Tidak Hanya Ultra-elastis, Material ini Juga Mampu Menyembuhkan Dirinya Sendiri Berulang Kali

Bagikan Artikel ini di:

Terinspirasi dari kemampuan kulit makhluk hidup yang mampu menyembuhkan luka secara mandiri telah memotivasi para peneliti di seluruh dunia untuk mengembangkan material dengan kemampuan regenerasi (self-healing). Selain kemampuan regenerasi, kulit juga memiliki kemampuan untuk merespon terhadap tekanan, getaran, sentuhan, perubahan suhu dan kelembaban. Melalui inovasi di bidang material dan rekayasa proses, konsep self-healing yang dikombinasikan dengan kemampuan respon kulit terhadap faktor eksternal mulai diaplikasikan pada perangkat elektronik, seperti sensor, perangkat elektronik yang dapat dipakai, fleksibel dan elastis (wearable, flexible and stretchable electronic skin), superkapasitor, sel surya berbasis perovskit, baterai, transistor, teknologi robotik dan kecerdasan buatan.

Gambar 1. Aplikasi Material Self-healing pada Berbagai Perangkat Elektronik

Berawal dari konsep tersebut, para peneliti dari University of Alabama di Amerika Serikat dan Kookmin University di Korea Selatan berhasil memanfaatkan kombinasi antara polimer konduktif, polimer elektrolit, dan penambahan asam yang selanjutnya diaplikasikan dalam sensor untuk mendeteksi berbagai gerakan tubuh manusia. Material pada sensor ini mampu merenggang hingga 1935% dari kondisi awalnya. Tidak hanya ultra-elastis dan fleksibel, material pada sensor ini juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat setelah tergores hingga berulang kali pada kondisi lingkungan dan suhu ruang. Polimer tersebut terdiri dari tiga komponen yaitu polianilin (PANI), poly(2-acrylamido-2-methyl-1-propanesulfonic acid) (PAAMPSA) dan asam fitat (Phytic acid/PA). Material-material ini saling berinteraksi melalui ikatan hidrogen yang dinamis dan gaya elektrostatik sehingga membuat kompleks material ini mampu melakukan regenerasi tanpa kehadiran stimulus, seperti panas, cahaya, agen penyembuh (healing agent) dan tekanan. Karakteristik kompleks material yang lunak, elastis dan fleksibel serta kemampuan menyembuhkan diri pada kondisi lingkungan menjadikan material ini sangat cocok untuk aplikasi stretchable and wearable electronics. Unik bukan?

Gambar 2. a) Mekanisme sintesis material, b) Interaksi kimia pada material, c) Proses self-healing pada material (free-standing film) setelah 3 jam, lingkaran biru menunjukkan goresan yang hilang, d) Diagram proses self-healing pada material

Peneliti juga menunjukkan kemudahan dalam proses pembuatan dan fabrikasi kompleks material yang sederhana dengan dua tahap, yaitu reaksi dan pencetakan free-standing film. Penelitian yang diterbitkan dalam artikel ilmiah di jurnal ACS Applied Materials & Interfaces pada 16 Mei 2019 tidak hanya mampu sembuh secara fisik, tetapi juga mampu mengembalikan kemampuan produksi listrik. Untuk membuktikannya, free-standing film disusun secara seri dan dihubungkan dengan lampu LED. Saat kondisi normal, free-standing film dapat menyalakan lampu. Lampu padam setelah free-standing film terpisah menjadi dua bagian. Dengan menyambungkan kembali dua bagian yang terpisah hanya dalam waktu lima detik, lampu kembali menyala normal bahkan setelah film ditarik hingga 3 kali panjang semula. Siklus regenerasi dapat dilakukan berulang kali tanpa mengurangi efisiensi regenerasi. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi regenerasi yang cenderung tetap tinggi (>97%) setelah dilakukan enam kali proses perusakan-penyembuhan (cut-heal).

Gambar 3. Demonstrasi proses self-healing pada material (free-standing film) untuk menyembuhkan fisik dan kemampuan produksi listrik

Pada penelitian tersebut, peneliti kemudian mencoba mengaplikasikan kompleks material ke dalam sensor pendeteksi gerakan (wearable strain sensor) yang mudah ditempel di bagian tubuh yang berbeda pada manusia, seperti pada bagian pergelangan tangan, jari, buku jari, lutut, dan siku. Sensor mampu merespon dengan cepat, stabil dan konsisten di segala arah, baik secara vertikal maupun horizontal. Lebih lanjut, sensor mampu mendeteksi gerakan kecil maupun besar secara akurat. Saat menekuk lutut dan siku, sensor mampu merespon gerakan dengan baik. Tidak hanya itu, sensor mampu mendeteksi dan membedakan gerakan yang lebih kompleks, seperti saat berjalan, memanjangkan dan melenturkan lutut serta saat berjongkok. Inovasi ini tentu membawa angin segar dalam perkembangan perangkat elektronik pintar di masa depan yang tidak hanya serbaguna dan dapat diandalkan tetapi juga mampu meregenerasi diri secara mandiri.

Referensi:

[1] Tan, Y. J.; Wu, J.; Li, H.; Tee, B. C. K. Self-Healing Electronic Materials for a Smart and Sustainable Future. ACS Applied Materials & Interfaces. 2018.

[2] Lu, Y.; Liu, Z.; Yan, H.; Peng, Q.; Wang, R.; Barkey, M. E.; Jeon, Ju-Won.; Wujcik, E. K. Ultrastretchable Conductive Polymer Complex as a Strain Sensor with a Repeatable Autonomous Self-Healing Ability. ACS Applied Materials & Interfaces. 2019.

Bagikan Artikel ini di:

Stunting, Dampak Tak Terduga dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia

Bagikan Artikel ini di:

Belakangan ini, kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali ramai dibicarakan semenjak disinggung pada debat kedua Pilpres, 17 Februari 2019 lalu. Terlepas dari pernyataan kedua capres, kasus karhutla hingga saat ini memang masih menjadi masalah serius yang harus segera dituntaskan.

Berdasarkan data dari SiPongi-Karhutla Monitoring System, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai luas 30.855,50 hektar pada tahun 2018[1]. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lahan seluas 843 hektar terbakar di Provinsi Riau dalam rentang waktu 1 Januari – 18 Februari 2019[2]. Untuk mengoptimalkan upaya mitigasi dari berbagai komponen, Pemprov Riau menetapkan status Siaga Darurat Karhutla mulai 19 Februari hingga 31 Oktober 2019, seperti yang dilakukan tahun lalu.

Gambar 1. Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan[3]

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dapat merusak ekosistem dan memperparah pemanasan global, tetapi juga menimbulkan efek negatif bagi kesehatan manusia, seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), penyakit paru ostruktif kronik, serta gangguan pada mata dan kulit.

Baru-baru ini, terkuak dampak kesehatan jangka panjang tak terduga yang diakibatkan oleh kebakaran hutan. Tim peneliti gabungan dari Duke University dan National University of Singapore dalam publikasi terbarunya yang berjudul “Seeking Natural Capital Projects: Forest Fires, Haze, and Early-Life Exposure in Indonesia” di Proceedings of the National Academy of Sciences of USA (PNAS) pada 15 Januari 2019 lalu menyebutkan bahwa paparan kabut asap yang disebabkan oleh karhutla pada janin dan anak-anak dapat mengakibatkan penurunan signifikan pada tinggi badan sebesar 3,4 cm dari tinggi badan normal pada usia 17 tahun[4].

Profesor Subhrendu Pattanayak dari Duke University dan asistennya, Jie-Sheng Tan-Soo dari National University of Singapore mengobservasi  perkembangan 560 janin dan bayi berusia enam bulan pada periode Agustus-Oktober 1997 yang terpapar kabut asap parah di Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan.

Observasi tersebut dilakukan di empat gelombang survei, yaitu pada tahun 1997, 2000, 2007, dan 2014 untuk mengetahui perkembangan tinggi anak-anak tersebut pada usia 3, 10, dan 17 tahun. Hasil penelitian itu telah dipastikan tidak dipengaruhi oleh tingkat polusi udara yang tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, faktor geografi, dampak tak langsung polusi udara yang parah pada kemampuan sebuah keluarga untuk bekerja dan mendapatkan upah, atau berkurangnya konsumsi makanan selama terjadinya kebakaran hutan[5].

Gambar 2. Ilustrasi stunting, kondisi dimana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan seusianya[6]

Pada Agustus-November 1997 silam, Indonesia mengalami kebakaran hutan terparah dan terlama di sepanjang sejarah. Selain disebabkan oleh praktik pembukaan lahan kelapa sawit dengan cara membakar hutan, bencana tersebut juga disebabkan oleh El-Nino, yang merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan atmosfer yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator[7]. Akibatnya, terjadi kemarau ekstrim yang panjang di Indonesia. Pada kondisi tersebut, pembakaran lahan gambut akan menimbulkan api yang menyebar dengan sangat cepat lewat bawah tanah, sehingga terjadi kebakaran hebat yang sulit dipadamkan. Peristiwa ini merusak sekitar 11 juta hektar lahan di Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, serta menimbulkan kabut asap tebal yang menyebar hingga Thailand dan Vietnam[8].

Penelitian tersebut juga mengungkap adanya kerugian negara sebesar 4% dari rata-rata gaji per-bulan untuk sekitar sejuta pekerja Indonesia yang lahir pada periode tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya korelasi positif antara tinggi badan seseorang dengan pendapatan yang diterima. Jika diasumsikan masa kerja buruh di Indonesia adalah usia 21-58 tahun dengan rata-rata gaji tahunan sebesar US$860, social discount rate sebesar 8%, dan rata-rata kenaikan gaji tahunan sebesar 2% untuk 15 tahun pertama masa kerja, dapat disimpulkan bahwa kerugian produktivitas seumur hidup untuk 1.13 juta pekerja yang lahir pada saat peristiwa kebakaran hutan 1997 tersebut mencapai sekitar US$392 untuk tiap orang[4].

Penelitian lain pada kasus yang sama oleh Maria Rosales-Rueda dan Margaret Triyana yang dipublikasikan di Journal of Human Resources juga menyebutkan hal serupa. Mereka mengungkapkan bahwa paparan kabut asap akibat kebakaran hutan hebat di tahun 1997 pada anak usia dini dapat berpengaruh secara signifikan pada pertumbuhan fisik dan kapasitas paru-paru, tetapi tidak memiliki efek signifikan pada perkembangan kognitif[8]. Pada penelitian tersebut juga dibahas mengenai hubungan antara kabut asap dengan pertumbuhan fisik pada janin dan anak di masa awal hidupnya. Menurutnya, meskipun hubungan keduanya masih belum pasti, karbon monoksida yang dikandung oleh kabut asap menyebabkan terbentuknya karboksihemoglobin, yaitu hemoglobin yang mengikat karbonmonoksida, bukan oksigen. Akibatnya, kadar oksigen dalam tubuh berkurang dan terjadi anemia[8]. Pada anak, anemia dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan, sehingga menyebabkan stunting[9]. Selain itu, hubungan antar keduanya diduga juga diakibatkan oleh rendahnya berat badan dan infeksi pernapasan[8].

Untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan, Profesor Subhrendu Pattanayak dan asistennya, Jie-Sheng Tan-Soo menyarankan kepada pemerintah Indonesia untuk mengefektifkan pelarangan membakar hutan dan lahan, pencegahan terjadinya kebakaran, dan pelaksanaan moratorium perkebunan kelapa sawit dalam rangka melindungi lingkungan hidup dan sumber daya manusia. Pasalnya, meskipun telah menganalisis metode pembukaan lahan secara mekanik, yang terbukti memiliki manfaat sosial lebih tinggi jika dibandingkan dengan pembukaan lahan dengan membakar hutan, para pelaku industri umumnya tak mau mengeluarkan biaya tinggi untuk membuka lahan secara mekanik[5]. Kita semua tentu berharap pemerintah bersedia merespon masukan berharga ini dengan melaksanakan penegakan hukum yang berkeadilan dan bebas kongkalikong. Pemerintah juga harus mulai menaruh perhatian khusus terkait dampak karhutla terhadap kejadian stunting pada anak.

REFERENSI:

[1] Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2018. Rekapitulasi Luas Kebakaran Hutan dan Lahan (Ha) Per Provinsi di Indonesia Tahun 2013-2018. Sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas-kebakaran. Diakses pada 26 Februari 2019.

[2] Kompas. 2019. 6 Fakta Karhutla di Riau, dari Penetapan Status Siaga Darurat Hingga Penangkapan Tersangka. https://regional.kompas.com/read/2019/02/20/14545191/6-fakta-kathutla-di-riau-dari-penetapan-status-siaga-darurat-hingga. Diakses pada 26 Februari 2019.

[3] Republika. 2019. Kebakaran Hutan dan Lahan Perkebunan Sawit Rakyat di Riau. https://www.republika.co.id/amp/pnhjq0283. Diakses pada 26 Februari 2019.

[4] Tan-Soo, J. dan Pattanayak, S.K. 2019. Seeking natural capital projects: Forest fires, haze, and early-life exposure in Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences of USA. www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas.1802876116. Diakses pada 25 Februari 2019.

[5] Sanford School of Public Policy. 2019. Forest Fire Stunt Growth, Cause Permanent Loss of Human Potential. https://sanford.duke.edu/articles/forest-fires-stunt-growth-cause-permanent-loss-human-potential. Diakses pada 26 Februari 2019.

[6] Akurat. 2018. 800 Balita di Depok Alami Stunting. https://m.akurat/co/id-266858-read. Diakses pada 26 Februari 2019.

[7] Athoillah, I., Sibarani, R.M., dan Doloksaribu, D.E. 2017. Analisis spasial pengaruh kejadian el nino kuat tahun 2015 dan la nina lemah tahun 2016 terhadap kelembapan angin dan curah hujan di Indonesia. Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca 18 (1): 33-41.

[8] Rosales-Rueda, M. dan Triyana, M. 2018. The persistent effects of early-life exposure to air pollution: evidence from Indonesian forest fire. Journal of Human Resources 54(4).

[9] Wijayanti, F.K. dan Bardosono, S. 2014. Prevalensi anemia pada anak usia 3 sampai 9 tahun  dan hubungannya dengan risiko stunting. www.lib.ui/ac/id. Diakses pada 26 Februari 2019.

Bagikan Artikel ini di:

Tak Punya Indera, Tanaman Bisa Membedakan Lebih Banyak Bau

Bagikan Artikel ini di:

Selama ini, manusia dan hewan menggunakan indera penciuman untuk mengenali berbagai macam bau di sekitarnya. Kemampuan tersebut sangat membantu manusia untuk membuat makanan yang lezat, menciptakan aroma parfum yang menarik, melepaskan ketegangan pikiran,  menyehatkan tubuh, hingga mengenali zat-zat berbahaya, seperti racun dan polusi sebagai alat perlindungan diri.

Berbeda dengan manusia, kemampuan membedakan bau pada hewan berperan besar untuk membantunya dalam mencari mangsa dan menghindar dari predator. Beberapa serangga, seperti ngengat bahkan memanfaatkan bau untuk menemukan pasangan kawin. Lalu, bagaimana cara tanaman memanfaatkan bau?

Gambar 1. Tanaman tembakau[1]

Kemampuan untuk mendeteksi bau pada tanaman sebenarnya sudah sejak lama diketahui. Pada tahun 1920, ilmuan asal Amerika Serikat meneliti respon buah mentah ketika dipapar gas etilen, hormon yang membantu pematangan buah[2]. Penelitian itu menunjukkan bahwa buah yang dipapar etilen tidak hanya mengalami pematangan, tetapi juga menginduksi buah di sekitarnya untuk matang.

Pada tahun 1980, peneliti mengungkap suatu fakta bahwa pohon yang terinfeksi ulat dapat mengirim sinyal berupa melokul bau kepada pohon yang belum terinfeksi di sekitarnya agar tidak ikut terinfeksi. Pohon yang belum terinfeksi tersebut meresponnya dengan meningkatkan kandungan senyawa kimia yang tidak sukai ulat pada daunnya[2]. Meskipun telah terbukti memiliki peran yang sangat penting bagi tanaman, mekanisme molekuler tanaman dalam mendeteksi bau ternyata belum pernah diungkap.

Penelitian baru-baru ini dari tim peneliti Biokimia dan Agrikultur, Universitas Tokyo berhasil mengungkap mekanisme awal dalam deteksi molekul bau oleh sel tanaman tembakau. Penemuan tersebut membuka peluang bagi manusia untuk memanipulasi sistem deteksi bau pada tanaman agar dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar di bidang pertanian dan perkebunan.

Dikutip dari Journal of Biological Chemistry yang diterbitkan 28 Desember 2018 lalu, tim peneliti tersebut mengklaim bahwa tanaman mampu mengenali molekul bau berupa senyawa-senyawa organik bersifat mudah menguap atau Volatile Organic Compounds (VOCs) yang berasal dari lingkungan.

Kemampuan mengenali bau tersebut bertujuan untuk menentukan mekanisme pertahanan diri yang efektif terhadap perubahan lingkungan akibat serangan penyakit atau ancaman predator tertentu, seperti serangga dan herbivora lain[3]. Informasi itu akan direspon tanaman dengan mengubah ekspresi gen-gen yang berhubungan dengan kondisi tersebut untuk memunculkan reaksi yang tepat dalam rangka menjaga kondisi homeostasisnya.

Ekperimen ini dilakukan secara in vitro (pengujian di luar organisme hidup) dan in vivo (pengujian di dalam tubuh organisme hidup). Pada uji in vitro, ekperimen dilakukan dengan dengan menguji beberapa molekul VOCs yang bersifat analog (memiliki struktur yang mirip, tetapi berbeda pada komponen tertentu), yaitu alfa-kariofil, beta-kariofil, dan kariofilen oksida pada kultur sel tembakau BY-2 yang ditumbuhkan pada media kultur Murashige and Skoog (MS).

Alfa-kariofilen, beta-kariofilen, dan kariofilen oksida merupakan senyawa seskuisterpen penyusun minyak atsiri yang menimbulkan aroma kayu dan cita rasa pedas pada beberapa tanaman aromatik, seperti tembakau, kemangi, cengkeh, dan rosemary. Alfa-kariofilen bersinergi dengan senyawa  lain, berfungsi sebagai anti-mikroba, anti-fungi, dan pengusir serangga[4], beta-kariofilen memiliki aktivitas anti-fungi[5], dan kariofilen oksida bertindak sebagai insektisida dan anti-fungi alami[6].

Setelah diberi perlakuan dengan masing-masing molekul VOC, kultur sel diinkubasi atau didiamkan selama tiga jam. Kemudian, RNA pada daun yang telah berhasil diekstraksi, digunakan untuk uji ekspresi gen dengan metode Quantitative Polimerase Chain Reaction (Q-PCR), suatu modifikasi proses PCR konvensional yang bermanfaat untuk mengukur jumlah DNA pada suatu sampel yang dideteksi di setiap siklusnya[7]. Jumlah DNA yang diperoleh mengindikasikan tingkat ekspresi gen pada suatu organisme yang dapat berubah-ubah sebagai respon dari perubahan lingkungan yang terjadi.

Berdasarkan uji tersebut, senyawa kariofil oksida menginduksi gen NTosmotin, suatu gen penyandi Osmotin yang merupakan salah satu protein yang terlibat dalam ketahanan infeksi pada mekanisme pathogenesis, dengan kuantitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan alfa-kariofilen dan beta-kariofilen.

Sementara itu, uji in-vivo pada tanaman tembakau berumur empat minggu dengan perlakuan tiga senyawa analog tersebut menunjukkan hasil yang berbeda. Pada uji ini, gen NTosmotin diinduksi paling tinggi pada perlakuan dengan beta-kariofil. Perbedaan tersebut disebabkan oleh keragaman volatilitas dan kemampuan penyerapan di tingkat sel. Meskipun menunjukkan hasil yang berbeda, kedua eksperimen tersebut mengindikasikan hal yang sama, yaitu sel tanaman memiliki suatu struktur yang menyerupai reseptor dengan sensitivitas tinggi bagi setiap VOC, sehingga mampu membedakan bau senyawa-senyawa dengan struktur yang sangat mirip sekalipun[8].

Menariknya, karena tanaman memiliki banyak sekali faktor transkripsi dalam selnya, maka dapat disimpulkan bahwa tanaman mampu mendeteksi lebih banyak molekul VOCs jika dibandingkan dengan manusia dan hewan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Profesor Kazushige Touhara dari Universitas Tokyo, manusia memiliki sebanyak 400 reseptor dan hewan memiliki maksimal 2.000 reseptor yang mampu membedakan bau, sedangkan tanaman mampu membedakan lebih banyak daripada itu[3].

Pada tanaman, molekul VOCs berikatan dengan struktur ko-reseptor transkripsional, yaitu suatu molekul yang menyerupai reseptor agar dapat memicu regulasi gen spesifik pada sel tanaman[8]. Pada sel tembakau, ko-reseptor transkripsional yang mampu mengikat analog kariofilen tersebut adalah NtTPLs. Mekanisme itu membutuhkan waktu sekian jam karena molekul VOCs harus masuk ke dalam sel dan terakumulasi terlebih dahulu agar dapat mengirim sinyal ke inti sel untuk merubah ekspresi gen. Berbeda dengan sel manusia dan hewan yang hanya memerlukan sepersekian detik dalam menginduksi jalur persinyalan untuk mendeteksi bau [3]. Alasan dari hal tersebut masih belum diketahui secara ilmiah.

Meski kemampuan mendeteksi beragam jenis bau dimiliki oleh semua jenis tanaman, mekanisme deteksi bau pada tanaman tembakau berdasarkan hasil penelitian tersebut tidak dapat digeneralisir berlaku pada segala jenis tanaman. Sebab, mungkin saja tanaman memiliki strategi yang berbeda-beda dalam mengenai molekul VOCs, sebagaimana yang disebutkan dalam artikel ilmiah[8]. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui adanya jenis mekanisme lain pada tanaman yang berbeda.

Menurut Touhara, penemuan ini telah membuka jalan bagi para peneliti biologi tumbuhan untuk memanipulasi perilaku tanaman dengan memanfaatan kemampuannya dalam mendeteksi molekul bau dengan metode yang sederhana dan ramah lingkungan.

“Di masa depan, petani mungkin dapat meningkatkan kualitas hasil panennya hanya dengan cara menyemprotkan molekul VOCs yang berhubungan dengan perilaku tanaman yang diinginkan, misalnya petani dapat menyemprotkan molekul VOCs tertentu untuk menghasilkan daun yang memiliki cita rasa tertentu yang diinginkan”, terang Touhara[3].

Untuk menggapai hal tersebut, masih dibutuhkan penelitian lanjutan terkait dengan bagaimana molekul VOC dapat diserap oleh tanaman serta bagaimana mekanisme jalur persinyalan akibat induksi ko-reseptor transkripsional berjalan hingga dapat meregulasi gen.

Referensi :

[1] Cigar Inspector. 2104. An Intoduction to Tobacco Plant Primings. https://www.cigarinspector.com/cigars-101/an-introduction-to-tobacco-pant-primings/. Diakses pada 5 Februari 2019.

[2] Chamovitx, D. 2013. Plants Exhibits The Same Senses As Human and See, Touch, Smell, Hear, and even Taste. www.esalq.usp.br. Diakses pada 5 Februari 2019.

[3] Division of Strategic Public Relations of Graduate School of Agricultural and Life Science University of Tokyo. 2019. Plant Can Smell, Now Researchers Know First Steps to Understanding Biochemistry of How Plants Detect Odors. https:www.u-tokyo.ac.jp/focus/en/press/z0508_00026.html. Diakses pada 2 Februari 2019.

[4] Hytiva. 2018. Humulene: Know Your Terpenes. https://www.hytiva.com/learn/humulene-know-your-terpenes. Diakses pada 5 Februari 2019.

[5] Wajnbeerg, E., dan Colazza, S. 2013. Chemical Ecology of Insect Parasitoids. Amerika Serikat: Wiley-Blackwell.

[6] Maximum Yield. 2019. Definition – What does Caryophyllene Oxide Mean. https://www.maximumyield.com/definition/4430/caryophyllene-oxide-cannabis. Diakses pada 5 Februari 2019.

[7] Hewajuli, D.A., dan Dharmayanti. 2014. Perkembangan teknologi reverse trancriptase-polymerase chain reaction dalam mengidentifikasi genom Avian influenza dan newcastle disease. WARTAZOA 24(1): 16-29.

[8] Nagashima, A., Higaki, T., Koeduka, T., Ishigami, K., Hosokawa, S., Watanabe, H., Matsui, K., Hasezawa, S., dan Touhara, K. 2018. Transcriptional regulators involved in responses to volatile organic compounds in plants. Journal of Biological Chemistry: 1-27.

Bagikan Artikel ini di: