Membongkar Mitos Negative Pricing Listrik Jerman

Bagikan Artikel ini di:

Di media sosial, meme tentang Jerman “membayar” pelanggan untuk menggunakan listrik kembali beredar. Klaimnya, hal itu merupakan keberhasilan dari “energi terbarukan,” yang kemudian membuat publik berkhayal hal tersebut bisa diterapkan di Indonesia. Meme tersebut bukan meme baru, tetapi entah kenapa kembali bersirkulasi.

Gambar 1. Meme tentang kelebihan pasokan listrik berlebih yang disalahpahami.

Pertanyaannya, benarkah isi meme tersebut? Ramainya penyebaran meme tentang negative pricing dengan sentiment positif mengisyaratkan bahwa publik sama sekali tidak paham tentang sistem kelistrikan di Jerman.

Pertama, patut dipahami dulu bahwa sistem kelistrikan di Jerman terprivatisasi total [1]. Artinya, mulai dari sektor hulu sampai hilir sama sekali tidak dipegang oleh negara, melainkan oleh swasta. Pembangkitan listrik, transmisi listrik, distribusi listrik, bisa dipegang oleh perusahaan yang berbeda-beda. Negara tidak hadir dalam bentuk BUMN, perannya hanya sebagai regulator [2].

Baca juga: Meluruskan Salah Kaprah Tentang Membaca Kapasitas Pembangkit Listrik

Kedua, penguasaan total oleh swasta berarti penyediaan layanan kelistrikan berbasis pada untung-rugi, bukan murni pelayanan masyarakat [3]. Semua perusahaan yang terlibat pasti mengharapkan keuntungan, dan akan menjual “elektron” ke perusahaan di level di bawahnya dengan margin keuntungan.

Sebagai ilustrasi, misalkan harga listrik dari pembangkit seharga USD 3 sen/kWh. Perusahaan pembangkit kemudian menjual ke perusahaan transmisi seharga USD 6 sen/kWh. Lalu, perusahaan transmisi menjual ke perusahaan distribusi seharga USD 9 sen/kWh. Masyarakat kemudian membayar USD 15 sen/kWh ke perusahaan distribusi setelah melewati perusahaan jasa sales listrik. Jadi, harga keluar dari pembangkit ke pengguna naik 500%! Belum termasuk berbagai pajak dan biaya yang harus dibayarkan.

Ketiga, jika listrik dikuasai swasta dan jelas bahwa orientasi mereka adalah keuntungan, maka dari mana ceritanya mereka bisa membayar masyarakat untuk memakai listrik? Jawabannya sederhana: SUBSIDI [4]. Negara memberi subsidi, melalui berbagai jenis peraturan dan regulasi  Subsidi ke siapa? Perusahaan energi! Khususnya yang mau menggunakan “energi terbarukan,” yang notabene menjadi bahasan meme tersebut.

Walau sering digembargemborkan murah, nyatanya “energi terbarukan” itu tidak murah dan sulit untuk berharap bisa benar-benar murah. Berita-berita tentang panel surya dan turbin angin harganya semakin lama semakin turun adalah bagian dari How to Lie with Statistics [5]. Harga pembangkit lebih murah tidak secara langsung menyebabkan harga listrik murah, karena masih tergantung pada aspek-aspek lain, entah itu usia pakai, faktor kapasitas, maupun integrasi dengan jaringan listrik.

“Energi terbarukan” sangat tergantung pada belas kasih cuaca yang tidak selalu stabil. Karena keandalannya yang rendah dan site-limited, “energi terbarukan” akhirnya menjadi mahal [6]. Ini merupakan sifat melekat dan tidak bisa diakal-akali menggunakan teknologi lain. Masalah fisika, bukan engineering.

Berdasarkan alasan tersebut, maka wajar jika perusahaan swasta harus diiming-imingi insentif dan subsidi dulu supaya mau berinvestasi di “energi terbarukan.” Kalau tidak ada subsidi, ekspansi “energi terbarukan” tidak akan seperti sekarang. Warren Buffett, miliuner yang berinvestasi di energi bayu, mengakui terang-terangan bahwa satu-satunya alasan membangun turbin angin adalah karena adanya subsidi dari negara [7].

Baca juga: Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Lokal

Kelima, kenapa bisa terjadi negative pricing? Listrik yang terprivatisasi penuh membuat hukum pasar bekerja: suplai berlebih, harga jatuh. Sifat sistem kelistrikan adalah produksi dan konsumsi harus sama, kalau tidak jaringan listrik bisa terganggu bahkan jebol. Negative pricing terjadi ketika produksi dari “energi terbarukan” berlebih tetapi permintaan rendah. Bauran “energi terbarukan” dalam jaringan listrik dapat menimbulkan power surge utamanya ketika matahari sedang bersinar sangat terang atau angin berembus kencang [8]. Hal ini menyebabkan pembangkitan listrik jadi sangat berlebih dan tidak sesuai dengan kebutuhan, sehingga membahayakan jaringan. Untuk mencegah gangguan pada sistem pembangkit maupun jaringan listrik, perusahaan yang mendapat subsidi dari negara menggunakan subsidi itu untuk “membayar” masyarakat agar menggunakan listrik.

Jadi pada hakikatnya, negative pricing tidak pernah disebabkan oleh harga “energi terbarukan” yang murah, melainkan subsidi negara/pemerintah pada perusahaan kelistrikan yang kemudian diberikan pada masyarakat.

Keenam, harga wholesale tidak sama dengan harga retail. Dalam pasar kelistrikan yang terliberalisasi, harga listrik berubah dari waktu ke waktu [9]. Dari harga sangat mahal menjadi sangat murah bahkan negatif. Pertanyaannya, berapa lama negative wholesale price itu terjadi? Apakah lebih lama atau lebih sebentar dari expensive wholesale price?

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Realitanya, negara-negara yang banyak mengintegrasikan “energi terbarukan” ke jaringan listrik mereka memiliki retail price, alias harga riil, paling mahal. Denmark, sebagai contoh, retail price listrik mereka mencapai EUR 31,23 sen/kWh, sementara Jerman mencapai EUR 30 sen/kWh. Angka-angka tersebut merupakan harga tertinggi di Eropa. Sementara, negara-negara dengan bauran “energi terbarukan” lebih rendah, seperti Inggris Raya dan Prancis, memiliki retail price lebih rendah (EUR 20,24 sen/kWh dan EUR 17,99 sen/kWh) [10].

Gambar 2. Harga listrik rumah tangga di Eropa. Tampak bahwa Denmark (DK) dan Jerman (DE) termasuk yang paling mahal. (sumber: Eurostat)

Di Amerika Serikat, California memiliki bauran “energi terbarukan” cukup tinggi. Namun, harga listriknya lebih tinggi daripada rerata negara-negara bagian Amerika Serikat lain dengan bauran “energi terbarukan” lebih rendah. Padahal, California juga mengalami negative pricing [11].

Gambar 3. Harga listrik di California lebih tinggi dari rerata Amerika Serikat (sumber: Environmental Progress)

Dengan demikian, walau terkesan bahwa masyarakat “dibayar” untuk menggunakan listrik, dibandingkan dengan negara lain yang sistem kelistrikannya tidak serumit Jerman (dan negara dengan bauran “energi terbarukan” tinggi lain), harga yang harus dibayarkan masyarakat untuk listrik justru lebih mahal! Bauran “energi terbarukan” lebih dari 25% dalam jaringan listrik akan meningkatkan probabilitas terjadinya negative pricing secara eksponensial, dan ini jelas bukan hal yang sehat [12].

Memahami informasi secara setengah-setengah memang memiliki kecenderungan menyesatkan. Untuk menilai secara adil, harus dipahami sistem kelistrikan yang berlaku secara keseluruhan. Terkait kasus negative pricing, maka pemahaman menyeluruh membuktikan pada kita bahwa realitanya sama sekali berbeda dengan pemahaman publik. Bahwa “energi terbarukan” memang menyebabkan negative pricing, tetapi tidak membuat harga listrik keseluruhan lebih murah, malah sebenarnya lebih mahal.

Referensi

  1. Matthias Heddenhausen, 2007. Privatisations in Europe’s liberalised electricity markets – the cases of the United Kingdom, Sweden, Germany, and France. Berlin: Research Unit EU Integration.
  2. Torsten Brandt, 2006. Liberalisation, privatisation and regulation in the German electricity sector. Dusseldorf: Wirtschafts- und Sozialwissenschaftliches Institut.
  3. Hannes Weigt, 2009. A Review of Liberalization and Modeling of Electricity Markets. Available online at https://mpra.ub.uni-muenchen.de/65651/
  4. Andrei Morch et al, 2016. Post-2020 framework for a liberalised electricity market with a large share of renewable energy resources. Norway: Market4Res.
  5. Darrell Huff, 1954. How to Lie with Statistics. New York: W. W. Norton & Company.
  6. Andika Putra Dwijayanto, 2017. Let’s Run the Numbers: Menguji Klaim Antara Energi Nuklir dan “Energi Terbarukan”. Available online at http://bit.ly/letsrunnumber
  7. Nancy Pfotenhauer. Big Wind’s Bogus Subsidies. Accessed from https://www.usnews.com/opinion/blogs/nancy-pfotenhauer/2014/05/12/even-warren-buffet-admits-wind-energy-is-a-bad-investment
  8. Liam Stoker. ‘Unprecedented’ events send UK power market into negative pricing for six hours straight. Accessed from https://www.current-news.co.uk/news/unprecedented-events-send-uk-power-market-to-negative-pricing-for-six-hours-straight
  9. International Energy Agency, 2005. Lesson from Liberalised Electricity Markets. Paris: IEA.
  10. Electricity Price Statistics. Accessed from https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php/Electricity_price_statistics
  11. Environmental Progress. California. Accessed from http://environmentalprogress.org/california
  12. Milou J. Saraber, 2016. Negative Electricity Prices in the German Electricity Market. Thesis, Rotterdam School of Management, Erasmus University.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

SIRINGMAKAR 22: “Mengupas Beasiswa Indian Council for Cultural Relation”

Bagikan Artikel ini di:

Pemateri: Siti Fathurrohmah (penerima Beasiswa ICCR BSc in Microbiology di Osmania University)

Moderator: Lusi Ernawati

 

Pengantar

Saya mengambil studi BSc Microbiology, Genetics and Chemistry di Osmania University. Kebetulan hari ini adalah hari terakhir saya final exam (ujian semester akhir). Dan insyaAllah bulan Juni saya mendapat ijazah, dan di bulan Juli saya sudah bisa pulang ke tanah air. Sedikit bercerita awal mula saya bisa berangkat ke India, saya memang berkeinginan bisa kuliah di luar negeri sejak masih SMP. Namun, saya sadar diri jika masih ada kesulitan dengan penguasaan bahasa Inggris, sempat ciut juga impian saya karena kendala bahasa. Jadi, alih-alih saya menguburkan mimpi studi di luar negeri, saya memutuskan untuk mencari alternatif. Alternatif saya adalah kuliah dimana bahasa Inggris adalah bahasa resmi, namun negara tersebut bukanlah English Speaking Country. Sebenarnya sangat jarang ada beasiswa S1 ke luar negeri. Sebagian besar yang mengambil S1 luar negeri adalah self-finance. Jadi, saya di India tidak hanya belajar ilmu sains yang menjadi bidang saya, namun juga praktek bahasa Inggris secara daily basis disini. Bisa dibilang kuliah di India adalah batu loncatan saya kuliah di negara Eropa dan sekitarnya.

 

Diskusi

Sekolah di India Murah: ‘Bak Kacang Goreng’

freepik.com

Sudah tidak menjadi rahasia lagi dan semua mahasiswa Indonesia di India mengakui kalau biaya pendidikan di India tergolong murah. Cukup banyak teman-teman disini yang menempuh pendidikan dengan biaya orang tua, bahkan saya kenal beberapa kawan yang membiayai kuliahnya sendiri hingga S2 di India.

Saya ambilkan contoh di Aligarh Muslim University, biaya pendidikan untuk B.A (Bachelor of Arts) setara S1, untuk biaya SPP sekitar Rp 14.000.000 hingga lulus. Di India, jenjang S1 rata-rata hanya 3 tahun. Di Delhi University, untuk kuota asing biaya pendidikan jenjang S1 program sains atau BSc sekitar Rp 3.600.000 per tahun.

Di India juga adalah surga bagi pecinta buku. Ini adalah hal terfavorit bagi saya selama di India, karena saya suka membaca. Selama di India kami tidak pernah mengenal buku bajakan. Semua buku yang tersedia disini asli. Akses untuk menjangkau buku-buku terbitan internasional juga sangat mudah. Di Kota Delhi ada perpustakaan sekaligus toko buku khusus untuk buku terbitan Oxford University Press.

Dua hal yang saya cintai dalam dunia buku adalah Sains dan Pengembangan Diri. Kedua jenis buku tersebut yang memenuhi rak buku saya. Buku Mikrobiologi saya terbitan McGraw Hill, misalnya, saya dapatkan hanya Rp 120.000. Buku tersebut asli (ada hologramnya), cukup tebal sekitar 800 halaman, dan lagi itu terbitan internasional. Buku bekas (second hand) tetapi asli juga cukup banyak tersedia. Jujur, saya lebih suka buku bekas, karena sudah agak lecek.

Pada bulan Januari setiap tahunnya, di daerah Pragati Maidan, New Delhi digelar pameran buku internasional. Ada yang bilang itu adalah pameran buku terbesar di Asia. Banyak penerbit kelas dunia seperti Oxford, Cambridge, Wiley, turut serta di pameran tersebut. Diskon yang ditawarkan pun hingga 30%. Penerbit Indonesia seperti Mizan juga sering ikut serta membuka stand di acara tersebut. Pameran biasanya berlangsung sekitar 1 (satu) minggu.

Bahasa Inggris

freepik.com

Bahasa adalah salah satu perbedaan yang paling kentara yang saya hadapi pertama kali. FYI, India dahulu negara bekas jajahan Inggris, jadi tidak heran kalau rakyatnya banyak yang fasih berbahasa Inggris. Tak heran pula Bahasa Inggris menjadi bahasa resmi pemerintahan, pendidikan, politik, dll. Saat pertama berkuliah di India yang saya rasakan adalah, saya belum terbiasa dengan scientific english. Secara di Indonesia semua istilah sains sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misal, dalam bahasa Indonesia kita menyebut Alkana, Alkena dan Alkuna. Nah, dalam bahasa Inggris adalah Alkane, Alkene, Alkyne. Jauh banget kan bedanya?.

Kuliah di India

 

Osmania University (digitallearning.eletsonline.com)

Terkait jam perkuliahan, saya akan cerita lebih banyak untuk yang jenjang undergraduate. Jenjang S1 disini, jam kuliah benar-benar full day hampir seperti anak SMA. Kalau saya sendiri kuliah dari hari Senin – Sabtu jam 10.00 – 16.30, kecuali hari Sabtu hanya sampai jam 15.30. Setiap hari saya akan nge-lab selama 2 jam, kemudian kelas teori selama 4 jam pelajaran.

India juga mengajarkan kita akan kesederhanaan. Selama saya menempuh pendidikan di India, saya jarang sekali melihat mahasiswa mengendarai sepeda motor. Rata-rata dari mereka menggunakan bus atau metro (sejenis MRT). Bahkan dosen saya pun rata-rata menggunakan kendaraan umum. Saya pernah satu bajaj dengan dosen saya. Kami berdua sama-sama menuju stasiun metro. Bahkan di Aligarh, dosen-dosen berangkat ke kampus menggunakan sepeda onthel.

India tidak pernah menawarkan kemewahan. Dalam belajar, kita tidak membutuhkan kemewahan. Kualitas pendidikan yang dibungkus dengan kesederhanaan dan kesahajaan justru mempercantik nilai ilmu tersebut. Kalau teman-teman pernah menonton film “3 Idiots”, itu benar-benar representasi suasana belajar disini. India memang cenderung keras dalam hal pendidikan. Contohnya, disini ada ujian masuk sendiri untuk jurusan Engineering dan Kedokteran. Misal, untuk masuk jurusan engineering disini ada semacam ujian nasional untuk masuk ke Indian Institute of Technology (IIT), institut seperti ITB kalau di Indonesia. Dan setiap tahun ada sekitar 400.000 orang yang mengikuti ujian masuk di IIT, dari jumlah yang mendaftar ujian hanya sekitar 20.000 orang yang diterima untuk 8 kampus IIT yang tersebar di India. Hal yang sama untuk kampus kedokteran dan kampus negeri-negeri lainnya. Jadi, kalau orang Indonesia ujian masuk kuliah tingkat nasional yang populer ada SNMPTN dan SBMPTN, sementara di India ada banyak sekali jenis ujian masuk berdasarkan jurusan yang kita tuju. Dan, lagi, ujian masuknya bersifat Nasional.

Sistem ujian dalam kampus di India cukup berbeda dengan di Indonesia. Untuk S1 tidak ada skripsi, bahkan tidak semua S2 ada thesis. Namun, setiap semester kita diharuskan lulus semua mata kuliah, sounds easy, ya? 😀

Tetapi, ujian disini benar-benar menguras segala aspek kehidupan kita, karena ujian kita disini semuanya adalah esai. Misal begini, semester ini saya ada 8 mata kuliah teori, nah setiap 1 mata kuliah kita bisa menjawab soal ujian esai paling tidak 25 halaman. Setiap mata kuliah akan diberi waktu pengerjaan soal selama 3 jam dan dikerjakan di tempat, saya pribadi menulis jawaban esai tidak lebih dari 27 halaman. Malah ada teman saya ada yang sampai menambah lembar jawaban karena saking banyaknya yang ditulis. Kesannya teoritis banget ya?. Memang. Oleh karena itu, ujian teori akan berbeda dengan ujian praktek. Sistem ujian disini membuat kita tidak bisa mempersiapkan ujian dengan cara SKS (sistem kebut semalam). Saya pribadi mulai mempersiapkan ujian sebulan sebelumnya. Karena jam kuliah yang padat, sehingga materi pun sangat banyak dan persiapan mengharusnya setidaknya 1 bulan mempersiapkan tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menulis untuk menuangkan jawaban esai kita. Kalau mata kuliah seperti Fisika, saat itu saya kebanyakan latihan menurunkan rumus.

Beasiswa di India

kalingatv.com

India menawarkan beasiswa untuk semua negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Tiap tahun Indonesia mendapatkan kuota 20 orang. Beasiswa ini untuk jenjang S1 sampai S3 dan postdoc. Beasiswa sifatnya fully-funded dan cukup sekali, bahkan sisa sampai studi selesai. Beasiswa tahun 2019 – 2020 baru tutup kemarin tanggal 31 Maret 2019 dan akan dibuka kembali awal bulan Januari tahun mendatang. Berkas yang dibutuhkan, antara lain:

  1. Foto ukuran 3.5 x 4.5 cm dengan background warna putih (untuk di-upload di formulir);
  2. Marksheet ijazah SMA;
  3. Marksheet pendidikan sebelumnya (jika mendaftar S2 maka sertakan marksheet S1);
  4. Physical fitness yang diisi dan ditandatangani oleh dokter;
  5. Surat rekomendasi dari sekolah atau kampus;
  6. Unique ID (bisa dengan KTP);
  7. Sinopsis bagi pendaftar S3;
  8. Silabus kopi pendidikan sebelumnya (dibawa saat daftar ulang);
  9. English proficiency certificate i.e. TOEFL, IELTS, etc.

Fasilitas Beasiswa ICCR, mencakup:

  1. Biaya hidup bulanan (Living Allowance);
    – S1 Rs 18.000 (Rp 3.500.000)
    – S2 Rs 20.000 (Rp 4.000.000)
    – S3 Rs 22.000 (Rp 4.500.000)
    – Postdoc Rs 25.000 (Rp 5.000.000)
  2. Uang kuliah/ SPP;
  3. Uang sewa rumah;
  4. Biaya penelitian/ projek;
  5. Biaya kesehatan (Medical benefit);
  6. Visa belajar;
  7. ICCR Winter and Summer Trips.

Pendaftaran beasiswa ICCR sangat mudah. Cukup dengan membuat akun di website ICCR. Isi semua form dan upload semua dokumen. Kemudian kita akan mendapat E-mail balasan untuk undangan tes bahasa Inggris atau tes wawancara di Kedutaan Besar India di Jakarta.

Bagi teman-teman dari bidang sains dan teknik, terdapat sekitar 23 kampus IIT yang tersebar di seluruh India, bisa mencoba pendaftaran di salah satu dari 7 kampus IIT terfavorit (berdiri sebelum tahun 2000), sebagai berikut:

  1. IIT Bombay, Maharashtra;
  2. IIT Madras, Tamil Nadu;
  3. IIT Delhi, NCT Delhi;
  4. IIT Kanpur, Uttar Pradesh;
  5. IIT Kharagpur, West Bengal;
  6. IIT Roorkee, Uttarakhand (formerly Thomason College of Engineering, kampus teknik tertua di Asia); dan
  7. IIT Guwahati, Assam.

Saya ada tulisan terkait step by step secara detail untuk pendaftaran ICCR di blog saya,  Jadi, bisa mulai dipelajari jika berencana mendaftar ICCR tahun depan. Ada pula informasi mengenai kehidupan sebagai muslimah di India.

Tanya-Jawab (QnA)

  1. Arshel: Q.1 Apa saja yang harus dipersiapkan untuk (studi) keluar negeri?. A.1 Tergantung beasiswa yang ingin kita daftar. Persiapkan apa yang menjadi persyaratan dalam beasiswa.| Q.2 Bagaimana cara lulus wawancara?. A.2 Be confident 🙂 | Q.3 Apakah skor TOEFL 523 sudah memenuhi syarat studi keluar negeri?. A.3 Iya, cukup. | Q.4 Apakah kakak punya web/ akun tentang beasiswa yang recommended?. A.4 Maaf, saya tidak ada akun beasiswa, saya sendiri sedang mencari-cari beasiswa lagi 😀
  2. Ihsan: Q.1 Apakah di luar negeri banyak terjadi masalah sosial yang mengharuskan kita beradaptasi, contohnya apa yang sering dihadapi?. A.2 Ini tergantung luar negeri di negara mana, misal kalau saat ini di Turki yang sedang ada perang dan mengharuskan mahasiswa Indonesia dipulangkan, itu memang agak mengkhawatirkan. Masalah sosial sendiri di semua negara ada, dan masalah sosial di negera kami berada tidak berpengaruh secara langsung dengan kami yang disini. Tidak diperlukan trik adaptasi khusus disini. | Q.2 Kalau misal kita hidup di asrama dan teman-teman banyak dari luar negeri juga bagaimana beradaptasi dengan banyaknya culture dan permasalahan bahasa?. A.2 Ya, dikarenakan dengan banyaknya perbedaan disini, tentu saling toleransi dan berkomunikasi dengan baik, being open-minded, dan dengan belajar bahasa Inggris disini bisa menyatukan komunikasi dengan mahasiswa asing lainnya.
  3. Egi: Q.1 Untuk jenjang S2, surat rekomendasi kira-kira itu dari siapa?. A.1 Surat rekomendasi yang perlu kita lampirkan ada 2 surat, surat rekomendasi ini dari orang yang mengenal kita dengan baik secara akademis. Bisa dari dosen, nah, karena dulu saya mendaftar ke S1, saya mendapat surat rekomendasi dari guru bahasa Inggris dan dari kepala sekolah. Sementara kalau dari kampus untuk beasiswa S2, bisa dari dosen dan dekan, misalnya.| Q.2 Pembuatan penelitian/ research, bagaimana prosesnya?. A.2 Penelitian sendiri, untuk S2 ini, tergantung jurusan yang kita ambil disini. Karena tidak semua S2 disini ada penelitiannya, seperti jurusan politik disini cenderung tidak ada tesis, pun jurusan bahasa tidak ada. Kalau untuk pembuatan penelitian, dari cerita mahasiswa disini yang mengerjakannya mirip dengan penelitian yang dilakukan ketika S1 di Indonesia.  | Q.3 Dokumen apa saja yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris?. A.3 Semua dokumen dalam bahasa Indonesia harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. | Q.4 Dalam pembuatan CV adakah strateginya, dan kalau misal ada sebuah penilaian pada sertifikat, sertifikat apa saja yang penting untuk goals pada studi dan beasiswa di India?. A.4 Kalau saya pribadi, CV yang saya susun tidak ada strategi. Kalau membutuhkan strategi atau tips bisa googling untuk mencari yang lebih expert. Saya pun belajar menyusun CV dari mencari di internet. | Q.5 Pada ujian seleksi, mata pelajaran apa saja yang diujikan dan apakah jawabannya harus menggunakan bahasa Inggris?. A.5 Semua mata pelajaran diujikan dan semua jawaban dalam bahasa Inggris. | Q.6 Saya tertarik pada bidang fotogrametri yang biasanya masuk dalam prodi Teknik Geomatika, adakah rekomendasi universitas selaras dengan bidang fotogrametri?. A.6 Saya sendiri belum pernah dengar mengenai studi mengenai fotogrametri ataupun jurusan Teknik Geomatika, jadi mohon maaf saya tidak bisa bantu jawab. Namun, bisa coba dicari misalnya dengan kata kunci “photogrametry in India”.
  4. Muhammad Asyfa: Q.1 Kira-kira bagaimana perbandingan kuliah di India dan di Indonesia dari segi kurikulum, kualitas dosen dan fasilitas?. A.1 Dari segi kurikulum di Indonesia, saya kurang begitu tahu, meskipun pernah kuliah sebentar di Indonesia yaitu D3 selama 1 tahun saja, kemudian saya meninggalkan studi untuk berangkat ke India. Kurikulum di India, kurikulum disini terbilang sangat padat. Misalnya begini, saya pada tahun pertama dan kedua kuliah harus mengambil minimal 25 sks/ semester, lalu masuk tahun terakhir sks kuliah bertambah hingga 35 – 40/ sks. Sangat padat untuk jam kuliah yang kita ambil. Sementara untuk kualitas dosen di India, saya bisa bilang tidak perlu meragukan kualitas dosen disini, karena semua dosen yang mengajar sudah menuntaskan program Doktoral-nya. Mereka juga sudah banyak memiliki koneksi, karena bahasa Inggris bukan lagi kendala sehingga untuk mencari koneksi ke luar negeri lebih mudah. Fasilitas di kampus sendiri, tergantung dari kampus masing-masing, apakah swasta atau pemerintah, namun kalau kampus swasta tidak menyediakan beasiswa. | Q.2 Berapa kuota rata-rata beasiswa ICCR per tahun?, apakah kuota tersebut dibagi menurut jenjang (S1, S2 dan S3) terpisah?. A.2 Kuota per tahun rata-rata 20 orang untuk semua jenjang, baik S1, S2 maupun S3.
  5. Fei: Q.1 Untuk S1/ S2 di India, apakah menyediakan jurusan humaniora, seperti bahasa atau sejarah, lalu jika ada, universitas apa yang recommendeduntuk hal tersebut?. A.1 Sebenarnya, rata-rata lebih banyak mahasiswa Indonesia justru mengambil studi sosial dibanding sains, sehingga kesempatan mengambil studi sosial (bahasa atau sejarah) akan sangat terbuka sekali. Untuk jurusan bahasa saya bisa merekomendasikan di English Foreign Language University di Haiderabad, dan banyak sekali mahasiswa Indonesia yang sudah lulus dari sana dan saat ini mengajar sebagai dosen di Indonesia maupun melanjutkan lagi studinya di Eropa. Lalu, untuk jurusan sosial dan politik, bisa coba ambil New Delhi University yang suasana kota lebih metropolitan, atau di Osmania University yang lebih tenang dan lebih murah biayanya. | Q.2 Bagaimana suasana politik dan agama disana?, apakah cukup aman untuk pelajar Muslim (karena Islam bukan agama mayoritas disana?. A.2 Nah, India sendiri sebenarnya awal basis nya adalah negeri Muslim, banyak sekali peninggalan dari kerajaan Islam yang bisa kita temui di India, seperti Taj Mahal, museum dan arsitektur Islam yang dipengaruhi budaya Persia. Sementara, untuk masalah agama sendiri sejauh yang saya alami dan temui tidak ada konflik agama, kita semua berbaur dengan baik, orang-orang India yang saya temui pun juga adalah orang-orang yang terbuka, mereka sangat toleransi dan saling menghargai.
  6. Ryan Israfan: Q.1 Selesai D3 langsung melanjutkan ke S1 ke India, ataukah mbak bekerja dulu atau les bahasa Inggris atau sempat menganggur dahulu?. A.1 Saya dulu D3 sembari mendaftar beasiswa ke India. Saya mendapat beasiswa ke India ketika saya semester 2 di Indonesia, jadi begitu diterima di India saya meninggalkan kuliah D3. Sementara untuk belajar bahasa Inggris, saya belajar sendiri, bicara dengan teman-teman, mendengarkan dosen yang sedang mengajar, belajar menulis dengan tata cara ilmiah, semua saya pelajari ketika di India.
  7. Fifin: Q.1 Kak, bisa berbagi pengalaman saat wawancara beasiswa ICCR dan persiapan untuk melengkapi dokumen di blog ICCR saat mau mendaftar dan poin apa saja yang paling penting saat mendaftar beasiswa ICCR?. A.1 Nah, untuk sesi wawancara ini setiap tahun tidak selalu ada. Jadi, kalau misal tidak ada wawancara, biasanya setelah deadline kita akan mendapat LOA dari kampus tujuan. Sementara untuk persiapan dokumen, saya sarankan untuk dipersiapkan jauh hari, karena banyak dokumen yang harus dilengkapi dan tidak sedikit yang harus diurus ke beberapa tempat, meskipun pengumpulan dokumen mudah saja dengan mengunggah ke akun ICCR, namun persiapkan dokumen cetak sejak jauh-jauh hari.
  8. Anisa Ellen Brilyani: Q.1 Kak, saya pernah baca untuk mendaftar beasiswa ternyata bisa sebelum kita lulus kuliah dengan menyertakan surat perkiraan lulus, apakah untuk beasiswa India juga bisa menerima seperti itu, kak?. A.1 Kalau untuk mendaftar ke India, harus dengan ijazah lulus.
  9. Habib: Q.1 Kalau studi tanpa beasiswa, kira-kira berapakah biaya hidup dan uang kuliah untuk lulusan S1?. A.1 Untuk biaya sendiri (self-finance), tergantung dari kampus dan jurusan mana kita berkuliah. Biasanya untuk studi S1 biayanya lebih murah, misal saya ambil contoh jurusan sosial di Delhi University per tahun sekitar Rp 7.000.000,00. Lebih murah ada lagi di Ali Garh University, untuk detail bisa menghubungi lewat PPI Ali Garh karena mereka ada panitia tersendiri bagi mahasiswa yang ingin kuliah dengan biaya sendiri. Biaya hidup secara keseluruhan di India rata-rata Rp 2.000.000/ bulan sudah mencukupi, namun memang biaya hidup pastinya tergantung kota yang ditinggali.
  10. Didik: Q.1 Untuk kuliah S2 dengan jurusan Teknik Sipil/ Teknik Arsitektur di India dengan biaya sendiri, kira-kira adakah rekomendasi kampus tujuan?. A.1 Sejauh ini, tidak ada mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan teknik dengan biaya sendiri. Namun, saya bisa merekomendasikan untuk jurusan teknik bisa mengambil di IIT Delhi atau NIT Warangal, NIT Kurukhsetra atau bisa juga di Delhi University dan Osmania University.
  11. Shinta Rahma: Q.1 Semisal kita mendapat nilai di perkuliahan kurang dari minimal, kita harus mengulanginya lagi atau bagaimana?. Dan terkait beasiswa langsung hilang ataukah ada dispensasi?. A.1 Kalau ada mata kuliah yang tidak lulus harus mengulang ujian di semester selanjutnya. Dan ini banyak terjadi sama mahasiswa disini, semester kemarin 40% mahasiswa tidak lulus mata kuliah Agricultural Microbiology, sehingga diharuskan mengulang ujian. Jika tidak lulus 1 atau 2 mata kuliah tidak masalah, masih bisa diulang. Yang terpenting tidak sampai drop out (DO), kita bisa terkena DO jika tidak lulus 50% total mata kuliah yang ada. Misal, total ada 6 mata kuliah, maka untuk melanjutkan ke semester selanjutnya harus lulus minimal 3 mata kuliah dan mengulang 3 mata kuliah yang tidak lulus. Oh iya, yang membedakan beasiswa ICCR dengan beasiswa lainnya adalah kita tidak perlu mencari LoA dari kampus tujuan, karena nanti di formulir ICCR kita akan mencantumkan 3 kampus pilihan dan 3 jurusan pilihan. Jadi, kita fokus saja melengkapi persyaratannya.

Penutup

Bagi teman-teman, para Scholarship hunters, pesan saya hanya satu. Rajin lah membaca. Khususnya bagi teman-teman yang ingin kuliah di India, bisa mulai banyak membaca, latihan membetahkan diri untuk baca buku berjam-jam akan sangat dibutuhkan saat kuliah disini nanti. Perlu kita ingat juga, kompetisi paling awal dalam mendapat beasiswa (beasiswa apapun) adalah kompetisi dalam membaca informasi yang disediakan, teliti membaca formulir, teliti membaca persyaratan, dsb. Jadi, rajin lah membaca dahulu sebelum teman-teman bertanya. Jika ada pertanyaan, maka coba baca dahulu di blog atau informasi yang disediakan oleh PP Negara terkait. Jika masih belum jelas, maka bertanyalah.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Keunggulan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Terapung Untuk Indonesia

Bagikan Artikel ini di:

Pengembangan PLTN selama ini utamanya berfokus di PLTN darat. Mengingat, kebutuhan listrik utamanya memang di darat, bukan di laut. Demikian pula, perencanaan pembangunan PLTN di Indonesia selalu difokuskan untuk dibangun di darat. Hal ini logis ketika mempertimbangkan pulau-pulau besar yang butuh listrik dengan suplai besar.

Namun, bagaimana dengan pulau-pulau kecil yang membutuhkan suplai listrik yang andal? Ditambah lagi potensi bencana gempa dan tsunami yang sewaktu-waktu dapat menyerang negeri ini [1,2].

Dari sini, prospek PLTN terapung tampak cukup menjanjikan.

Ada beberapa jenis PLTN terapung. Namun, dari jenis-jenis yang ada, jenis offshore nuclear power plant (ONPP) tampak paling cocok untuk kawasan Indonesia [3]. PLTN terapung jenis ini memiliki unit reaktor nuklir (tunggal atau ganda) dan unit pembangkit yang dipasang di dalam kapal/tongkang. Listrik yang dibangkitkan oleh unit PLTN ini dapat digunakan untuk menggerakkan kapal dari dan menuju lokasi penggunaan, serta dialirkan ke jaringan listrik di lokasi tersebut.

Gambar 1. Konsep PLTN terapung MIT

Baca juga: Milestone Nuklir Cina: EPR dan AP1000 Pertama Di Dunia Mulai Beroperasi

PLTN yang dipasang di dalam kapal bukan konsep baru. Rusia sudah sejak lama menggunakan reaktor nuklir untuk propulsi kapal pemecah es [4]. Namun, ide ini kemudian berkembang untuk menyuplai listrik di daratan yang sulit terjangkau.

Ada beberapa potensi keunggulan dari penggunaan PLTN terapung untuk wilayah Indonesia.

Pertama, karena dipasang di atas kapal, kendala-kendala tentang pembebasan lahan dan sindrom NIMBY (Not In My Back Yard atau asal tidak di halaman belakang rumahku ) secara praktis tidak ada. Instalasi yang terpasang di darat hanya sambungan ke jaringan listrik saja. Isu fault teknonik yang menjadi perhatian dalam pembangunan PLTN pun otomatis lenyap. Gempa tidak lagi menjadi isu yang bisa dieksploitasi kalangan anti-nuklir.

Kedua, PLTN terapung dapat menjangkau kawasan-kawasan kepulauan kecil dan wilayah yang sulit dijangkau melalui darat, seperti beberapa kawasan di Papua. Karena PLTN terapung sudah dibangun dan terpasang di kapal sejak sebelum pemberangkatan, tidak ada pembangunan yang perlu dilakukan di kepulauan kecil dan wilayah yang sulit terjangkau tersebut selain fasilitas sambungan jaringan listrik. Jauh lebih memudahkan daripada harus membangun pembangkit di lokasi.

Kebutuhan bahan bakar nuklir sedikit dan siklus operasinya panjang, sekitar 24-36 bulan [5]. Jadi, bahan bakar untuk 10-20 tahun operasi dapat dimuat di dalam kapal. Atau, untuk alasan keamanan, bahan bakar baru dikirim ke lokasi menjelang akhir siklus bahan bakarnya. Sehingga, suplai bahan bakar sama sekali bukan masalah bagi PLTN terapung.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Ketiga, PLTN terapung umumnya memiliki daya kecil, antara 35-120 MWe [6]. Daya itu cukup untuk daerah-daerah luar Jawa yang kebutuhan listriknya tidak sebanyak di Jawa. Membangun PLTN darat dengan daya lebih dari 250 MWe jelas sebuah pemborosan yang tidak perlu, jadi PLTN terapung memiliki skala rentang daya lebih pas.


Gambar 2. Konfigurasi reaktor PLTN terapung KLT40S

Keempat, lebih selamat dari tsunami. Sifat gelombang tsunami adalah baru mulai meninggi ketika mencapai air dangkal, tapi di air yang lebih dalam nyaris tidak terasa. Karena panjang gelombang tsunami di permukaan laut dalam sangat panjang, amplitudonya jadi kecil [7]. Sehingga, PLTN terapung yang doknya berada di permukaan laut dalam tidak akan terpengaruh oleh gelombang tsunami.

Eksistensi PLTN terapung pun berpotensi membantu peringatan dini tsunami. Sistem instrumentasi pendeteksi dini tsunami dapat dipasang di PLTN terapung. Karena tidak ada masyarakat yang bisa begitu saja naik ke atas kapal pengangkut PLTN ini, vandalisme dan pencurian terhadap komponen sistem peringatan dini tsunami bisa dikatakan tidak akan terjadi. Namun, hal ini butuh konfirmasi dari pakar di bidangnya.

Kelima, PLTN terapung dapat digunakan untuk desalinasi air laut. Hal ini penting untuk wilayah-wilayah yang sering kekurangan air bersih. Selain membangkitkan listrik, panas buangan dari PLTN terapung bisa digunakan untuk desalinasi air laut, menghasilkan air bersih yang layak digunakan untuk keperluan sehari-hari masyarakat [8].

Ke depannya, selain desalinasi air laut, PLTN terapung berpotensi juga memproduksi bahan bakar sintetis. Jadi, PLTN terapung digunakan untuk hidrolisis air dan memisahkan CO2 dari air laut. Hidrogen dan CO2 yang dihasilkan kemudian disintetis untuk menghasilkan bahan bakar mirip bensin untuk keperluan transportasi [9]. Keunggulan dari bahan bakar sintetis ini adalah netral emisi CO2 dan tidak ada kontamintasi pengotor.

Baca juga: Thorium, Bahan Bakar Nuklir Masa Depan

Keenam, level keselamatan tinggi. Kontras dengan asumsi sebagian orang ketika pertama mendengar PLTN terapung, tingkat keselamatannya tidak berkurang, malah mungkin lebih baik. Setidaknya, dari segi termohidrolik. Karena posisinya berada di atas permukaan laut, PLTN terapung memiliki akses pendingin yang secara praktis tidak terbatas. Air laut menjadi heat sink alami bagi reaktor nuklirnya. Ketika misalnya terjadi overheating, pendinginan reaktor dapat dilakukan tanpa harus khawatir kekurangan suplai pendingin eksternal.

Bagaimana kalau terjadi sebuah skenario tidak diinginkan yang menyebabkan kapalnya tenggelam? Bahan bakar nuklir akan tetap tersegel di dalam reaktor. Lalu, air laut secara otomatis akan mendinginkan reaktor sehingga pelelehan bahan bakar dapat dicegah (kecuali reaktor nuklir yang bahan bakarnya berbentuk lelehan, maka bahan bakarnya akan memadat). Ketiadaan pelelehan menyebabkan pelepasan radioaktivitas akan sangat minim, kalau bukan tidak ada. Air laut tidak akan terkontaminasi material radioaktif dari reaktor nuklir yang tenggelam.

Rusia dan Cina tengah mengembangkan PLTN terapung tipe ONPP [6]. Akademik Lomonosov, kapal bertenaga nuklir desain Rusia, diproyeksikan menjadi PLTN terapung pertama di dunia. Saat ini, Akademik Lomonosov telah melakukan pemuatan bahan bakar di dalam unit reaktor nuklir gandanya, siap diberangkatkan akhir tahun ini atau awal tahun depan ke Pevek, kota paling utara di Rusia [10].

Gambar 3. Akademik Lomonosov

Baca juga: Apa Benar Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar

Namanya teknologi, pasti ada saja kekurangannya. Karena tidak ada perimeter seperti di PLTN darat, sistem proteksi fisik PLTN terapung harus lebih diperhatikan. Masalah proteksi fisik sebaiknya juga dikoordinasikan dengan TNI. Perawatan pun mengharuskan si kapal dibawa kembali ke pabrikannya, walau memang jadwal perawatannya tidak sering. Masalah keselamatan radiasi juga mesti disosialisasikan dengan baik pada nelayan-nelayan yang melaut di sekitar sana, jika ada. Tujuannya supaya resistensi masyarakat sekitar terhadap PLTN terapung bisa diminimalisir dan tidak mudah diprovokasi oleh kalangan anti-nuklir.

Keunggulan-keunggulan di atas menunjukkan bahwa PLTN terapung sangat potensial untuk menyediakan listrik yang murah, bersih, selamat dan handal bagi penduduk Indonesia khususnya di luar Jawa, di daerah-daerah kepulauan dan wilayah yang sulit dijangkau lewat darat. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama, kita bisa mengembangkannya sendiri menggunakan teknologi reaktor nuklir termutakhir, sehingga pemanfaatannya jadi lebih optimal untuk berbagai keperluan.

Referensi:

  1. S. Rohadi, “Studi Seismotektonik Sebagai Indikator Gempa Bumi di Wilayah Indonesia”, Jurnal Meteorologi dan Geofisika, vol. 10 no. 2, 2009, pp. 111-120.
  2. L. Hamzah et al, “Tsunami Catalog and Zones in Indonesia”, Journal of Natural Disaster Science, vol. 22 no. 1, 2000, pp. 25-43.
  3. K. H. Lee, “Recent Advances in Ocean Nuclear Power Plants”, Energies, vol. 8, 2015, pp. 11470-11492.
  4. O. Bukharin, “Russia’s Nuclear Icebreaker Fleet”, Science and Global Security, vol. 14, 2006, pp. 25-31.
  5. M. R. Oktavian et al, “Cogeneration Power-Desalination in Small Modular Reactors (SMRs) for Load Following in Indonesia”, presented in The 4th International Conference on Science and Technology (ICST) 2018, Yogyakarta, Indonesia.
  6. S. Banoori et al, Advances in Small Modular Reactor Technology Developments. IAEA, Vienna, 2016.
  7. Tsunamis. Diakses dari http://earthsci.org/education/teacher/basicgeol/tsumami/tsunami.html
  8. S. Nisan et al, “Sea-water desalination with nuclear and other energy sources: the EURODESAL project”, Nuclear Engineering and Design, vol. 221 no. 1-3, 2003, pp. 251-275.
  9. J. Morgan, Zero emission synfuel from seawater, Diakses dari https://bravenewclimate.com/2013/01/16/zero-emission-synfuel-from-seawater/\
  10. World Nuclear News. Russia loads fuel into floating power plant. Diakses dari (http://www.world-nuclear-news.org/Articles/Russia-loads-fuel-into-floating-power-plant)

 

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: