Siringmakar 21: “Baby Blues, apa dan bagaimana penanganannya?”

Bagikan Artikel ini di:

Pemateri: Hilda Meriyandah (Dosen Institut Kesehatan Indonesia)

Moderator: Wayan Dadang

 

Diskusi

Apa itu Baby blues?

centercitypediatrics.com

Baby blues adalah sindrom yang umumnya terjadi pada wanita pasca melahirkan. Biasanya terjadi di hari ke-4 atau 5 dan akan menghilang setelah 2 (dua) minggu. Munculnya pun sesekali, misalnya dalam sehari ada 2 atau 3 kali si ibu menangis tiba-tiba, merasa kelelahan yang sangat, atau bahkan hingga mengamuk. Kalau sudah lewat dari 2 minggu, dan frekuensi terjadinya lebih sering, maka dikenal dengan istilah PPD (Postpartum Depression), atau yang lebih parah disebut Psychosis.

Prevalensi terjadinya Baby blues?

Secara global, kejadian baby blues ini mencapai 80%. Artinya, hampir setiap ibu yang melahirkan mengalami ini. Jadi, dikategorikan sebagai sesuatu yang normal. Nah, yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan lama terjadinya.

Nah, tanda dan gejalanya bagaimana ya?

freepik.com

Berikut beberapa tanda dan gejala yang umum tampak:

  1. Menangis tanpa alasan yang jelas;
  2. Tidak sabar-an;
  3. Sensitif;
  4. Sulit beristirahat;
  5. Cemas atau jadi lebih khawatir;
  6. Kelelahan yang amat sangat;
  7. Insomnia (bahkan saat bayi sedang tidur);
  8. Perubahan mood yang sangat mendadak;
  9. Sulit berkonsentrasi.

Apa penyebab Baby blues ini?

Secara pasti, belum ada yang bisa menjelaskan hal ini. Akan tetapi beberapa riset menekankan bahwa terdapat berbagai penyebab, diantaranya:

  1. Perubahan hormon yang terjadi secara tiba-tiba (hormon hamil – melahirkan – menyusui);
  2. Kurangnya dukungan dari sekitar (suami-orangtua-tetangga).

Tidak perlu khawatir sebenarnya kalau merasakan hal-hal diatas (tanda dan gejala), yang perlu diwaspadai itu kalau setelah 2 minggu, ibu masih menunjukkan tanda-tanda yang akhirnya mengarah ke PPD. Nah, kalau PPD dan Psychosis sudah masuk kategori depresi, yaa. Dalam 5 tahun terakhir di Indonesia sendiri kejadian PPD meningkat lebih dari 7% (Sinaga, 2014).

parenting.firstcry.com

Jadi, PENTING untuk para ayah, jika istri tiba-tiba menangis atau meerasa failed (gagal) menjadi ibu karena belum bisa mengurus bayi, atau bayi menangis terus, harus ibu dibantu untuk dikuatkan, yaa. Beri pemahaman kalau perasaan-perasaan itu NORMAL!. Dan ibu -juga keluarga- akan melewati masa itu dengan mudah.

 

Kalau pada Ayah, ada Baby blues juga?

ADA!, dikenal dengan istilah Daddy blues (kalau lebih berat lagi, disebutnya Paternal Postnatal Depression atau PPND), tapi terjadinya lebih lambat dari yang dialami wanita. Umumnya terjadi 3-6 bulan pasca melahirkan.

blog.pregistry.com

Bagaimana Daddy blues ini bisa datang terlambat pada ayah?, menurut hasil riset terkini, yang menyebabkannya berbeda dengan yang terjadi pada ibu, antara lain:

  1. Kelelahan (pengaruh kurang tidur dan harus bekerja juga);
  2. Pengaruh tekanan finansial (merasa kurang mampu memenuhi kebutuhan ibu – anak);
  3. Nah ini yang paling berpengaruh: apakah si istri terkena depresi juga atau tidak.

Pencegahan dan penanggulangan Baby blues?

Berhubung Baby blues ini normal, dan penyebab utamanya karena hormon, jadi belum ada treatment khusus. Tetapi menurut Asosiasi Psikolog Amerika membuat beberapa cara yang bisa dilakukan:

natureplaywa.org.au

  1. Menjaga nutrisi seimbang;
  2. Menulis catatan perasaan pikiran;
  3. Mencari suasana lain, misalnya keluar rumah untuk cari udara segar;
  4. Jangan segan MINTA BANTUAN;
  5. Untuk di awal, tidak perlu berharap semua harus sempurna, jalani semampu ibu dan ayah.

Kalau sudah terlanjur Baby blues bagaimana?

  1. Yakinkan diri kalau ini semua akan berlalu;
  2. Saling mendukung;
  3. Minta bantuan dari profesional (kalau dirasa sudah semakin parah).

thegoodlife101.wordpress.com

Dari riset yang pernah saya lakukan sebelumnya, di Indonesia ini sekarang sudah mulai banyak keluarga nuclear (tinggal serumah dengan keluarga inti saja: ayah-ibu-anak). Jadi di masa ini, peran ayah menjadi sangat dominan. Kira-kira dukungan apa yang bisa Ayah lakukan?. Berikut hal-hal yang bisa Ayah lakukan untuk mendukung Ibu melalui masa baby blues:

  1. Dukungan emosional, seperti memberikan semangat, menguatkan, bilang “I love you”, atau memberikan pujian. Menghadiahi bunga juga boleh, hehe. Dengan itu ibu akan merasa dicintai dan tetap dihargai;
  2. Dukungan tangible, misalnya ayah membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, atau bantu menjaga bayi. Jadi ibu bisa ‘me time’ sesaat;
  3. Dukungan informasi, untuk para ayah yang sudah bergabung di grup ini sudah tahu nih kalau baby blues normal, tanda dan gejala nya apa. Jadi bisa diinformasikan kepada istri, bisa ditenangkan istrinya, atau mungkin ayah juga bisa update seputar info perkembangan bayi;
  4. Dukungan finansial, ya ini dukungan dalam bentuk menyediakan kebutuhan ibu dan bayi.

 

Sesi Tanya-Jawab (QnA)

  1. Halim: Q.1 Untuk dukungan dari suami, bagaimana jika suami tidak bisa mendampingi istri. Misalkan kerja di kota lain atau negara lain?. | A.1 Biasanya kalau ayah tidak di dekat ibu, insya Allah masih ada hal-hal yang tetap bisa dilakukan. Apalagi sekarang kan jaman sudah maju. Bisa tetap komunikasi via telpon atau video call, atau lainnya yang penting “Ibu tetap merasakan kehadiran Ayah”. Sekarang malah banyak juga yang suaminya dekat, tapi masih cuek untuk mendukung istri. Atau Suami bisa coba cari bantuan untuk istri, misal bantuan orangtua, kerabat atau PRT. || Q.2 Saya pernah baca ada ibu yang menyiksa bayinya. Apa yg dilakukan jika terjadi PPD pada saudara atau orang yang kita kenal?. |  A.2 Kalau sudah sampai menyiksa, ini kategorinya PPD atau psychosis, ya. Perlu bantuan dari profesional. Suami atau keluarga perlu berperan “ekstra” untuk memastikan anaknya aman. Bahkan di beberapa kasus, memang anaknya dijauhkan sesaat sampai si ibu benar-benar pulih. Untuk yang ada di Jakarta atau kota besar lain, sekarang di Puskesmas sudah ada layanan psikolog, insya Allah bisa lebih dibantu dan didampingi secara lebih optimal.
  2. Anonim:

    Sebelum melahirkan, hubunganku dengan mertua baik-baik saja. Sampai kemudian, sehari setelah melahirkan, aku mendapati banyak aturan dan larangan dari beliau. Sayangnya, kebanyakan aturan itu tak membuatku nyaman. Mungkin karena kondisiku belum sepenuhnya pulih, sehingga aku pun dengan mudah terbawa perasaan. Tangisanku pun pecah. Aku merasa segala aturan itu membuatku tertekan dan serba salah melakukan apapun.

    Karna tak bisa berontak atau sekadar membalas argumen, aku pun menjadi sedih berkepanjangan hingga berhari-hari. Aku harus melakukan sesuatu yang meski itu untuk kebaikanku, tapi tak membuatku nyaman, bahkan tertekan.

    Ditambah lagi, aku harus berada di rumah beliau sampai 40 hari kedepan. Suami hanya bisa menurut dan memintaku bersabar. Padahal, satu hari di rumah saja rasanya lama sekali. Tak ada yang bisa aku lakukan selain terus bersabar. Fyi, aku dan suami LDM, sehingga aku makin tidak betah tinggal lama-lama.

    Namun tak bisa dipungkiri, sesak itu datang setiap saat. Kembali aku menangis sesenggukan, bahkan hampir 2 hari sekali. Kesedihan itu kini berubah menjadi kesal. Ya, aku kesal dengan mertuaku. Sampai setiap gerak-geriknya pun aku menjadi sebal sendiri.

    Ibu mertua ku baik dan peduli. Saking peduli nya, bahkan soal aku makan dan mandi pun selalu diingatkan beliau. Anehnya, aku bahkan bertambah sebal. “Memang nya aku anak kecil, diatur setiap saat”, pikirku.

    Aku tahu, aku tak sepantasnya kesal pada mertua. Walau bagaimanapun, beliau orang tua suamiku dan banyak membantuku. Namun, karena aku tak diperbolehkan pulang sampai 40 hari, aku jadi sebal dengan beliau.

    Aku bahkan masih menangis sampai 3 minggu pasca melahirkan. Aku merasa stres dan tatapanku serasa kosong. Pertanyaannya (Q):Apakah ini termasuk baby blues?. Jika iya, jika aku terus begini, apakah bisa menyebabkan post partum?. Lantas bagaimana sikap yang harus aku ambil?. |
    A. Halo, Mba…

    Cerita yang Mba alami, juga cukup banyak dirasakan oleh orang lain. Terkadang, memang akhirnya tekanan yang membuat kita “kurang nyaman” atau bahkan sulit beradaptasi ya justru datang dari orang terdekat, orangtua atau mertua, kerabat, dll. Iya, itu dikategorikan sebagai sindrom baby blues, tapi insya Allah Mba bisa melewati ini. Apalagi kan baru melahirkan, dan hormon-hormon juga belum kembali seperti masa sebelum hamil. Apa yang bisa dilakukan?

    1. Beri waktu untuk diri sendiri;
    2. Coba bicara hati ke hati dengan mertua. Kalau dirasa agak sulit, bisa minta bantuan orang untuk menengahi, suami atau ipar, atau saudara lain.
    3. Kalau saran yang beliau berikan memang baik, coba diterima dan dilakukan. Tapi kalau justru aneh-aneh dan bersifat membahayakan, tidak perlu ya Mba. diajak bicara dan jelaskan dari sisi scientific-nya jika memungkinkan.
    4. Cari teman ngobrol!. Ini penting ya Mbaa.. kalau mau curhat, atau apapun, ke saya juga boleh 🙂

    Saya sendiri pun, masih sering debat seperti ini dengan mertua. Misal, memberikan anak kopi atau semacamnya. Saya jelaskan kalau justru membahayakan atau ada beberapa kasus yang menyebabkan kegawatan, hehe (contoh saja).

  3. Tubagus_USU: Q. Apakah efek baby blues bisa menular kepada ibu hamil (sebentar lagi mau melahirkan)?. | A. Hmm, sebenarnya kalau menular sih tidak, yaa, karena ini bukan penyakit menular, hehe (tidak ada mikroorganisme-nya). Tapi, biasanya kalau ada ibu yang sebentar lagi akan melahirkan, wajar sekali akan merasakan berbagai kekhawatiran, misal: takut menghadapi kelahiran, takut tidak bisa mengurus anak, takut sulit urus suami, dan lainnya. Jadi, yang perlu ditekankan kalau sudah dekat persalinan bayi adalah: Ibu pasti kuat dan bisa melewati semua fase dengan indah dan menyenangkan bersama ayah dan bayi. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Walau nantinya pasti akan mengalami perubahan hormon dan segala macam, insya Allah kalau mentalnya SIAP tidak akan kejadian segala ketakutan itu.
  4. Umi: Q. Bagaimana jika baby blues sudah menjadi PPD apakah ada penanganan lain selain periksa ke psikolog?. | A. Karena ini sudah kondisi yang lebih “membahayakan”, biasanya perlu pendampingan dari profesional. Nantinya, profesional atau psikolog ini yang akan mengarahkan. Tapi biasanya treatment  yang akan diberikan pun perlu bantuan dari keluarga.
    a. Mencukupi nutrisi dan aktivitas fisik
    b. Pemberdayaan keluarga
    c. Istirahat dan relaksasi, serta, monitor dan evaluasi dari profesional.
  5. Anis: Q.1 Apa yang sebaiknya dilakukan suami ketika istri baru saja melahirkan agar tidak terjadi baby blues?. Lalu, bagaimana peran teman atau sebagai tetangga bagaimana?. | A.1 Bentuk-bentuk dukungan oleh suami sudah saya jabarkan diatas ya, Mba? hehe.. Intinya ada 4 hal bentuk dukungan yang bisa dilakukan (Emosi, informasi, tangible, dan finansial). Kalau sebagai teman atau tetangga?, bisa melakukan hal-hal, seperti: Tawari bantuan!, ini penting karena biasanya mereka kewalahan dengann masa transisi, jadi akan sangat berarti; Hindari bicara hal-hal yang menyakitkan hati. Misal, si ibu melahirkan caesar, tidak usah di-julidin yaa, “ih pasti ga bisa ngeden deh!” atau apapun yang menyakiti perasaan si ibu; Dengarkan apa yang diceritakan atau dikeluhkan 🙂 || Q.2 Apa yang menyebabkan baby blues berlanjut menjadi PPD?. | A.2 PPD dapat disebabkan karena baby blues-nya tidak tertangani dengan benar. Misal, si ibu tidak mendapat bantuan atau dukungan yang optimal selama 2 minggu pasca persalinan. Atau tekanan yang didapat justru lebih besar dari dukungan yang diperoleh.
  6. Linda Ayuningsih: Q. Saya dapat pengalaman dari orangtua murid saya yang mengalami baby blues akibat LDM dengan suaminya (seorang nahkoda), dan suaminya itu ditahan sebagai tawanan di Aceh. Sedangkan ibu ini jauh dari orang tua dan keluarganya. Pertanyaan saya adalah, bagaimana bisa mengontrol perubahan hormon yang katanya normal ini jika kita jauh dari mertua/ orangtua, atau bahkan dari suami kita sendiri, tidak ada yang bisa kita mintai pertolongan. Dan bagaimana juga keadaannya jika kita seorang wanita karir juga?. | A. Ini kondisinya berarti si Ibu mungkin bisa mendapatkan bantuan dari tetangga atau teman yang mungkin berada di dekatnya. Atau jika memungkinkan si suami atau orangtua sesekali menelepon, menanyakan kabar, dan memberikan semangat. Jika memang diperlukan, bisa hubungi puskesmas atau psikolog terdekat Mba untuk ada teman berbagi 🙂 . Apalagi kalau wanita karir, biasanya akhirnya perlu bantuan orang lain untuk mengurus anak saat bekerja kan?, mungkin bantuan PRT atau baby sitter menjadi sangat diperlukan untuk ini. Setidaknya, mengurangi pekerjaan rumah, jadi ibu tidak terlalu kelelahan.
  7. Ahmad: Q. Kak, mau tanya mengenai cara penanggulangan yang nomor 6 bagian b, tentang menulis catatan perasaan pikiran. Setelah ditulis apa yang selanjutnya kita lakukan?. | A. Oh iya, biasanya dengan menulis ada rasa “lebih tenang”. Selain itu, dengan menulis setiap perubahan emosi kita bisa terlihat, apakah ada perbaikan dari hari kemarin?, atau mungkin jadi lebih buruk kondisi emosi kita?. Nah, hal ini juga akhirnya bisa menjadi catatan penting bagi suami atau bahkan psikolog yang mendampingi ibu.
  8. Anonim: Q. Kalau misal, saya menemukan kasus adik tingkat saya yang menikah di usia yang sangat muda dan sejak hamil sampai melahirkan selalu ada rasa takut, dan ingin selalu ada ibu nya disampingnya. Saat melahirkan dan menyusui pun sering sekali menangis bahkan berontak sampai tidak ingin melihat anaknya. Apakah ini yang karena pengaruh usia yang belum matang dan siap menerima tanggungan sebagai seorang ibu, dan juga bisa disebut sebagai gejala baby blues?. Ibu beliau yang terkadang selalu mengurusi anaknya sampai beberapa waktu memisahkan beliau dengan anaknya yang masih bayi. | A. Iyaa, ini gejala baby blues. Oh iya, maaf tadi di awal saya lupa menyebutkan ada beberapa faktor risiko terjadinya baby blues ini. diantaranya adalah:
    1. Usia (mental) yang belum matang;
    2. Riwayat depresi;
    3. Bimbang dengan kehamilan;
    4. Dukungan sosial yang minim;
    5. Konflik pernikahan.

    Nah, di kasus ini, penyebabnya bisa jadi karena usia yang belum cukup matang. Jadi, secara psikologis-nya pun belum siap untuk memiliki bayi.

     

  9. Halim: Q.1 Untuk baby blue pada ayah. Masih tidak umum di masyarakat tentang ini dan dari pihak ayah juga tidak terlalu memperhatikan. Apa yang perlu dilakukan ayah atau ibu?. | A.1 Isu mental di Indonesia ini memang seperti fenomena gunung es, sebenarnya kasusnya banyak, tapi yang tampak hanya sedikit. Membahas isu mental di beberapa kalangan masih dianggap tabu. Makanya, sekarang dari Kemenkes sendiri pun cukup gencar kampanye tentang menjaga kesehatan mental. Dan, penting juga untuk kita mencari informasi dan coba untuk membagikannya ke orang lain. Setidaknya, mulai kenali dari diri sendiri. Setelah tahu infonya, bisa deteksi kan?, bisa kenal tanda dan gejala nya baik di diri sendiri atau orang lain. Intinya, BERDAYA.

    Salut untuk Ayah dan ibu yang sudah mau bergabung dan mendengar tentang sharing topik ini. ||

    Q.2 Saya lihat di Jepang setiap pekan, misalkan di hari minggu, banyak anak yang main dengan ayahnya. Tanpa ibunya. Apakah ada hasil penelitian tentang budaya ini?. | A.2 Haha, Mas Halim tahu pisan yaa program ini. Iyap!. Jadi, di Jepang karena beberapa tahun terakhir angka kelahiran menurun dan disebabkan karena perempuannya tidak mau melahirkan (karena suaminya tidak mendukung). Akhirnya, pemerintah membuat program namanya IKUMEN. (Fyi, ikemen itu artinya ganteng/tampan). Jadi, seperti ada penanaman stigma kalau laki-laki yang tampan, adalah laki-laki yang ambil peran dalam mengurus anak. (Iku: caring).

 

Penutup

Kesehatan itu holistik. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Dan masa pasca persalinan adalah masa transisi bagi ibu dan ayah. Maka, dukungan dalam bentuk apapun adalah hal yang sangat penting untuk kita berikan pada mereka. Karena orangtua yang sehat akan membentuk anak-anak yang berkualitas ❤❤

 

Bagikan Artikel ini di:

Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)

Bagikan Artikel ini di:

Oleh: Albertus Kelvin

Artikel ini membahas riset yang dilakukan oleh [1] pada topik autisme. Autisme merupakan gangguan dengan beberapa karakteristik utama seperti kurangnya interaksi sosial dan komunikasi. Salah satu tanda komunikasi yang kurang baik adalah penggunaan kata-kata yang terbatas. Berdasarkan statistik dari Center of Disease Control and Prevention, terdapat 1 dari 68 anak di Amerika Serikat yang menderita autism spectrum disorder (ASD) [2].

Fokus utama yang dibahas oleh [1] adalah pengembangan bahasa dan kemampuan literasi para penderita ASD. Fokus tersebut terbagi ke dalam beberapa bagian, seperti jenis-jenis bahasa dan kemampuan literasi yang dipengaruhi oleh ASD, kemampuan literasi awal, dan lingkungan literasi di rumah para penderita ASD.

PENGEMBANGAN BAHASA DI ANTARA PENDERITA ASD

Terdapat 3 kekurangan yang menjadi karakteristik pengembangan bahasa penderita ASD, yaitu keterlambatan kemampuan berbahasa di masa-masa awal [3], [4], [5], produksi bahasa yang tidak normal [6], [7], dan kesulitan untuk memahami maksud perkataan orang lain (pragmatik) [8] – [10]. Penderita ASD secara umum belum dapat berbahasa sampai usia sekitar 38 bulan, sedangkan anak-anak normal sudah dapat berbahasa pada usia sekitar 8-14 bulan [3]. Dalam kasus ini, berbahasa berarti mengeluarkan kata-kata pertama.

Pengembangan bahasa penderita ASD memiliki beberapa karakteristik tidak normal, seperti echolalia, penggunaan jargon yang berlebihan, dan intonasi yang bervariasi [6], [11]. Echolalia merupakan peniruan dan pengulangan omongan dari lawan bicara [7]. Echolalia dapat menjadi tanda kemajuan dalam proses pengembangan bahasa penderita ASD [7]. Karakteristik echolalia ini umumnya diterapkan penderita ASD dalam berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan yaitu dengan melakukan modifikasi terhadap kata-kata yang dikeluarkan lawan bicara.

Penggunaan jargon (istilah-istilah asing atau tidak normal) lebih sering dilakukan para penderita ASD dibanding mereka yang berkembang secara normal [6], [12]. Umumnya, jargon ini digunakan untuk mengekspresikan diri [6]. Namun demikian, penggunaannya yang berlebihan dapat menjadi pertanda adanya kesulitan dalam memproses informasi [6].

Variasi intonasi yang dimiliki penderita ASD menandakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memproses hal-hal yang berkaitan dengan prosodi [8], [9]. Selain intonasi, penderita ASD umumnya memiliki paling sedikit 1 dari beberapa karakteristik seperti volume suara yang kurang, suara serak, penekanan kata-kata yang tidak akurat, hypernasality, dan kecepatan bicara yang khas [10].

KEMAMPUAN LITERASI AWAL

Literasi awal berkaitan dengan pemahaman dasar terhadap membaca, serta beberapa kemampuan seperti pengetahuan huruf, kesadaran fonologis, dan menulis. Kemampuan literasi awal penting bagi penderita ASD karena dapat menjadi tolak ukur kesuksesan dalam pengenalan kata-kata (word recognition), pembangunan kosakata (vocabulary acquisition), kelancaran membaca (reading fluency), dan pemahaman (comprehension) [13] – [15].

Kemampuan literasi awal dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kode (code-related skills) dan pengetahuan yang berhubungan dengan makna (meaning-related knowledge) [15]. Beberapa contoh dari code-related skills adalah pengetahuan mengenai abjad, kesadaran fonologis, dan penulisan nama [15]. Sementara itu, beberapa contoh dari meaning-related knowledge adalah narasi lisan (oral narrative) dan kosakata reseptif (receptive vocabulary) [15].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Westerveld et al., penderita ASD banyak mengalami kesulitan pada kategori meaning-related knowledge [15]. Penelitian tersebut dilakukan dengan membandingkan penderita ASD dengan mereka yang berkembang secara normal [15]. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan untuk kategori code-related skills [15].

Beberapa penelitian terkait juga dilakukan untuk menemukan pada kategori manakah penderita ASD mengalami kesulitan. Penelitian oleh Lanter et al. menunjukkan bahwa penderita ASD mengalami kesulitan pada narasi oral dan penulisan [16]. Dynia et al. mendapat hasil bahwa kesulitan yang dialami penderita ASD berada pada kategori meaning-related knowledge, tepatnya pengetahuan konsep dan kosakata definisi (definitional vocabulary) [17]. Walaupun demikian, penelitian mereka juga mengindikasikan bahwa penderita ASD mengalami kesulitan pada kategori code-related skills, tepatnya kesadaran fonologis [17]. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesulitan literasi yang dialami penderita ASD didominasi oleh kurangnya kemampuan untuk menganalisis dan mendapatkan makna.

 LINGKUNGAN LITERASI RUMAH

Lingkungan literasi di rumah terdiri dari beberapa komponen, yaitu kesempatan untuk membaca secara individu maupun bersama orang tua, latihan literasi formal dan informal, sumber / bahan bacaan, latar belakang pendidikan orang tua, dan sikap terhadap pengembangan literasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap mereka dengan perkembangan normal, lingkungan literasi di rumah yang suportif sangat penting untuk mempercepat kemampuan bahasa dan literasi bagi mereka yang kesulitan [18] – [21].

Para penderita ASD sangat diuntungkan dengan lingkungan literasi rumah yang suportif. Alasan pertama adalah kemungkinan besar penderita ASD merasa lebih tertarik untuk terlibat dalam aktivitas literasi pada lingkungan yang nyaman dan familiar. Alasan kedua adalah lingkungan rumah dapat lebih mendukung penderita ASD yang memiliki kekurangan pada banyak aspek pengembangan bahasa dan literasi.

Salah satu penelitian yang bertujuan menguji pengaruh lingkungan literasi rumah terhadap pengembangan literasi penderita ASD dilakukan oleh Lanter et al. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa lingkungan literasi rumah berperan penting dalam memotivasi penderita ASD dalam melakukan latihan literasi [16]. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Dynia et al., dimana mereka mengatakan bahwa ketertarikan orang tua yang kuat dalam literasi yang digabungkan dengan kesempatan membaca (individu dan bersama) memiliki hubungan kuat dengan pengembangan pengetahuan abjad [17]. Sementara itu, Westerveld et al. menemukan adanya hubungan yang kuat antara frekuensi aktivitas membaca di rumah dengan narasi oral [15].

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, hasil yang diberikan sama-sama menyatakan bahwa lingkungan literasi rumah yang kuat sangat penting untuk membangun kemampuan literasi penderita ASD. Namun demikian, aktivitas literasi di rumah sangat banyak jenisnya. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang lebih rinci untuk menemukan hubungan antara berbagai aktivitas literasi di rumah dengan pengembangan kemampuan literasi selanjutnya.

KESIMPULAN

Penderita ASD memiliki beberapa karakteristik dalam hal bahasa dan komunikasi, seperti produksi bahasa dan pola interaksi yang tidak normal, serta kesulitan dalam membangun meaning-related knowledge. Pengembangan bahasa harus diimbangi dengan pengembangan literasi. Terdapat 2 area pengembangan literasi yang perlu mendapat perhatian mendalam, yaitu pengembangan literasi awal dan lingkungan literasi rumah.

Selain itu, ada 3 hal yang perlu dilakukan terkait pengembangan penelitian di bidang literasi. Pertama, perlu adanya identifikasi terhadap jenis ASD yang dialami penderita. Kedua, pengamatan terhadap hubungan antara variabel-variabel yang relevan mungkin berbeda jika dilakukan dengan sistem pengukuran berbeda. Ketiga, perlu adanya pertimbangan terhadap variasi budaya dan latar belakang bahasa dari objek penelitian. Hal ini diperlukan agar didapat pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana kemampuan literasi dibangun pada penderita ASD [22], [23].

REFERENSI 

[1] Chen Z, Kuo LJ (2017) Language and Literacy Development among Children with Autism Spectrum Disorder. J Child Dev Disord 3:3

[2] (2017) Centers of Disease Control and Prevention. Autism Spectrum Disorder (ASD)

[3] Howlin P (2003) Outcome in high-functioning adults with autism with and without early language delays Implications for the differentiation between autism and Asperger syndrome. J Autism Dev Disord 33: 3-13

[4] Weismer SE, Lord C, Esler A (2010) Early language patterns of toddlers on the autism spectrum compared to toddlers with developmental delay. J Autism Dev Disord 40: 1259-1273

[5] Hudry K, Leadbitter K, Temple K, Slonims V, McConachie H, et al. (2010) Preschoolers with autism show greater impairment in receptive compared with expressive language abilities Int J Lang Commun Disord 45: 681-690

[6] Eigsti IM, Bennetto L, Dadlani MB (2007) Beyond pragmatics: Morphosyntactic development in autism. J Autism Dev Disord 37:1007-1023

[7] Roberts JM. (2014) Echolalia and language development in children with ASD. Commun Autism 11:55-74

[8] McCann J, Peppé S, Gibbon FE, O’Hare A, Rutherford M (2007) Prosody and its relationship to language in school-aged children with high-functioning autism. International J Lang Commun Dis 42: 682-702

[9] Peppé S, McCann J, Gibbon F, O’Hare A, Rutherford M (2007) Receptive and expressive prosodic ability in children with high-functioning autism. J Speech Lang Hear Res 50: 1015-1028

[10] Shriberg LD, Paul R, McSweeny JL, Klin A, Cohen DJ, Volkmar FR (2001) Speech and prosody characteristics of adolescents and adults with high-functioning autism and Asperger syndrome. J Speech Lang Hear Res 44: 1097-1115

[11] Eigsti IM, de Marchena AB, Schuh JM, Kelley E (2011) Language acquisition in autism spectrum disorders: A developmental review. Res Autism Spec Dis 5: 681-691

[12] Lord C, Paul R (1997) Language and communication in autism. In: Cohen DJ, Volkmar FR (eds.) Handbook of Autism and Pervasive Development Disorders. New York: John Wiley

[13] Davidson MM, Weismer SE (2014) Characterization and prediction of early reading abilities in children on the autism spectrum. J Autism Dev Disord 44: 828-845

[14] Roberts J, Jurgens J, Burchinal M (2005) The role of home literacy practices in preschool children’s language and emergent literacy skills. J Speech Lang Hear Res: 345-359

[15] Westerveld MF, Paynter J, Trembath D, Webster AA, Hodge AM, et al. (2017) The emergent literacy skills of preschool children with ASD spectrum disorder. J Autism Dev Disord 47: 424-438

[16] Lanter E, Watson LR, Erickson KA, Freeman D (2012) Emergent literacy in children with ASD: An exploration of developmental and contextual dynamic processes. Lang Speech Hear Serv Sch 43: 308-324

[17] Dynia JM, Lawton K, Logan JA, Justice LM (2014) Comparing emergent-literacy skills and home-literacy environment of children with ASD and their peers. Topics Early Child Spec Educ 34:142-153

[18] Edwards PA (2007) Home literacy environments: What we know and what we need to know. In: Pressley M, Billman AK, Perry KH, Reffitt KE, Reynolds JM (eds.) Shaping Literacy Achievement: Research We Have, Research We Need. New York, NY: Guildford Press 2007: 42-67

[19] Tichnor-Wagner A, Garwood JD, Bratsch-Hines M, Vernon-Feagans L (2016) Home literacy environments and foundational literacy skills for struggling and non struggling readers in rural early elementary schools. Learn Disabil Res Pract 31: 6-21

[20] Hamilton LG, Hayiou-Thomas ME, Hulme C, Snowling MJ (2016). The home literacy environment as a predictor of the early literacy development of children at family-risk of dyslexia. Sci Stud Read 20: 401-419

[21] Sawyer BE, Justice LM, Guo Y, Logan JA, Petrill SA, et al. (2014) Relations among home literacy environment, child characteristics and print knowledge for preschool children with language impairment. J Res Read 37: 65-83

[22] Matson JL, Worley JA, Fodstad JC, Chung KM, Suh D, et al. (2011) A multinational study examining the cross cultural differences in reported symptoms of autism spectrum disorders: Israel, South Korea, the United Kingdom, and the United States of America. Res Autism Spectr Disord 5: 1598-1604

[23] Zachor D, Yang JW, Itzchak EB, Furniss F, Pegg E, et al. (2011) Cross-cultural  differences in comorbid symptoms of children with ASD spectrum disorders: An international examination between Israel, South Korea, the United Kingdom and the United States of America. Dev Neurorehabil 14: 215-220

Bagikan Artikel ini di:

Menjelang Ramadhan, Yuk Kenali Ciri-ciri Ayam Tiren yang Berbahaya Bagi Kesehatan

Bagikan Artikel ini di:

Protein hewani merupakan salah satu sumber protein yang cukup penting bagi manusia dan mengandung asam amino esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Daging unggas, khusunya ayam potong (ayam ras) merupakan salah satu sumber protein hewani yang cukup murah, mudah didapatkan, dan bergizi tinggi.

Untuk mendapatkan daging yang berkualitas, proses penyembelihan/pemotongan ayam harus dilakukan secara benar, baik sebelum pemotongan, selama pemotongan, dan pasca pemotongan. Ayam yang akan dipotong harus diperlakukan  dengan baik dan tidak melakukan penanganan yang kasar, sehingga dapat menghindari stress dan mengakomodir kesejahteraan hewan (animal welfare) sesuai Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Untuk mendapatkan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH), metode pemotongan yang digunakan harus sesuai dengan syariat Islam yaitu memotong 3 saluran di leher, yaitu saluran nafas/tenggorokan (trachea), saluran makanan/kerongkongan (esophagus), dan pembuluh darah (arteri karotis dan vena jugularis).

Walaupun demikian, sebagian pelaku usaha daging ayam ras belum memperhatikan masalah keamanan pangan dengan banyaknya dijumpai pedagang yang menjual ayam mati kemarin (ayam tiren) di Bandung, Jakarta, Bangka, Karanganyar, Yogyakarta, dan daerah lainnya [1]-[9].

Peredaran daging ayam tiren semakin marak ketika memasuki bulan Ramadhan dan mendekati tanggal 1 Syawal. Padahal masyarakat berhak untuk mendapatkan makanan yang ASUH. Sebagai konsumen, kita harus mulai pandai untuk mengamati dan membedakan antara ayam yang telah disembelih/dipotong sesuai syariat dengan ayam yang baru dipotong setelah mati. Ayam tiren memiliki ciri-ciri yang cukup mudah dikenali.

Ciri-ciri fisik dari warna daging ayam yang dipotong sesuai syariah warna daging ayam yang normal adalah putih, warnanya segar, bau, dan cita rasa normal. Daging ayam tiren biasanya beraroma agak amis, berwarna kebiru-biruan, pucat dan tidak segar. Pada leher potongan ayam tiren terlihat tidak lebar, tidak mulus seperti ayam potong ketika hidup, jika dipegang kulitnya licin dan mengkilat, karena telah dilumuri formalin. Selain itu terdapat bercak-bercak darah pada bagian kepala atau leher ayam, dan harganya lebih murah.

Perbedaan Ayam Tiren dan Ayam Segar

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, 3 saluran di leher, yang salah satunya pembuluh darah (arteri karotis dan vena jugularis). Setelah pembuluh darah ini dipotong, ayam dibiarkan beberapa saat untuk memberikan kesempatan darah keluar secara sempurna untuk mendapatkan daging yang berkualitas baik. Oleh karena itulah, daging ayam tiren biasanya mengandung bercak merah karena darah yang tidak keluar secara sempurna sehingga dagingnya mengandung darah yang relatif banyak.

Darah umumnya mengandung uric acid yang merupakan racun yang berbahaya bagi kesehatan dan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme patogen/ pembusuk. Oleh karena itulah, daging ayam tiren cenderung mudah rusak dan busuk, yang ditandai dengan daging yang berbau anyir. Maka dari itu, untuk menghindari pembusukan dan bau anyir, pedagang biasanya menambahkan formalin pada daging ayam tiren. Pemberian formalin ini dapat mempermudah pembeli untuk mengenali ayam tiren, karena jika dicium memiliki bau khas formalin yang menyerupai bau obat/bahan kimia, warna kulitnya lebih pucat dibanding daging ayam segar, tidak dikerumuni lalat, dan pastinya tidak akan rusak selama dua hari pada suhu ruang 25-27oC. Padahal, penyimpanan pada suhu di antara 4oC sampai dengan 60oC selama lebih dari 4 jam merupakan danger zone di mana mikroorganisme patogen dapat tumbuh secara optimal di dalam daging sehingga apabila dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan dan sakit.

Normalnya, daging ayam segar yang disembelih secara syariah sebaiknya disimpan pada keadaan dingin dengan cara dikemas dan disimpan pada suhu dibawah 4oC. Penyimpanan daging ayam dengan suhu ini dapat bertahan hingga 48 jam. Daging ayam  dapat pula disimpan beku pada suhu dibawah -18oC (Freezer). Dengan cara demikian daging beku tersebut dapat bertahan hingga 6 bulan.[10]-[12].

Dari segi hukum, pemasok dan pedagang daging ayam tiren dapat terkena hukuman pidana, seperti yang tercantum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 501 ayat 1 yakni pihak yang berwajib dapat menjerat pelaku yang menjual barang  rusak atau bangkai, serta dapat pula dijerat dengan pasal yang lain dengan hukuman hingga 15 tahun penjara[13].
Kejadian kematian dalam suatu peternakan ayam ras merupakan hal yang biasa dan tidak dapat dihindari. Dari sekali ternak satu periode (30-40 hari) minimal terjadi kematian antara 2-5%. Kematian ayam dapat disebabkan ketahanan tubuh yang kurang terhadap keadaan lingkungan di dalam dan sekitar kandang.Selain itu dapat disebabkan oleh penyakit. Ayam yang terserang penyakit zoonosis sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi. Walaupun demikian, ayam yang dipotong di rumah pemotongan unggas dan memiliki nomor kontro veteriner (NKV) cukup aman dikonsumsi. NKV merupakan registrasi kelayakan usaha dengan dasar penilaian telah dipenuhinya persyaratan teknis yang berdasarkan kepada penerapan cara berproduksi yang baik/Good Manufacturing Practices (GMP)/Good Hygienic Practices (GHP) dan standar prosedur operasi sanitasi/Sanitation Standar Operating Procedures (SSOP) [14][15].

Referensi:

[1] Harlia, E., R. L. Balia, dan D. Suryanto. 2016. Studi Tentang Keamanan Karkas Ayam Broiler Ditinjau Dari Penjualan Ayam Tiren Dan Penggunaan Formalin Di Pasar Tradisional Bandung. Unpad Open Repository. http://repository.unpad.ac.id/9213/ DIakses 1 Mei 2018
[2] Yuliandri, R. 2016. Tim Gabungan Musnahkan Daging dan Ayam Tiren Hasil Temuan di Pasar Modern Koba. http://bangka.tribunnews.com/2016/08/26/tim-gabungan-musnahkan-daging-dan-ayam-tiren-hasil-temuan-di-pasar-modern-koba Diakses 4 Mei 2018.
[3] Yuwono, M. 2017. Polisi DIY Gerebek Tempat Pengolahan Daging Ayam Tiren dan Bangkai Anjing.
https://regional.kompas.com/read/2017/12/28/22052921/polisi-diy-gerebek-tempat-pengolahan-daging-ayam-tiren-dan-bangkai-anjing Diakses 4 Mei 2018.
[4] Munir, S. 2015. Jelang Natal dan Tahun Baru, Waspadai Peredaran Daging Celeng dan Ayam Tiren. https://regional.kompas.com/read/2015/12/17/21103781/Jelang.Natal.dan.Tahun.Baru.Waspadai.Peredaran.Daging.Celeng.dan.Ayam.Tiren Diakses 4 Mei 2018.
[5] Belarminus, R. 2015. Sudin KPKP Bakal Gelar Razia Terkait Temuan Ayam Tiren Robertus Belarminus. https://megapolitan.kompas.com/read/2015/12/14/20350731/Sudin.KPKP.Bakal.Gelar.Razia.Terkait.Temuan.Ayam.Tiren Diakses 4 Mei 2018.
[6] Belarminus, R. 2015. Ini Pengakuan Pemilik Ayam Tiren yang Digeledah Polisi di Cakung. https://megapolitan.kompas.com/read/2015/12/14/15042751/Ini.Pengakuan.Pemilik.Ayam.Tiren.yang.Digeledah.Polisi.di.Cakung Diakses 8 Mei 2018.
[7] Larasati, W. A. 2017. Daging Ayam Tiren Berbau dan Berformalin di Karawang. https://www.liputan6.com/news/read/3036608/daging-ayam-tiren-berbau-dan-berformalin-di-karawang
[8] Handayani, S., S.2017. Satgas Mafia Pangan Polres Karanganyar Tangkap 2 Penjual Ayam Tiren. http://www.jatengpos.com/2017/12/satgas-mafia-pangan-polres-karanganyar-tangkap-2-penjual-ayam-tiren-876577 Diakses 4 Mei 2018
[9] Ellya. 2017. Nekat Jual Ayam Tiren, Dua Pedagang Diamankan Satgas Mafia Pangan. http://beritajateng.net/nekat-jual-ayam-tiren-dua-pedagang-diamankan-satgas-mafia-pangan/ Diakses 4 Mei 2018
[10]Badan Litbang Pertanian. 2017. Bagaimana Membedakan Ayam Segar dengan Ayam Tiren. http://new.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/2947/ Diakses 1 Mei 2018
[11] Afiati, F. 2009. Pilih-Pilih Daging Asuh. BioTrends. 4(1):19-25
[12] Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner. 2017. Road Show Daging Ayam Dingin Segar. http://kesmavet.ditjenpkh.pertanian.go.id/index.php/berita/berita-2/166-road-show Diakses 4 Mei 2018
[13] Yud. 2012. Penjual Ayam Tiren Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara. http://jogja.tribunnews.com/2012/12/12/penjual-ayam-tiren-terancam-hukuman-15-tahun-penjara Diakses 4 Mei 2018
[14] Yud. 2012. Antisipasi Dijual Lagi, Peternak Wajibkan Musnahkan Ayam Mati. http://jogja.tribunnews.com/2012/08/31/antisipasi-dijual-lagi-peternak-wajibkan-musnahkan-ayam-mati Diakses 4 Mei 2018
[15] Wuryaningsih, E. 2005. Kebijakan Pemerintah dalam Pengamanan Pangan Asal Hewan. Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. 9-13
Bagikan Artikel ini di: