SpaceX Luncurkan 60 Satelit Penyedia Internet Starlink

Bagikan Artikel ini di:

Perusahaan besutan bilyuner Elon Musk, SpaceX kembali membuat gebrakan dalam bidang teknologi. Perusahaan yang telah dikenal dalam bidang jasa peluncuran satelit tersebut, meluncurkan 60 satelit Starlink menuju orbit Bumi rendah pada tanggal 23 Mei 2019.

Tumpukan 60 satelit Starlink saat diluncurkan menuju orbit Bumi rendah (SpaceX)

Tentang Starlink

Proyek Starlink merupakan usaha SpaceX dalam menyajikan internet tanpa kabel yang dapat menjangkau setiap bagian di permukaan Bumi. Usaha ini dilakukan dengan cara menempatkan ribuan satelit kecil di orbit Bumi rendah yang dapat menunjang internet cepat dengan latensi lebih rendah dibandingkan satelit di orbit geostasioner maupun orbit medium (MEO).[1]

Masing-masing satelit Starlink memiliki desain antena tipis dan datar dengan satu bentangan panel surya di sisi sebaliknya, serta memiliki massa sebesar 227 kg per satelit. Berbeda dengan satelit pada umumnya, desain Starlink yang ramping memungkinkan puluhan satelit untuk ditumpuk dan diluncurkan bersamaan dalam satu roket yang akhirnya dapat menghemat biaya peluncuran.

Antena yang digunakan adalah empat susunan antena berfase dengan beberapa antena high-throughput spektrum Ku-band, Ka-band, serta V-band. Panel surya simpel yang hanya terdiri dari satu bentangan dapat meminimalisasi risiko kegagalan akibat desain yang kompleks. Apabila digabungkan, seluruh panel surya pada 60 satelit yang diluncurkan dapat menghasilkan daya listrik lebih besar daripada Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Starlink menggunakan sistem pendorong elektrik “Hall Effect” dengan propelan Kripton, sedikit berbeda dengan pendorong elektrik lain yang umumnya menggunakan Xenon. Sistem pendorong ini memungkinkan tiap satelit untuk menjaga slot orbitnya serta melakukan manuver perpindahan orbit apabila dibutuhkan.

Bersama sistem pendorong, Starlink juga memiliki pelacak objek di orbit yang dapat mendeteksi objek yang dianggap membahayakan. Apabila terdapat suatu objek yang berpotensi tabrakan, Starlink dapat melakukan manuver menghindar menggunakan sistem pendorongnya. Sistem pendorong Starlink juga dapat digunakan untuk menjatuhkannya kembali ke atmosfer Bumi diakhir usia pakainya.

Untuk perhitungan arah, posisi, dan orbit satelit, SpaceX menggunakan sistem yang diadopsi dari wahana antariksa Dragon yang bernama startracker. Sesuai namanya, startracker melacak bintang-bintang untuk mendapatkan informasi posisi dan orientasi satelit.[2]

Animasi satelit Starlink

Ribuan satelit yang saling berhubungan

Jaringan konstelasi Starlink direncanakan berada dalam 3 ketinggian orbit yang berbeda. Pada fase pertama, SpaceX akan meluncurkan 1584 satelit menuju orbit setinggi 550 km diatas permukaan Bumi. Orbit tersebut memiliki inklinasi sebesar 55° serta 40 bidang orbit yang berbeda dengan masing-masing bidang memiliki 66 satelit. Setelah itu, SpaceX akan mulai mengisi dua ketinggian orbit lainnya. Mereka akan mengisi 7518 satelit menuju orbit setinggi 340 km serta 2841 satelit untuk ketinggian 1200 km.[3]

Fase pertama membutuhkan 24 peluncuran dengan 60 satelit di tiap peluncuran untuk dapat mencapai jangkauan global, namun hanya membutuhkan 6 peluncuran untuk dapat menyajikan internet di Amerika Utara. SpaceX berencana melakukan satu hingga lima peluncuran Starlink lagi hingga akhir tahun ini.

Pengguna Starlink nantinya akan dapat mengirim informasi dalam bentuk sinyal radio menuju satelit di luar angkasa. Informasi yang didapat satelit akan dikirimkan ulang menuju satelit lain menggunakan komunikasi antar satelit berupa laser. Informasi tersebut akan dipancarkan ke penerima setelah informasi yang dikirimkan mencapai satelit yang berada diatas jangkauan penerima.

Sistem komunikasi antar satelit (intersat link) merupakan instrumen yang penting dalam bekerjanya jaringan Starlink. Meskipun demikian, CEO SpaceX Elon Musk mengonfirmasi bahwa satelit-satelit pertama Starlink tidak memiliki mekanisme intersat link. Sebagai gantinya, mereka membutuhkan antena di darat sebagai penghubung antar satelit.[4]

Dilansir dari Business Insider, Starlink mampu menyediakan internet dengan latensi yang lebih rendah dibandingkan fiber optic hingga 47% lebih cepat. Perlu diketahui, latensi adalah delay yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti jarak pengirim dengan penerima, bagaimana gelombang radio merambat melalui media jaringan, dsb. Semakin rendah latensi, maka semakin cepat internet dan informasi yang didapat semakin mendekati real-time.[5]

Setahun sebelumnya, SpaceX telah menguji teknologi yang serupa dengan Starlink pada dua satelit bernama Tintin A dan Tintin B. Pusat kendali mengklaim bahwa uji coba yang dilakukan menggunakan kedua satelit tersebut berhasil dilakukan, bahkan mereka sempat melakukan streaming video 4K dan bermain video game menggunakan satelit Tintin.

Satelit uji coba Tintin A dan Tintin B sebelum meluncur (SpaceX)

Sempat beredar kabar bahwa paket internet Starlink memiliki harga antara Rp. 140 ribu hingga Rp. 420 ribu. Meskipun demikian, angka tersebut belum dapat dipastikan mengingat perubahan desain dan jumlah satelit di orbit.

Rintangan dalam menyediakan internet cepat

Dengan ribuan satelit di tiga orbit yang berbeda, tentu muncul pertanyaan tentang bertambahnya sampah antariksa. Jumlah sampah antariksa yang berada di orbit Bumi saat ini telah menjadi sebuah kekhawatiran. Sampah antariksa dapat menabrak satelit-satelit lain hingga wahana antariksa berawak seperti ISS.

Meskipun demikian, SpaceX menganggap proyek mereka tidak akan menambah jumlah sampah antariksa di orbit Bumi. Setiap satelit didesain untuk melakukan manuver jatuh menuju atmosfer di akhir usia pakainya. SpaceX juga telah menurunkan orbit satelit dari rencana sebelumnya. Dengan perubahan tersebut, memungkinkan satelit yang kehilangan kendali untuk jatuh ke permukaan Bumi dalam 1-5 tahun.[1]

Ilustrasi jaringan satelit Starlink (SpaceX)

Interferensi dengan jaringan satelit lain juga sempat menjadi perbincangan. Dengan spektrum Ku-band yang digunakan oleh Starlink, dikhawatirkan dapat menginterferensi konstelasi satelit internet pesaingnya. Meskipun demikian, Komisi Telekomunikasi Amerika Serikat (FCC) menyanggah hal tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan lebih rendahnya orbit Starlink daripada rencana semula, sinyal yang digunakan tidak akan terlalu kuat hingga menginterferensi satelit lain.

Beberapa jam pasca peluncuran, beberapa pengamat langit dari Indonesia dan Belanda mengamati beberapa titik panjang melintas di langit mereka. Berdasarkan analisis awal dari pengamat penerbangan antariksa Amerika Serikat, Jonathan McDowell, benda tersebut adalah 60 satelit Starlink yang baru saja diluncurkan. Peristiwa tersebut menandakan bahwa satelit Starlink dapat memantulkan cahaya Matahari dengan baik sehingga terlihat bercahaya dari permukaan Bumi.[6][7]

Kenampakan satelit di langit sudah lama menjadi gangguan bagi para astronom dalam mengamati objek astronomis. Kini, mereka harus bersiap dengan ribuan cahaya yang dapat menghalangi pandangan mereka selama beberapa detik.

Perlombaan dalam menyajikan internet berbasis satelit

Tarif yang akan dipatok untuk paket internet global perusahaan SpaceX

Starlink bukanlah satu-satunya proyek internet berbasis satelit yang tengah dikembangkan saat ini.

OneWeb, sudah mulai meluncurkan satelit mereka pada bulan Februari yang lalu. Perusahaan tersebut juga berusaha menyediakan internet berbasis satelit dengan jaringan satelit berjumlah lebih dari 600 buah yang diletakkan di orbit setinggi 1200 km.

CEO Amazon Jeff Bezos juga berencana melakukan hal yang serupa. Beberapa bulan lalu, Ia mencetuskan proyek internet yang bernama Proyek Kuiper. Proyek tersebut berencana menempatkan 3236 satelit di orbit Bumi dibawah kendali Amazon.

Selain ketiga perusahaan tersebut, masih banyak proyek lain yang telah menunjukkan perkembangan.

COO SpaceX Gwynne Shotwell mengungkapkan bahwa mereka berinvestasi lebih dari 10 milyar dolar AS (14,4 triliun rupiah) untuk meluncurkan seluruh satelit Starlink menuju orbit. CEO SpaceX Elon Musk menambahkan dalam sebuah konferensi pers bahwa mereka dapat menghasilkan 30 hingga 50 milyar dolar AS per tahun dari proyek ini. [5]

Referensi:

  1. https://www.starlink.com diakses pada 26 Mei 2019
  2. http://www.spacex.com/sites/spacex/files/starlink_mission_press_kit.pdf diakses pada 26 Mei 2019
  3. https://www.nasaspaceflight.com/2019/05/first-starlink-mission-heaviest-payload-launch-spacex/ diakses pada 26 Mei 2019
  4. https://www.universetoday.com/140539/spacex-gives-more-details-on-how-their-starlink-internet-service-will-work-less-satellites-lower-orbit-shorter-transmission-times-shorter-lifespans/ diakses pada 26 Mei 2019
  5. https://www.businessinsider.com/spacex-starlink-satellite-internet-how-it-works-2019-5 diakses pada 26 Mei 2019
  6. https://youtu.be/ytUygPqjXEc diakses pada 26 Mei 2019
  7. https://twitter.com/LzOskha/status/1131898398313816064?s=20 diakses pada 26 Mei 2019

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Pulsed Electric Field: Cara Baru Pengolahan Susu Lebih Sehat

Bagikan Artikel ini di:

Ditulis Oleh : Uray Ulfah Nabilah (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pangan IPB)

Susu memiliki berbagai macam manfaat dan kegunaan, seperti misalnya susu sapi. Susu sapi mengandung empat komponen dominan yakni air, lemak, protein dan laktosa, sedangkan komponen minornya adalah mineral, enzim, vitamin, dan gas terlarut [1]. Keraguan konsumsi susu yang berlebihan sehingga beranggapan bahwa susu berbahaya bagi kesehatan telah di sanggah secara ilmiah oleh peneliti dari University of Copenhagen, Wageningen University, dan  University of Reading. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Thorning et al. (2016), diketahui konsumsi susu dapat mengurangi resiko penyakit kronis seperti risiko obesitas, diabetes tipe 2, kardiovaskular, stroke, kanker kolorektal, kanker kandung kemih, kanker lambung, dan kanker payudara. Maka secara ilmiah susu terbukti berdampak baik bagi kesehatan, sedangkan laporan mengenai efek samping dari konsumsi susu terbilang sedikit. Tak heran banyak orang yang mengkonsumsi produk susu.

Konsumsi susu tak hanya diminum langsung, tapi juga dalam bentuk produk seperti susu fermentasi, keju, permen, snack serta lainnya. Namun konsumsi susu tanpa di proses dapat berakibat fatal bagi kesehatan jika bakteri patogen pada susu tidak dimatikan atau diinaktivasi. Kandungan nutrisi yang kaya pada susu segar dapat menjadi medium pertumbuhan yang ideal bagi banyak mikroorganisme, termasuk mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. coli, Listeria dan Campylobacter [3]. Salah satu cara yang paling umum dilakukan untuk mengatasi cemaran mikroba tersebut adalah dengan cara pasteurisasi. Penggunaan panas bertujuan membunuh mikroorganisme patogen pada susu dan membuat produk lebih sehat serta memiliki umur simpan yang panjang. Waktu dan temperatur pemanasan telah dioptimasi agar degradasi mutu dapat dikurangi. Namun tetap saja tidak bisa dihindari, perlakuan panas tetap memberi pengaruh pada kandungan yang ada didalam susu.

Gambar 1. Pulsed Electric Field model kontinyu CV. Inovasi Anak Negeri

Salah satu cara baru dalam mengawetkan susu secara non termal (tanpa panas) adalah Pulsed Electric Field (PEF). Teknologi PEF termasuk baru di Indonesia, walaupun teknologi ini telah ada pada 1960an setelah ditemukannya fenomena eletroporasi. Salah satu perusahan di Indonesia yang memproduksi PEF adalah CV. Inovasi Anak Negeri seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 1. PEF sangat potensial di era dimana kesadaran akan pentingnya kesehatan semakin meningkat. Teknologi ini menawarkan kelebihan dalam mempertahankan kualitas nutrisi, citra rasa, dan kandungan lainnya dalam bahan pangan selama proses pengolahan [4]. Senyawa-senyawa kecil yang sensitif seperti vitamin tidak rusak dengan perlakuan proses PEF [5].

Prinsip kerja Pulsed Electric Field menggunakan kejutan energi listrik untuk menginaktivasi mikroorganisme pada bahan pangan. Pada prinsipnya mikroorganisme akan mengalami elektroporasi, yaitu peristiwa destabilisasi membran sel pada mikroorganisme. Membran sel mikrorganisme akan membengkak dan menimbulkan pori yang dapat bersifat reversibel ataupun irreversibel, keadaan tersebut tergantung dari energi kejutan yang diberikan seperti ditunjukkan oleh Gambar 2. Apabila lubang di mikroorganisme semakin banyak, maka membran tidak dapat mengatur transportasi zat intraseluler dan zat ekstraseluler dalam sel. Pada kondisi tersebut akan menyebabkan mikroorganisme mengalami kematian [6]. Proses inaktivasi dengan PEF memiliki kelemahan yakni hanya terbatas pada sel vegetatif saja, oleh karenanya tetap diperlukan bantuan energi panas untuk dapat menginaktivasi spora bakteri. Belum lama ini sebuah penelitian mengabarkan bawa efek destruksi yang dihasilkan oleh PEF dapat mencapai level sterilisasi, namun proses tersebut menggunakan panas dengan temperatur yang lebih rendah dibanding dengan temperatur sterilisasi [7].

Gambar 2. Proses Inaktivasi mikroba dengan PEF[8]

Berdaarkan hasil penelitian, proses pengolahan dengan pH PEF sekitar 6.72 dan voltase 55kV/cm tidak menimbulkan perubahan fiskokimia pada susu. Penggunaan PEF dapat meningkatkan umur simpan serta atribut sensori susu [8]. Kondisi proses ekstrim disaat menonaktifkan spora, viskositas susu dapat berubah akibat penggunaan intensitas voltase yang tinggi serta waktu proses yang lebih lama[9]. Namun jika dibandingkan dengan penggunaan panas pada kondisi inaktivasi mikroba yang setara, kerusakan susu akibat pengolahan PEF jauh lebih sedikit dibanding perlakuan termal. Industri PEF tak hanya berpotensi mengawetkan susu namun juga produk padat seperti kentang, umbi, buah serta lainnya.  Tak hanya itu teknologi PEF juga dapat menjadi cara baru dalam melakukan ekstraksi produk agar mendapatkan rendemen yang lebih besar.

Referensi

[1]        M. Guetouache, Guessas, Bettache, Medjekal, and Samir, “Composition and nutritional value of raw milk,” Issues Biol. Sci. Pharm. Res., vol. 2, no. 10, pp. 115–122, 2014.

[2]        T. K. Thorning, A. Raben, T. Tholstrup, S. S. Soedamah-Muthu, I. Given, and A. Astrup, “Milk and dairy products: Good or bad for human health? An assessment of the totality of scientific evidence,” Food Nutr. Res., vol. 60, no. 32527, 2016.

[3]        FDA, “Food Facts: The Dangers of Raw Milk Unpasteurized,” no. September, p. 7, 2018.

[4]        K. Bulski et al., “Effect of pulsed electric field treatment on shelf life and nutritional value of apple juice,” J. Food Sci. Technol., 2019.

[5]        G. V Barbosa-ca and O. Martı, “Milk processing by high intensity pulsed electric,” vol. 13, pp. 195–204, 2002.

[6]        S. Toepfl, “Pulsed Electric Field food treatment – scale up from lab to industrial scale,” Procedia Food Sci., vol. 1, pp. 776–779, 2012.

[7]        C. Siemer, S. Toep, and V. Heinz, “Inactivation of Bacillus subtilis spores by pulsed electric fi elds ( PEF ) in combination with thermal energy e I . In fl uence of process- and product parameters,” vol. 39, pp. 163–171, 2014.

[8]        P. Sharma, I. Oey, and D. W. Everett, “Effect of pulsed electric field processing on the functional properties of bovine milk,” Trends Food Sci. Technol., vol. 35, no. 2, pp. 87–101, 2014.

[9]        G. Barbosa-Cánovas and D. Bermúdez-Aguirre, “Pasteurization of milk with pulsed electric fields,” Improv. Saf. Qual. Milk, vol. 1, pp. 400–419, 2010.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Meningkatkan Produksi Metabolit Asam Shikimat dengan Organisme Biohibrida

Bagikan Artikel ini di:

Berbagai jenis makhluk hidup, mulai dari tumbuhan, sampai mikroorganisme mampu menghasilkan senyawa-senyawa  yang bermanfaat bagi kebutuhan manusia. Senyawa-senyawa tersebut sering disebut juga sebagai metabolit. Metabolit dapat berupa senyawa fenolik, seperti fenilalanin, yang merupakan salah satu asam amino aromatik. Senyawa tersebut banyak dimanfaatkan sebagai bahan suplemen makanan, kosmetik, maupun obat-obatan[1]. Fenilalanin juga merupakan senyawa yang digunakan dalam memproduksi pemanis aspartam[1]. Selain fenilalanin, senyawa fenolik yang diproduksi oleh tumbuhan, seperti polifenol yang memiliki efek antioksidan sehingga senyawa tersebut banyak diekstrak untuk dijadikan sebagai bahan baku suplemen makanan dan kecantikan[2].

Walaupun metabolit-metabolit yang diproduksi oleh tumbuhan dan mikroorganisme memiliki manfaat yang baik bagi manusia, masih banyak kendala dalam memproduksi senyawa-senyawa tersebut. Pada umumnya, permasalahan dari memproduksi senyawa-senyawa yang diproduksi oleh agen hayati adalah perolehan senyawa yang sedikit. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengoptimasi produksi senyawa-senyawa tersebut. Beberapa metode yang telah dilakukan adalah mengoptimalkan kondisi lingkungan bagi pertumbuhan agen hayati dan produksi senyawa dan melakukan rekayasa genetik pada makhluk tersebut agar meningkatan laju produksi senyawa yang diinginkan. Akan tetapi, metode-metode tersebut masih belum cukup untuk dapat memproduksi metabolit skala industri dengan mudah.

Akhir-akhir ini, penelitian baru telah dilakukan untuk meningkatkan produksi metabolit oleh organisme. Salah satunya adalah pembentukan organisme biohibrida. Sistem hibrida ini dibentuk dengan menggabungkan kemampuan senyawa anorganik yang mampu menyerap energi cahaya dengan makhluk hidup dalam mensintesis berbagai macam senyawa[3]. Penggabungan ini bertujuan untuk meningkatkan laju pembentukan senyawa yang terjadi di dalam sistem metabolisme makhluk tersebut. Salah satu contohnnya adalah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari Amerika Serikat mengenai organisme biohibrida ragi Saccharomyces cerevisiae dengan nanopartikel indium-fosfida (InP) dalam produksi senyawa asam shikimat[4].Mengapa hal tersebut dapat dilakukan?

Di dalam metabolisme makhluk hidup banyak terjadi reaksi reduksi-oksidasi (redoks). Pada kasus jalur metabolisme asam shikimat, yang merupakan jalur metabolisme dalam pembentukan senyawa-senyawa fenolik, asam 3-dehidrosikimat tereduksi menjadi asam shikimat. Reaksi reduksi tersebut membutuhkan NADPH yang akan teroksidasi menjadi NADP+[2]. NADP+ perlu direaksikan kembali menjadi NADPH agar senyawa 3-dehidroksikimat dapat tereduksi terus-menerus. Proses tersebut dilakukan pada jalur pentosa-fosfat.

Pada jalur pentosa-fosfat, glukosa (atau heksosa pada umumnya) dioksidasi dan NADP+ tereduksi kembali menjadi NADPH. Akan tetapi, karena ada senyawa glukosa yang masuk ke dalam lintasan metabolisme pentosa-fosfat, hal tersebut mengurangi jumlah karbon yang masuk ke dalam lintasan asam sikimat sehingga perolehan produk-produk yang berasal dari lintasan tersebut berkurang. Oleh karena itu, dengan menggunakan semikonduktor yang mampu menyerap energi cahaya, energi tersebut mengeksitasi elektron dari semikonduktor dan dapat dipakai untuk mereduksi NADP+ menjadi NADPH sehingga glukosa yang dibutuhkan pada jalur pentosa-fosfat berkurang (Gambar 1). Para peneliti masih belum  mengetahui secara pasti bagaimana proses transfer elektron dari semikonduktor masuk ke dalam sel. Diduga, dinding sel dan senyawa polimer ekstraseluler pada ragi memiliki peran dalam memediasi transfer electron dari luar sel ke dalam sel[4].

DHS mengalami reduksi menjadi asam shikimat dan NADPH teroksidasi menjadi NADP, NADP kemudian diregenerasi dari elektron InP

Gambar 1. Lintasan metabolisme asam shikimat dan proses regenerasi NADPH menggunakan semikonduktor[4].

Penilitian yang dilakukan oleh Tim peneliti di Amerika Serikat tersebut merekatkan nanopartikel InP pada dinding sel ragi Saccharomyces cerevisiae terekayasa (Gambar 2). InP merupakan salah satu semikonduktor yang mampu menangkap energi cahaya. Senyawa tersebut digunakan karena mampu menyerap cahaya dengan jangkauan spektrum yang lebar, tidak bereaksi dengan oksigen, dan cocok untuk dipakai pada makhluk hidup[4]. Ragi Saccharomyces cerevisiae yang dipilih pun merupakan ragi yang telah direkayasa gennya. Rekayasa gen tersebut membuat ragi tersebut tidak memproduksi glukosa-6-fosfat dehydrogenase sehingga mengganggu lintasan pentose-fosfat, dengan begitu regenerasi NADPH dapat dianggap terjadi karena sistem biohibrida[4].

Pada dinding sel ragi, direkatkan semikonduktor InP

Gambar 2. Proses pembentukan organisme biohibrida ragi Saccharomyces cerevisiae dengan semikonduktor In-P[4].

Dari hasil penelitian tersebut, sel ragi terkayasa dengan InP dan diberikan pencahayaan mampu menghasilkan asam shikimat 24 kali lebih tinggi dibandingkan dengan sel ragi terkayasa tanpa InP dan pencahayaan. Rasio NADPH/NADP+ juga tinggi ketika organisme tersebut diberi pencahayaan dan rendah bila berada di lingkungan gelap menunjukkan bahwa sistem tersebut bekerja dengan baik. Selain itu, berdasarkan hasil perhitungan koloni ragi sebelum dan sesudah melekatnya partikel InP, tidak ada perubahan pada koloni ragi sehingga penggunaan InP aman untuk ragi[4].

Oleh karena itum metode hibrida ini memiliki potensi untuk meningkatkan produksi metabolit pada makhluk hidup. Karena asam shikimat merupakan senyawa intermediet yang ada pada jalur lintasan pembentukan senyawa fenolik, senyawa asam amino-asam amino aromatik dapat diproduksi lebih banyak pula oleh ragi. Bahkan, dengan menyisipkan gen-gen yang mengkode produksi senyawa fenolik pada tumbuhan di dalam DNA sel ragi, sel ragi jadi mampu memproduksi senyawa-senyawa fenolik tersebut sehingga senyawa-senyawa tersebut jadi lebih mudah diproduksi skala industri[5].

Referensi:

[1]Ding, D., Liu, Y., Xu, Y., Zheng, P., Li, H., Zhang, D., & Sun, J. (2016). Improving the production of L-phenylalanine by identifying key enzymes through multi-enzyme reaction system in vitro. Scientific reports6, 32208.

[2]Santos-Sánchez, N. F., Salas-Coronado, R., Hernández-Carlos, B., & Villanueva-Cañongo, C. (2019). Shikimic Acid Pathway in Biosynthesis of Phenolic Compounds. In Plant Physiological Aspects of Phenolic Compounds. IntechOpen.

[3]Sakimoto, K. K., Kornienko, N., & Yang, P. (2017). Cyborgian material design for solar fuel production: The emerging photosynthetic biohybrid systems. Accounts of chemical research50(3), 476-481.

[4]Guo, J., Suástegui, M., Sakimoto, K. K., Moody, V. M., Xiao, G., Nocera, D. G., & Joshi, N. S. (2018). Light-driven fine chemical production in yeast biohybrids. Science362(6416), 813-816.

[5]Li, S., Li, Y., & Smolke, C. D. (2018). Strategies for microbial synthesis of high-value phytochemicals. Nature chemistry10(4), 395-404.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: