Mengejutkan! Kemungkinan besar kita hidup dalam simulasi komputer!

Bagikan Artikel ini di:

Selama ini, kita merasa bahwa segala hal yang terjadi begitu nyata, dan yakin betul bahwa kita dan semua orang lainnya pun memiliki “kesadaran” penuh atas segala yang terjadi di dunia ini. Lalu, bagaimana jadinya kalau ternyata selama ini kita hanyalah hidup dalam sebuah simulasi komputer layaknya di film The Matrix? Kasarnya, kita bukanlah hal yang benar-benar nyata, dan kesadaran kita hanyalah bagian dari program “simulasi” ini. Selain itu, hal ini berarti bahwa ada “sesuatu” yang lebih “tinggi” dari kita yang ternyata mengendalikan kita di balik semua ini, layaknya permainan The Sims.

Pemikiran ini disebut juga sebagai teori simulasi (simulation theory). Hipotesa ini pertama kali dikenalkan secara luas di sebuah jurnal yang ditulis oleh seorang ahli filosofi Oxford bernama Nick Bostrom pada tahun 2003. Dalam tulisannya, ia memaparkan pemikirannya bahwa sebenarnya ada banyak simulasi realita yang dibuat beserta dengan karakter dengan kecerdasan buatan di dalamnya. Dibahasannya, para karakter itu disebutkan tidak tahu bahwa mereka hanyalah tinggal di simulasi. Dan kemungkinan kita bukanlah satu-satunya simulasi yang “mereka” buat.

Sebenarnya, ide gila ini bukan murni ide baru. Bahkan sebelum teori simulasi ini dicetuskan, sudah ada banyak hipotesa baik secara saintifik maupun filosofis yang mengatakan bahwa realita ini hanyalah sebuah ilusi. (hanya saja waktu itu manusia belum mengenal kata “simulasi”). Hipotesa ini bahkan bisa dilacak kembali sampai ke zaman dahulu, seperti filosofi Maya yang terbentuk di masyarakat India.

Hipotesa ini pun menjadi terkenal semenjak adanya tulisan Bostrom itu. Bahkan, Elon Musk saja dapat dikatakan sependapat dengan hipotesa kontroversional ini. Elon Musk berpendapat, semakin kesini video game yang dapat kita buat kualitas grafiknya jadi semakin baik. Ia yakin suatu saat nanti, akan sampai di titik dimana kita tidak bisa membedakannya dengan “realita”.

sebuah grafik game yang sangat realistis

sebuah grafik game yang sangat realistis

Sampai sekarang, hipotesa ini belum terbukti kebenarannya karena kita tidak bisa membuktikan diri kita sendiri apakah kita hidup dalam simulasi atau bukan. Tapi, banyaknya bukti yang mendukung tentu akan membuat kita semakin penasaran akan kebenarannya.

Lalu, apa saja bukti kalau kita memang hidup di dalam sebuah simulasi layaknya The Sims?

1.DNA yang mengandung virus komputer.

DNA yang disisipi oleh virus komputer

Pada tahun 2017, para peneliti dari bidang berbeda di University of Washington menunjukkan bahwa mereka dapat menyisipkan virus komputer ke dalam DNA. Lalu susunan dari virus dan DNA ini dimasukkan ke dalam komputer sebagai suatu “malware“. Hasilnya, malware ini dapat menyerang komputer yang ditargetkan. Hal ini membuktikan bahwa realita biologis tidak lebih dari sekadar pengkodean komputer.

2. Adanya efek Mandela (Mandela Effect)

Coba perhatikan gambar di bawah ini! yang mana yang menurut Anda benar?

sebenarnya ekor pikachu tidak pernah memiliki warna hitam

Banyak orang yang ketika ditanya mana yang benar akan mengatakan gambar pertama(ekor dengan garis hitam), padahal sebenarnya ekor Pikachu tidak pernah terlihat seperti itu. Selain ekor Pikachu ini, ada juga false memory lainnya seperti di bawah ini

Lalu, bagaimana bisa banyak orang memiliki ingatan yang salah seperti itu? Dan bagaimana mungkin fenomena ini terjadi bukan hanya sekali dua kali saja.

3. Game Simulasi yang semakin nyata

virtual reality adalah contoh alat yang diciptakan untuk memberikan efek “nyata” dalam game/simulasi yang dibuat

Seperti yang telah Elon Musk ucapkan, video game yang bisa kita buat bisa makin nyata sampai akhirnya sama dengan “nyatanya” dunia kita. Kemungkinannya, kita bukanlah yang pertama melakukannya. Bisa saja yang mensimulasikan kita sendiri pun adalah sebuah simulasi. Atau dapat dikatakan simulasi dalam simulasi. Membingungkan, bukan?

4. Glitch In The Matrix

Seperti dalam film The Matrix, ada banyak kejadian sehari hari yang membuat kita berpikir kalau sebenarnya semua ini hanyalah simulasi.

Ada banyak contoh glitch yang terjadi. Salah satu fenomena “glitch” adalah deja vu. Deja vu sendiri adalah suatu “perasaan aneh” yang dirasakan ketika kita ke suatu tempat/mengalami suatu hal. Kita merasa seolah kita pernah mengalaminya meski pada dasarnya kita belum pernah kesana/mengalaminya. Para ilmuwan banyak yang percaya bahwa fenomena ini tak lain hanya anomali neurologis yang terjadi pada otak. Kasarnya, ini hanya ilusi yang terbentuk di otak saja.

Namun, banyak juga yang berpendapat kalau hal ini adalah bukti adanya sebuah “glitch” dalam “realita” kita. Jadi, simulasi kita mengalami “glitch” sesaat dan membuat sebuah kejadian yang harusnya terjadi di titik waktu tertentu jadi muncul di suatu titik lainnya.

Selain deja vu, fenomena munculnya orang “penjelajah waktu” yang berjalan dengan membawa handphone di masa lalu yang tertangkap kamera juga menunjukkan bahwa “glitch” itu terjadi.

“penjelajah waktu” dengan smartphone yang tertangkap kamera

5. Quantum entanglement yang melebihi kecepatan cahaya

dua partikel yang saling terhubung satu sama lain meski terpisah oleh jarak yang jauh

Quantum entanglement adalah suatu fenomena dimana partikel dapat saling mengirimkan informasi meskipun terpisah oleh jarak yang sangat jauh.

Menurut Bohr, alam semesta kita kemungkinan tersusun atas data seperti di komputer dan bukanlah materi yang terpisahkan oleh ruang waktu. Namun, otak kitalah yang mempersepsikan “data” itu sebagai “materi”. Bohr memiliki pendapat ini karena menurut Einstein tidak ada “materi” yang dapat melebihi kecepatan cahaya. Jika menggunakan konsep ruang-waktu, fenomena ini mustahil karena dibutuhkan lebih dari kecepatan cahaya untuk mengirimkan informasi secepat itu. Padahal, quantum entanglement benar-benar terjadi.

Lalu… apa dampaknya bagi kita jika alam semesta yang kita tinggali adalah simulasi?

Sebenarnya, tidak akan ada dampak apapun secara langsung pada kehidupan kita sehari-hari jika dunia ini adalah simulasi komputer. Kita akan tetap menjalani kehidupan kita seperti biasanya, kehidupan akan jalan terus.

Tapi, jika hipotesis simulasi ini benar, tentu dapat membuktikan beberapa hipotesa sebelumnya yang telah tercetus dalam ranah fisika teoretis.

Jika hipotesa ini benar maka teori
multiverse kemungkinan benar, karena kita bukanlah satu-satunya simulasi yang diciptakan oleh “peradaban” di atas kita. Ada banyak alam simulasi lainnya di luar sana.

Selain itu, interpretasi copenhagen dalam mekanika kuantum pun benar (kondisi dimana kucing mati dan hidup secara bersamaan). Hal ini terjadi karena seperti dalam video game, kondisi yang akan dimunculkan di layar hanya kondisi yang ada di sekitar karakter game. Jika karakter tidak ke suatu tempat (misal ke A) maka kondisi A tidak ada di layar, kita tidak tahu kondisi disana. Sama dengan lingkungan kita. Jika kita tidak melihat kucing dalam boks, kita juga tidak tahu kondisi kucing.

Seperti yang telah disebutkan di atas, hal ini tidak akan terlalu memberikan dampak yang besar bagi kehidupan sehari-hari. Jadi artikel ini sebaiknya tidak usah terlalu diambil pusing dan jadikan saja sebagai pengetahuan.

Referensi

[1] Illing, Sean. 2019. Are we living in a computer simulation? I don’t know. Probably . Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[2] Wikipedia. Simulation hypothesis. . Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[3] Solon, Olivia. 2016. Is our world a simulation? Why some scientists say it’s more likely than not. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[4] Stieb, Matt. 2019. 15 Irrefutable Reasons We Might Be Living In A Simulation.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[5] S. Powell, Corey. 2018. Elon Musk says we may live in a simulation. Here’s how we might tell if he’s rightDiakses pada tanggal 23 Juni 2019

[6] Farquhar, Claire. 2019. There Is Solid Evidence We’re All Living In A Simulation.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[7] Yuhas, Daisy. 2012. Could Human and Computer Viruses Merge, Leaving Both Realms Vulnerable?. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[8]  Colagrossi, Mike. 2019.
.3 superb arguments for why we live in a matrix – and 3 arguments that refute them. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019.

[9] Johnston, Norm. 2017. Deja Vu: Are We All Actually Living in Virtual Reality?
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[10] Adamson, Rob. Quantum Entanglement & Simulated Reality. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[11] Wikipedia. Quantum Entanglement.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Bocah Sang Pemberi Nama Planet Pluto

Pluto, planet yang dinamakan bocah tersebut
Bagikan Artikel ini di:

Apa yang telah kalian lakukan ketika baru berumur 11 tahun?. Ada sebuah kisah unik dari Venetia Burney, ia memberi nama planet saat masih berumur 11 tahun secara tidak sengaja dan sedikit keberuntungan.

Bermula saat tahun 1846, astronom menemukan ketidakteraturan orbit planet Uranus yang akhirnya disebut “Planet X” . Percival Lowell adalah salah satu orang yang mencari planet ini. Pada Tahun 1905 sampai akhir hayatnya ia melakukan perhitungan matematis dan pengamatan menggunakan observatoriumnya untuk menemukan planet X tersebut. Pada 1915 ia memperkirakan lokasi planet X dalam Memoir on a Trans-Neptunian Planet. Sayangnya pada 1916 ia meninggal sebelum ia menyelesaikan pencarian fotografi di daerah yang ditargetkan di langit.

Percival Lowell

Sebelas tahun setelah kematian Percival Lowell, keponakannya yaitu Roger Lowell Putnam menjadi pengawas satu-satunya observatorium Lowell. Abbott Lawrence Lowell,saudara Percoval yang merupakan presiden Harvard University memberikan $10000 untuk membangun teleskop baru. Untuk pengoperasian teleskop tersebut, ia memperkerjakan seorang pekerja, Clyde Tambough. Clyde melakukan pencarian di lokasi yang telah diprediksi oleh Percival Lowell dan menemukan planet X (yang nantinya dinamakan Pluto) berdasarkan hasil foto 23 dan 29 Januari 1930. Berita penemuan ini selanjutnya dikirim ke Harvard Collage Observatiom.

Clyde Tombaugh

Berita penemuan Planet ini tersebar di seluruh dunia. Pihak observatorium Lowell memiliki hak untuk menamainya dan menerima 1000 saran nama dari seluruh dunia.

Pada 14 Maret 1930, Venetia, seorang bocah yang berasal dari Oxford, Inggris yang saat itu berumur 11 tahun sedang sarapan dengan ibu dan kakeknya. Kakeknya membacakan sebuah berita penemuan planet baru dan bertanya apa nama panggilannya. Kemudian Venetia berkata “kenapa tidak menyebutnya Pluto? “. Venetia mungkin berkata demikian karena ia suka membaca tentang mitologi Yunani dan Romawi.

 

Venetia Burney

Kakeknya ( Falconer Madan) adalah seorang pustakawan yang memiliki banyak teman sebagai astronom. Kemudian kakeknya menyarankan nama itu kepada astronom Herbert Hall Turner yang kemudia menyarankan kepada astronom di observatorium Lowell.

Dari seluruh penjuru dunia menyumbangkan nama hingga 1000. Pada 24 Maret 1930, setiap anggota observatorium Lowell diberi hak untuk memilih diantara 3 nama yaitu Cronus, Minerva, dan Pluto. “Pluto” memperoleh hasil bulat karena didorong oleh dua huruf pertamanya adalah inisial dari pendiri observatorium Lowell, Percival Lowell. Keputusan tersebut diumumkan kepublik pada 1 Mei 1930. Setelah diumumkan, Madan (kakeknya) menghadiahi Venetia sebesar $450.

Namun tahukah kamu? Pada tahun 2006, sidang umum Perhimpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) ke-26 di Praha, Republik Ceko, menetapkan definisi baru tentang planet yang kemudian menyebabkan Pluto dikeluarkan dari daftar planet tata surya.

Dalam definisi IAU, sebuah planet haruslah mengorbit matahari, berukuran cukup besar sehingga dapat mempertahankan bentuk bulatnya dan memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih (tidak terhalang benda langit lain). Sementara Pluto, ukurannya terlalu kecil untuk disebut sebagai planet dan orbitnya bersinggungan dengan planet lain yakni Uranus.

Baca juga: Penelitian Terbaru Desak agar Pluto Kembali Diklasifikasikan Sebagai Planet

Referensi :

  • Brad Mager. 1994. Pluto: The Discovery of Planet X. Diakses dari http://www.discoveryofpluto.com/pluto04.html pada tanggal 24 Juni 2019.
  • Charles Q. Choi . 2017. Dwarf Planet Pluto: Facts About the Icy Former Planet. Diakses dari https://www.space.com/43-pluto-the-ninth-planet-that-was-a-dwarf.html pada 21 Desember 2018.
  • Brian Dunbar. 2007. NASA – Transcript: The Girl Who Named Pluto. Diakses dari https://www.nasa.gov/multimedia/podcasting/transcript_pluto_naming_podcast.html pada 22 Desember 2018.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

SIRINGMAKAR 23: “Perkembangan Sintesis Nanopartikel dan Aplikasinya”

Bagikan Artikel ini di:

Pemateri: Lusi Ernawati (Dosen di Institut Teknologi Kalimantan)

Moderator: Afifah Sofiana Jamil

 

Diskusi

Topik yang akan saya sampaikan ini mengenai Perkembangan Sintesis Nanopartikel dan Aplikasinya, materi akan saya bagi menjadi beberapa sub-materi, antara lain:

  1. Definisi nanopartikel dan yang membedakan dengan material sejenis dalam ukuran besar (bulk);
  2. Metode sintesis nanopartikel; dan
  3. Aplikasi dan karakterisasi nanopartikel.

Definisi Nanopartikel

Hal pertama yang perlu diketahui, nanopartikel didefinisikan sebagai particulate (partikulat) yang terdispersi atau partikel-partikel padatan dengan ukuran partikel berkisar 10 – 100 nm. Pada saat ini, pengembangan nanopartikel (nanoteknologi) terus dilakukan oleh para peneliti dunia akademik maupun industri.

naturalsociety.com

Adapun yang membuat nanopartikel berbeda dengan material sejenis yang berukuran lebih besar (bulk) adalah:

  1. Karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki nilai perbandingan antara luas permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan partikel sejenis yang ukurannya besar, karena ukurannya yang sangat kecil tersebut membuat nanopartikel bersifat lebih reaktif. Seperti yang sudah diketahui, reaktifitas material ditentukan oleh atom-atom di permukaan, karena hanya atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung dengan material lain;
  2. Ketika ukuran partikel menuju skala nanometer, maka sifat fisika yang berlaku lebih mendominasi. Sedangkan, sifat-sifat nanopartikel biasanya berkaitan dengan fenomena kuantum karena keterbatasan ruang gerak elektron dan muatan partikel yang kemudian mempengaruhi sifat-sifat material, seperti perubahan warna, transparansi, kekuatan mekanik, konduktivitas listrik dan magnetisasi;
  3. Perubahan rasio jumlah atom yang menempati permukaan terhadap jumlah total atom, yang pada akhirnya mempengaruhi perubahan titik didih, titik beku dan reaktivitas kimia. Uniknya, perubahan-perubahan akibat fenomena tersebut untuk kasus nanopartikel dapat dikontrol ke arah yang kita inginkan.

Contoh sederhana adalah bagaimana sifat partikel berubah jika ukurannya direduksi ke skala nanometer dapat dijumpai pada material TiO2 (Titanium Dioksida). Titania pada ukuran nano tidak hanya bersifat transparan, tetapi juga sangat efektif untuk menghalangi radiasi ultraviolet. Penggunaan TiO2 biasa diaplikasikan untuk industri kosmetik sebagai tabir surya (sunscreen).

Metode Sintesis Nanopartikel

Selanjutnya mengenai sintesis nanopartikel sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dalam fasa padat, cair maupun gas. Prosesnya dapat berlangsung secara fisika maupun kimia. Adapun dua pendekatan utama sintesis nanopartikel adalah Top-Down dan Bottom-Up.

ntnu,edu

Pada pendekatan Top-Down, artinya adalah memecah partikel berukuran besar menjadi berukuran nano, sementara Bottom-Up adalah memulai sintesis partikel nano dimulai dari atom-atom/ molekul/ kluster yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terbentuk partikel berukuran nano sesuai yang dikehendaki. Nah, sekarang kita masuk ke materi tentang metode sintesis nanopartikel yang dapat dilakukan secara konvensional (sol gel, hydrothermal, precipitation, solid state) maupun dengan menggunakan alat yang lebih kompleks (spray drying, pyrolysis, dsb.).

Sintesis nanopartikel dapat dilakukan dengan beberapa metode berikut:

  1. Metode Pemanasan Sederhana dalam Larutan Polimer

    nature.com

Umumnya metode ini adalah untuk memodifikasi metal oksida dengan polimer tertentu untuk menghasilkan komposit nanopartikel. Contohnya senyawa silver nitrate (AgNO3) menggunakan polimer polyvinyl alcohol (PVA), dimanfaatkan sebagai antibacterial agent.

  1. Metode Colloidal (Koloid)

    en.wikipedia.org

Sejumlah peneliti besar telah berhasil memodifikasi nanoparticle dalam bentuk koloid dengan ukuran mencapai 3 – 50 n. Jenis koloid ini mencakup logam mulia (unsur III-V, 8A), seperti Au, Ag, Pt, Pd dan Cu; semikonduktor (Si, Ge, oksida logam); adapula yang menggunakan isolator (SiO2, material keramik) dan material magnetik (Fe2O3, Ni, Co, Fe dan Pt).

Untuk membuat partikel dengan ukuran tertentu biasanya digunakan surfaktan sejenis CTABr, SDS, kationik, surfaktan anionik sebagai surface active reagent. Penambahan surfaktan berfungsi disamping menghentikan pertumbuhan ukuran partikel lebih lanjut, juga berfungsi untuk menghindari penggumpalan (aglomerasi) yang lebih besar sehingga partikel koloid tetap stabil dalam jangka waktu yang lama.

  1. Metode Polyol

    pubs.rsc.org DOI: 10.1039/C5GC00943J

Proses ini merupakan cara yang dilakukan untuk menghasilkan partikel logam, seperti Cu, Ni dan Co dalam ukuran nano dalam media selain air. Contoh media yang biasa digunakan adalah ethylene glycol dan diethylene glycol.

     4. Metode Spray (Drying dan Pyrolysis)

indiamart.com

Metode sintesis ini yakni merupakan metode penguraian/ pembangkitan droplet-droplet kecil dari medium fasa cair. Contoh produk dari sintesis ini antara lain: parfum, hair spray, cat pilox, obat anti-nyamuk dan paint brush. Ukuran droplet yang dihasilkan bergantung pada berbagai faktor, antara lain: viskositas cairan, tegangan permukaan cairan, ukuran lubang tempat droplet keluar. Kelebihan metode ini adalah efisiensi dan proses sintesis berlangsung cepat.

  1. Metode Templating Method dan Nanosphere Litography

phys.org

Metode ini diawali dengan deposisi material pada masker kristal koloid yang telah teratur (self-organized) untuk pengaturan nanopartikel pada permukaan datar. Metode ini adalah cara fabrikasi ideal untuk menghasilkan penyusunan partikel yang teratur dan homogen, baik ukuran, bentuk maupun periodisitas-nya dapat dikontrol dengan mudah.

 

Aplikasi dan Karakterisasi Nanopartikel

researchgate.net/ Fozia Z. Haque

Aplikasi nanopartikel sangat luas sekali baik di dunia industri maupun lingkungan, sepertinya tidak mungkin saya bahas satu per satu disini.

 

Tanya-Jawab (QnA)

  1. Andri Yulianto. Q: Setahu saya di Indonesia sudah ada perkumpulan masyarakat nano yang berkantor di Puspitek Serpong?, apakah sejauh ini sudah ada hasil temuan dari lembaga tersebut, dan sudah adakah start-up perusahaan nanoteknologi di Indonesia?. Iya, betul. Sepengetahuan saya, sudah ada 4 hingga 6 start-up perusahaan nanoteknologi yang telah dikembangkan di Indonesia, diantaranya ada PT. Nanotech Inovasi Indonesia, PT. Nanotech Herbal Indonesia dan PT. Sinergie Nanotech Indonesia. Ada juga yang berbentuk CV, antara lain: CV. Nanotech, CV. Transfer Inovasi (teknologi informasi dan pendidikan), produk yang dikembangkan salah satunya adalah produk Herbal Alamo berbahan organik (pelangsing, clay, antima dsb.).
  2. Ali. Q: Bagaimana cara memilih metode sintesis yang tepat?, dan bagaimana cara meminimalkan terjadinya kegagalan dalam mensintesis?. A. Langkah awal, pahami dulu karakteristik material yang akan disintesis (fisika, kimia dan mekanik). Perbanyak studi literatur dan pelajari proses yang sudah dilakukan pada penelitian sebelumnya, kemudian pilih mana yang paling memungkinkan dan efisien. Karena metode ini berkaitan dengan ukuran, bentuk, struktur dan morfologi yang Saudara inginkan. Optimasi perbandingan komposisi material yang digunakan juga harus dipertimbangkan untuk meminimalisir. Yang jelas tidak ada tips atau cara khusus untuk meminimalisir kegagalan. Tergantung pada proses apa yang digunakan dan parameter yang ditetapkan.

  3. Ilham. Q: Nanopartikel memiliki keunikan apabila berukuran nano, apabila ingin membuat nanopartikel dengan ketahanan termal yang tinggi, dapatkah disintesis melalui modifikasi nanopartikel berbahan organik yang notabene sifatnya tidak tahan panas?. A. Thermal/ suhu tinggi (>1000 C) saya belum pernah menemukan/ mengetahui. Tapi dibawah <= 500 ada contoh yang saya tahu, yaitu modifikasi Bentonit (Clay) menjadi Organic Clay dengan penambahan surfaktan, aplikasinya sebagai nanofiller pada material nanokomposit.

  4. Gardin Muhammad. Q: Apakah sintesis atau pembuatan suatu alat yang menggunakan nanomaterial harus dilakukan di dalam clean room?, karena setahu saya di Indonesia belum ada clean room. A. Iya, selain clean room, ada beberapa kriteria ruangan yang harus digunakan untuk sintesis nanopartikel, antara lain: low humidity, oxygen atmosphere, dry air, dsb. Ini biasanya untuk alat solar cell menggunakan bahan nanomaterial.

  5. Anggara. Q: Kereaktifan nanopartikel yang lebih besar daripada partikel yang lain ini apakah dapat diterapkan pada perkembangan dunia kedokteran, khususnya obat?, apakah ada resikonya di dunia kedokteran?. A. Teknologi nanopartikel di dunia medis/ kedokteran saat ini menjadi tren baru dalam pengembangan sistem penghantaran obat (drug delivery), tentunya setelah dimodifikasi dan diformulasikan secara khusus agar tidak membahayakan. Selain untuk penghantaran obat, juga digunakan untuk mendeteksi sel tumor/ kanker dalam tubuh, pembuatan spinnel ferrite NiFe2O4 yang dilapisi PEG sebagai magnetic resonance, tissue engineering scaffold. Ukuran nanopartikel diaplikasikan pula dalam proses tablet nanopartikel karena sifatnya yang mudah larut, maka akan meningkatkan daya kerja dan keefektifan penyerapan obat oleh tubuh. Sementara, untuk resiko tentunya jika digunakan secara berlebihan dan sembarangan akan menyebabkan resiko dan efek samping yang buruk.

  6. Pandega Abyan. Q: Perubahan-perubahan sifat kimia dan fisika dapat dikontrol sesuai keinginan kita, bagaimana contoh nyatanya?. A. Maksud dari mengubah sifat kimia dan fisika disini tidak dilakukan secara bersamaan, melainkan dilakukan dengan cara memodifikasi. Contohnya, nanopartikel perak (Ag) memiliki sifat optik, listrik dan thermal. Tingkat absorpsi yang baik dapat dimodifikasi sifat-sifat fisiknya dengan memodifikasi produk seperti photovoltaic (PV), sensor biologi dan kimia. Salah satu aplikasinya adalah pasta tinta konduktor yang memanfaatkan nanopartikel Ag untuk konduktivitas listrik yang tinggi, stabilitas dan suhu sintering yang rendah. Contoh lain adalah silika dengan sifat optik (transparansi dan absorpsi) terhadap cahaya menjadi lebih tinggi jika dimodifikasi dengan polimer PES untuk mendapatkan sifat plastik transparan dan konduktivitas yang baik untuk bahan thermal insulator. Selain itu, misalnya WO3 untuk fotokatalis pada absorpsi dye tekstil RhB menjadi maksimum dengan memodifikasinya menggunakan TiO2 untuk mendapatkan tingkat absorpsi yang tinggi terhadap degradasi dye organik.

  7. Alfi. Q.1: Saya sedang melakukan penelitian di bidang fotokatalis dikompositkan dengan TiO2, nah kira-kira bagaimana metode yang bagus untuk meningkatkan efektivitas dari material fotokatalis tersebut, Bu?, tepatnya bagaimana meningkatkan efektivitas dalam sinar tampak?. A.1 Yang saat ini saya kembangkan adalah metode colloidal (surface modification), caranya dengan mengatur komposisi WO3/ TiO2 dan dosis katalis selama proses degradasi. Hasil degradasi methylene blue dapat mencapai 85 – 90%. Tentunya ukuran efektivitas tidak hanya bergantung pada level absorpsi saja, tetapi juga waktu degradasi, dan ini masih butuh waktu 120 min. untuk mencapai hasil maksimal. Berbeda dengan penggunaan material CaTiO3, saya berhasil mendegradasi RhB dan Mb dalam waktu 40 min. saja dengan absorpsi 80 – 90%. | Q.2 Pada penjelasan: “yang kedua adalah perubahan rasio atom yang menempati permukaan terhadap jumlah total atom”, permukaan apa yang dimaksud?. A.2 Maksudnya permukaan partikel.
  8. Dewi Adelia. Q: Kalau yang dipakai adalah TiO2 untuk mendegradasi limbah organik cair di industri, jika TiO2 ini di-doping, maka syarat doping-nya harus bagaimana?, kemudian untuk pengemban TiO2 harus bagaimana?. Terimakasih. A. Kriteria doping untuk memperbaiki kinerja fotokatalis TiO2 adalah doping yang mampu menurunkan energy band gap TiO2. Bisa doping logam maupun non-logam. Doping menggunakan dopan logam lebih sering digunakan karena keunggulannya sebagai electron trapper yang dapat mengurangi reaksi rekombinasi electron hole. Nah, tentunya jenis dopan berpengaruh terhadap responsivitas TiO2 yang telah di-doping pada daerah sinar visible. Jadi, harus dilakukan pengukuran band gap-nya dulu untuk tahu persis doping mana yang cocok.

  9. Aldi Dwi Prasetiyo. Q: Ingin menanyakan terkait penelitian saya tentang sintesis SrTiO3 terdoping Fe dengan metode lelehan garam sebagai degradasi zat warna, yang ingin saya tanyakan, didalam SrTiO3, posisi valensi band dan konduksi band masing-masing ditempati oleh atom apa ya?, dan saya masih bingung siapa yang menyumbang elektron-nya. Spektrum VB dominan O, CB dominan Sr, untuk posisi Doping Fe nantinya terletak dekat pita valensi apakah benar sebagai elektron trapper sebelum rekombinasi ke pita valensi?

    A. Interkalasi doping ion Fe harusnya berdampak pada oksigen, dimana orbital Fe3d dan O 2p, kemungkinan kalau interstisi, ada stoikiometri antara FeOx.

 

Penutup

“NANOPARTICLE IS NOT ONLY USEFUL, BUT ALSO BEAUTIFUL”.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: