SIRINGMAKAR 23: “Perkembangan Sintesis Nanopartikel dan Aplikasinya”

SIRINGMAKAR 23: “Perkembangan Sintesis Nanopartikel dan Aplikasinya”

Pemateri: Lusi Ernawati (Dosen di Institut Teknologi Kalimantan)

Moderator: Afifah Sofiana Jamil

 

Diskusi

Topik yang akan saya sampaikan ini mengenai Perkembangan Sintesis Nanopartikel dan Aplikasinya, materi akan saya bagi menjadi beberapa sub-materi, antara lain:

  1. Definisi nanopartikel dan yang membedakan dengan material sejenis dalam ukuran besar (bulk);
  2. Metode sintesis nanopartikel; dan
  3. Aplikasi dan karakterisasi nanopartikel.

Definisi Nanopartikel

Hal pertama yang perlu diketahui, nanopartikel didefinisikan sebagai particulate (partikulat) yang terdispersi atau partikel-partikel padatan dengan ukuran partikel berkisar 10 – 100 nm. Pada saat ini, pengembangan nanopartikel (nanoteknologi) terus dilakukan oleh para peneliti dunia akademik maupun industri.

naturalsociety.com

Adapun yang membuat nanopartikel berbeda dengan material sejenis yang berukuran lebih besar (bulk) adalah:

  1. Karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki nilai perbandingan antara luas permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan partikel sejenis yang ukurannya besar, karena ukurannya yang sangat kecil tersebut membuat nanopartikel bersifat lebih reaktif. Seperti yang sudah diketahui, reaktifitas material ditentukan oleh atom-atom di permukaan, karena hanya atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung dengan material lain;
  2. Ketika ukuran partikel menuju skala nanometer, maka sifat fisika yang berlaku lebih mendominasi. Sedangkan, sifat-sifat nanopartikel biasanya berkaitan dengan fenomena kuantum karena keterbatasan ruang gerak elektron dan muatan partikel yang kemudian mempengaruhi sifat-sifat material, seperti perubahan warna, transparansi, kekuatan mekanik, konduktivitas listrik dan magnetisasi;
  3. Perubahan rasio jumlah atom yang menempati permukaan terhadap jumlah total atom, yang pada akhirnya mempengaruhi perubahan titik didih, titik beku dan reaktivitas kimia. Uniknya, perubahan-perubahan akibat fenomena tersebut untuk kasus nanopartikel dapat dikontrol ke arah yang kita inginkan.

Contoh sederhana adalah bagaimana sifat partikel berubah jika ukurannya direduksi ke skala nanometer dapat dijumpai pada material TiO2 (Titanium Dioksida). Titania pada ukuran nano tidak hanya bersifat transparan, tetapi juga sangat efektif untuk menghalangi radiasi ultraviolet. Penggunaan TiO2 biasa diaplikasikan untuk industri kosmetik sebagai tabir surya (sunscreen).

Metode Sintesis Nanopartikel

Selanjutnya mengenai sintesis nanopartikel sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dalam fasa padat, cair maupun gas. Prosesnya dapat berlangsung secara fisika maupun kimia. Adapun dua pendekatan utama sintesis nanopartikel adalah Top-Down dan Bottom-Up.

ntnu,edu

Pada pendekatan Top-Down, artinya adalah memecah partikel berukuran besar menjadi berukuran nano, sementara Bottom-Up adalah memulai sintesis partikel nano dimulai dari atom-atom/ molekul/ kluster yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terbentuk partikel berukuran nano sesuai yang dikehendaki. Nah, sekarang kita masuk ke materi tentang metode sintesis nanopartikel yang dapat dilakukan secara konvensional (sol gel, hydrothermal, precipitation, solid state) maupun dengan menggunakan alat yang lebih kompleks (spray drying, pyrolysis, dsb.).

Sintesis nanopartikel dapat dilakukan dengan beberapa metode berikut:

  1. Metode Pemanasan Sederhana dalam Larutan Polimer

    nature.com

Umumnya metode ini adalah untuk memodifikasi metal oksida dengan polimer tertentu untuk menghasilkan komposit nanopartikel. Contohnya senyawa silver nitrate (AgNO3) menggunakan polimer polyvinyl alcohol (PVA), dimanfaatkan sebagai antibacterial agent.

  1. Metode Colloidal (Koloid)

    en.wikipedia.org

Sejumlah peneliti besar telah berhasil memodifikasi nanoparticle dalam bentuk koloid dengan ukuran mencapai 3 – 50 n. Jenis koloid ini mencakup logam mulia (unsur III-V, 8A), seperti Au, Ag, Pt, Pd dan Cu; semikonduktor (Si, Ge, oksida logam); adapula yang menggunakan isolator (SiO2, material keramik) dan material magnetik (Fe2O3, Ni, Co, Fe dan Pt).

Untuk membuat partikel dengan ukuran tertentu biasanya digunakan surfaktan sejenis CTABr, SDS, kationik, surfaktan anionik sebagai surface active reagent. Penambahan surfaktan berfungsi disamping menghentikan pertumbuhan ukuran partikel lebih lanjut, juga berfungsi untuk menghindari penggumpalan (aglomerasi) yang lebih besar sehingga partikel koloid tetap stabil dalam jangka waktu yang lama.

  1. Metode Polyol

    pubs.rsc.org DOI: 10.1039/C5GC00943J

Proses ini merupakan cara yang dilakukan untuk menghasilkan partikel logam, seperti Cu, Ni dan Co dalam ukuran nano dalam media selain air. Contoh media yang biasa digunakan adalah ethylene glycol dan diethylene glycol.

     4. Metode Spray (Drying dan Pyrolysis)

indiamart.com

Metode sintesis ini yakni merupakan metode penguraian/ pembangkitan droplet-droplet kecil dari medium fasa cair. Contoh produk dari sintesis ini antara lain: parfum, hair spray, cat pilox, obat anti-nyamuk dan paint brush. Ukuran droplet yang dihasilkan bergantung pada berbagai faktor, antara lain: viskositas cairan, tegangan permukaan cairan, ukuran lubang tempat droplet keluar. Kelebihan metode ini adalah efisiensi dan proses sintesis berlangsung cepat.

  1. Metode Templating Method dan Nanosphere Litography
phys.org

Metode ini diawali dengan deposisi material pada masker kristal koloid yang telah teratur (self-organized) untuk pengaturan nanopartikel pada permukaan datar. Metode ini adalah cara fabrikasi ideal untuk menghasilkan penyusunan partikel yang teratur dan homogen, baik ukuran, bentuk maupun periodisitas-nya dapat dikontrol dengan mudah.

 

Aplikasi dan Karakterisasi Nanopartikel

researchgate.net/ Fozia Z. Haque

Aplikasi nanopartikel sangat luas sekali baik di dunia industri maupun lingkungan, sepertinya tidak mungkin saya bahas satu per satu disini.

 

Tanya-Jawab (QnA)

  1. Andri Yulianto. Q: Setahu saya di Indonesia sudah ada perkumpulan masyarakat nano yang berkantor di Puspitek Serpong?, apakah sejauh ini sudah ada hasil temuan dari lembaga tersebut, dan sudah adakah start-up perusahaan nanoteknologi di Indonesia?. Iya, betul. Sepengetahuan saya, sudah ada 4 hingga 6 start-up perusahaan nanoteknologi yang telah dikembangkan di Indonesia, diantaranya ada PT. Nanotech Inovasi Indonesia, PT. Nanotech Herbal Indonesia dan PT. Sinergie Nanotech Indonesia. Ada juga yang berbentuk CV, antara lain: CV. Nanotech, CV. Transfer Inovasi (teknologi informasi dan pendidikan), produk yang dikembangkan salah satunya adalah produk Herbal Alamo berbahan organik (pelangsing, clay, antima dsb.).
  2. Ali. Q: Bagaimana cara memilih metode sintesis yang tepat?, dan bagaimana cara meminimalkan terjadinya kegagalan dalam mensintesis?. A. Langkah awal, pahami dulu karakteristik material yang akan disintesis (fisika, kimia dan mekanik). Perbanyak studi literatur dan pelajari proses yang sudah dilakukan pada penelitian sebelumnya, kemudian pilih mana yang paling memungkinkan dan efisien. Karena metode ini berkaitan dengan ukuran, bentuk, struktur dan morfologi yang Saudara inginkan. Optimasi perbandingan komposisi material yang digunakan juga harus dipertimbangkan untuk meminimalisir. Yang jelas tidak ada tips atau cara khusus untuk meminimalisir kegagalan. Tergantung pada proses apa yang digunakan dan parameter yang ditetapkan.

  3. Ilham. Q: Nanopartikel memiliki keunikan apabila berukuran nano, apabila ingin membuat nanopartikel dengan ketahanan termal yang tinggi, dapatkah disintesis melalui modifikasi nanopartikel berbahan organik yang notabene sifatnya tidak tahan panas?. A. Thermal/ suhu tinggi (>1000 C) saya belum pernah menemukan/ mengetahui. Tapi dibawah <= 500 ada contoh yang saya tahu, yaitu modifikasi Bentonit (Clay) menjadi Organic Clay dengan penambahan surfaktan, aplikasinya sebagai nanofiller pada material nanokomposit.

  4. Gardin Muhammad. Q: Apakah sintesis atau pembuatan suatu alat yang menggunakan nanomaterial harus dilakukan di dalam clean room?, karena setahu saya di Indonesia belum ada clean room. A. Iya, selain clean room, ada beberapa kriteria ruangan yang harus digunakan untuk sintesis nanopartikel, antara lain: low humidity, oxygen atmosphere, dry air, dsb. Ini biasanya untuk alat solar cell menggunakan bahan nanomaterial.

  5. Anggara. Q: Kereaktifan nanopartikel yang lebih besar daripada partikel yang lain ini apakah dapat diterapkan pada perkembangan dunia kedokteran, khususnya obat?, apakah ada resikonya di dunia kedokteran?. A. Teknologi nanopartikel di dunia medis/ kedokteran saat ini menjadi tren baru dalam pengembangan sistem penghantaran obat (drug delivery), tentunya setelah dimodifikasi dan diformulasikan secara khusus agar tidak membahayakan. Selain untuk penghantaran obat, juga digunakan untuk mendeteksi sel tumor/ kanker dalam tubuh, pembuatan spinnel ferrite NiFe2O4 yang dilapisi PEG sebagai magnetic resonance, tissue engineering scaffold. Ukuran nanopartikel diaplikasikan pula dalam proses tablet nanopartikel karena sifatnya yang mudah larut, maka akan meningkatkan daya kerja dan keefektifan penyerapan obat oleh tubuh. Sementara, untuk resiko tentunya jika digunakan secara berlebihan dan sembarangan akan menyebabkan resiko dan efek samping yang buruk.

  6. Pandega Abyan. Q: Perubahan-perubahan sifat kimia dan fisika dapat dikontrol sesuai keinginan kita, bagaimana contoh nyatanya?. A. Maksud dari mengubah sifat kimia dan fisika disini tidak dilakukan secara bersamaan, melainkan dilakukan dengan cara memodifikasi. Contohnya, nanopartikel perak (Ag) memiliki sifat optik, listrik dan thermal. Tingkat absorpsi yang baik dapat dimodifikasi sifat-sifat fisiknya dengan memodifikasi produk seperti photovoltaic (PV), sensor biologi dan kimia. Salah satu aplikasinya adalah pasta tinta konduktor yang memanfaatkan nanopartikel Ag untuk konduktivitas listrik yang tinggi, stabilitas dan suhu sintering yang rendah. Contoh lain adalah silika dengan sifat optik (transparansi dan absorpsi) terhadap cahaya menjadi lebih tinggi jika dimodifikasi dengan polimer PES untuk mendapatkan sifat plastik transparan dan konduktivitas yang baik untuk bahan thermal insulator. Selain itu, misalnya WO3 untuk fotokatalis pada absorpsi dye tekstil RhB menjadi maksimum dengan memodifikasinya menggunakan TiO2 untuk mendapatkan tingkat absorpsi yang tinggi terhadap degradasi dye organik.

  7. Alfi. Q.1: Saya sedang melakukan penelitian di bidang fotokatalis dikompositkan dengan TiO2, nah kira-kira bagaimana metode yang bagus untuk meningkatkan efektivitas dari material fotokatalis tersebut, Bu?, tepatnya bagaimana meningkatkan efektivitas dalam sinar tampak?. A.1 Yang saat ini saya kembangkan adalah metode colloidal (surface modification), caranya dengan mengatur komposisi WO3/ TiO2 dan dosis katalis selama proses degradasi. Hasil degradasi methylene blue dapat mencapai 85 – 90%. Tentunya ukuran efektivitas tidak hanya bergantung pada level absorpsi saja, tetapi juga waktu degradasi, dan ini masih butuh waktu 120 min. untuk mencapai hasil maksimal. Berbeda dengan penggunaan material CaTiO3, saya berhasil mendegradasi RhB dan Mb dalam waktu 40 min. saja dengan absorpsi 80 – 90%. | Q.2 Pada penjelasan: “yang kedua adalah perubahan rasio atom yang menempati permukaan terhadap jumlah total atom”, permukaan apa yang dimaksud?. A.2 Maksudnya permukaan partikel.
  8. Dewi Adelia. Q: Kalau yang dipakai adalah TiO2 untuk mendegradasi limbah organik cair di industri, jika TiO2 ini di-doping, maka syarat doping-nya harus bagaimana?, kemudian untuk pengemban TiO2 harus bagaimana?. Terimakasih. A. Kriteria doping untuk memperbaiki kinerja fotokatalis TiO2 adalah doping yang mampu menurunkan energy band gap TiO2. Bisa doping logam maupun non-logam. Doping menggunakan dopan logam lebih sering digunakan karena keunggulannya sebagai electron trapper yang dapat mengurangi reaksi rekombinasi electron hole. Nah, tentunya jenis dopan berpengaruh terhadap responsivitas TiO2 yang telah di-doping pada daerah sinar visible. Jadi, harus dilakukan pengukuran band gap-nya dulu untuk tahu persis doping mana yang cocok.

  9. Aldi Dwi Prasetiyo. Q: Ingin menanyakan terkait penelitian saya tentang sintesis SrTiO3 terdoping Fe dengan metode lelehan garam sebagai degradasi zat warna, yang ingin saya tanyakan, didalam SrTiO3, posisi valensi band dan konduksi band masing-masing ditempati oleh atom apa ya?, dan saya masih bingung siapa yang menyumbang elektron-nya. Spektrum VB dominan O, CB dominan Sr, untuk posisi Doping Fe nantinya terletak dekat pita valensi apakah benar sebagai elektron trapper sebelum rekombinasi ke pita valensi?

    A. Interkalasi doping ion Fe harusnya berdampak pada oksigen, dimana orbital Fe3d dan O 2p, kemungkinan kalau interstisi, ada stoikiometri antara FeOx.

 

Penutup

“NANOPARTICLE IS NOT ONLY USEFUL, BUT ALSO BEAUTIFUL”.

SIRINGMAKAR 22: “Mengupas Beasiswa Indian Council for Cultural Relation”

SIRINGMAKAR 22: “Mengupas Beasiswa Indian Council for Cultural Relation”

Pemateri: Siti Fathurrohmah (penerima Beasiswa ICCR BSc in Microbiology di Osmania University)

Moderator: Lusi Ernawati

 

Pengantar

Saya mengambil studi BSc Microbiology, Genetics and Chemistry di Osmania University. Kebetulan hari ini adalah hari terakhir saya final exam (ujian semester akhir). Dan insyaAllah bulan Juni saya mendapat ijazah, dan di bulan Juli saya sudah bisa pulang ke tanah air. Sedikit bercerita awal mula saya bisa berangkat ke India, saya memang berkeinginan bisa kuliah di luar negeri sejak masih SMP. Namun, saya sadar diri jika masih ada kesulitan dengan penguasaan bahasa Inggris, sempat ciut juga impian saya karena kendala bahasa. Jadi, alih-alih saya menguburkan mimpi studi di luar negeri, saya memutuskan untuk mencari alternatif. Alternatif saya adalah kuliah dimana bahasa Inggris adalah bahasa resmi, namun negara tersebut bukanlah English Speaking Country. Sebenarnya sangat jarang ada beasiswa S1 ke luar negeri. Sebagian besar yang mengambil S1 luar negeri adalah self-finance. Jadi, saya di India tidak hanya belajar ilmu sains yang menjadi bidang saya, namun juga praktek bahasa Inggris secara daily basis disini. Bisa dibilang kuliah di India adalah batu loncatan saya kuliah di negara Eropa dan sekitarnya.

 

Diskusi

Sekolah di India Murah: ‘Bak Kacang Goreng’

freepik.com

Sudah tidak menjadi rahasia lagi dan semua mahasiswa Indonesia di India mengakui kalau biaya pendidikan di India tergolong murah. Cukup banyak teman-teman disini yang menempuh pendidikan dengan biaya orang tua, bahkan saya kenal beberapa kawan yang membiayai kuliahnya sendiri hingga S2 di India.

Saya ambilkan contoh di Aligarh Muslim University, biaya pendidikan untuk B.A (Bachelor of Arts) setara S1, untuk biaya SPP sekitar Rp 14.000.000 hingga lulus. Di India, jenjang S1 rata-rata hanya 3 tahun. Di Delhi University, untuk kuota asing biaya pendidikan jenjang S1 program sains atau BSc sekitar Rp 3.600.000 per tahun.

Di India juga adalah surga bagi pecinta buku. Ini adalah hal terfavorit bagi saya selama di India, karena saya suka membaca. Selama di India kami tidak pernah mengenal buku bajakan. Semua buku yang tersedia disini asli. Akses untuk menjangkau buku-buku terbitan internasional juga sangat mudah. Di Kota Delhi ada perpustakaan sekaligus toko buku khusus untuk buku terbitan Oxford University Press.

Dua hal yang saya cintai dalam dunia buku adalah Sains dan Pengembangan Diri. Kedua jenis buku tersebut yang memenuhi rak buku saya. Buku Mikrobiologi saya terbitan McGraw Hill, misalnya, saya dapatkan hanya Rp 120.000. Buku tersebut asli (ada hologramnya), cukup tebal sekitar 800 halaman, dan lagi itu terbitan internasional. Buku bekas (second hand) tetapi asli juga cukup banyak tersedia. Jujur, saya lebih suka buku bekas, karena sudah agak lecek.

Pada bulan Januari setiap tahunnya, di daerah Pragati Maidan, New Delhi digelar pameran buku internasional. Ada yang bilang itu adalah pameran buku terbesar di Asia. Banyak penerbit kelas dunia seperti Oxford, Cambridge, Wiley, turut serta di pameran tersebut. Diskon yang ditawarkan pun hingga 30%. Penerbit Indonesia seperti Mizan juga sering ikut serta membuka stand di acara tersebut. Pameran biasanya berlangsung sekitar 1 (satu) minggu.

Bahasa Inggris

freepik.com

Bahasa adalah salah satu perbedaan yang paling kentara yang saya hadapi pertama kali. FYI, India dahulu negara bekas jajahan Inggris, jadi tidak heran kalau rakyatnya banyak yang fasih berbahasa Inggris. Tak heran pula Bahasa Inggris menjadi bahasa resmi pemerintahan, pendidikan, politik, dll. Saat pertama berkuliah di India yang saya rasakan adalah, saya belum terbiasa dengan scientific english. Secara di Indonesia semua istilah sains sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misal, dalam bahasa Indonesia kita menyebut Alkana, Alkena dan Alkuna. Nah, dalam bahasa Inggris adalah Alkane, Alkene, Alkyne. Jauh banget kan bedanya?.

Kuliah di India

 

Osmania University (digitallearning.eletsonline.com)

Terkait jam perkuliahan, saya akan cerita lebih banyak untuk yang jenjang undergraduate. Jenjang S1 disini, jam kuliah benar-benar full day hampir seperti anak SMA. Kalau saya sendiri kuliah dari hari Senin – Sabtu jam 10.00 – 16.30, kecuali hari Sabtu hanya sampai jam 15.30. Setiap hari saya akan nge-lab selama 2 jam, kemudian kelas teori selama 4 jam pelajaran.

India juga mengajarkan kita akan kesederhanaan. Selama saya menempuh pendidikan di India, saya jarang sekali melihat mahasiswa mengendarai sepeda motor. Rata-rata dari mereka menggunakan bus atau metro (sejenis MRT). Bahkan dosen saya pun rata-rata menggunakan kendaraan umum. Saya pernah satu bajaj dengan dosen saya. Kami berdua sama-sama menuju stasiun metro. Bahkan di Aligarh, dosen-dosen berangkat ke kampus menggunakan sepeda onthel.

India tidak pernah menawarkan kemewahan. Dalam belajar, kita tidak membutuhkan kemewahan. Kualitas pendidikan yang dibungkus dengan kesederhanaan dan kesahajaan justru mempercantik nilai ilmu tersebut. Kalau teman-teman pernah menonton film “3 Idiots”, itu benar-benar representasi suasana belajar disini. India memang cenderung keras dalam hal pendidikan. Contohnya, disini ada ujian masuk sendiri untuk jurusan Engineering dan Kedokteran. Misal, untuk masuk jurusan engineering disini ada semacam ujian nasional untuk masuk ke Indian Institute of Technology (IIT), institut seperti ITB kalau di Indonesia. Dan setiap tahun ada sekitar 400.000 orang yang mengikuti ujian masuk di IIT, dari jumlah yang mendaftar ujian hanya sekitar 20.000 orang yang diterima untuk 8 kampus IIT yang tersebar di India. Hal yang sama untuk kampus kedokteran dan kampus negeri-negeri lainnya. Jadi, kalau orang Indonesia ujian masuk kuliah tingkat nasional yang populer ada SNMPTN dan SBMPTN, sementara di India ada banyak sekali jenis ujian masuk berdasarkan jurusan yang kita tuju. Dan, lagi, ujian masuknya bersifat Nasional.

Sistem ujian dalam kampus di India cukup berbeda dengan di Indonesia. Untuk S1 tidak ada skripsi, bahkan tidak semua S2 ada thesis. Namun, setiap semester kita diharuskan lulus semua mata kuliah, sounds easy, ya? 😀

Tetapi, ujian disini benar-benar menguras segala aspek kehidupan kita, karena ujian kita disini semuanya adalah esai. Misal begini, semester ini saya ada 8 mata kuliah teori, nah setiap 1 mata kuliah kita bisa menjawab soal ujian esai paling tidak 25 halaman. Setiap mata kuliah akan diberi waktu pengerjaan soal selama 3 jam dan dikerjakan di tempat, saya pribadi menulis jawaban esai tidak lebih dari 27 halaman. Malah ada teman saya ada yang sampai menambah lembar jawaban karena saking banyaknya yang ditulis. Kesannya teoritis banget ya?. Memang. Oleh karena itu, ujian teori akan berbeda dengan ujian praktek. Sistem ujian disini membuat kita tidak bisa mempersiapkan ujian dengan cara SKS (sistem kebut semalam). Saya pribadi mulai mempersiapkan ujian sebulan sebelumnya. Karena jam kuliah yang padat, sehingga materi pun sangat banyak dan persiapan mengharusnya setidaknya 1 bulan mempersiapkan tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menulis untuk menuangkan jawaban esai kita. Kalau mata kuliah seperti Fisika, saat itu saya kebanyakan latihan menurunkan rumus.

Beasiswa di India

kalingatv.com

India menawarkan beasiswa untuk semua negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Tiap tahun Indonesia mendapatkan kuota 20 orang. Beasiswa ini untuk jenjang S1 sampai S3 dan postdoc. Beasiswa sifatnya fully-funded dan cukup sekali, bahkan sisa sampai studi selesai. Beasiswa tahun 2019 – 2020 baru tutup kemarin tanggal 31 Maret 2019 dan akan dibuka kembali awal bulan Januari tahun mendatang. Berkas yang dibutuhkan, antara lain:

  1. Foto ukuran 3.5 x 4.5 cm dengan background warna putih (untuk di-upload di formulir);
  2. Marksheet ijazah SMA;
  3. Marksheet pendidikan sebelumnya (jika mendaftar S2 maka sertakan marksheet S1);
  4. Physical fitness yang diisi dan ditandatangani oleh dokter;
  5. Surat rekomendasi dari sekolah atau kampus;
  6. Unique ID (bisa dengan KTP);
  7. Sinopsis bagi pendaftar S3;
  8. Silabus kopi pendidikan sebelumnya (dibawa saat daftar ulang);
  9. English proficiency certificate i.e. TOEFL, IELTS, etc.

Fasilitas Beasiswa ICCR, mencakup:

  1. Biaya hidup bulanan (Living Allowance);
    – S1 Rs 18.000 (Rp 3.500.000)
    – S2 Rs 20.000 (Rp 4.000.000)
    – S3 Rs 22.000 (Rp 4.500.000)
    – Postdoc Rs 25.000 (Rp 5.000.000)
  2. Uang kuliah/ SPP;
  3. Uang sewa rumah;
  4. Biaya penelitian/ projek;
  5. Biaya kesehatan (Medical benefit);
  6. Visa belajar;
  7. ICCR Winter and Summer Trips.

Pendaftaran beasiswa ICCR sangat mudah. Cukup dengan membuat akun di website ICCR. Isi semua form dan upload semua dokumen. Kemudian kita akan mendapat E-mail balasan untuk undangan tes bahasa Inggris atau tes wawancara di Kedutaan Besar India di Jakarta.

Bagi teman-teman dari bidang sains dan teknik, terdapat sekitar 23 kampus IIT yang tersebar di seluruh India, bisa mencoba pendaftaran di salah satu dari 7 kampus IIT terfavorit (berdiri sebelum tahun 2000), sebagai berikut:

  1. IIT Bombay, Maharashtra;
  2. IIT Madras, Tamil Nadu;
  3. IIT Delhi, NCT Delhi;
  4. IIT Kanpur, Uttar Pradesh;
  5. IIT Kharagpur, West Bengal;
  6. IIT Roorkee, Uttarakhand (formerly Thomason College of Engineering, kampus teknik tertua di Asia); dan
  7. IIT Guwahati, Assam.

Saya ada tulisan terkait step by step secara detail untuk pendaftaran ICCR di blog saya,  Jadi, bisa mulai dipelajari jika berencana mendaftar ICCR tahun depan. Ada pula informasi mengenai kehidupan sebagai muslimah di India.

Tanya-Jawab (QnA)

  1. Arshel: Q.1 Apa saja yang harus dipersiapkan untuk (studi) keluar negeri?. A.1 Tergantung beasiswa yang ingin kita daftar. Persiapkan apa yang menjadi persyaratan dalam beasiswa.| Q.2 Bagaimana cara lulus wawancara?. A.2 Be confident 🙂 | Q.3 Apakah skor TOEFL 523 sudah memenuhi syarat studi keluar negeri?. A.3 Iya, cukup. | Q.4 Apakah kakak punya web/ akun tentang beasiswa yang recommended?. A.4 Maaf, saya tidak ada akun beasiswa, saya sendiri sedang mencari-cari beasiswa lagi 😀
  2. Ihsan: Q.1 Apakah di luar negeri banyak terjadi masalah sosial yang mengharuskan kita beradaptasi, contohnya apa yang sering dihadapi?. A.2 Ini tergantung luar negeri di negara mana, misal kalau saat ini di Turki yang sedang ada perang dan mengharuskan mahasiswa Indonesia dipulangkan, itu memang agak mengkhawatirkan. Masalah sosial sendiri di semua negara ada, dan masalah sosial di negera kami berada tidak berpengaruh secara langsung dengan kami yang disini. Tidak diperlukan trik adaptasi khusus disini. | Q.2 Kalau misal kita hidup di asrama dan teman-teman banyak dari luar negeri juga bagaimana beradaptasi dengan banyaknya culture dan permasalahan bahasa?. A.2 Ya, dikarenakan dengan banyaknya perbedaan disini, tentu saling toleransi dan berkomunikasi dengan baik, being open-minded, dan dengan belajar bahasa Inggris disini bisa menyatukan komunikasi dengan mahasiswa asing lainnya.
  3. Egi: Q.1 Untuk jenjang S2, surat rekomendasi kira-kira itu dari siapa?. A.1 Surat rekomendasi yang perlu kita lampirkan ada 2 surat, surat rekomendasi ini dari orang yang mengenal kita dengan baik secara akademis. Bisa dari dosen, nah, karena dulu saya mendaftar ke S1, saya mendapat surat rekomendasi dari guru bahasa Inggris dan dari kepala sekolah. Sementara kalau dari kampus untuk beasiswa S2, bisa dari dosen dan dekan, misalnya.| Q.2 Pembuatan penelitian/ research, bagaimana prosesnya?. A.2 Penelitian sendiri, untuk S2 ini, tergantung jurusan yang kita ambil disini. Karena tidak semua S2 disini ada penelitiannya, seperti jurusan politik disini cenderung tidak ada tesis, pun jurusan bahasa tidak ada. Kalau untuk pembuatan penelitian, dari cerita mahasiswa disini yang mengerjakannya mirip dengan penelitian yang dilakukan ketika S1 di Indonesia.  | Q.3 Dokumen apa saja yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris?. A.3 Semua dokumen dalam bahasa Indonesia harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. | Q.4 Dalam pembuatan CV adakah strateginya, dan kalau misal ada sebuah penilaian pada sertifikat, sertifikat apa saja yang penting untuk goals pada studi dan beasiswa di India?. A.4 Kalau saya pribadi, CV yang saya susun tidak ada strategi. Kalau membutuhkan strategi atau tips bisa googling untuk mencari yang lebih expert. Saya pun belajar menyusun CV dari mencari di internet. | Q.5 Pada ujian seleksi, mata pelajaran apa saja yang diujikan dan apakah jawabannya harus menggunakan bahasa Inggris?. A.5 Semua mata pelajaran diujikan dan semua jawaban dalam bahasa Inggris. | Q.6 Saya tertarik pada bidang fotogrametri yang biasanya masuk dalam prodi Teknik Geomatika, adakah rekomendasi universitas selaras dengan bidang fotogrametri?. A.6 Saya sendiri belum pernah dengar mengenai studi mengenai fotogrametri ataupun jurusan Teknik Geomatika, jadi mohon maaf saya tidak bisa bantu jawab. Namun, bisa coba dicari misalnya dengan kata kunci “photogrametry in India”.
  4. Muhammad Asyfa: Q.1 Kira-kira bagaimana perbandingan kuliah di India dan di Indonesia dari segi kurikulum, kualitas dosen dan fasilitas?. A.1 Dari segi kurikulum di Indonesia, saya kurang begitu tahu, meskipun pernah kuliah sebentar di Indonesia yaitu D3 selama 1 tahun saja, kemudian saya meninggalkan studi untuk berangkat ke India. Kurikulum di India, kurikulum disini terbilang sangat padat. Misalnya begini, saya pada tahun pertama dan kedua kuliah harus mengambil minimal 25 sks/ semester, lalu masuk tahun terakhir sks kuliah bertambah hingga 35 – 40/ sks. Sangat padat untuk jam kuliah yang kita ambil. Sementara untuk kualitas dosen di India, saya bisa bilang tidak perlu meragukan kualitas dosen disini, karena semua dosen yang mengajar sudah menuntaskan program Doktoral-nya. Mereka juga sudah banyak memiliki koneksi, karena bahasa Inggris bukan lagi kendala sehingga untuk mencari koneksi ke luar negeri lebih mudah. Fasilitas di kampus sendiri, tergantung dari kampus masing-masing, apakah swasta atau pemerintah, namun kalau kampus swasta tidak menyediakan beasiswa. | Q.2 Berapa kuota rata-rata beasiswa ICCR per tahun?, apakah kuota tersebut dibagi menurut jenjang (S1, S2 dan S3) terpisah?. A.2 Kuota per tahun rata-rata 20 orang untuk semua jenjang, baik S1, S2 maupun S3.
  5. Fei: Q.1 Untuk S1/ S2 di India, apakah menyediakan jurusan humaniora, seperti bahasa atau sejarah, lalu jika ada, universitas apa yang recommendeduntuk hal tersebut?. A.1 Sebenarnya, rata-rata lebih banyak mahasiswa Indonesia justru mengambil studi sosial dibanding sains, sehingga kesempatan mengambil studi sosial (bahasa atau sejarah) akan sangat terbuka sekali. Untuk jurusan bahasa saya bisa merekomendasikan di English Foreign Language University di Haiderabad, dan banyak sekali mahasiswa Indonesia yang sudah lulus dari sana dan saat ini mengajar sebagai dosen di Indonesia maupun melanjutkan lagi studinya di Eropa. Lalu, untuk jurusan sosial dan politik, bisa coba ambil New Delhi University yang suasana kota lebih metropolitan, atau di Osmania University yang lebih tenang dan lebih murah biayanya. | Q.2 Bagaimana suasana politik dan agama disana?, apakah cukup aman untuk pelajar Muslim (karena Islam bukan agama mayoritas disana?. A.2 Nah, India sendiri sebenarnya awal basis nya adalah negeri Muslim, banyak sekali peninggalan dari kerajaan Islam yang bisa kita temui di India, seperti Taj Mahal, museum dan arsitektur Islam yang dipengaruhi budaya Persia. Sementara, untuk masalah agama sendiri sejauh yang saya alami dan temui tidak ada konflik agama, kita semua berbaur dengan baik, orang-orang India yang saya temui pun juga adalah orang-orang yang terbuka, mereka sangat toleransi dan saling menghargai.
  6. Ryan Israfan: Q.1 Selesai D3 langsung melanjutkan ke S1 ke India, ataukah mbak bekerja dulu atau les bahasa Inggris atau sempat menganggur dahulu?. A.1 Saya dulu D3 sembari mendaftar beasiswa ke India. Saya mendapat beasiswa ke India ketika saya semester 2 di Indonesia, jadi begitu diterima di India saya meninggalkan kuliah D3. Sementara untuk belajar bahasa Inggris, saya belajar sendiri, bicara dengan teman-teman, mendengarkan dosen yang sedang mengajar, belajar menulis dengan tata cara ilmiah, semua saya pelajari ketika di India.
  7. Fifin: Q.1 Kak, bisa berbagi pengalaman saat wawancara beasiswa ICCR dan persiapan untuk melengkapi dokumen di blog ICCR saat mau mendaftar dan poin apa saja yang paling penting saat mendaftar beasiswa ICCR?. A.1 Nah, untuk sesi wawancara ini setiap tahun tidak selalu ada. Jadi, kalau misal tidak ada wawancara, biasanya setelah deadline kita akan mendapat LOA dari kampus tujuan. Sementara untuk persiapan dokumen, saya sarankan untuk dipersiapkan jauh hari, karena banyak dokumen yang harus dilengkapi dan tidak sedikit yang harus diurus ke beberapa tempat, meskipun pengumpulan dokumen mudah saja dengan mengunggah ke akun ICCR, namun persiapkan dokumen cetak sejak jauh-jauh hari.
  8. Anisa Ellen Brilyani: Q.1 Kak, saya pernah baca untuk mendaftar beasiswa ternyata bisa sebelum kita lulus kuliah dengan menyertakan surat perkiraan lulus, apakah untuk beasiswa India juga bisa menerima seperti itu, kak?. A.1 Kalau untuk mendaftar ke India, harus dengan ijazah lulus.
  9. Habib: Q.1 Kalau studi tanpa beasiswa, kira-kira berapakah biaya hidup dan uang kuliah untuk lulusan S1?. A.1 Untuk biaya sendiri (self-finance), tergantung dari kampus dan jurusan mana kita berkuliah. Biasanya untuk studi S1 biayanya lebih murah, misal saya ambil contoh jurusan sosial di Delhi University per tahun sekitar Rp 7.000.000,00. Lebih murah ada lagi di Ali Garh University, untuk detail bisa menghubungi lewat PPI Ali Garh karena mereka ada panitia tersendiri bagi mahasiswa yang ingin kuliah dengan biaya sendiri. Biaya hidup secara keseluruhan di India rata-rata Rp 2.000.000/ bulan sudah mencukupi, namun memang biaya hidup pastinya tergantung kota yang ditinggali.
  10. Didik: Q.1 Untuk kuliah S2 dengan jurusan Teknik Sipil/ Teknik Arsitektur di India dengan biaya sendiri, kira-kira adakah rekomendasi kampus tujuan?. A.1 Sejauh ini, tidak ada mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan teknik dengan biaya sendiri. Namun, saya bisa merekomendasikan untuk jurusan teknik bisa mengambil di IIT Delhi atau NIT Warangal, NIT Kurukhsetra atau bisa juga di Delhi University dan Osmania University.
  11. Shinta Rahma: Q.1 Semisal kita mendapat nilai di perkuliahan kurang dari minimal, kita harus mengulanginya lagi atau bagaimana?. Dan terkait beasiswa langsung hilang ataukah ada dispensasi?. A.1 Kalau ada mata kuliah yang tidak lulus harus mengulang ujian di semester selanjutnya. Dan ini banyak terjadi sama mahasiswa disini, semester kemarin 40% mahasiswa tidak lulus mata kuliah Agricultural Microbiology, sehingga diharuskan mengulang ujian. Jika tidak lulus 1 atau 2 mata kuliah tidak masalah, masih bisa diulang. Yang terpenting tidak sampai drop out (DO), kita bisa terkena DO jika tidak lulus 50% total mata kuliah yang ada. Misal, total ada 6 mata kuliah, maka untuk melanjutkan ke semester selanjutnya harus lulus minimal 3 mata kuliah dan mengulang 3 mata kuliah yang tidak lulus. Oh iya, yang membedakan beasiswa ICCR dengan beasiswa lainnya adalah kita tidak perlu mencari LoA dari kampus tujuan, karena nanti di formulir ICCR kita akan mencantumkan 3 kampus pilihan dan 3 jurusan pilihan. Jadi, kita fokus saja melengkapi persyaratannya.

Penutup

Bagi teman-teman, para Scholarship hunters, pesan saya hanya satu. Rajin lah membaca. Khususnya bagi teman-teman yang ingin kuliah di India, bisa mulai banyak membaca, latihan membetahkan diri untuk baca buku berjam-jam akan sangat dibutuhkan saat kuliah disini nanti. Perlu kita ingat juga, kompetisi paling awal dalam mendapat beasiswa (beasiswa apapun) adalah kompetisi dalam membaca informasi yang disediakan, teliti membaca formulir, teliti membaca persyaratan, dsb. Jadi, rajin lah membaca dahulu sebelum teman-teman bertanya. Jika ada pertanyaan, maka coba baca dahulu di blog atau informasi yang disediakan oleh PP Negara terkait. Jika masih belum jelas, maka bertanyalah.

Siringmakar 21: “Baby Blues, apa dan bagaimana penanganannya?”

Siringmakar 21: “Baby Blues, apa dan bagaimana penanganannya?”

Pemateri: Hilda Meriyandah (Dosen Institut Kesehatan Indonesia)

Moderator: Wayan Dadang

 

Diskusi

Apa itu Baby blues?

centercitypediatrics.com

Baby blues adalah sindrom yang umumnya terjadi pada wanita pasca melahirkan. Biasanya terjadi di hari ke-4 atau 5 dan akan menghilang setelah 2 (dua) minggu. Munculnya pun sesekali, misalnya dalam sehari ada 2 atau 3 kali si ibu menangis tiba-tiba, merasa kelelahan yang sangat, atau bahkan hingga mengamuk. Kalau sudah lewat dari 2 minggu, dan frekuensi terjadinya lebih sering, maka dikenal dengan istilah PPD (Postpartum Depression), atau yang lebih parah disebut Psychosis.

Prevalensi terjadinya Baby blues?

Secara global, kejadian baby blues ini mencapai 80%. Artinya, hampir setiap ibu yang melahirkan mengalami ini. Jadi, dikategorikan sebagai sesuatu yang normal. Nah, yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan lama terjadinya.

Nah, tanda dan gejalanya bagaimana ya?

freepik.com

Berikut beberapa tanda dan gejala yang umum tampak:

  1. Menangis tanpa alasan yang jelas;
  2. Tidak sabar-an;
  3. Sensitif;
  4. Sulit beristirahat;
  5. Cemas atau jadi lebih khawatir;
  6. Kelelahan yang amat sangat;
  7. Insomnia (bahkan saat bayi sedang tidur);
  8. Perubahan mood yang sangat mendadak;
  9. Sulit berkonsentrasi.

Apa penyebab Baby blues ini?

Secara pasti, belum ada yang bisa menjelaskan hal ini. Akan tetapi beberapa riset menekankan bahwa terdapat berbagai penyebab, diantaranya:

  1. Perubahan hormon yang terjadi secara tiba-tiba (hormon hamil – melahirkan – menyusui);
  2. Kurangnya dukungan dari sekitar (suami-orangtua-tetangga).

Tidak perlu khawatir sebenarnya kalau merasakan hal-hal diatas (tanda dan gejala), yang perlu diwaspadai itu kalau setelah 2 minggu, ibu masih menunjukkan tanda-tanda yang akhirnya mengarah ke PPD. Nah, kalau PPD dan Psychosis sudah masuk kategori depresi, yaa. Dalam 5 tahun terakhir di Indonesia sendiri kejadian PPD meningkat lebih dari 7% (Sinaga, 2014).

parenting.firstcry.com

Jadi, PENTING untuk para ayah, jika istri tiba-tiba menangis atau meerasa failed (gagal) menjadi ibu karena belum bisa mengurus bayi, atau bayi menangis terus, harus ibu dibantu untuk dikuatkan, yaa. Beri pemahaman kalau perasaan-perasaan itu NORMAL!. Dan ibu -juga keluarga- akan melewati masa itu dengan mudah.

 

Kalau pada Ayah, ada Baby blues juga?

ADA!, dikenal dengan istilah Daddy blues (kalau lebih berat lagi, disebutnya Paternal Postnatal Depression atau PPND), tapi terjadinya lebih lambat dari yang dialami wanita. Umumnya terjadi 3-6 bulan pasca melahirkan.

blog.pregistry.com

Bagaimana Daddy blues ini bisa datang terlambat pada ayah?, menurut hasil riset terkini, yang menyebabkannya berbeda dengan yang terjadi pada ibu, antara lain:

  1. Kelelahan (pengaruh kurang tidur dan harus bekerja juga);
  2. Pengaruh tekanan finansial (merasa kurang mampu memenuhi kebutuhan ibu – anak);
  3. Nah ini yang paling berpengaruh: apakah si istri terkena depresi juga atau tidak.

Pencegahan dan penanggulangan Baby blues?

Berhubung Baby blues ini normal, dan penyebab utamanya karena hormon, jadi belum ada treatment khusus. Tetapi menurut Asosiasi Psikolog Amerika membuat beberapa cara yang bisa dilakukan:

natureplaywa.org.au
  1. Menjaga nutrisi seimbang;
  2. Menulis catatan perasaan pikiran;
  3. Mencari suasana lain, misalnya keluar rumah untuk cari udara segar;
  4. Jangan segan MINTA BANTUAN;
  5. Untuk di awal, tidak perlu berharap semua harus sempurna, jalani semampu ibu dan ayah.

Kalau sudah terlanjur Baby blues bagaimana?

  1. Yakinkan diri kalau ini semua akan berlalu;
  2. Saling mendukung;
  3. Minta bantuan dari profesional (kalau dirasa sudah semakin parah).
thegoodlife101.wordpress.com

Dari riset yang pernah saya lakukan sebelumnya, di Indonesia ini sekarang sudah mulai banyak keluarga nuclear (tinggal serumah dengan keluarga inti saja: ayah-ibu-anak). Jadi di masa ini, peran ayah menjadi sangat dominan. Kira-kira dukungan apa yang bisa Ayah lakukan?. Berikut hal-hal yang bisa Ayah lakukan untuk mendukung Ibu melalui masa baby blues:

  1. Dukungan emosional, seperti memberikan semangat, menguatkan, bilang “I love you”, atau memberikan pujian. Menghadiahi bunga juga boleh, hehe. Dengan itu ibu akan merasa dicintai dan tetap dihargai;
  2. Dukungan tangible, misalnya ayah membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, atau bantu menjaga bayi. Jadi ibu bisa ‘me time’ sesaat;
  3. Dukungan informasi, untuk para ayah yang sudah bergabung di grup ini sudah tahu nih kalau baby blues normal, tanda dan gejala nya apa. Jadi bisa diinformasikan kepada istri, bisa ditenangkan istrinya, atau mungkin ayah juga bisa update seputar info perkembangan bayi;
  4. Dukungan finansial, ya ini dukungan dalam bentuk menyediakan kebutuhan ibu dan bayi.

 

Sesi Tanya-Jawab (QnA)

  1. Halim: Q.1 Untuk dukungan dari suami, bagaimana jika suami tidak bisa mendampingi istri. Misalkan kerja di kota lain atau negara lain?. | A.1 Biasanya kalau ayah tidak di dekat ibu, insya Allah masih ada hal-hal yang tetap bisa dilakukan. Apalagi sekarang kan jaman sudah maju. Bisa tetap komunikasi via telpon atau video call, atau lainnya yang penting “Ibu tetap merasakan kehadiran Ayah”. Sekarang malah banyak juga yang suaminya dekat, tapi masih cuek untuk mendukung istri. Atau Suami bisa coba cari bantuan untuk istri, misal bantuan orangtua, kerabat atau PRT. || Q.2 Saya pernah baca ada ibu yang menyiksa bayinya. Apa yg dilakukan jika terjadi PPD pada saudara atau orang yang kita kenal?. |  A.2 Kalau sudah sampai menyiksa, ini kategorinya PPD atau psychosis, ya. Perlu bantuan dari profesional. Suami atau keluarga perlu berperan “ekstra” untuk memastikan anaknya aman. Bahkan di beberapa kasus, memang anaknya dijauhkan sesaat sampai si ibu benar-benar pulih. Untuk yang ada di Jakarta atau kota besar lain, sekarang di Puskesmas sudah ada layanan psikolog, insya Allah bisa lebih dibantu dan didampingi secara lebih optimal.
  2. Anonim:

    Sebelum melahirkan, hubunganku dengan mertua baik-baik saja. Sampai kemudian, sehari setelah melahirkan, aku mendapati banyak aturan dan larangan dari beliau. Sayangnya, kebanyakan aturan itu tak membuatku nyaman. Mungkin karena kondisiku belum sepenuhnya pulih, sehingga aku pun dengan mudah terbawa perasaan. Tangisanku pun pecah. Aku merasa segala aturan itu membuatku tertekan dan serba salah melakukan apapun.

    Karna tak bisa berontak atau sekadar membalas argumen, aku pun menjadi sedih berkepanjangan hingga berhari-hari. Aku harus melakukan sesuatu yang meski itu untuk kebaikanku, tapi tak membuatku nyaman, bahkan tertekan.

    Ditambah lagi, aku harus berada di rumah beliau sampai 40 hari kedepan. Suami hanya bisa menurut dan memintaku bersabar. Padahal, satu hari di rumah saja rasanya lama sekali. Tak ada yang bisa aku lakukan selain terus bersabar. Fyi, aku dan suami LDM, sehingga aku makin tidak betah tinggal lama-lama.

    Namun tak bisa dipungkiri, sesak itu datang setiap saat. Kembali aku menangis sesenggukan, bahkan hampir 2 hari sekali. Kesedihan itu kini berubah menjadi kesal. Ya, aku kesal dengan mertuaku. Sampai setiap gerak-geriknya pun aku menjadi sebal sendiri.

    Ibu mertua ku baik dan peduli. Saking peduli nya, bahkan soal aku makan dan mandi pun selalu diingatkan beliau. Anehnya, aku bahkan bertambah sebal. “Memang nya aku anak kecil, diatur setiap saat”, pikirku.

    Aku tahu, aku tak sepantasnya kesal pada mertua. Walau bagaimanapun, beliau orang tua suamiku dan banyak membantuku. Namun, karena aku tak diperbolehkan pulang sampai 40 hari, aku jadi sebal dengan beliau.

    Aku bahkan masih menangis sampai 3 minggu pasca melahirkan. Aku merasa stres dan tatapanku serasa kosong. Pertanyaannya (Q):Apakah ini termasuk baby blues?. Jika iya, jika aku terus begini, apakah bisa menyebabkan post partum?. Lantas bagaimana sikap yang harus aku ambil?. |
    A. Halo, Mba…

    Cerita yang Mba alami, juga cukup banyak dirasakan oleh orang lain. Terkadang, memang akhirnya tekanan yang membuat kita “kurang nyaman” atau bahkan sulit beradaptasi ya justru datang dari orang terdekat, orangtua atau mertua, kerabat, dll. Iya, itu dikategorikan sebagai sindrom baby blues, tapi insya Allah Mba bisa melewati ini. Apalagi kan baru melahirkan, dan hormon-hormon juga belum kembali seperti masa sebelum hamil. Apa yang bisa dilakukan?

    1. Beri waktu untuk diri sendiri;
    2. Coba bicara hati ke hati dengan mertua. Kalau dirasa agak sulit, bisa minta bantuan orang untuk menengahi, suami atau ipar, atau saudara lain.
    3. Kalau saran yang beliau berikan memang baik, coba diterima dan dilakukan. Tapi kalau justru aneh-aneh dan bersifat membahayakan, tidak perlu ya Mba. diajak bicara dan jelaskan dari sisi scientific-nya jika memungkinkan.
    4. Cari teman ngobrol!. Ini penting ya Mbaa.. kalau mau curhat, atau apapun, ke saya juga boleh 🙂

    Saya sendiri pun, masih sering debat seperti ini dengan mertua. Misal, memberikan anak kopi atau semacamnya. Saya jelaskan kalau justru membahayakan atau ada beberapa kasus yang menyebabkan kegawatan, hehe (contoh saja).

  3. Tubagus_USU: Q. Apakah efek baby blues bisa menular kepada ibu hamil (sebentar lagi mau melahirkan)?. | A. Hmm, sebenarnya kalau menular sih tidak, yaa, karena ini bukan penyakit menular, hehe (tidak ada mikroorganisme-nya). Tapi, biasanya kalau ada ibu yang sebentar lagi akan melahirkan, wajar sekali akan merasakan berbagai kekhawatiran, misal: takut menghadapi kelahiran, takut tidak bisa mengurus anak, takut sulit urus suami, dan lainnya. Jadi, yang perlu ditekankan kalau sudah dekat persalinan bayi adalah: Ibu pasti kuat dan bisa melewati semua fase dengan indah dan menyenangkan bersama ayah dan bayi. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Walau nantinya pasti akan mengalami perubahan hormon dan segala macam, insya Allah kalau mentalnya SIAP tidak akan kejadian segala ketakutan itu.
  4. Umi: Q. Bagaimana jika baby blues sudah menjadi PPD apakah ada penanganan lain selain periksa ke psikolog?. | A. Karena ini sudah kondisi yang lebih “membahayakan”, biasanya perlu pendampingan dari profesional. Nantinya, profesional atau psikolog ini yang akan mengarahkan. Tapi biasanya treatment  yang akan diberikan pun perlu bantuan dari keluarga.
    a. Mencukupi nutrisi dan aktivitas fisik
    b. Pemberdayaan keluarga
    c. Istirahat dan relaksasi, serta, monitor dan evaluasi dari profesional.
  5. Anis: Q.1 Apa yang sebaiknya dilakukan suami ketika istri baru saja melahirkan agar tidak terjadi baby blues?. Lalu, bagaimana peran teman atau sebagai tetangga bagaimana?. | A.1 Bentuk-bentuk dukungan oleh suami sudah saya jabarkan diatas ya, Mba? hehe.. Intinya ada 4 hal bentuk dukungan yang bisa dilakukan (Emosi, informasi, tangible, dan finansial). Kalau sebagai teman atau tetangga?, bisa melakukan hal-hal, seperti: Tawari bantuan!, ini penting karena biasanya mereka kewalahan dengann masa transisi, jadi akan sangat berarti; Hindari bicara hal-hal yang menyakitkan hati. Misal, si ibu melahirkan caesar, tidak usah di-julidin yaa, “ih pasti ga bisa ngeden deh!” atau apapun yang menyakiti perasaan si ibu; Dengarkan apa yang diceritakan atau dikeluhkan 🙂 || Q.2 Apa yang menyebabkan baby blues berlanjut menjadi PPD?. | A.2 PPD dapat disebabkan karena baby blues-nya tidak tertangani dengan benar. Misal, si ibu tidak mendapat bantuan atau dukungan yang optimal selama 2 minggu pasca persalinan. Atau tekanan yang didapat justru lebih besar dari dukungan yang diperoleh.
  6. Linda Ayuningsih: Q. Saya dapat pengalaman dari orangtua murid saya yang mengalami baby blues akibat LDM dengan suaminya (seorang nahkoda), dan suaminya itu ditahan sebagai tawanan di Aceh. Sedangkan ibu ini jauh dari orang tua dan keluarganya. Pertanyaan saya adalah, bagaimana bisa mengontrol perubahan hormon yang katanya normal ini jika kita jauh dari mertua/ orangtua, atau bahkan dari suami kita sendiri, tidak ada yang bisa kita mintai pertolongan. Dan bagaimana juga keadaannya jika kita seorang wanita karir juga?. | A. Ini kondisinya berarti si Ibu mungkin bisa mendapatkan bantuan dari tetangga atau teman yang mungkin berada di dekatnya. Atau jika memungkinkan si suami atau orangtua sesekali menelepon, menanyakan kabar, dan memberikan semangat. Jika memang diperlukan, bisa hubungi puskesmas atau psikolog terdekat Mba untuk ada teman berbagi 🙂 . Apalagi kalau wanita karir, biasanya akhirnya perlu bantuan orang lain untuk mengurus anak saat bekerja kan?, mungkin bantuan PRT atau baby sitter menjadi sangat diperlukan untuk ini. Setidaknya, mengurangi pekerjaan rumah, jadi ibu tidak terlalu kelelahan.
  7. Ahmad: Q. Kak, mau tanya mengenai cara penanggulangan yang nomor 6 bagian b, tentang menulis catatan perasaan pikiran. Setelah ditulis apa yang selanjutnya kita lakukan?. | A. Oh iya, biasanya dengan menulis ada rasa “lebih tenang”. Selain itu, dengan menulis setiap perubahan emosi kita bisa terlihat, apakah ada perbaikan dari hari kemarin?, atau mungkin jadi lebih buruk kondisi emosi kita?. Nah, hal ini juga akhirnya bisa menjadi catatan penting bagi suami atau bahkan psikolog yang mendampingi ibu.
  8. Anonim: Q. Kalau misal, saya menemukan kasus adik tingkat saya yang menikah di usia yang sangat muda dan sejak hamil sampai melahirkan selalu ada rasa takut, dan ingin selalu ada ibu nya disampingnya. Saat melahirkan dan menyusui pun sering sekali menangis bahkan berontak sampai tidak ingin melihat anaknya. Apakah ini yang karena pengaruh usia yang belum matang dan siap menerima tanggungan sebagai seorang ibu, dan juga bisa disebut sebagai gejala baby blues?. Ibu beliau yang terkadang selalu mengurusi anaknya sampai beberapa waktu memisahkan beliau dengan anaknya yang masih bayi. | A. Iyaa, ini gejala baby blues. Oh iya, maaf tadi di awal saya lupa menyebutkan ada beberapa faktor risiko terjadinya baby blues ini. diantaranya adalah:
    1. Usia (mental) yang belum matang;
    2. Riwayat depresi;
    3. Bimbang dengan kehamilan;
    4. Dukungan sosial yang minim;
    5. Konflik pernikahan.

    Nah, di kasus ini, penyebabnya bisa jadi karena usia yang belum cukup matang. Jadi, secara psikologis-nya pun belum siap untuk memiliki bayi.

     

  9. Halim: Q.1 Untuk baby blue pada ayah. Masih tidak umum di masyarakat tentang ini dan dari pihak ayah juga tidak terlalu memperhatikan. Apa yang perlu dilakukan ayah atau ibu?. | A.1 Isu mental di Indonesia ini memang seperti fenomena gunung es, sebenarnya kasusnya banyak, tapi yang tampak hanya sedikit. Membahas isu mental di beberapa kalangan masih dianggap tabu. Makanya, sekarang dari Kemenkes sendiri pun cukup gencar kampanye tentang menjaga kesehatan mental. Dan, penting juga untuk kita mencari informasi dan coba untuk membagikannya ke orang lain. Setidaknya, mulai kenali dari diri sendiri. Setelah tahu infonya, bisa deteksi kan?, bisa kenal tanda dan gejala nya baik di diri sendiri atau orang lain. Intinya, BERDAYA.

    Salut untuk Ayah dan ibu yang sudah mau bergabung dan mendengar tentang sharing topik ini. ||

    Q.2 Saya lihat di Jepang setiap pekan, misalkan di hari minggu, banyak anak yang main dengan ayahnya. Tanpa ibunya. Apakah ada hasil penelitian tentang budaya ini?. | A.2 Haha, Mas Halim tahu pisan yaa program ini. Iyap!. Jadi, di Jepang karena beberapa tahun terakhir angka kelahiran menurun dan disebabkan karena perempuannya tidak mau melahirkan (karena suaminya tidak mendukung). Akhirnya, pemerintah membuat program namanya IKUMEN. (Fyi, ikemen itu artinya ganteng/tampan). Jadi, seperti ada penanaman stigma kalau laki-laki yang tampan, adalah laki-laki yang ambil peran dalam mengurus anak. (Iku: caring).

 

Penutup

Kesehatan itu holistik. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Dan masa pasca persalinan adalah masa transisi bagi ibu dan ayah. Maka, dukungan dalam bentuk apapun adalah hal yang sangat penting untuk kita berikan pada mereka. Karena orangtua yang sehat akan membentuk anak-anak yang berkualitas ❤❤

 

Siringmakar 20: “Plasmonics – Ketika Elektronika dan Fotonika Bersatu”

Siringmakar 20: “Plasmonics – Ketika Elektronika dan Fotonika Bersatu”

Pemateri: Nur Abdillah Siddiq

Moderator: Wayan Dadang

Pendahuluan

Menurut Hukum Moore, jumlah transistor dalam sebuah chip akan berlipat ganda setiap dua tahun. Penggandaan ini menghasilkan lebih banyak fitur, peningkatan kinerja, dan penurunan biaya untuk setiap transistor. Namun seiring dengan kian mengecilnya ukuran transistor, permasalahan fundamental seperti panas, laju transmisi data yang rendah, dan delay menjadi masalah yang terus berkembang.

Salah satu solusi jitu untuk masalah ini adalah menggunakan cahaya (foton) daripada elektron dalam komponen pemrosesan sinyal. Foton memiliki kapasitas pembawa informasi yang secara intrinsik lebih tinggi dan menghasilkan panas yang rendah. Namun, peralatan fotonika berukuran nano terhambat karena adanya batas difraksi cahaya yang tidak memperbolehkan ukuran yang lebih kecil dibandingkan panjang gelombang cahaya (misal panjang gelombang 1550 nm, berarti device fotonika tidak bisa kurang dari 1550 nm). Padahal transistor telah mencapai ukuran puluhan nanometer.

Plasmonics (plasmonik) hadir untuk mengkombinasikan sistem elektronika dan fotonika, sehingga device plasmonics dapat berukuran seperti device elektronika tapi dengan sifat seperti device fotonika.

Diskusi

Teman-teman bisa tahu fokus riset saya di laman scopus berikut, https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=56458915500. Dalam kesempatan ini saya sebenarnya lebih ke arah sharing, dari pada memaparkan hal yang terlalu teknis dan mirip seperti ceramah/kuliah. Sharing tentang hal yang telah saya pelajari dan ketahui, dan saat ini saya sedang menulis paper review tentang Plasmonik. InshaAllah 26 Januari 2019 saya akan kembali ke UTM Malaysia untuk melanjutkan penelitian plasmonik.

Jadi, penting banget kita membaca atau menulis review tentang sesuatu yang ingin kita teliti, ini termasuk tips dalam meneliti, hehe.  Dalam sharing ini, mungkin rekan-rekan ada yang pengetahuannya sudah melebihi saya. Jadi nanti silahkan ditambahkan ya pernyataan saya pada sesi diskusi atau tanya-jawab.

Saya ingin menambahkan aplikasi dari plasmonik. Aplikasi dari plasmonik tidak hanya sebagai the next computer system, tapi juga sebagai metode penyembuhan kanker yang sangat efektif, spektroskopi untuk mendeteksi zat kimia atau virus, dan yang paling “amazing” adalah sebagai selubung tak terlihat!, mirip seperti jubah tak terlihatnya Harry Potter.

Sebelum masuk ke plasmonik, saya ingin membahas terlebih dahulu definisi elektronika dan fotonika. Karena sesuai judul, plasmonik adalah perpaduan antara elektronika dan fotonika.

Definisi tentang apa itu elektronika dan fotonika cukup banyak dan luas, ya. Tapi saya memiliki definisi sendiri, keduanya adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara membangkitkan, menyalurkan, mendeteksi, dan merekayasa. Jadi, kalau elektronika adalah ilmu yang mempelajari cara membangkitkan, menyalurkan, mendeteksi, dan merekayasa elektron, sedangkan fotonika adalah ilmu yang mempelajari cara membangkitkan, menyalurkan, mendeteksi, dan merekayasa foton. Adapun rekayasa yang dimaksud disini adalah modulasi, amplifikasi, dll. Jadi kalau plasmonics atau plasmonika?, Yaps, tepat, adalah ilmu yang mempelajari cara membangkitkan, menyalurkan, mendeteksi, dan merekayasa plasmon.

Kalau elektron dan foton kita semuanya telah tahu, elektron adalah partikel elementer dengan muatan negatif, dan foton adalah partikel elementer penyusun cahaya. Nah, kalau plasmon?, Plasmon adalah singkatan dari plasma oscillation.

Secara sederhananya, plasmon adalah osilasi/pergerakan periodik yang cepat dari kerapatan elektron pada media konduktor. Ribet ya definisinya?Susah ya definisi plasmon?, Gini aja deh, bayangkan permukaan air yang tenang, kemudian kita jatuhkan batu diatasnya, akan ada riak air, kan?.

Gambar 1. Visualisasi plasmon diwakili oleh gelombang yang terbentuk pada tetesan air

Dapat dilihat dari gambar, ada gelombang air yang naik dan turun, kan?. Nah, kira-kira seperti itulah plasmon. Gelombang air yang naik bisa diibaratkan kerapatan elektron yang tinggi, dan gelombang air yang turun bisa diibaratkan kerapatan elektron yang rendah. Dan keduanya bergerak secara periodik/ berosilasi. Kira-kira kalau plasmonik divisualisasikan itu seperti ini:

Gambar 2. Visualisasi Gerak Periodik pada Plasmonik

Nah, dari gambar tersebut sebenarnya sudah jelas mengapa plasmonik disebut perpaduan elektronika dan fotonika. Fotonika berperan sebagai sumber untuk memunculkan kerapatan elektron.

Jadi, kalau tidak ada cahaya, elektron atau awan elektron akan bergerak bebas dan acak, namun ketika cahaya dengan frekuensi yang sesuai mengenai suatu permukaan plasmonik, elektron menjadi berkumpul (kerapatan tinggi) dan memisah (kerapatan rendah). Ingat, frekuensi harus sesuai ya, namanya resonansi atau bahasa fisikanya adalah surface plasmon resonance.

Nah, karena periodik, kerapatan elektron ini juga punya panjang gelombang lho. Panjang gelombangnya adalah jarak dari 2 kerapatan elektron yang tinggi atau jarak dari 2 kerapatan elektron yang rendah. Kalau punya panjang gelombang?, maka nanti punya fungsi gelombang, vektor gelombang, nilai eigen, dan lain-lainnya.

Nah, permukaan plasmonik pada umumnya logam seperti emas (Au) dan perak (Ag), namun ilmuwan masih terus mengembangkan material lainnya selain logam, yakni komposit, seperti tabel berikut:

Gambar 3. Material Plasmonik untuk Berbagai Aplikasi

Mungkin teman-teman akan bertanya, bagaimana jika kita menyinari emas dengan cahaya laser?, katakanlah laser Helium dengan panjang 632.8 nm, apakah akan ada kilatan cahaya di permukaan emasnya atau bagaimana?,

Jawaban pertama: yang merambat bukanlah cahaya, melainkan kerapatan elektron, jadi dibutuhkan instrumen khusus untuk mendeteksi plasmon yang disalurkan, yakni dengan alat bernama Charged Coupled Device (CCD). Nah, CCD ini sudah sangat umum dipakai pada pencitraan gambar, karena sensor gambar pun pada hakikatnya tidak secara langsung men-sensing foton, tapi foton diubah ke elektron pada sensor tersebut, dan sensor gambar mulai membaca gambar dari informasi elektron. Jadi, plasmon tidak dapat diamati dengan mata telanjang, yaaa.

Gambar 4. Foto SEM dari Device Plasmonik dengan Material Emas diatas permukaan SiO2 (paling kiri); Foto CCD (tengah); dan Simulasi Perambatan Melalui Perangkat Lunak (paling kanan).

Lihat pada foto CCD, plasmon hanya terlihat di bagian input (2 titik) dan output (1 titik).

Jawaban kedua: jarak perambatan plasmon pada medium sangatlah pendek, maksimal dapat mencapai 50 um (mikrometer). Bayangkan, 50 mikro!. Satu milimeter itu adalah 1000 mikrometer, jadi 50 mikro = 1 milimeter dibagi menjadi 20 bagian, iya millimeter satuan paling kecil di penggaris!.

Sebagai perbandingan, cahaya dapat dirambatkan pada fiber optic hingga jarak 2 km (pada bandwidth 100 Mbps) tanpa amplifier/ penguat, tepat 40 juta kali lebih panjang dibandingkan perambatan plasmonik. Jadi, karena jarak yang sangat pendek itulah, kita membutuhkan peralatan canggih seperti SEM/mikroskop untuk mengamati perambatan plasmon.

Jadi, itulah kira-kira landasan teoretis dari plasmonik yang perlu diketahui oleh masyarakat umum. Selebihnya lebih ke pemodelan matematis. Persamaan Maxwell, dan elektrodinamika (akan teman-teman pelajari kalau mengambil S2 Fisika atau sejenisnya).

Aplikasi pertama adalah the next step computer system, kenapa? Karena akan ada suatu waktu yakni sekitar tahun 2020 (2 tahun lagi), ketika transistor sudah berada dalam ukuran terkecilnya dan tidak bisa lebih kecil lagi, yakni berukuran 5 nm dan bisa memproses 1 elektron saja.

Ukuran transistor yang tidak bisa diperkecil itu, artinya kemampuan untuk memproses data sudah tidak dapat ditingkatkan lagi!. Beberapa artikel ilmiah menyebutkan bahwa batas kecepatannya adalah 5 GHz. Padahal, komputer di masa depan, terutama super komputer, butuh pemrosesan data dengan sangat cepat misalnya dalam orde terahertz.

Lantas bagaimana solusinya?,

Cahaya adalah solusinya. Cahaya secara fundamental adalah sesuatu yang tercepat yang ada di alam semesta dan bisa mencapai ke orde 1.5 THz atau 300 kali lebih cepat! Keren, kan?.

Kecuali kalau Tachyon nanti bisa terbukti benar, ada teknologi lagi Beyond Plasmon, dan runtuhlah semua fisika modern kalau Tachyon bisa terbukti keberadaannya.

Namun ada kendala utama. Ukuran device berbasis cahaya relatif lebih besar dibandingkan device berbasis elektron, hal ini disebabkan oleh adanya batas difraksi.

Mari kita ingat definisi difraksi ketika SMA, difraksi adalah pembelokan cahaya ketika melewati celah sempit. Sederhananya, batas difraksi memberitahukan bahwa cahaya tidak dapat dibelokkan pada media yang lebih kecil dari panjang gelombangnya. Hal ini dapat diibaratkan dengan mobil dan lintasan, apakah mobil dengan lebar 2 meter dapat berjalan pada jalan dengan lebar 1 meter?, Jawabannya tidak!, Seperti itulah cahaya.

Padahal, panjang gelombang yang biasanya dipakai dalam sistem optik adalah 1550 nm. Itu ukuran yang sangat besar jika dibandingkan ukuran transistor saat ini yang sudah mencapai 14 nm.

Seperti ini contohnya, jika prosesor Tegra Xavier SoC berukuran 2×1.75 cm, maka untuk prosesor optik akan berukuran 115 x 100.6 cm!. Efektif nggak tuh, prosesor optik berukuran 1 meter persegi? 😀

Gambar 5. Prosesor Tegra Xavier SoC

Nah, kembali ke plasmonik. Pada plasmonik, ternyata, elektron tidak mengenal batas difraksi seperti foton. Sehingga panjang gelombang cahaya yang besar, dapat diperkecil dengan sangat signifikan menjadi panjang gelombang osilasi kerapatan elektron. Namun kecepatannya tetap sama, kecepatan cahaya, tapi ukurannya bisa jauh lebih kecil!

Peneliti masih berlomba-lomba saat ini untuk membuat gerbang logika berbasis plasmonik, termasuk saya, karena gerbang logika adalah penyusun terkecil dari sebuah transistor.

Berikut adalah paper review yang sedang saya kerjakan, semoga bisa segera rampung, ya 🙂

Gambar 6. Paper Review tentang Plasmonic yang Disusun oleh Pemateri

Oke, sekarang masuk ke aplikasi kedua, aplikasi kedua adalah pada pengobatan kanker. Nah ini aplikasi paling “seksi” dari plasmonik, karena menyangkut nyawa!.

Gambar 7. Aplikasi Plasmonik pada Pengobatan Kanker Payudara

Foto tersebut adalah salah satu pengobatan kanker melalui plasmonik, kanker payudara. Saya sensor ya, hehe, karena masih ada yang anak SMA juga.

Jadi, sistem plasmonik nya adalah logam berbentuk bola dan berukuran nano. seperti di bagian kanan bawah gambar. Logamnya adalah logam emas, yang didalamnya ada silika atau SiO2, sebenarnya bisa udara, tapi lebih mudah membuat bola emas berisi silika daripada bola emas berisi udara. Kalau dalam dunia medis, metode ini disebut dengan Plasmonic Photo-Thermal Therapy (PPTT). Nah, bola-bola nano kemudian dijadikan sebuah kapsul, tentunya kapsulnya akan berisi jutaan bola nano. Jadi, seperti obat kapsul, atau bisa juga disuntikkan.

Nah, ketika kapsulnya nanti masuk ke dalam tubuh, ia akan melepaskan jutaan bola nano tersebut ke aliran darah, nah, bola nano tersebut kemudian akan banyak “tersangkut” ke sel kanker, karena sel kanker butuh banyak asupan darah untuk bisa membesar dengan cepat.

Karena banyak yang tersangkut ke sel kanker, cahaya dapat dikenakan ke bagian kanker tersebut. Nah, cahaya kan sebenarnya menembus kulit, maka cahaya akan langsung mengenai permukaan bola nano tadi. Ketika bola nano tersebut terkena cahaya, muncul lah plasmon, dan ketika energi cahaya nya besar, plasmon akan melepaskan panas yang dapat membunuh sel kanker tadi.

Kira-kira mekanismenya seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7.

Jadi, sangat efektif dan efisien, kan?. Tanpa pembedahan, cukup minum kapsul/ suntik, kemudian disinari cahaya. Dan jaringan yang tidak terkena kanker tidak akan terkena dampaknya. Seperti sulap ya, hehe, makanya para dokter juga sedang berlomba-lomba mengembangkan teknologi plasmonics.

Aplikasi selanjutnya adalah yang paling science fiction, tapi secara teori adalah mungkin, yakni sebagai selubung tak terlihat!. Teman-teman sudah pernah baca buku sains fiksi berjudul ” The Invisible Man” karya H. G. Wells tahun 1897?, bahkan ada filmnya juga di tahun 2017, berikut bisa disimak trailer “The Invisible Man” untuk memberi gambaran mengenai bagaimana teknologi plasmonik diaplikasikan sebagai selubung tak terlihat.

Inti dari cerita tersebut adalah, seorang ilmuwan muda yang menemukan metode untuk membuat indeks bias tubuhnya sama seperti indeks bias udara, yakni n=1, sehingga bisa tidak terlihat. Indeks biasa adalah perbandingan kecepatan cahaya di ruang vakum terhadap kecepatan cahaya di material tersebut. Nah, kaitannya dengan plasmonik, jika ilmuwan bisa membangkitkan plasmon yang frekuensi resonansinya persis sama seperti frekuensi resonansi benda tersebut, maka indeks bias benda tersebut akan sama seperti udara. yang artinya, benda tersebut tidak akan terlihat.

Sesi Tanya-Jawab (Q&A)

  1. Indra_UNPAR: Q. 1  Gerbang logika itu seperti apa yah, Kak?. Saya penasaran ingin tahu lebih lanjut. | A. Oke, wah sebenarnya pertanyaannya itu banyak sekali ya jawabannya di GoogleOleh dosen pembimbing saya, saya selalu diberi pesan, “Jangan bertanya pada saya pertanyaan yang jawabannya ada di Google”, tapi gapapa-lah, kedepannya biasakan sebelum bertanya cek Google dulu ya, misalkan sudah cek google, dari Wikipedia “Gerbang logika atau gerbang logik adalah suatu entitas dalam elektronika dan matematika Boolean yang mengubah satu atau beberapa masukan logik menjadi sebuah sinyal keluaran logik.” Lalu, teman-teman bisa tanya, saya menemukan definisi dari wikipedia …bla bla bla, bahasa sederhana nya bagaimana ya, kak?. Jadi, bahasa sederhana dari gerbang logika adalah sesuatu/ alat untuk mengambil keputusan. Mengambil keputusan dari beberapa masukan, misalkan ada masukan apel dan jeruk, terus disuruh memutuskan, apakah keduanya buah?. Nah, itu bisa pakai gerbang logika, jawabannya tentu saja buah, yang jika dalam bahasa gerbang logika, maka fungsinya adalah DAN atau AND. Ada 7 fungsi gerbang logika, AND, OR, NOT, NOR, XOR, XNOR, NAND. Umumnya 1 fungsi itu butuh lebih dari 1 transistor, misal fungsi AND dan OR butuh 3 transistor, NAND dan NOR butuh 2 transitor. || Q.2 Apa itu Tachyon dan mengapa jika Tachyon terbukti benar bisa meruntuhkan fisika modern, apakah dengan terbukti benarnya Tachyon memberi dampak pada perkembangan teknologi juga?, jika iya, seperti apa dampaknya? | A.2 Tachyon adalah partikel hipotesis yang diramalkan melebih kecepatan cahaya. Nah, jika partikel tersebut ada, berarti teori relativitas umum, fisika modern, dll yang bersandar pada kecepatan cahaya sebagai kecepatan tertinggi di alam semesta maka akan runtuh, sederhanya seperti itu. Tachyon adalah partikel hipotesis yang diramalkan melebihi kecepatan cahaya. Diskusi lebih lanjutnya bisa cek link berikut.

  2. Febri_SMAN 2 Pangkalan Bun: Q. Adakah kemungkinan sel tubuh bermutasi melalui terapi plasmonic? | A. Saya tidak mendalami aplikasi plasmonik pada kanker, mungkin ada teman-teman yang ingin mendalaminya?. Saya mendalami plasmonik sebagai the next computer system. Jadi, saya tidak tahu apakah ada efek mutasinya, tapi kalau saya baca mengenai risetnya masih berlanjut sampai sekarang, dan masih diuji -cobakan ke berbagai hewan seperti tikus, kelinci, dll. Ada penelitian aplikasi plasmonik untuk menangani sel kanker yang dilakukan pada hewan uji tikus, namun belum diteliti efek mutasinya. Pada penelitian lainnya juga digunakan hewan uji tikus untuk mengamati perubahan dan efek paparan plasmonik pada sel kanker.

  3. Farida Muliantika_STTN: Q.1 Mungkin pertanyaannya sedikit menyimpang dari judul, namun tadi sempat dibahas, ini murni karena tidak tahu, hehe, sebenarnya lebih bagus transistor yang kecil atau yang standar?, karena jika diperkecil terus menerus, adakah batasnya?. | A. Yang jelas, semakin kecil maka semakin praktis, semakin sedikit energi listrik yang dibutuhkan, dan semakin singkat waktu pengiriman informasinya (artinya bisa lebih cepat) || Q.2 Kelebihan dan kekurangan terapi kanker menggunakan metode radiasi nuklir dengan plasmonik?, mana yang lebih efektif?. A.2 Setahu saya kalau nuklir harus memasukkan zat radioaktif ke dalam tubuh, sedangkan pada plasmonik ini bukan zat radioaktif. Tambahan jawaban dari moderator:
    Plasmonic kita sudah tahu dasarnya dari foton tadi, foton sudah biasa menerpa tubuh kita seperti cahaya tampak, gitu. Saya rasa kalau dalam skala dosis kedokteran sih tidak tinggi hingga dapat membakar jaringan lain, sedangkan nuklir itu menggunakan sifat radiasi dari peluruhan radioaktif, dan membutuhkan sumber daya perlindungan tinggi agar dosis bisa aman. Radiasi nuklir tidak dapat dilakukan berulang kali, karena ketika dosis sudah hampir mendekati yang diizinkan maka tidak bisa lagi dilakukan.
    Radiasi nuklir ada batas ambangnya, yaitu misalnya 100 mili sievert, jika pada sekali paparan terapi adalah 10 mili sievert, maka terapi tidak boleh dilakukan lebih dari 10 kali, tapi ya seperti yang kak nur sampaikan masih tahap penelitian, hehe.

  4. Dasep_MIT: Q. Apakah riset dalam bidang tersebut memungkinkan terus dikembangkan dalam 5 tahun kedepan di Indonesia?. Mengingat mahalnya teknologi yang digunakan dan tidak semua kampus punya teknologi tsb. A. Kalau untuk aplikasi di bidang kesehatan sangat memungkinkan, mungkin fabrikasi nanoshell-nya bisa di Singapura, Malaysia, atau China. Namun, kalau untuk the next computing system, belum memungkinkan, kecuali ada menteri/ presiden yang berani membuat fasilitas fotolitografi yang memakan biaya puluhan milyar rupiah, makanya saya harus bolak balik Indonesia – Malaysia, hehe.

  5. Moh. Ainul Yaqin_S2FisMedITS : Q.1 Plasmon bisa merambat dengan kecepatan cahaya?, berarti kecepatan osilasi kerapatan elektronnya mendekati kecepatan cahaya?. Dan sumber cahaya pada device plasmonik berupa apa, apakah LED, dan berapa ukuran LED-nya?. Kalau perambatan plasmon hanya 50 um, nanti bagaimana cara perambatannya di device plasmonik, ukuran device plasmoniknya berapa?. Intinya bagaimana detail cara kerja plasmonik di device plasmonik (dari sumber cahaya, foton, elektron, dan plasmonik sendiri, dalam transistor mendatang)? . A.1 Ukurannya bisa bervariasi, dari beberapa nm hingga beberapa mikrometer, detail kerjanya udah dibahas dengan bahasa yang sederhana dalam paper yang bisa dibaca disini. || Q.2 Plasmonik untuk penyembuhan kanker tersebut hanya bisa di permukaan kulit/ kanker kulit saja?. Setelah sembuh bagaimana dengan plasmonik yang masih ada di tubuh pasien?, apakah dibiarkan saja, apakah tidak berbahaya ada logam di tubuhnya? Atau dikeluarkan dari tubuh pasien, dengan cara apa?. A.2 Karena saya tidak mendalami, silahkan jawabannya bisa dicari di banyak sekali paper-paper tentang plasmonics. Contoh paper di bidang kesehatan bisa cek link yang tersedia pada jawaban untuk pertanyaan nomor 2 oleh Febri sebelumnya, selain itu jika kita googling di Google Scholar mengenai Plasmonics Cancer Therapy akan didapati ada ribuan paper yang membahas semua hal tersebut.

  6. Hemas-UNEJ: Q. Bola nano emas yang dimasukkan ke dalam tubuh (oral/ inject) apakah sudah diteliti batas safety-nya guna menghindari overdosis?. A. Sampai saat ini masih terus diteliti dan terus diuji, sudah di uji-coba ke hewan uji, lebih lengkapnya silahkan baca dua paper yang sudah saya share tadi ya tentang terapi kanker melalui plasmon.

 

Penutup

Topik plasmonik ini adalah topik yang masih relatif sangat baru, istilah plasmonik sendiri baru dicetuskan pada tahun 2000 oleh tim peneliti Caltech. Tapi aplikasinya luar biasa. Dan saya tidak ingin Indonesia lagi-lagi menjadi penonton, akhirnya menjadi KONSUMEN!, maka dari itu, saya mendorong teman-teman juga bergabung dalam penelitian ini, meneliti plasmonik. Banyak sekali aplikasinya, baru 3 (tiga) aplikasi yang saya sebutkan, padahal ada lagi yang lebih keren seperti deteksi cepat berbagai virus dan zat kimia dengan plasmonik, sensor yang ULTRA-sensitif, dll. Pokoknya keren lah!.

 

Siringmakar 19: “Kiat Kuliah di Luar Negeri bersama Buah Hati”

Siringmakar 19: “Kiat Kuliah di Luar Negeri bersama Buah Hati”

Pemateri : Riska Ayu Purnamasari
Moderator : Lusi Ernawati

Pendahuluan

Banyak orang yang setuju bahwa kuliah ke luar negeri memiliki banyak manfaat. Tetapi banyak juga yang akhirnya mengurungkan niat untuk kuliah ke luar negeri  karena banyak pertimbangan, misalnya pada perempuan yang telah memiliki anak.

Benarkah Anak dapat mengganggu proses perkuliahan di luar negeri?.

Diskusi

Sebelumnya perkenalkan saya Riska. Asli dari Cilegon, Banten. Alumni IPB dan sekarang masih di Tsukuba, Jepang. Dan Alhamdulillah sudah menyelesaikan studi Doktoral di Universitas Tsukuba ?. Kiat berkuliah Doktoral dengan buah hati di luar negeri ini sebenarnya bisa di bilang bahasan yang subjektif karena berdasarkan pengalaman dan bisa berbeda kondisi tiap negara, bahkan pada orang yang berbeda dalam satu negara. Tapi, insyaAllah ada hal-hal kunci yang perlu diperhatikan saat berencana untuk memiliki anak pada masa studi, baik Master maupun Doktoral. Untuk pengalaman saya sendiri, insyaAllah akan saya ceritakan pada kesempatan ini.

Awal mula saat menikah memang saya telah utarakan bahwa akan melanjutkan studi pada jenjang doktoral karena salah satu cita-cita adalah menjadi pengajar dan juga peneliti. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya suami mengizinkan.

Dan berikut ini beberapa kiat yang dapat saya bagikan.

1. Pentingnya perencanaan dan [Mohon maaf artikel terpotong]

Artikel dapat dibaca di Majalah Warstek Edisi #4 > Download Majalah Warstek (KLIK)