Andrew Szydlo dan Hiskia Achmad – Pakar Demo Kimia

Bagikan Artikel ini di:

Zbigniew Andrew Szydlo atau Dr. Andrew Szydlo, DIC, ACGI, CChem, FRSC, lahir tahun 1949 di Inggris dari orang tua asal Polandia. Ia menempuh pendidikan sekolah di Latymer Upper School, lalu melanjutkankan ke Imperial College London dan University College London. Sampai saat ini semenjak tahun 1972 ia mengajar ilmu kimia di Highgate School, London Utara, Inggris. Andrew merupakan anggota Royal Society of Chemistry (RSC) dan juga dianugerahi penghargaan bergengsi Chartered Chemist (CChem) [1].

Masa kecil dan sekolah

Semenjak usia dini oleh orang tuanya ia dikenalkan kepada ilmu kimia. Pada usia ke sembilan, mereka membelikan sebuah “Kay’s Chemistry Set“, yang memberinya kesempatan pertama untuk menikmati apa yang menjadi gairah untuk seumur hidupnya – percobaan kimia. Ketertarikan Andrew terhadap kimia semakin kuat ketika dia menyaksikan seorang penjaja obat keliling di pasar, yang mempertunjukan kepada khalayak ramai bagaimana cairan asam dapat terbakar. Penjaja obat tersebut kemudian membuat api dari campuran obat batuk sirup dan sejenis kristal ungu. Andrew saat itu terpukau dengan percobaan tersebut dan kemudian ia mencoba mengulangi kembali demonstrasi dipasar tersebut. Dia kemudian menemukan bahwa zat yang tidak diketahui tersebut adalah kalium permanganat (KMnO4) melalui buku “Chemistry Magic“, yang dia pinjam dari perpustakaan. Dia kemudian membeli beberapa alat dan bahan untuk mengulangi percobaan tersebut. Dimasa sekolah ia terinpirasi oleh guru kimianya yang eksentrik, dimana dia mendemonstrasikan kimia praktis yang mendorong Andrew kecil untuk membangun laboratorium kecil di rumahnya sendiri sebagai pembelajaran [2].

Karir dan mengajar

Andrew mengambil bidang teknik kimia dan keselamatan industri pada saat kuliah, tapi kemudian ia kembali pada aktivitas kesenangannya yaitu percobaan kimia, dimana kelak ia akan menjadi guru kimia. Sambil mengajar, ia melanjutkan studinya ke jenjang doktoral dengan bidang riset kimia dan disertasinya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Selama berkarir dalam mengajar, Andrew meneruskan mendemonstrasikan percobaan-percobaaan diluar kelas yang asalnya merupakan aktivitas klub kimia kecil yang kemudian berkembang pesat menjadi pengajaran untuk publik. Dalam waktu 20 tahun, kegiatan demonstrasinya meraih perhatian yang lebih besar, termasuk sekolah dasar dan menengah, mahasiswa, perkumpulan keluarga, dan khalayak umum. Ia juga sering diundang sebagai pembicara dan memberikan kuliah umum dengan topik sejarah kimia di acara ulang tahun, festival dan konferensi di berbagai lokasi, seperti laboratorium, aula sekolah, teater kuliah, ruang olahraga, lapangan, tempat bermain, kolam renang yang tidak terpakai, dapur dan bahkan di bengkel mobil [2].

Andrew Szydlo (Gambar dari rsc.org)

Selain menjadi narasumber untuk umum, Andrew seringkali memberikan kuliah di Universitas Cambridge, Universitas Durham, Universitas College London, Royal Institution, Festival Sains Cheltenham dan Istana Hampton Court untuk di negara Inggris. Selain itu ia pernah diundang sebagai pembicara di Polandia, Mauritius dan Namibia.

Gaya Demonstrasi

Dalam peragaannya, Andrew menggunakan peralatan kimia sederhana yang terdapat di laboratorium dan alat-alat lain yang terdapat disekitar rumah. Ia menyajikan kuliah kimia praktis, sejarah kimia zaman abad pertengahan, penemuan oksigen, mesin pembakaran internal, dan terkadang memainkan alat musik seperti violin, piano, terumpet dan akordion.

Andrew Szydlo perfoming experiments on-stage

Penampilan Andrew Szydlo saat demonstrasi (Gambar dari rsc.org)

Andrew dengan gaya yang mengalir dan penuh semangat menceritakan reaksi kimia besi dan baja, reaksi yang melibatkan api, cairan yang bisa berubah warna, ledakan dari penggunaan bubuk mesiu, lelehan mirip lahar gunung berapi, yang semua triknya dapat memukau siapapun yang menyaksikan. Dia berharap usaha yang dilakukannya dapat menginspirasi guru-guru dan memberikan persepsi berbeda mengenai ilmu kimia kepada para murid dan orang tua.

Penampilan

Andrew tampil pada enam serial televisi di Inggris sebagai guru kimia pada acara That’ll Teach ’em (Channel 4, tahun 2006) dan Sorcerer’s Apprentice (CBBC, tahun 2007); sebagai sejarahwan sains pada acara Absolute Zero (BBC4, tahun 2007); sebagai ahli kimia pada Generals at War (National Geographic, tahun 2009); pada acara Big, Bigger, Biggest (Channel 5, tahun 2009); dan sebagai “The Doc” dalam acara Secrets of Everything (BBC3, tahun 2012). Penampilan Andrew dapat disaksikan di Youtube yaitu pada channel Royal Institution yaitu Magic of Chemistry (2014)[3], Blaze of Steel (2015)[4], Fireworks and Waterworks (2016) [5], Bonfires with a Bang (2017) [6] dan Chemistry of Coal (2018) [7]. Dia juga adalah salah satu pengisi Royal Society : Chemistry’s 175 Faces of Chemistry.

Pakar Demonstrasi Kimia di Indonesia

Indonesia pernah memiliki sosok pengajar kimia dan praktisi demonstrasi kimia legendaris yang tidak kalah hebat seperti Dr. Andrew Szydlo. Beliau adalah almarhum Drs. Hiskia Achmad, dosen Kimia ITB (lahir di Timor 9 Juni 1932 – wafat di Bandung 9 Juli 2014). Selain mengajar mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama, beliau membuat beberapa seri buku teks Penuntun Kimia Dasar dan juga diktat kuliah Kimia Dasar. Beliau juga dedikasi sebagai penyusun buku teks Kimia nasional dalam paket Kimia 1, Kimia 2, dan Kimia 3 yang menjadi standar pada tahun 1985 [8]. Kelebihan dari buku-buku beliau adalah cara penyampaiannya enak dibaca dan mudah dipahami. Ilmu kimia yang sulit menjadi mudah dan sederhana dengan cara penyampaiannya. Bagi siswa IPA dan mahasiswa pelajaran Kimia merupakan momok dan kurang disukai, tetapi di tangan beliau penyampaian materi Kimia menjadi lugas dan jelas [9].

Kompetensi dan kontribusi Drs. Hiskia Achmad di bidang pendidikan Kimia juga telah mendapat pengakuan secara luas yang dapat dilihat dari berbagai posisi dan penghargaan yang pernah diraihnya. Beliau juga  aktif dalam memberikan Demonstrasi Kimia untuk anak-anak sekolah semenjak beliau masih mengajar di ITB. Beliau juga menggagas kegiatan bertajuk “Demonstrasi Kimia dan Sains di Sekitar Kita” yang dimulai bahkan sebelum masa pensiunnya, yakni sejak tahun 1989. Terhitung hingga Oktober 2011, tidak kurang dari 90 kali beliau melakukan kegiatan Demonstrasi Kimia ini di 16 provinsi di Indonesia mulai dari Sumatera Utara hingga Maluku, bahkan pernah dua kali di Timor Leste, dengan dihadiri oleh tidak kurang dari 82.000 siswa [8]. Warisan beliau mengenai demonstrasi kimia dicurahkan dalam buku  “Demonstrasi Sain Kimia Kimia Deskriptif melalui Demo Kimia” Jilid 1 dan 2 yang ditulis bersama Dra. Lubna Baradja, M.Si.

Referensi

[1] Wikipedia, Zbigniew Szydlo, https://en.wikipedia.org/wiki/Zbigniew_Szydlo, (diakses 12 Januari 2019).
[2] Royal Society of Chemistry, Royal Society of Chemistry’s 175 Faces of Chemistry, http://www.rsc.org/diversity/175-faces/all-faces/dr-andrew-szydlo-dic-acgi-cchem-frsc/, (diakses 12 Januari 2019).
[3] Youtube, The Magic of Chemistry – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=0g8lANs6zpQ.
[4] Youtube, Blaze of Steel: Explosive Chemistry – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=Na7Bp4frYGw.
[5] Youtube, Fireworks and Waterworks – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=HRBVfqhPQQ8.
[6] Youtube, The Chemistry of Fire and Gunpowder – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=OYZT3opLedc.
[7] Youtube, Andrew Szydlo’s Chemistry of Coal, https://www.youtube.com/watch?v=1Qi4rrQoruQ.
[8] Institut Teknologi Bandung, Obituari: Drs. Hiskia Achmad, Dedikasi Sepanjang Hayat untuk Pendidikan Kimia di Indonesia, https://www.itb.ac.id/news/read/4431/home/obituari-drs-hiskia-achmad-dedikasi-sepanjang-hayat-untuk-pendidikan-kimia-di-indonesia, (diakses 13 Januari 2019).
[9] Munir, Rinaldi, Mengenang Drs. Hiskia Achmad, Dosen Kimia ITB yang Legendaris, https://rinaldimunir.wordpress.com/2014/07/11/mengenang-prof-hiskia-ahmad-dosen-kimia-legendaris-itb/, (diakses 13 Januari 2019).

Bagikan Artikel ini di:

Pizza Tungku: Pembakaran Pizza yang Sempurna dengan Fisika

Bagikan Artikel ini di:

Siapa yang tidak mengenal makanan cepat saji satu ini? Pizza termasuk salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Pizza identik dengan makanan sejenis roti bundar, pipih yang dipanggang dalam oven dan biasanya dilumuri dengan saus tomat dan keju mozzarella. Taburan berbagai macam topping mulai dari daging, sayuran dan buah menambah citarasa makanan tradisional Italia ini.

sumber: 123rf.com

Gambar 1. Pizza   (sumber: 123rf.com)

Nama pizza sendiri pertama dikenal pada tahun 997 M dalam bahasa latin “duodecim pizze” yang artinya “duabelas pizza” [1]. Walaupun setelah itu muncul berbagai berdebatan tentang asal kata pizza. Salah satunya adalah “pizzicare” bahasa italia kuno yang artinya “menjepit/mencomot”. Diberi nama tersebut karena mengacu pada proses pembuatan pizza yang diangkat dengan cepat dari oven bersuhu tinggi dengan bahan bakar kayu.

Gambar 2. Pizzaiolo (pembuat pizza) sedang memanggang pizza di oven berbahan bakar kayu.  Sumber: 123rf.com

 

Gambar 3. Proses pemanggangan pizzza. Sumber: 123rf.com

Pizza khas Italia memang terkenal dengan cara memasaknya yang unik, yaitu menggunakan oven yang terbuat dari batu bata dengan bahan bakar kayu. Oven tradisional dengan lubang setengah lingkaran (lihat gambar 2). Pizza yang siap dipanggang, dimasukkan ke dalam oven. Diletakkan tepat di samping kayu yang menyala (lihat gambar 3). Pizza yang dipanggang dengan cara ini ternyata dapat matang secara sempurna.

Seorang fisikawan Rusia yang tinggal di Roma telah menganalisis proses dalam pemanggangan pizza. Dia menemukan jawaban mengapa oven tradisional lebih unggul daripada oven elektrik: oven tradisional memberikan kematangan sempurna pada pizza [2]. Matang sempurna maksudnya rotinya matang dan toppingnya tidak hangus. Walaupun dipanggang dengan suhu tinggi dalam waktu singkat.

Peneliti lainnya yakni Andrey Varlamov yang juga peneliti superkonduktor di Consiglio Nazionale della Ricerche (CRN) Italia juga turut berpartisipasi dalam riset pizza. Suatu hari dia memulai percakapan dengan pizzaiolo (pembuat pizza) di kafe lokal mengenai suhu oven tradisional pemanggang pizza. Dia terinspirasi untuk menganalisis aliran panas antara dasar oven dan adonan pizza.

Selanjutnya, ia meminta bantuan Ilmuwan material Andreas Glatz dari Laboratorium Nasional Argonne AS, dan seorang antropolog makanan asal Italia, Sergio Grasso. Temuan mereka yang saat ini sedang menunggu peer-review di situs pra-cetak arXiv, mengungkap mengapa orang Italia bersikeras menggunakan oven berbahan bakar kayu pada kafe pizza mereka.

Pizzaiolo lokal mengungkapkan kepada Varlamov bahwa pematangan pizza yang sempurna dengan oven tradisional berlangsung selama 2 menit dengan suhu 330C. Dengan cara ini dalam waktu satu jam pizzaiolo dapat melayani 50-60 pembeli dengan asumsi satu kali pemanggangan dua pizza. Mereka pernah mencoba untuk menaikkan suhu oven menjadi 390C, ternyata pizza matang lebih cepat yaitu dalam waktu 50 detik. Hal ini tentu dapat menaikkan angka penjualan. Namun, kualitas pizza tidak sesempurna dengan suhu 330C. Bagian bawah pizza agak hangus namun toppingnya kurang matang.

Varlamov dan rekan-rekannya menemukan bahwa kematangan sempurna antara roti dan topping dipengaruhi oleh perpindahan kalor. Kalor mengalir ke dasar roti pizza melalui proses konduksi dari batu bata di dasar oven. Sedangkan topping pizza dihangatkan dengan cara radiasi termal dari api kayu yang menyala tepat di samping pizza.

Gambar4. Proses perpindahan kalor saaat pemanggangan pizza. [2]

Konduksi

Konduksi adalah perpindahan kalor dari satu tempat ke tempat lain melalui benda. Tetapi selama kalor berpindah tidak ada bagian benda maupun atom atau molekul penyusun benda yang ikut berpindah. Perpindahan kalor secara konduksi ditemukan di zat padat. Contohnya, ketika salah satu ujung besi dipanaskan maka ujung lainnya akan ikut panas. Ini diakibatkan adanya kalor yang berpindah dari ujung yang dipanaskan ke ujung yang dingin.

Cepat perambatan kalor dalam zat padat berbeda untuk zat yang berbeda. Ada zat yang sangat mudah memindahkan kalor dan ada yang sangat sulit. Zat yang mudah memindahkan kalor contohnya besi, tembaga, aluminium. Semua logam termasuk zat yang mudah memindahkan kalor. Zat semacam ini disebut juga konduktor kalor. Contoh zat yang sulit menghantar kalor adalah kaca, karet, kayu, batu. Zat yang sulit menghantarkan kalor juga disebut isolator kalor. Konduktor kalor mudah memindahkan kalor karena adanya migrasi elektron penyusun material dan getaran atom –atom zat padat di sekitar posisi setimbangnya. Sedangkan pada isolator kalor sulit menghantarkan kalor karena hanya terjadi getaran atom-atom zat padat di sekitar posisi setimbangnya.[3]

Ukuran kemampuan zat menghantar kalor dikenal dengan konduktivitas termal. Laju konduksi kalor dalam bahan memenuhi persamaan Hukum Fourier (Fouier’s Law)

Persamaan 1

Keterangan:

Gambar 4. Perpindahan kalor secara konduksi.

q adalah kalor yang dirambatkan per detik (J/s)

Tt adalah suhu satu ujung benda (suhu tinggi) (K)

Tr adalah suhu ujung benda yang lain (suhu rendah) (K)

L adalah panjang benda (m)

A adalah luas penampang benda (m2)

k disebut konduktivitas panas (J/m s oC).

Tanda negatif  (-) diselipkan dalam hukum Fourier yang menyatakan bahwa panas berpindah dari media temperatur tinggi ke media dengan temperatur lebih rendah. Laju perpindahan panas konduksi pada suatu plat juga sebanding dengan beda temperature di antara dua sisi plat dan luas perpindahan panas tetapi berbanding terbalik dengan tebal plat.[4]

Varlamov dan rekan-rekannya menganalisis perpindahan panas secara konduksi dari panasnya oven ke bagian roti pizza menggunakan persamaan dasar di atas. Hanya saja banyak variabel lain yang ikut diperhitungkan diantaranya, kapasitas panas per satuan massa (cp), kapasitas panas per satuan volume (ρсp) dan difusi termal (X=k/ρcp) atau seberapa cepat difusi panas terjadi pada material tersebut.

Hingga diperoleh persamaan

dengan

dimana To adalah suhu akhir pizza saat matang sempurna setelah pemanggangan dengan suhu oven T1=330 C dan suhu mula-mula pizza T2= 20C.

Menggunakan persamaan 2 dan 3 Varlamov, dkk. menghitung suhu akhir pizza jika dipanggang dengan oven tradisional berbahan bakar kayu dengan dasar oven batu bata hasilnya adalah 208C.
Varlamov kemudian mengulangi perhitungan untuk oven listrik yang terbuat dari baja dan menemukan bahwa karena konduktivitas termal logam yang lebih tinggi dari batu bata maka suhu akhir pizza jika dipanggang dengan suhu 330 C adalah 300C. “Suhu ini terlalu tinggi! Pizza ini akan berubah menjadi batu bara.” ungkap Varlomov dalam artikelnya.

Untuk mencapai suhu akhir pizza yang sempurna, suhu oven listrik perlu dikurangi hingga 230C. Masalahnya adalah bahwa suhu yang lebih rendah akan mengakibatkan kecilnya radiasi untuk memasak topping.

Radiasi

Radiasi adalah perpindahan kalor tanpa melalui medium. Panas tersebut dibawa oleh gelombang elektromagnetik. Setiap benda memancarkan gelombang elektromagnetik. Energi gelombang yang dipancarkan makin besar jika suhu benda makin tinggi. Salah satu komponen gelombang yang dipancarkan tersebut adalah gelombang inframerah yang membawa sifat panas. Makin tinggi suhu benda maka makin banyak pula energi gelombang inframerah yang dipancarkan sehingga makin panas benda tersebut terasa pada jarak tertentu.[3]

Besarnya panas yang dipancarkan tersebut tunduk pada apa yang disebut fisikawan sebagai hukum Stevan-Boltzman. Hukum yang menggambarkan hubungan antara jumlah energi yang dipancarkan per satuan luas sebuah benda hitam dalam satuan waktu berbanding lurus dengan pangkat empat suhu absolutnya.

Secara matematis ditulis dengan persamaan ini

(Persamaan 4)

dengan
I= Intensitas radiasi (J/m2)
? = 5.67 ∙ 10-8 ?/(?2?4)(konstanta stevan-boltzman)
T= Suhu (K)

Dengan menganggap pizza merupakan benda hitam, didapatkan bahwa penurunan suhu 100C dalam suhu oven listrik akan mengurangi radiasi hingga setengahnya. Ini berarti  akan membutuhkan waktu dua kali lipat untuk memasak topping dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan apabila memanggang menggunakan oven dengan bahan bakar kayu. Selain itu memanggang pizza dengan oven listrik akan mengurangi bau khas kayu yang digunakan dalam pemanggangan.

Menarik bukan mempelajari fisika sambil membahas pizza! Bagaimana menurutmu apabila konsep ini diterapkan juga untuk membandingkan nemasak nasi dengan magic com dan memasak nasi secara tradisional dengan tungku?.

Baca juga :

Referensi:

[1] www. Theflorentine.net/food-wine/2010/thats-amore/ diakses pada tanggal 6 Juli 2018
[2] Varlamov, A. Glatz, A., & Grasso, S. (2018). The Physics of Baking Good Pizza. arXiv preprint. arXiv: 1806. 08790.
[3] Abdullah, Mikrajuddin. (2018). Fisika Dasar I. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
[4] Theodore L. B., Adrienne S. L., Frank P. I., David P. D., Introduction to Heat Transfer, 6th Edition. (2011). Wiley.

Bagikan Artikel ini di:

Pesona Api Biru dan Potensi Sumber Daya Alam Gunung Ijen, Indonesia

Bagikan Artikel ini di:

Memandang alam dengan pengertian, jauh lebih menyenangkan hati daripada hanya memandang keelokannya saja (Albert Heim, 1878)

Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyak yakni 127 gunung api aktif. Namun baru 69 gunung api yang terpantau dengan alat seismik yang merupakan yang merupakan standar minimum alat pemantauan gunung api[1].

Gunung api memberikan gambaran yang sangat mengerikan bagi masyarakat. Letusan Gunung Merapi, Yogyakarta merupakan salah satu contoh bencana dahsyat dari keberadaan gunung api. Tetapi, gunung api pun menyediakan sumber daya alam yang melimpah seperti mata air, mineral dan tentunya pemandangan yang sangat indah bila kita menjelajahinya.

Salah satu gunung api yang sedang hangat dibicarakan adalah gunung Ijen. Gunung Ijen terletak di dua kabupaten, kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. Keindahan dan keunikan gunung Ijen menarik banyak wisatawan lokal dan internasional. Dari gunung Ijen, kita bisa melihat komplek gunung api seperti gunung raung dan gunung Marapi.

Ketinggian gunung Ijen 2.443 mdpl dan di puncaknya terdapat kawah yang berisi cairan asam[2]. Gunung Ijen terbentuk dari gunung Ijen purba sekitar 700.000 tahun yang lalu di lingkungan laut dangkal[3]. Kemudian, gunung Ijen purba meletus dan amblas yang menghasilkan danau kaldera. Karena adanya patahan Blawan, danau kaldera menjadi kering yang kemudian hanya menyisakan kawah.

Selain itu, di bibir kaldera terbentuk 5 gunung api yang salah satunya adalah gunung Ijen yang sekarang sedang banyak dinikmati orang untuk wisata dan di tengah kawah terbentuk 17 anak gunung. Gunung Ijen terakhir meletus pada tahun 1999[2].

Gambar 1. Proses pembentukan gunung Ijen[3]

Fenomena yang paling mengesankan dari gunung api Ijen adalah fenomena api biru (blue fire) yang hanya terjadi di dua tempat, gunung api di Islandia dan gunung api Ijen di Indonesia. Hal ini merupakan fenomena yang tidak biasa karena gunung api biasanya menghasilkan lava merah dan asap hitam seperti halnya gunung Merapi atau gunung Sinabung.

Api biru kawah Ijen selalu menyala sepanjang hari namun hanya bisa dilihat pada malam hari. karena pada siang hari, intensitas cahaya matahari (kuning) yang berpadu dengan api biru membuat api biru tidak bisa kita lihat secara jelas. Api biru dihasilkan dari reaksi antara sulfur/belerang padat (S8) dengan oksigen pada temperatur diatas 300oC yang menghasilkan api biru dan gas SO2[4]. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

S8 + 8 O2   =   8 SO2 (api biru)

Padatan belerang di kawah Ijen terbentuk akibat reaksi gas H2S dan SO2. Kawah Ijen menghasilkan SO2 sebanyak 200 ton per hari yang berpotensi menghasilkan padatan berlerang sebanyak 100 ton/hari[3]. H2S dan SO2 akan terkondensasi terlebih dahulu, kemudian akan bereaksi menghasilkan padatan sulfur dan air (H2O). Fenomena alam tersebut diadopsi oleh beberapa industri yang menghasilkan H2S.

Di industri, reaksi pembentukan padatan sulfur dari H2S dan SO2 disebut proses Claus[5]. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

2H2S + SO2   =  3/2 S2 + 2 H2O

Karena gas SO2 dan H2S sangat berbahaya bagi manusia, wisatawan yang berkunjung ke kawah ijen diwajibkan menggunakan masker dan jangan mendekat ke area kawah.

Selain itu, setelah jam 12 siang, wisatawan dianjurkan untuk tidak berada di puncak gunung ijen karena angin menyebabkan gas SO2 akan mengarah ke tempat wisatawan biasa memotret atau duduk santai. Gunung Ijen pun menyuguhkan aktivitas para penambang belerang.

Kita bisa melihat secara langsung bagaimana proses penambangan belerang di lingkungan gunung api. Dalam satu kali penambangan, para penambang belerang mampu membawa 60 – 100 kg belerang. Setiap harinya, penambang belerang mampu melakukan 2 kali penambangan.

Kondensasi gas H2S dan SO2 dialirkan melalui pipa sepanjang 50 – 150 m dengan jumlah 100 buah yang akan menghasilkan cairan kental berwarna coklat kuning yang merupakan padatan belerang[3]. Satu hal yang menjadi perhatian kita adalah satu kilogram belerang hanya dihargai sebesar Rp. 680 /kg[4]. Tentu, harga tersebut tidak sepadan dengan risiko yang harus para penambang hadapi setiap harinya. Untuk menambah penghasilan, para penambang membuat souvenir belerang padat yang dibuat menjadi berbagai bentuk yang dijual dengan harga Rp. 5.000 – Rp. 30.000 /souvenir.

Gambar 2. Api biru di Kawah Ijen[3] (b) pembentukan padatan belerang[3] (c) penambang belerang (dokumen pribadi)

Selain pemanfaatan belerang, kawah Ijen memiliki sumber air yang melimpah. Namun, mata air di gunung ijen yang mengalir melalui sungai banyuputih bercampur dengan cairan asam dari kawah. Cairan asam di kawah ijen memiliki nilai pH yang sangat rendah sebesar 0,5[3]. Hal ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya alam agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Kedepan, pemerintah dan instansi lainnya akan membuat pemisahan saluran mata air dan cairan asam agar hanya air dari mata air yang mengalir menuju sungai. Aliran sungai ini pun dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH)[3].

Potensi lainnya adalah energi panas bumi yang telah dieksplorasi oleh PT.Medco Cahaya Geothermal (MCG) sejak tahun 2011. Eskplorasi masih terus dilakukan hingga Mei 2018. Potensi energi panas bumi di komplek gunung ijen sebesar 110 MW. PT MCG telah menandatangani kontrak dengan PT. PLN untuk perjanjian jual beli listrik selama 30 tahun. Proyek tersebut akan beroperasi secara komersial pada tahun 2020 atau 2021[6].

Alam meyuguhkan sejuta kearifan bagi insan yang tumbuh di sekitarnya. Berkatnya, manusia hidup dalam kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian. Sudah selayaknya, alam dan manusia bersinergi dan saling menghargai untuk kelangsungan hidup di muka bumi.

Api Biru (Blue Fire) di Kawah Ijen, Indonesia[7]

 Referensi

[1] Pikiran Rakyat. 2012. Indonesia Miliki 127 Gunung Api Aktif. (http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2012/05/02/186891/indonesia-miliki-127-gunung-api-aktif) diakses pada tanggal 2 Maret 2018

[2] Wikipedia Indonesia. Gunung Ijen. (https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Ijen) diakses pada tanggal 2 Maret 2018

[3] Wirakusumah, A.D., Murdohardono, D dan Rosiani, D. 2018. Geowisata di Area DAS Banyupait/Banyuputih, G.Ijen, Jawa Timur. Sekolah Tinggi Energi dan Mineral.

[4] Milley, J. 2018. The Mystery of Blue Lava and The Kawah Ijen Volcano. (https://interestingengineering.com/blue-lava-largest-sulfuric-acid-lake-ijen-volcano) diakses pada tanggal 2 Maret 2018

[5] Sendt, K dan Haynes, B.S. 2005. Role of The Direct Reaction H2S + SO2 in The Homogenous Claus Reaction. J. Phys Chem A, 109, 8180-8186.

[6] Agustinus, M. 2017. Medco Kantongi Perpanjangan Eksplorasi Panas Bumi di Ijen. (https://finance.detik.com/energi/3641482/medco-kantongi-perpanjangan-izin-eksplorasi-panas-bumi-di-ijen) diakses pada tanggal 2 Maret 2018

[7] Grunewald, O. 2015. Kawah Ijen – Volcano with Glowing Blue Lava in Indonesia. (https://www.youtube.com/watch?v=82CC3reHX0g) diakses pada tanggal 2 Maret 2018

Bagikan Artikel ini di: