH darah turun (rendah). Kondisi asidosis ini cukup berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan gangguan jantung yang ditandai dengan tarikan napas yang lebih cepat, pusing, serta sesak karena tubuh berusaha untuk menyeimbangkan pH darah dan mengurangi kadar karbon dioksida di dalam tubuh. Selain itu, ginjal juga akan mengurangi asam dalam tubuh dan mengeluarkannya sebagai urin. Akibatnya, tubuh akan mengalami gejala mual, kelelahan, atau kebingungan. Dampak yang lebih parah, terjadi penurunan tekanan darah, syok, bahkan kematian.  Sehingga, kita dianjurkan untuk menghindari makan makanan atau minuman yang panas, serta bernapas dalam gelas saat minum (meskipun minuman dingin).

Sumber :

  • Abdul. 2012. Danger of Blowing the Hot Food and Drinks. http://studiedblog.blogspot.com/2012/12/danger-of-blowing-hot-food-and-drinks.html
  • Al-Azizi, Abdul Syukur. 2018. Islam Itu Ilmiah. Laksana : Yogyakarta.
  • Baygon at https://steemit.com/life/@baygon/blowing-food-or-hot-drinks-it-s-dangerous-d1e841a7fd086
  • https://skeptics.stackexchange.com/questions/19917/blowing-on-food
  • https://www.quora.com/Is-blowing-on-hot-food-dangerous

Pelajari Sejak Dini Penyakit Silent Killer!

Pelajari Sejak Dini Penyakit Silent Killer!

Ditulis Oleh Nur Ihsan Amalia – Pernahkah Anda mengukur tekanan darah Anda ataupun kadar kolesterol Anda? Ternyata cek kesehatan secara rutin sangat perlu, sebab kita dapat mencegah secara dini gejala-gejala penyakit yang menyerang tubuh kita kapan saja. Pada umumnya, suatu penyakit pasti ditandai dengan munculnya beberapa kondisi sebagai gejala. Namun apakah bisa penyakit yang sewaktu-waktu dapat menyerang tubuh tersebut tiba-tiba muncul bahkan tanpa gejala? Penyakit yang satu ini dapat timbul hampir tanpa indikasi awal. Terlebih penyakit-penyakit mematikan sekarang sudah tidak pandang bulu lagi. Dari anak-anak hingga orang dewasa dan lansia, bahkan tidak peduli berduit atau tidak. Penyakit yang menyumbang angka kematian yang cukup banyak ini disebut silent killer.

Salah satu penyakit yang tergolong silent killer adalah jantung. Serangan jantung ini terjadi karena terhentinya aliran darah ke jantung sehingga sebagian sel jantung mati. Pada umumnya, pada bagian dada penderita tiba-tiba terasa nyeri dan sesak selama beberapa menit. Hal tersebut disebabkan adanya penumpukan lemak atau karena hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, dll (Adi D. Tilong, 2014).

Selain jantung, penyakit mematikan selanjutnya adalah stroke, penyakit stroke juga tergolong penyakit silent killer. Penyakit ini timbul karena adanya gangguan pada aliran darah ke otak. Faktor resiko pada stroke terbagi menjadi dua, yakni faktor yang tidak dapat diubah, seperti jenis kelamin, umur, dan genetik, dan faktor yang bisa diubah, seperti hipertensi, jantung, diabetes melitus, obesitas, dll (Adi D. Tilong, 2014).

Faktor utama atau faktor paling banyak dari penyakit-penyakit mematikan tersebut diatas tidak lain adalah hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang menjadi penyebab kematian kelima tertinggi di indonesia. Tekanan darah adalah kekuatan darah yang mendorong melawan dinding arteri, dari jantung yang memompa darah melalui arteri. Tekanan darah yang terlalu tinggi akan sangat menganggu sirkulasi darah dan dapat mengakibatkan penyakit jantung. Penyakit hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.

Baca juga: Gingerol Pada Jahe (Zingiber officinale) sebagai Zat Penurun Kadar Kolesterol Tinggi

Setiap peningkatan 20 mmHg tekanan darah sistolik atau 10 mmHg tekanan darah diastolik dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik dan strok (Chobaniab, dkk., 2003).

Dokter spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Dr. Bambang Widyantoro mengatakan, survei menunjukan bahwa hipertensi dapat meningkatkan risiko stroke dan risiko serangan jantung. Hal ini diketahui dari survey May Measurement Month tahun 2017 dan 2018, yang mengukur tekanan darah lebih dari 70.000 orang di 34 provinsi Indonesia pada tahun 2017 dan 120.000 orang di 27 provinsi di tahun 2018.

Dr Bambang juga mengatakan, data pengukuran tekanan darah lebih dari 70.000 masyarakat Indonesia selama Mei 2017 menunjukkan, satu dari tiga orang dewasa dengan usia sekitar 41 tahun mengalami peningkatan tekanan darah, dan satu dari enam orang sudah mengonsumsi obat penurun tekanan. Dari sinilah kemudian diketahui jika 7,7 persen dari penderita hipertensi sudah pernah mengalami stroke, sebanyak 15,7 persen menderita penyakit jantung koroner, lebih dari 19 persen masih merokok aktif dan 16,2 persen dari penderita hipertensi, juga menderita diabetes.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dr. Tunggul D Situmorang mengatakan, hal ini karena hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh yang memiliki pembuluh darah. Tak hanya menyumbang angka kematian, hipertensi juga menelan anggaran besar. Data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat, sepanjang semester 1/2017 telah mengeluarkan dana Rp. 12,7 triliyun untuk membiayai penyakit tidak menular, seperti stroke, jantung, kanker, hingga gagal ginjal.

Pencegahan selalu lebih baik dari pengobatan, Untuk mengendalikannya, Pemerintah melaksanakan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Harapannya, seluruh komponen bangsa dengan sadar mau membudayakan perilaku hidup sehat dimulai dari keluarga. Germas dilakukan dengan melakukan aktifitas fisik, menerapkan perilaku hidup sehat, konsumsi pangan sehat dan bergizi, melakukan pencegahan dan deteksi dini penyakit, meningkatkan kualitas lingkungan menjadi lebih baik, dan meningkatkan edukasi hidup sehat, juga menerapkan pola hidup sehat dengan perilaku CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres).

Selain itu dengan mengendalikan perilaku berisiko seperti merokok dan diet tidak sehat, serta menghindari terlalu banyak mengkonsumsi garam. Kita juga harus banyak mengkonsumsi buah dan sayur serta menjaga pola makan dan istirahat yang cukup. Jika sudah menderita hipertensi maka hal yang harus dilakukan adalah menghubungi dokter serta banyaklah mengkonsumsi makanan yang dapat menurunkan atau mengkontrol tekanan darah, seperti mentimun, daun sledri, dan lain-lain.

Daftar Pustaka